
Nael Masih ingat saat mau pulang tadi Amanda menyalaminya lagi sambil tersenyum ke atas memandangnya dengan sedikit ragu, matanya penuh tanda tanya atau mungkin merasa ingat siapa laki-laki di depannya ini.
Nael merentangkan tangannya sambil tersenyum menciptakan keakraban dan pelukan yang ingin di rindukan gadis kecil ini.
Perlahan Amanda mendekat mungkin sosok laki-laki yang di rindukannya ada di figur Om di depannya.
Amanda lama tak berinteraksi dengan laki-laki dewasa. Yang Dirinya tahu kalau Papanya sudah meninggal dunia, makanya sekali ada Om sama Tante yang begitu baik hati datang kontan sorot cerianya langsung terlihat.
"Apa Amanda mau titip pesan sama Mama Ndari? biar Om nanti sampaikan...misal Amanda sudah pintar nyanyi, Amanda pintar sekolahnya?'' ucap Nael bicara seolah dirinya guru yang memberi pengertian pada muridnya.
Amanda kelihatan diam mungkin mikir apa yang akan di sampaikan nya.
"Manda sudah pintar makan sendiri..." ucap Amanda perlahan.
"Oh ya? pinter banget dong. Nanti biar Om yang sampaikan pada Mama Ndari ya!" Nael begitu Antusias memberikan apresiasi atas apa yang di sampaikan Amanda sambil memeluknya.
Nael tersenyum sendiri saat membayangkan memeluk Amanda dan mengusapnya memberikan rasa nyaman dan pasti Amanda langsung akrab di pertemuan selanjutnya.
Rasanya Nael tak sabar bertemu Andari dan menceritakan pertemuan dengan putrinya yang Nael ingin perlihatkan semua poto-poto cantik putrinya pasti Andari begitu senang.
Bukan hanya ingin memperlihatkan poto Amanda tapi Nael lebih ingin melihat wajah yang begitu bahagia Nadaei.
Satu lagi ingin menyampaikan pesan yang Amanda titipkan pasti akan membuat Andari bahagia.
***
__ADS_1
"Bunda itu tadi Om sama Tante temannya Mama Ndari ya?"
"Iya Sayang, Manda harus baik sama mereka karena Om juga Tante baik banget sama Manda."
"Manda jadi punya tas sekolah baru sama boneka besar ini ya Bunda."
"Bukan itu saja Sayang, Om sama Tante mungkin akan datang ke sini nanti-nanti lagi, terus Manda bisa kasih tahu sama Mama dengan titip pesan sama Om. Makanya Manda harus rajin sekolahnya juga belajarnya biar pintar nanti Mama Ndari seneng dengarnya."
Amanda mengangguk mengerti, senyumnya terkembang. Satu kesenangan dari naluri Anak kini Amanda rasakan, mendapat hadiah dan kado yang tak terhingga senengnya.
Walau jauh di dasar hati Bundanya Laksmi begitu Amanda memanggil dan di biasakan merasakan begitu sakit yang tak terkira melihat pertumbuhan Amanda dan mengurus juga mendidiknya tiap hari adalah satu kewajiban bagi Laksmi.
Telah besarnya kedua Anak Laksmi membuat kasih sayangnya tumpah pada gadis lucu nan cantik itu tak terbatas, mengingat nasibnya juga yang tidak beruntung dengan keadaan orang tuanya Laksmi tak ingin melihat Amanda menjadi terganggu psikologis nya juga dalam lingkungan sosial masyarakatnya.
Laksmi jarang mengeluarkan Amanda dari rumah, kecuali temannya yang main ke rumah semua semata demi menjaga jangan sampai Manda kecil mendengar omongan yang seharusnya tak di dengarnya tentang Mamanya juga masalah keluarga kecilnya.
Hati siapa yang tak teriris, Anak yang seharusnya masih dalam asuhan dan perlu pendampingan figur Mama Papanya harus menerima keadaan hidup terpisah dalam pengasuhan orang lain walau bersama saudara sendiri dalam jangka waktu lama.
"Manda nanti kalau Mama pulang mau lihatin semua hadiah Om sama Tante, Mama masih lama pulangnya Bunda? kok Om sama Tante bisa bulang tapi Mama belum bisa?" ucap Manda mulai pintar dan berpikir kenapa mamanya begitu lama tidak pulang
"Iya Sayang, karena Om sama Tante lagi ada keperluan makanya mereka bisa pulang. Manda do'akan Mama Ndari ya biar cepet pulang juga."
"Bunda, di sampaikan nggak ya pesan Manda sama Mama?"
"Pasti Sayang, karena Om pasti ketemu Mamamu di sana," ucap Laksmi memberi jawaban dengan baik.
__ADS_1
"Bunda, boleh Manda Ikut Om kalau nanti ke sini lagi biar Manda ketemu Mama?"
"Manda, Anak Kecil belum boleh pergi ke sana di sana tempat orang dewasa. Jadi Manda berdo'a saja buat kebaikan Mama ya Sayang, semoga Mama sehat dan bisa pulang bertemu kita semua."
"Tapi Manda Kangen Mama Bunda, apa Mama juga kangen juga sama Manda?" Amanda mulai sedih dan menangis.
Rasa tak bisa di bohongi kalau pertalian bathin antara Ibu dan Anak tetap ada, kalau sudah begitu Laksmi menangis juga dan memeluk Amanda mereka malah ber-tangisan.
Laksmi berusaha membujuknya dengan kelembutan sampai Amanda bisa tenang kembali.
"Sudah sudah, kan di sini ada Bunda sama saja kayak Mama kan? Mama Ndari harus sekolah yang jauh biar pintar. Kalau sudah pintar nanti pasti pulang."
Amnda mengangguk bisa mencerna apa yang Laksmi omongkan.
"Eh, Manda suka sama Om Nael tadi? Dia baik banget ya?"
Ananda mengangguk sambil tersenyum.
.
.
.
.
__ADS_1
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat