
"Apa? Ibu sadar? Alhamdulillah iya nanti istirahat sebentar saja ini baru datang karena tadi mampir-mampir Kakakmu Andari belanja dulu," jawab Nael saat Netty Adiknya menghubungi dan mengabarkan kalau Ibunya sudah sadar dan ingin bertemu dengannya.
Andari yang duduk di pinggir tempat tidur hanya diam hatinya bersyukur kalau donor darah darinya begitu bermanfaat bagi Ibunya Mas Nael tapi entahlah sikapnya nanti akan seperti apa.
Andari tak berani berkomentar melihat kebahagiaan suaminya.
Mungkin hatinya sibuk mempersiapkan diri dengan sikap mertuanya nanti saat dirinya datang lagi ke rumah sakit.
"Sayang, dengan cara apa Aku berterimakasih padamu hem? Ibu sudah sadar dan sudah melewati masa kritisnya." Nael memeluk Andari yang hanya diam.
"Kebaikan Mas Nael juga selama ini tak bisa Aku balas apa hanya karena Aku menyumbangkan darah pada Ibu mertuaku jadi alasan impas? Tidak Mas, Ibumu kini adalah Ibuku juga mungkin itu bakti yang bisa Aku lakukan jangan bilang begitu. Aku mencintaimu Mas." Andari mengusap pipi suaminya.
"Ah, Ya ampun Andari Aku bahagia banget memilikimu Aku janji akan membuka mata hati Ibu sampai kapanpun biar biasa melihat kalau menantunya adalah berlian yang tak tergantikan." Nael memegang tangan Andari dan menahan di pipinya.
"Ah, Mas jangan berlebihan."
__ADS_1
"Tidak Andari, memang itu kenyataannya setidaknya hatiku lega kalau Ibu mulai berangsur pulih dan sembuh jadi Kita bisa melanjutkan bulan madu Kita dengan tenang." Nael mengecup bibir merah muda Andari.
Andari tersenyum sambil mengangguk, memang pernikahan mereka masih begitu wangi melati baru dilewati satu malam saja belum semua tereksplorasi jadi wajar keduanya begitu berharap bisa punya banyak waktu untuk melepaskan semua rasa yang selama ini tertahan.
"Mas, tapi nanti pulang dari rumah sakit jemput Amanda ya Aku nggak tentram dan nggak enak juga sama Mbak Laksmi, Kita berdua di sini sedang Amanda dititipin," ucap Andari sambil membuka resleting gaunnya.
Nael membantunya perlahan. Andari membiarkan Nael melepaskan pakaiannya.
"Kalau nanti mau jemput Amanda boleh Aku minta sekarang sebelum mandi?" ucap Nael sambil mendekap Andari dari belakang punggungnya, tangannya di dada Andari mulai mencari sesuatu walau belum ada persetujuan.
Saling tatap saling usap dengan sepenuh perasaan.
"Kenapa Mas selalu meminta izin? Bukankah Aku ini istrimu dan kini milikmu? lakukan kapanpun di manapun ada kesempatan." Andari mengusap dada suaminya dan membenamkan kepalanya di sana.
"Ah, terimakasih Sayang...." Nael mengusap dan mengecup kepala istrinya.
__ADS_1
"Mas, sabar dan bertahap ya soalnya Amanda takut belum berani tidur sendiri nanti."
"Nggak apa-apa Sayang, Kita tiduran dulu bertiga nanti kalau Amanda sudah pulas mau ngapain aja bisa kan?"
Andari tertawa ternyata Nael begitu dewasa melebihi dirinya yang seharusnya lebih dewasa tapi kadang kenyataannya tak selalu begitu.
Mereka melewati senja dengan kebahagiaan pesta kasih sayang suami istri, pengalaman pertama bagi Nael menaklukan istrinya dengan hasrat mudanya yang masih menggebu gebu, Andari begitu menikmati kegagahan suaminya yang seakan belum menemukan titik puas berusaha mengimbangi dengan pengalamannya.
"Berpeluh mereka berpelukan mengisi oksigen ke ruang pernafasan yang tersengal. Di sela senyum bahagia bisa saling memberi kebahagiaan dan kepuasan pada pasangan.
Nael mengusap keringat di dahi istrinya yang masih terkulai kecapekan. Lalau keduanya bangun membersihkan diri dan bersiap ke rumah sakit lagi.
"Mas mau minum teh hangat dulu?"
*******
__ADS_1
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat