Noda Kelam Masa Lalu

Noda Kelam Masa Lalu
Netty love


__ADS_3

"Tumben mau jemput Aku Mas? nggak latihan emangnya? biasanya nggak ada waktu kalau Aku butuh selalu saja alasannya kerja terus latihan lalu kumpul, sharing, hangout sama temannya," jawab Netty saat Ricko meneleponnya bicara mau menjemputnya.


"Orang mau menjemput di bilang tumben, ya sudah nggak jadi aja deh!" sahut Ricko pura-pura ngambek.


"Eh, jadi ngambek mau dong di tunggu ya jangan nggak jadi, Aku hanya heran saja dan merasa tersanjung karena kelewat senang ada apa?" jawab Netty kedengaran manjanya.


"Aku kangen aja memang nggak boleh?" suara berat Ricko kedengaran aneh membuat Netty tersenyum.


"Boleh kok, Aku juga sama kangen. Ya sudah di tunggu ya Sayang, jangan ngebut karena jalan raya bukan sirkuit sedang saja asal nyampe karena ada yang menunggu dengan perasaan cintanya!" tambah Netty sambil memberikan suara kecupan di ponselnya sebelum menutup pembicaraan.


"Heemght!"


Ricko menutup teleponnya. Netty tersenyum dan mencium ponselnya sendiri lalu memasukkan kembali ke tas goninya. Tangannya meraih bedak dan mengontrol mukanya yang masih kinclong apalagi mau bertemu sang jagoan jalanan kesayangannya jadi semua harus sempurna.


Ciiiit....drrrrrrd suara rem diinjak sekaligus membuat tanda hitam di aspal jalan depan halte kampus di mana Netty menunggu sambil ngobrol sama temannya.


Netty menengok ke luar memang mobil Ricko dari suaranya saja sudah ketahuan menderu keras khas mobil sport.


"Tuh jagoan Lo sudah jemput, paling Lo di bawa ke arena, atau ke sirkuit!" ucap Monik sambil ikut berdiri mau mengantar Netty pulang duluan.


"Masih mending nggak di ajak nemenin di bengkel, kalau nggak diajak utak atik mobil Lo bagian ngasih ngasih kunci yang item kalau di pegang penuh sama oli hahaha...." seloroh temannya bercanda menggoda Netty yang hanya tersenyum melihat Ricko sudah membuka pintu mobilnya.


"Sorry ya Gue nggak bisa bareng Lo semua pulangnya karena ada kepentingan khusus!" ucap Netty melambaikan tangannya pada dua sahabatnya.


"Hati-hati pakai sabuk pengamannya! dan berdo'a dulu jangan lupa!"


"Iya, tenang aja aman kok malah nyaman bawa mobilnya kalau sama princess hahaha...." sela Netty sambil tertawa.


"Huh! dasar!"


Netty berjalan ke arah Ricko berdiri di luar pintu gerbang kampusnya. Ada senyum manis yang Netty berikan pada Ricko yang memandangnya dengan perasaan cinta.


"Kakakmu gimana hasil perkenalan di makan malam waktu itu?" tanya Ricko sambil melirik Netty yang sudah duduk di sampingnya.


"Nggak tahu sepertinya biasa-biasa saja nggak ada kelanjutannya habis Kak Nael terlalu dingin sama cewek nggak tahu kenapa," jawab Netty sambil melihat ponselnya. Ricko menjalankan mobilnya perlahan karena kalau sedikit kencang pasti di komplain sama cantik di sebelahnya.


"Susah mengarahkan perasaan orang lain, semua harus dari dalam diri datangnya rasa itu."


"Iya maksud Aku sama Ibu juga hanya mengenalkan saja barangkali mau berteman dulu apa salahnya masalah rasa nanti juga akan berkembang seperti apa itu terserah. Tapi Kak Nael seperti sudah punya dunia sendiri mungkin asyik kerja atau sudah punya pacar Kita nggak tahu."


"Eh kok kita malah bicara soal Kak Nael melulu mau ke mana kita nih Mas?" ucap Netty memandang pria tampan di sampingnya di belakang kemudi. Tangan halusnya tak bisa kalau tidak mengusap pipi Ricko yang di tumbuhi bulu-bulu kasar menanti di kerok.


Ricko tersenyum sambil memegang tangan Netty dan menahannya di situ.


"Kamu maunya ke mana?"

__ADS_1


"Lho kok jadi tanya Aku bukan Mas yang tadi jemput Aku dan sudah punya tujuan?" ucap Netty merasa kekasihnya hari ini kelihatan aneh.


"Ya sudah nanti juga tahu!"


"Ke mana sih Mas? mau makan ya?"


"Emang Kamu lapar?"


"Lapar lah habis mata kuliah emang ini jam makan!"


"Hahaha...kasihan. Ya sudah kita makan dulu aja mau di mana?"


"Emang kita mau ke mana Mas? Aku takut kelihatan rahasia banget apa mau kasih Aku surprise jadi nggak bakal enak makan otakku berpikir terus jadinya!"


"Sayang nanti kalau sudah berhenti Aku kasih tahu, biar nggak merusak selera makan Kamu, Aku janji semua akan membuat Kamu senang!"


"Eh, Mas jangan macam-macam ya, Kita ini mau ke mana jangan bilang kalau kita mau ke hotel!"


"Ngapain sore sore gini ke hotel mau ngapain? Kamu takut Aku paksa? sepertinya kalau Aku minta juga Kamu kasih ngasih nggak harus di pinta iya kan?"


"Apaan sih Mas? nggak jelas banget!"


"Nggak Sayang, kemarin Aku kalah main catur sama Bapakmu Aku sengaja ngalah hahaha ... biar permainan cepet usai karena Aku mau berduaan sama Kamu bukan sama Bapakmu tapi sepertinya Bapakmu tahu Aku pura-pura ngalah dua set, tapi Bapakmu malah kasih Aku ultimatum katanya kalau mau serius mulailah serius! maksudnya apa kata-kata itu?"


"Jadi sekarang Aku mau mulai serius sama Kamu kita pilih cincin tunangan, tapi makan aja dulu kalau Kamu lapar."


"Jadi Bapak sudah merestui hubungan kita Mas?"


"Mungkin seperti itu."


"Ya ampun, Mas senang nggak?"


"Senang seperti senangnya hati Kamu Sayang," jawab Ricko sambil meremas jemari Netty yang dari tadi ada di atas pahanya.


Mobil belok ke area Mall dan berhenti di parkiran.


Kebahagiaan begitu terlihat di sorot muka kedua pasangan ini, Akhirnya hati Bapak Harry Darmawan luluh juga hanya dengan bermain catur saja.


"Sengaja Aku pulang kantor izin agak siangan karena pengen cepat bertemu Kamu dan segera mengabari Kamu," ucap Ricko sesaat setelah mematikan mesin mobilnya.


"Makasih Mas!" ucap Netty sambil mengecup pipi Ricko.


"Lagi dong!"


"Ih, apaan?"

__ADS_1


"Lagi di sini!" sahut Ricko menunjuk bibirnya.


"Udah ah, turun yuk!" ucap Netty sambil menarik tangannya dari genggaman Ricko.


"Nggak! sebelum Kamu kasih Aku sesuatu!"


"Maksud Mas apa?"


Ricko menarik pundak Netty dan mendekatkan wajahnya begitu dekat.


"Aku Sayang Kamu Net, pejamkan matamu dan berpikirlah sesuatu yang indah ada di hadapanmu."


"Mas...."


"Ssssst...."


Sentuhan lembut bibir Ricko berhasil membuka bibir Netty yang terkatup, dan dengan sekali hap berhasil menguasai bibir Netty yang bergetar. Mel*umat nya dengan perlahan dalam kehangatan.


Satu sentuhan di bibir perawan membuat keduanya panas dingin. Netty yang baru pertama kali di sentuh seorang pria merasa sangat bersalah walau begitu ingin mencobanya.


Genggaman tangan Netty yang dingin Ricko rasakan seperti rasa takut yang di rasakannya.


Netty mendorong dada Ricko dan pagutan mereka akhirnya terlepas. Netty mengigit bibirnya sendiri dengan rona muka memerah.


"Maaf ya Sayang Aku sudah bikin Kamu panas dingin, makasih ya itu tanda keseriusanku padamu!"


"Huh! bukan keseriusannya tapi mau aja bilang!"


"Hahaha.... Kamu juga menikmatinya kan?"


"Nggak!"


"Ya sudah, pertama memang pasti begitu tapi nanti akan nagih lho!"


"Turun ah Mas yuk!"


"Sekali lagi dong!"


"Mas!"


"Hahaha...."


*******


Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat

__ADS_1


__ADS_2