Noda Kelam Masa Lalu

Noda Kelam Masa Lalu
Kunjungan Ibu Rina Darmawan


__ADS_3

"Bu Andari ada yang berkunjung lagi silahkan di temui." ucap Sipir Hilda sambil tersenyum.


"Oh, siapa ya Bu?" jawab Andari sambil mengerutkan keningnya.


"Barangkali keluarganya Bu Andari, tak tahu lah. Temui saja duku."


"Baik Bu." Andari menghentikan kegiatannya meneliti semua pesanan dan mengecek barang yang sudah ada dan siap di packing.


Andari sejenak berpikir siapa lagi yang datang? Pak Nael baru saja kemarin juga Kakaknya Laksmi baru dua Minggu lalu datang kalau Sabrina mungkin saja karena sudah lama mereka tak berjumpa hanya titip salam sama Nael yang datang rutin mengunjunginya.


Tak banyak memang teman dan saudara yang datang mengunjunginya, sekedar menengok dan memberikan semangat juga support, apalagi keberadaan Andari di sini sudah mau menginjak dua tahun tambah masa potongan selama dalam tahanan dari tujuh tahun vonis yang di jatuhkan pada Dirinya.


Menduga dan menebak siapa memang bikin penasaran tapi rasa penasaran itu ingin segera terjawab. Andari berjalan gontai ingat itu hari senin karena dirinya lagi rutin puasa senin Kamis.


Andari tertegun memandang punggung sosok dikenalkan dan gak asing lagi semenjak Dirinya kerja dulu.


Ibu Rina Darmawan berdiri membelakangi arah Dirinya datang sedang melihat lihat tata tertib yang terpajang di dinding aula ruang pertemuan kunjungan.


Andari seperti terpaku tak berani mengusik walau Andari mengira kalau Ibu Rina Darmawan tahu kedatangannya.

__ADS_1


Akhirnya berbalik juga dan mereka bertatapan. Andari menghampirinya mau menyalami tapi Ibu Rina Darmawan tak menyambut uluran tangan Andari.


Andari mengerti pertanda tak baik dan menarik kembali tangannya yang terulur.


"Ibu?" sapa Andari.


"Syukur kalau Kamu masih ingat Aku!" jawab Ibu Rina Darmawan sambil ikut juga duduk mereka duduk berhadapan.


Andari tak menjawab biarlah Ibu Rina Darmawan saja yang bicara.


Andari duduk duluan siap dengan apapun yang akan terjadi.


"Aku sengaja datang ke sini hanya untuk minta pengertianmu dan Aku harap Kamu sadar diri, gak ada yang salah hanya keadaan Kita yang mungkin sekarang berbeda. Biarkanlah putraku hidup normal dan punya masa depan yang baik seperti umumnya orang orang." Sedikit angkuh mungkin seperti orang yang tak suka bicaranya tanpa mempertimbangkan perasaan lawan bicaranya.


"Bagus! jadi biarkanlah semua kembai ke semula, karena di mataku sekarang Anakku jadi seorang yang membangkang," ucap Ibu Rina Darmawan seakan ingin memberitahu Andari kalau sebelumnya Nael adalah Anak yang penurut.


"Apa yang harus Aku lakukan dan Ibu inginkan?" tanya Andari sambil menyelami maksud Ibu Rina Darmawan. Sebenarnya Andari tahu tapi ingin mendengar langsung dari yang bersangkutan apa jelasnya.


"Putuskan hubungan kalian!"

__ADS_1


"Sampaikan pesan itu pada Putra Ibu bukan padaku! karena sejak awal semua bukan Aku yang memulai Aku sadar diri siapa diriku pasti kata penolakan yang akan Kami hadapi dan itu jadi kenyataan kini. Tapi kalau putra Ibu yang menolak dan tetap memaksakan keinginannya jangan salahkan Aku karena berulangkali sudah akun peringatkan kalau Mas Nael menanamkan perasaan pada tempat yang salah sepertinya Mas Nael memaksa dan akhirnya Kami berkomitmen." Andari panjang memberikan keterangan seperti itu semua berjalan.


"Pokoknya jangan racuni putraku dengan segala rayuan mu Andari!" Ucapan pedas terasa menohok jantung hati Andari yang paling dalam.


"Cukup! Aku tidak mau berdebat di sini. Aku sudah menangkap keinginan Ibu datang ke sini. Pulanglah bicarakan semua dengan baik-baik di meja makan bukan di sini tempat diskusi masalah keluarga! semua warga binaan di sini labil pikirannya jadi sekali lagi Aku mohon tinggalkan tempat ini!" Andari marah mendapat perlakuan seperti itu.


"Aku tahu, Aku tidak setuju karena Kamu orang yang labil dalam mengambil tindakan apapun sehingga Kamu berada di sini Aku tidak mau terjadi apapun dengan Anakku nanti!"


"Pergi! jangan katakan apapun kejelekan dan kebaikan ku Bu! semua orang kalau kepepet akan merasa marah dan mengambil tindakan apapun jangan menghakimi apapun tentang Aku karena Aku telah di jatuhi hukuman atas vonis hakim dan Aku sedang menjalani konsekuensinya. Sekarang Aku lagi puasa jangan paksa Aku batal karena marah."


Berapa uang yang Kamu butuhkan sebut saja akan Aku kabulkan asal penuhi keinginanku tinggalkan putraku dan mulailah Kamu merencanakan masa depanmu dengan melibatkan Anakku!


"Maaf Bu, bukan Aku tidak perlu uang di sini juga sama semua serba uang tapi tidak dengan perasaanku, bawalah kembali uang itu belilah hati perempuan yang cocok dengan putramu." Tegas ucapan Andari membuat Ibu Rina Darmawan kehilangan kata-katanya.


Andari pergi duluan meninggalkan Ibu Rina Darmawan yang masih saja duduk di bangku pertemuan.


Andari tak tahan dengan kemarahannya tapi Ibu Rina Darmawan adalah majikannya di semasa kerja, lebih baik menghindari semua tujuannya datang ke sini telah di fahami Andari.


Andari kembali ke ruangan pusat berkarya di mana semua temannya bekerja bersama sama dan diskusi tentang berbagai hal di situ. Setitik air mata jatuh di pipinya dan Andari duduk di meja kerjanya.

__ADS_1


*******


Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat


__ADS_2