Noda Kelam Masa Lalu

Noda Kelam Masa Lalu
Obrolan dan pertemuan berharga


__ADS_3

"Nael, kamu lagi?" sapa Andari merasa heran baru saja beberapa minggu ke belakang Nael datang mengunjunginya yakin Andari belum ada sebulan sampai saat ini.


Kini Nael muncul lagi dan seperti biasa Sipir tak memberitahukan siapa yang datang, Andari berpikir tadinya paling adiknya Adri atau kakaknya Laksmi mungkin mereka kangen lama ingin bertemu dan datang berkunjung ke sini.


Kini sesosok yang jauh dari perkiraan sebelumnya ada di hadapannya dengan senyum lebarnya menyambut Andari dan mereka duduk berhadapan.


Setelah berjabat tangan sesaat mereka diam diaman dan kelihatan keduanya agak kikuk. Nael menyadari begitu juga Andari.


Saat seperti itu Nael lah yang harus mengambil peranan menghidupkan suasana dan mencairkan suasana sehingga tercipta kenyamanan diantara mereka.


Nael begitu bebas memandang wajah Andari saat bicara, saat tersenyum, saat mendengarkan dirinya bicara juga saat Andari lagi menunduk.


Seperti janjinya waktu itu bulan depannya akan datang lagi. Ini belum ada sebulan tapi Nael sudah nongol lagi dengan alasan bagi Andari belum bisa di mengerti.


"Iya Ndari, nggak ganggu kan? takut Kamu ada perlu apa gitu hehe... sorry belum sampai sebulan Aku sudah datang lagi Aku hanya ingin kasih Kamu makanan ini walau kita nggak bisa makan bareng," ucap Nael begitu berbinar memperlihatkan hatinya begitu senang bertemu Andari.


"Ya ampun Nael kamu repot-repot banget, sampai meluangkan waktu. Ke sini kan jauh jadi mengganggu waktu kerja Kamu," jawab Andari sambil melihat box makanan yang kelihatan banyak banget. Kelihatan dari tempat dulu mereka sering makan siang bareng juga makanan kering lainnya.


"Waktuku buat Kamu banyak Ndari, kalau jalan kaki memang jauh Aku kan nggak jalan kaki ke sini nya." Ucapan Nael jawaban khas bela diri tapi kedengaran bercanda biar bisa memecahkan kekakuan jadi keakraban.


"Ah, Kamu bikin Aku jadi merasa bersalah saja!" sahut Andari merasa tersanjung.


"Kalau Kamu nggak merasa bersalah itu mungkin akan membuat Aku senang Ndari, jadi gimana buku yang kemarin Aku kirim sudah ada yang di baca?"


"Sudah Aku lahap semuanya tapi apa dayaku di sini Nael, semua serba kekurangan semua perlu bahan dan modal juga distribusi penyaluran hasilnya. Aku senang banget buku jadi sumber ilmu yang begitu bermanfaat, tapi giliran ingin mempraktekan menjadi sesuatu yang bermanfaat semua serba terhambat!" ucap Andari bicaranya membuat senang hati Nael.


"Justru Aku datang ingin menawarkan kerja sama khususnya sama pihak LP dan Kamu sebagai leader di sini mau nggak kalau Aku modalin dan Kamu berdayakan semua temanmu di sini?"

__ADS_1


"Nael? benarkah itu?" Andari merubah duduknya jadi tegak.


"Apa yang tidak benar untuk mu Ndari?


"Kenapa kamu begitu baik padaku Nael?"


"Karena Aku ingin memberimu harapan dan kalau bisa mau menebus kebahagiaanmu yang sempat hilang, Biarkan Aku menunggumu Andari dan jangan bilang sekali-kali kepadaku bahwa penantianku ini akan sia-sia dan tidak berarti apapun, Kuharap Kamu mengerti," ucap Nael sedikit menyentuh tangan Andari di meja, Andari menarik tangannya saat di sentuh Nael.


Andari mencoba memahami ucapan Nael Dirinya bukan orang bodoh tapi benar-benar merasa tak percaya dengan segala yang ada di hadapannya kali ini.


"Mas Nael, ada apa dengan dirimu? dan Aku ini siapa? tolong jangan umbar perasaan padaku karena semua itu sesuatu yang salah. Aku seorang Ibu dari putriku Amanda, berada di sini masih cukup lama buat apa membuang waktu Aku hanya seorang warga binaan, yang pasti Kedua orangtuamu yang harus kamu pikirkan!"


"Ssssst...jangan melemahkan hatimu sendiri Andari, jujur perasaan ini telah ada sejak kita bekerja bersama dulu percaya atau tidak, Kini Aku tidak menuntut jawaban ya atau tidak apapun itu tak perlu bagiku, tapi beri sedikit ruang untukku bisa tetap hadir di sisimu dulu dan mencukupi mu dengan kebahagiaan!"


Andari mengerti maksud ucapan Nael jangankan untuk bisa menjawab atau menolak pun tak sanggup Dirinya ungkapkan, hanya sesak di dada dan tenggorokannya juga matanya mulai panas.


Tetes air mata adalah satu ketidak kesanggupan Andari memberikan jawaban apapun saat ini.


"Cukup Mas Nael! Aku mengerti semuanya. Satu pertanyaan yang Aku tanyakan padamu. Apa yang Mas harapkan dari seorang Andari kini? itu yang pasti akan ditanyakan seorang Ibu yang sudah satu paket ada Anak dengan statusku yang sekarang ini?"


"Aku ingin masa depan dan bahagia bersamamu Andari."


"Mas Nael?"


"Ssssst! Aku tak butuh jawaban sekarang, berpikirlah selama Kamu ada di sini karena selama itu Aku akan ada bersamamu dengan penantian dan rasa yang sama!"


Andari diam. Tak guna bicara apapun semua sudah ada jawaban bagi Nael.

__ADS_1


"Aku akan datang setiap waktu Aku mau mengunjungimu, beri Aku tanda kalau Kamu mengizinkan!" ucap Nael sambil menatap dalam wajah cantik Andari seperti mendalami isi hatinya yang galau.


Andari hanya bisa mengangguk, di sambut helaan nafas longgar dan senyum Nael. Lalu mencium tangan Andari sambil memejamkan matanya.


"Sebutkan apa yang di butuhkan. Aku akan menghadap kepala LP ini untuk mulai kerjasama, Apa Kamu perlu ikut? tapi rasanya Aku tak rela kehilangan waktu berkunjung yang hanya sebentar lagi."


Andari menatap dalam-dalam sorot mata penuh pengharapan itu, seorang Nael Anak seorang jutawan pengusaha sukses bidang periklanan Harry Darmawan, lulusan luar negeri, tampan, kaya, siapa yang tidak mau sama Nael dan siapa yang akan menolak pesonanya? kini menyatakan perasaan terdalamnya di hadapan seorang Andari yang lagi menjalani masa hukuman di LP, janda satu Anak dengan kasus terbilang berat karena semua itu di lakukan terpaksa karena kalap.


Siapa yang akan percaya? tapi dengan segala ungkapan terdalamnya menyatakan dirinya lancang merindukan Dirinya setiap waktu. Bagi Andari antara mimpi dan kenyataan semua itu.


"Jangan percaya dulu padaku Ndari! tapi waktu yang akan membuktikannya, lihat saja nanti," ucapan Nael menyadarkan Andari dari lamunannya.


"Mas Nael yang bicara dan yang akan membuktikannya bukan Aku, silahkan yakinkan kembali hati Mas," ucap Andari perlahan.


"Baik Andari. Cukup jawaban itu buatku," senyum Nael begitu terlihat senang dan berseri.


"Aku paling suka satu buku..." Andari tak sempat selesai keburu melihat Sipir Hilda dari kejauhan berjalan ke arahnya.


Datang petugas Sipir Hilda memperingatkan Andari dan Nael kalau waktu berkunjung sudah habis, Nael menarik tangannya dan Andari bicara sesuatu pada Sipir Hilda kalau Nael ingin mengajukan kerjasama, Sipir Hilda mengerti dan kelihatan mengangguk.


Lalu mengajak Nael dan Andari menuju ruangan pimpinan.


Kebersamaan yang singkat di rasa Nael, ada sedikit tambahan tapi Andari harus menunggu dulu di luar sebelum di perbolehkan masuk.


Entah apa yang di bicarakan lalu Kepala LP memanggil Andari dan begitu banyak pertanyaan sampai pada basic pekerjaan dan hubungannya dengan Nael.


Walaupun lama akhirnya kesepakatan awal di hasilkan Nael kelihatan bahagia walau Andari masih terbengong bengong.

__ADS_1


********


Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat


__ADS_2