
"Bu, Ibu kenapa? Itu Andari ada di depan. Sekalian Nael mau minta restu Ibu. Apa Ibu sakit? maafkan Nael Bu kalau selama ini Nael kukuh pada keinginan dan keyakinan yang bertentangan dengan Ibu tentang pilihan hati Nael." Nael berusaha mendekati tempat tidur Ibunya yang katanya sakit entah itu hanya pura-pura saja sejak tahu Andari datang sama Putranya Nael ke rumahnya Ibu Rina Darmawan langsung masuk kamar dan mengatakan lagi kurang enak badan.
"Pergilah Nak jangan sampai memaksa Ibu, jalani keinginanmu sendiri Ibu tak bisa menemuinya lagi tidak enak badan, biarkan Ibu istirahat," jawab Rina Darmawan tanpa sedikitpun membalikan badannya dari menghadap tembok membelakangi Nael yang berdiri di samping tempat tidur, Ibunya tetap berselimut membelakanginya.
"Tapi Bu, Aku mau mengenalkan Andari pada Ibu."
"Ibu sudah kenal, Ibu belum siap bertemu dengannya, Antarkan saja pulang Ibu tak akan menemuinya saat ini." Rina Darmawan jelas menolak kehadiran Andari di rumahnya terlebih jadi calon menantunya.
Kesekian kalinya Nael menarik nafas, keputusan yang tak bisa di tawar dan di goyahkan lagi. Semua orang di rumah itu sudah tak bisa meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja baik Oak Harry Darmawan, Netty Putri bungsunya atau Nael sekalipun.
"Baiklah Nael pamit dulu, Nael tak akan pulang ke sini kalau Ibu tidak meminta karena seminggu lagi Nael sama Andari akan menikah walau tanpa restu Ibu," Nael mengucapkan keinginannya dan ingin Ibunya tahu kalau Dirinya tetep akan menikah dengan pilihan hatinya.
Nael keluar berjalan melewati ruang keluarga, mungkin Dirinya tak akan lama lagi tidak akan berada di rumah ini karena konsekuensi dengan pilihan dan janjinya sendiri. Dirinya harus keluar tanpa membawa apapun dari keluarganya termasuk pekerjaan kalau memang harus seperti itu dan harus mandiri walaupun Nael hanya antisipasi saja kalau sampai Ibunya mengultimatum Dirinya pada akhirnya.
__ADS_1
Rumah ini rumah masa kecil hingga Dirinya dewasa kini yang banyak kenangan manis dan indah dengan keluarganya.
Ada rasa sesak dalam dadanya tapi semua bertentangan dengan hati nuraninya kenapa dirinya tidak sependapat dengan Ibunya? Apa salah Andari hanya karena mantan narapidana yang semua terjadi karena bukan kesalahan dirinya? semua orang bisa saja mengalami hal seperti itu kalau mengalami hal yang sama. Siapa yang bisa tahan emosi dan tak kalap melihat orang yang di percaya dan di cintanya bermain gila di depan matanya dengan saudaranya sendiri yang sudah dianggap Adiknya.
Nael masuk ke ruang tamu di sambut Amanda dengan panggilan Papa. Harry Darmawan tertegun tak menyangka mereka sudah begitu akrabnya walau Amanda bukan cucunya tapi panggilan itu begitu dirindukannya datang dari garis keturunannya.
Harry Darmawan begitu menyukai Anak kecil dan Amanda di kenalnya sejak usia dini kini akan menjadi cucunya dalam ikatan pernikahan Putranya Nael dengan Andari.
"Pa, sepertinya Ibu tetap seperti itu Nael sudah berusaha tapi tak berhasil Nael hanya minta do'a restu dari Bapak dan juga Netty kalau pada saatnya nanti bisa hadir hadirlah tapi kalau tidak sempat tidak apa mungkin itu sudah jadi jalan pilihanku Aku akan tetap menjalankan keinginanku bersama Andari," ucap Nael sambil menggenggam jemari Andari yang menunduk.
"Terimakasih Pak." Nael menjawab sambil melirik Adiknya Netty yang sama menundu.
"Gimana rumahnya sudah siap huni?"
__ADS_1
"Sudah Pak, barusan sebelum ke sini Kami melihat dulu ke sana."
"Maafkan atas sikap Ibumu, sebenarnya hanya merasa beban pikiran yang Dia rasakan yang pasti lama-lama akan pudar dengan sendirinya," ucap Harry Darmawan.
"Iya Pak, Kami mempersiapkan memakluminya."
"Maafkan Ibunya Nael Mbak Andari, tapi Bapak janji akan berusaha memberi pengertian, teruslah dengan niat baik kalian sebenarnya Bapak butuh orang berpotensi untuk menjalankan roda perusahaan tapi semua harus ada persetujuan Ibu jadi untuk sementara Bapak belum bisa menerima Mbak Andari kerja lagi," ucap Harry Darmawan seakan memberitahu posisi Ibunya siapa yang punya peranan penting di kantor perusahaannya harus sesuai kesepakatan keluarga.
"Baik Pak, tak apa Aku masih ingin berbenah dan sudah ada rintisan usaha untuk mengisi waktu nanti."
"Baguslah Aku suka semangatmu."
********
__ADS_1
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat