
Netty turun di depan rumah yang begitu besar asri dan sejuk, begitu jauh antara pintu gerbang dengan posisi rumah terhalang bentangan halaman yang begitu luas.
Tak lama Ricko keluar karena sebelumnya Netty sudah mengabarinya mau datang dan masih melihat Nael yang belum menjalankan mobilnya kembali.
"Masuk dulu Kak!" sapa Ricko dengan ramah, saat tahu Kakaknya Netty masih ada di depan pagar.
"Lain kali Bro, masih ada urusan. Rumahnya kelihatan sepi?" jawab Nael balik tanya.
"Bapak sama Ibu lagi pada keluar ada Adik sama Bibi. Mampir lah Kak...." jawab Ricko sambil tersenyum.
"Lain kali pasti!"
Nael mengangguk sambil tersenyum lalu melajukan kendaraannya dengan mengangkat sebelah tangannya.
Ricko menutup kembali pintu gerbang dan berjalan bersisian di samping Netty.
"Kok cemberut saja, kenapa?" ucap Ricko sesampainya di dalam rumah dan langsung merengkuh pinggang Netty yang belum bicara apapun.
"Malas bicara sama orang yang nggak mengerti!" jawab Netty. Hatinya begitu dongkol melihat sikap Ricko yang tak mengerti sama sekali perasaannya malah mengacuhkan tanpa kabar tanpa datang atau ingin bertemu selama seminggu lebih tak bertemu sejak di tolaknya saat mereka habis membeli cincin malah di katakan Bapaknya bukan menyuruh serius dalam hubungan tapi kalau mau serius harus serius dulu melepaskan hobi yang menurut Bapaknya tidak bermanfaat malahan mendatang kecemasan saja di hati orang terdekatnya.
"Hahaha...malas tapi datang ke sini aneh, jujur Aku juga kangen tapu sibuk Sayang minggu ini jadi nggak sempat datang atau hubungi Kamu." Ricko mencoba jujur tapi Netty masih saja diam dalam cemberutnya.
"Sibuk balap, otak-atik mobil, di base camp, di bengkel, di kantor berarti udah nggak butuh kalau gitu!" oceh Netty seperti biasa padahal hanya butuh satu sapaan walau lewat telepon.
"Itu selalu alasanku ya? Aku sudah lupa ternyata Aku banyak banget kesibukannya? habis mau otak-atik Kamu Bapakmu susah banget mengertinya sih..." ucap Ricko sambil meraih tangan Netty dan di genggamnya.
"Makanya usaha sedikit Mas! perlihatkan keseriusan coba jangan mau di mengerti tapi memahami juga keinginan orangtuaku."
"Ssssst... sudah jangan bahas apa-apa, Aku kasih Kamu surprise di kamarku yuk!"
"Apa?"
"Bukan surprise kalau di kasih tahu Cantik!"
"Nggak mau!"
"Terus maunya apa? datang ke sini mau marah saja? Aku tahu Kamu kangen, sama Sayang tapi Aku keduluan Kamu yang datang duluan ke sini makanya Aku kasih surprise mau?"
"Bohong Kamu Mas bilang kangen tapi tak datang-datang."
__ADS_1
"Sayang, Aku benar-benar sibuk minggu ini kantorku mau mengadakan rapat anggaran tahunan, tahu sendiri Bapakku anggota dewan yang berkaitan langsung dengan kantor dinasku jadi Aku sedikit meringankan karena merasa ada di dua pihak."
"Tapi bukan karena sibuk dengan mobil balapnya?"
"Ya ... sedikit mengusap dan menyayanginya seperti pada Kamu kalau lama nggak bertemu kan jadi kangen."
"Ih, masa Aku di samakan sama mobil yang bener aja Mas?" Netty tambah kesel.
"Bukan itu maksudku pokoknya sekarang Aku kangen dan berniat menemui Kamu tapi syukur Kamu duluan yang datang ke sini, ayo mau lihat surprise nya? tadinya malam ini Aku akan berkunjung ke rumahmu," Ricko berusaha membuat kesal Netty hilang dengan menariknya ke kamarnya yang berada di atas.
Netty meragu karena walau ini bukan kunjungan pertama kalinya ke rumah Ricko tapi kalau harus masuk kamarnya mungkin Netty merasa takut merasa tidak sopan juga.
"Mas ngapain ke kamar?"
"Kan surprise nya ada di kamar kenapa takut Aku berbuat aneh gitu? tenang aja kalau Aku mau pasti sudah sejak dulu paksa Kamu!"
"Aku nggak enak apalagi orangtuamu lagi nggak ada."
"Nggak apa-apa sebentar saja masih ada orang kok di rumah ini ada Si bibi ada Adikku juga lagi main game di kamarnya."
Akhirnya Netty mau melanjutkan jalannya sambil tangannya di tuntun Ricko.
Ricko masuk duluan dan mendudukkan Netty di sofa mini di samping tempat tidur.
Netty celingukan saat Ricko mengambil satu kado segi empat dan satu tangkai mawar merah hati dari dalam lemarinya dan di berikannya pada Netty yang masih diam di tempatnya.
"Aku nggak bohong kan? pokoknya jangan bahas apapun sekarang senyum buatku!" ucap Ricko sambil mencium kan mawar di bibir Netty yang mulai tersenyum. Netty meraih tangkai mawar segar itu dan di ciumnya berkali kali.
"Mau dong Aku jadi mawarnya."
Netty mendelik lucu, Ricko dengan perlahan meraih kedua tangan Netty yang menggenggam mawar itu dengan perlahan diambilnya bunga mawar itu lalu di letakkan di tempat tidur di samping kado dengan seprai yang berantakan.
"Kamu suka?"
Netty mengangguk sambil menatap manik bola mata dengan alis tebal di hadapannya yang begitu di rindukannya.
Perlahan Ricko mendekatkan wajahnya dengan sedikit menunduk, kedua tangannya mengusap pipi mulus di depannya, sedikit memiringkan wajahnya bibir Ricko akhirnya menyentuh bibir merah jambu. itu.
Dengan sentuhan lembut bibirnya membuka katup bibir itu dan mencoba menyalurkan kehangatan dalam getaran rasa tanpa kata.
__ADS_1
Lama berpagutan dalam kelembutan yang begitu diinginkan keduanya dalam remang sore menuju senja.
Saat Ricko menarik Netty perlahan duduk di tempat tidur tas selempang Netty jatuh sehingga membuyarkan konsentrasi mereka.
Akhirnya Netty melepaskan rengkuhan Ricko dengan rona muka memerah walau itu bukan ciuman pertama.
"Lagi nggak?" ucap Ricko maksudnya menggoda kekasihnya.
"Nggak ah udah."
"Udah nggak nyesek lagi, dan marahnya sudah hilang?"
"Siapa yang marah?"
"Emang nggak ada yang marah yang ada juga kangen tak tertahankan."
Ricko mengusap kepala Netty dan duduk sambil menyimpan tas yang jatuh di sampingnya.
Kerinduan hanya bisa diobati dengan pertemuan, semua rasa akan kembali menghilangkan semua prasangka, marah, benci dan cemburu.
Hati Netty meyakini kalau Ricko juga kangen selama ini dan karena kesibukan bukan karena masalah perkataan orangtuanya atau merasa kesal karena niatnya serius malah di tanggapi orangtuanya biasa saja.
"Apa ini Mas? Aku kan belum ulangtahun ko di kasih kado segala?" ucap Netty mengalihkan pembicaraan.
"Buka aja, pasti Kamu suka. Kalau suka peluk Aku kalau tidak suka cium Aku."
"Aturan dari mana itu? mending Aku nggak buka deh nanti saja di rumah," sahut Netty merasa lucu dengan syarat yang di berikan Ricko.
"Nggak bisa, harus di buka di sini."
"Ah Mas Aku nggak mau. Keluar yuk nggak enak berduaan di dalam kamar."
"Ya sudah, pulangnya nanti ya kalau Ibu Bapakku sudah datang biar Kamu bertemu dulu soalnya Ibuku selalu tanyain Kamu Sayang."
"Masa, tanyain apa Ibumu Mas?
"Katanya mana calon menantu Ibu yang cantik nggak datang lagi ke sini?
*******
__ADS_1
Sambil nunggu up NODA KELAM MASA LALU Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat