
******
"Kenapa kamu seterkejut itu?" Lingga bertanya dengan nada heran sembari meletakkan cangkirnya.
"Tentu saja, kamu mengajakku menikah di umurku yang bahkan belum menyentuh angka 20? Kamu bercanda? Enggak, aku tidak tertarik untuk menikah muda." Vallery menggeleng tegas, menolak dengan keras ide Lingga.
Demi Tuhan, ia masih 19 tahun. Dan kenapa pula ia harus menikah di umur semuda itu? Ia masih ingin menyelesaikan kuliahnya dan bekerja. Menikah muda tidak ada dalam daftar rencana hidupnya. Oke, mungkin karena kesalahan yang ia lakukan, ia harus mengubah beberapa rencana yang ia telah susun. Tapi tetap saja, ia tidak rela jika harus menikah muda masuk ke dalam daftar rencana hidupnya. Apalagi dengan pria yang bahkan jarak usianya cukup jauh dengannya. Ia menentang keras ide itu.
Lingga menghela napas sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Jadi, kamu menolak pertanggung jawabanku?"
Vallery menggeleng tegas. "Enggak. Aku mengizinkan kamu bertanggung jawab."
"Dengan cara?"
"Apapun itu, asal tidak menikah."
Kali ini Lingga tertawa meremehkan. "Kamu lupa tinggal di mana? Kita di Indonesia, Vallery. Negara di mana semua orang, yang bahkan belum tentu punya hubungan dengan kita selalu ingin mencampuri urusan orang lain. Kamu mau jadi bahan omongan orang karena hamil dan melahirkan tanpa suami? Kamu mau semakin mempermalukan keluarga kamu? Kamu sadar tidak, kalau sikap kamu saat ini sangatlah egois? Kamu nggak mikirin gimana perasaan orangtua kamu dan keluarga kamu?"
Kali ini Vallery diam. Apa yang dikatakan Lingga benar dan ia tidak bisa menyangkal sedikit pun. Mendadak perasaan bersalah menyelimutinya, wajah kecewa sekaligus marah sang Papa mendadak terlintas di dalam otaknya. Papanya mungkin akan bertambah marah kalau ia memutuskan untuk tetap mempertahankan bayinya tanpa menikah.
"Bagaimana? Apa kamu masih tetap enggan menikah denganku?"
Vallery berdecak kesal. "Tapi tetap saja aku masih terlalu muda, Lingga. Aku nggak mau menikah muda, apalagi dengan pria yang bahkan..."
"Bahkan?" beo Lingga sembari menaikkan sebelah alisnya penasaran.
"Baru kutemui beberapa kali, jarak umur kita juga cukup jauh. Dan yang paling penting, kita tidak saling mencintai. Terlalu banyak alasan yang tidak memungkinkan untuk kita menikah. Pernikahan bukan sebuah permainan."
"Tidak ada yang bilang kalau pernikahan sebuah permainan, Vallery. Dan untuk masalah cinta, aku rasa cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Kita bisa saja saling mencintai setelah menikah. Aku rasa tidak terlalu buruk kalau harus jatuh cinta pada istri sendiri."
Vallery tertawa sinis. "Iya, kalau begitu. Bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau pada akhirnya kita malah akan saling membenci setelah menikah?"
"Kamu berniat membenciku setelah menikah?"
"SEANDAINYA!!" pekik Vallery kesal.
Lingga memejamkan kedua matanya karena terkejut mendengar pekikan Vallery yang terdengar tiba-tiba.
"Jadi bagaimana? Kita akan tetap menikah kan?"
"Kenapa juga aku harus menikah denganmu," gerutu Vallery menahan kesal.
"Karena kamu mengandung anakku," jawab Lingga lugas.
"Itu terdengar menyedihkan," guman Vallery diiringi helaan napas lirih.
"Gimana?"
Vallery menggeleng tegas. "Nggak gimana-gimana. Oke, aku bersedia menikah denganmu demi anak ini."
Lingga mengangguk. "Keputusan yang bijak," ia tersenyum penuh kemenangan lalu mengimbuhi ucapannya, "api sebelum itu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Ke mana?"
__ADS_1
"Melihat bayi kita."
"Maksudnya?" Vallery menerjap kaget.
"Kita perlu ke dokter--"
"Kamu berpikir aku berbohong tentang kehamilan ini, makanya kamu minta pembuktian," sela Vallery, menatap Lingga tak percaya.
"Aku hanya ingin memastikan kalian berdua baik-baik saja," balas Lingga santai, tanpa merasa terganggu dengan tuduhan Vallery tadi.
####
"Apa yang kamu pikirkan?" Lingga bertanya dengan nada berbisik dan lebih mendekat ke arah Vallery.
Gadis itu menghela napas panjang. Helaan napasnya terdengar berat, gerak tubuhnya pun terlihat seperti sedang gelisah. Saat ini keduanya sudah berada di sebuah rumah sakit, dan sekarang sedang duduk di bangku antrian ruangan obgym, di antara ibu-ibu hamil yang lain. Lingga harus bersyukur karena punya sahabat yang berprofesi sebagai salah satu dokter obgyn di rumah sakit ini, coba kalau tidak, mungkin saja ia harus menunggu besok, agar bisa mengetahui kondisi bayinya.
"Berdoa," balas Vallery singkat.
"Dia pasti baik-baik saja, kamu tidak terlalu khawatir."
"Aku berdoa, semoga dia tidak benar-benar ada."
Kedua bola mata Lingga membulat sempurna. "Maksud kamu?"
Vallery hendak ingin menjawab, namun urung karena namanya dipanggil. Dengan gerakan sigap, Lingga langsung berdiri dan membimbing Vallery masuk ke dalam. Gadis itu terlihat sedikit kurang nyaman dan hendak menghindar, namun Lingga memberi kode agar Vallery tidak perlu memprotes, mau tidak mau akhirnya ia menurut.
Vallery tidak bisa menahan rasa terkejutnya saat masuk ke dalam ruangan, dan dokter itu tidak kalah terkejut. Kedua bola matanya membulat sempurna sambil bertanya tanpa suara, "Ngapain lo ke sini?"
"Menurut lo?" balas Lingga tanpa mengeluarkan suara juga.
"Kami berteman cukup akrab, jadi maaf kalau responnya berlebihan."
Vallery ber'oh'ria sambil mengangguk paham, ia kemudian duduk setelah Lingga menarik kursi untuknya.
"Bisa ngobrol sebentar?" Randu langsung berdiri, berniat mengajak Lingga mengobrol sebentar namun ditolak pria itu.
"Bisa nggak langsung lakuin tugas lo aja?" Lingga menarik kursi untuknya sendiri sambil berdecak tidak suka.
Randu terlihat kehilangan kata-kata dan kembali duduk. "Oke." Ia mengangguk paham, "jadi lo kebobolan? Gue kan udah peringatin buat pake pengaman, selalu sedia stok di dompet, selain mencegah kehamilan 'balon ajaib' itu dapat mengurangi risiko penularan penyakit menular seksual. Barang ini penting, Ga, bagi pria seusia kita. Dia perlu dijaga dan dilindungi dengan baik, ngerti nggak sih lo? Harus berapa kali sih gue jelasin ini?"
Lingga langsung berdecak tidak suka. "Ndu, bisa nggak sih kita langsung mulai?"
Randu mengangguk lalu meminta intruksi kepada perawat agar membawakan buku KIA untuknya. "Udah telat berapa minggu?"
Lingga kemudian menoleh ke arah Vallery, meminta gadis itu agar segera menjawabnya.
"Sekitar 2 minggu," jawab Vallery mengkira-kira.
Randu mengangguk paham. "Itu kalau dihitung dari hari pertama haid biasanya kan?"
Vallery mengangguk, mengiyakan.
"Nama? Umur?"
__ADS_1
"Vallery Calistha. Umur... 19 tahun." Suara Vallery terdengar lebih pelan saat gadis itu menyebutkan umurnya.
"Berapa?! Gue salah denger kan barusan?" Randu menghentikan kegiatan menulisnya, menatap Lingga dan Vallery secara bergantian, "bro?!"
Dengan wajah santainya, Lingga menggeleng. "Enggak, lo nggak salah denger. Umur Vallery emang baru 19 tahun."
"Gila lo! Bisa-bisanya lo ngehamilin gadis di bawah umur? Mau dibilang pedofil lo? Parah lo!" Randu secara reflek menghentikan tulisannya dan menjatuhkan bolpoinnya begitu saja, "ini nggak bener." Ia kemudian menatap Vallery dengan serius, "kamu nggak perlu takut, kamu bisa jujur sama saya! Sekarang jawab dengan jujur, apa Om-om ini memperkosa kamu? Saya janji akan melindungi kamu asal kamu bicara dengan jujur, kamu tidak perlu takut!"
"Randu! Maksud lo apaan? Gue nggak sebejat itu, ya?"
Randu mengangkat kedua bahunya cuek. "Ya, kan gue cuma mau memastikan, kali aja lo khilaf." Ia kembali menatap Vallery, "jadi gimana? Saya benar kan? Ini Om Bule Jawa maksa kamu?"
"Gue nggak gitu, Ndu!" elak Lingga tidak terima.
"Diem lo! Gue nggak tanya sama lo." Randu mengabaikan Lingga dan fokus menunggu jawaban dari Vallery.
"Tidak kok, Dok, Lingga tidak memaksa saya," jawab Vallery pada akhirnya.
"Tuh, denger! Age just number, Ndu." Lingga menaikkan kedua bahunya acuh tak acuh.
"Bisa banget ya, mulut lo ngejawabnya." Randu berdecak sambil geleng-geleng kepala tak percaya, "oke, gue emang nggak punya hak buat ngehakimi kalian. Jadi, gue nggak akan komen apapun lagi. Sorry, kalau reaksi gue tadi berlebihan. Gue tunggu undangannya aja."
"Thanks," balas Lingga sambil tersenyum tulus.
Randu mengibaskan sebelah tangannya. "Tadi kamu bilang udah telat 2 minggu kan? Kemungkinan usia kandungan sudah memasuki minggu ke-6. Coba dicek aja yuk, siapa tahu udah keliatan."
Randu kemudian berdiri, mengajak Vallery untuk berbaring di atas brankar.
Dengan sedikit ragu dan takut, Vallery membaringkan tubuhnya di atas brankar.
"Kemejanya agak dinaikin, Mbak," intruksi si perawat setelah Vallery berbaring. Setelah terangkat baru sang perawat mengoleskan gel di atas perutnya, baru setelah itu Randu mengarahkan alat usg-nya di atas perut Vallery.
Baik Vallery dan juga Lingga cukup takjub saat melihat layar usg. Tanpa sadar tangan Lingga meremas telapak tangan Vallery, rasa haru mendominasi perasaan mereka.
"Iya, udah keliatan. Emang udah masuk minggu ke-6 sih kalau segitu," ujar Randu sambil terus menggerakkan alat usg-nya, ia kemudian tersenyum saat melihat ekspresi wajah Lingga saat ini, "menakjubkan ya, bro?"
Lingga tersenyum sambil mengangguk, membenarkan.
Randu mengangguk sambil menepuk pundak Lingga, lalu mengajak keduanya kembali ke kursi.
"Ada keluhan nggak selama ini? Kayak semisal mual, muntah, pusing gitu?"
Vallery menggeleng. "Enggak ada."
"Beruntung lo, Ga, anak lo kuat nggak nyusahin ibunya," ucap Randu sambil melirik Lingga, tangannya sibuk mencatat, "karena nggak ada keluhan. Ini gue kasih resep vitamin aja ya, nanti kalau semisal mulai ada keluhan bisa langsung ke sini." Ia kemudian menyerahkan secarik kertas kepada Lingga.
Lingga menerimanya sambil mengucapkan terima kasih lalu berdiri dan pamit.
"Thanks, ya, buat waktu luang lo."
"Iya, santai, kayak sama siapa aja. Jagain mereka baik-baik! Kalau ada apa-apa, langsung hubungin gue. Nggak usah sungkan." Randu kemudian berbisik, "lo hutang cerita sama kita."
"Iya, gampang. Thanks, ya, kita pamit." Lingga kemudian mengajak Vallery keluar ruangan. Begitu selesai menutup pintu ruangan, ia menatap Vallery serius, "Vallery, aku mau ketemu keluarga kamu dan bilang kalau aku akan menikahimu."
__ADS_1
"APA?!"
Tbc,