Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
86. Surprise?


__ADS_3

****


Vallery dan Lingga akhirnya bisa bernapas lega saat mengetahui kondisi Saka yang perlahan mulai membaik. Ventilator yang kemarin sempat terpasang kembali selama dua hari, hari ini akhirnya dilepas. Kondisi Saka perlahan pulih, tinggal menunggu kondisi stabilnya, maka ia dan suami sudah dapat membawa Saka pulang. Ini adalah berita yang menggembirakan dan begitu ia tunggu-tunggu. Akhirnya setelah beberapa bulan menunggu, penantian itu hampir tiba. Vallery dan Lingga merasa senang bukan main.


"Selamat ya, Bu Vallery dan Pak Lingga, akhirnya kondisi Saka kembali menunjukkan perkembangan yang signifikan, kita sama-sama berdoa semoga Saka mampu mempertahankan kondisinya saat ini."


Vallery tersenyum dengan kedua mata berkaca-kacanya dan mengangguk. "Aamiin, dok, terima kasih sudah bekerja keras merawat Saka selama ini. Mungkin kalau tidak ada dokter Rita, saya nggak tahu gimana harus melewati ini semua. Dokter telah banyak membantu saya dan suami."


"Tidak masalah, Bu, ini sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab saya selama ini. Ini semua berkat doa ibu dan ketegaran ibu dalam menghadapi ini semua. Makanya Saka ikut kuat dan tegar dalam menghadapinya semua tantangan ini."


"Iya, sekali lagi terima kasih, dok."


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." Rita kemudian pamit undur diri dan meninggalkan mereka.


"Terima kasih, Nak, sudah mampu bertahan selama ini. Mama bangga sama kamu, cepet sehat, ya, biar kita bisa cepet pulang," bisik Vallery sambil membelai pipi sang putra dengan penuh kasih sayang.


Meski tubuh Saka masih tergolong kecil, tapi Saka termasuk anak yang tumbuh cukup aktif dan ceria. Meski sempat ada yang meragukan kalau putranya itu tidak akan bertahan hidup lebih lama, tapi nyatanya Saka mampu melewati semuanya dengan baik. Meski tentu saja sempat mengalami kesulitan juga.


"Jagoan kita hebat, Mas, mampu bertarung dengan sakitnya dengan baik."


Lingga mengangguk sambil ikut mengusap pipi sang putra. Ada perasaan haru yang timbul dalam dirinya, perasaan bangga pada sang putra yang tidak bisa ia jabarkan dengan kata-kata. Ia tidak bisa berbuat banyak kecuali mengucap banyak syukur atas kesempatan yang ia dan sang istri dapatkan. Mengingat semua masa lalu dan masa sulitnya seolah menjadi tamparan keras baginya untuk memperlakukan istri dan anaknya dengan baik. Keduanya telah berjuang melewati banyak hal, dan ia tidak boleh mengecewakan keduanya sedikitnya. Ia harus berjuang membahagiakan keduanya, karena saat in, itulah tujuannya. Ia tidak menginginkan lebih kecuali kebahagiaan keduanya.


"Kamu dan Saka hebat, bisa ngelewati semua ini dengan baik. Aku bangga sama kalian."


"Mas juga hebat karena sabar ngehadapi aku selama ini. Kamu juga luar biasa, Mas, makasih udah mau berjuang sama aku. Aku janji bakal terus belajar jadi ibu dan istri yang baik. Demi keluarga kecil kita."


Lingga mengusap pundak Lingga dan mengangguk. "Iya, sayang, makasih. Aku juga akan belajar jadi Ayah dan suami yang baik untuk keluarga kecil kita. Kita sama-sama belajar, ya, jangan capek menghadapi aku kalau nantinya makin nyebelin." ia terkekeh tak lama setelahnya.


Vallery mengangguk. Begitu banyak hal yang terah ia dan Lingga lewati, berpikiran ingin menyerah dan pisah sering kali timbul dalam benaknya. Namun, ia bersyukur karena mampu bertahan dan menerima semuanya dengan ikhlas. Toh, protes pun tidak akan membalikkan keadaan, yang ada sesak semakin ia rasakan.


Kehadiran Saka benar-benar mengubah hidupnya. Vallery yang tadinya membenci kehadirannya sang calon ibu tiri, kini sudah dapat menerimanya, ia bahkan sangat menyayangi ibu sambungnya itu. Ia yang awalnya enggan menerima Lingga sebagai suaminya, kini ia malah sangat mencintainya. Termasuk dengan masa lalu sang suami, meski awalnya berat, namun, demi Saka ia bertahan dan sekarang ia lebih bisa menerimanya. Masa lalu selamanya tidak bisa diubah, ia akan tetap ada. Hanya saja bagaimana kita bisa menyikapi masa kini.


Sama halnya kebahagian, mereka ada bukan untuk dicari, melainkan diciptakan. Ia tidak akan mencari kebahagiaan itu dengan meninggalkan semuanya, ia hanya ingin menciptakan kebahagiaan itu bersama orang-orang tersayangnya.


*****


"Kamu duluan," ucap Lingga.


Vallery menaikkan alisnya heran, ia merasa gelagat suaminya ini berbeda. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Vallery masih keheranan.


Lingga menggeleng cepat. Lalu segera mengajak sang istri segera masuk ke dalam rumahnya. Bagi Vallery, gelagatnya sekarang sangat mencurigakan. Ia tidak percaya. Pasti ada yang sedang suaminya ini sembuyikan, ia yakin itu. Namun, ia tidak tahu apa yang sedang coba Lingga sembunyikan.


"Tapi kamu aneh," komentar Vallery sambil geleng-geleng kepala.


"Enggak." Lingga menggeleng cepat sambil menyentuh kedua pundak Vallery dari belakang, "yuk, masuk!" ajaknya sambil mendorong tubuh sang istri dengan pelan.


Meski masih nampak keheranan, Vallery akhirnya pasrah. Ia membuka pintu rumah dan tidak dapat menahan keterkejutannya.

__ADS_1


Duar!!!!


"Happy Birthday Mommy-nya Saka!" teriak mereka.


Di dalam rumah mereka nampak ramai. Ada kedua orangtua Vallery maupun Lingga, ada keponakannya yang lucu berserta dua iparnya. Ditambah ada dua sahabat Vallery dan ketiga sahabat Lingga, yang dua di antaranya membawa pasangan masing-masing. Hanya Randu yang nampak seorang diri.


"Ya ampun, Mas, kamu yang nyiapin ini semua?"


Vallery tidak dapat menahan perasaan terharunya. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca dan siap menangis, dengan sigap Lingga langsung memeluknya.


"Enggak, aku cuma nyuruh mereka." Lingga kemudian mengurai pelukannya, "happy birthday ya, sayang. Doa yang terbaik buat kamu dan keluarga kecil kita. Semoga apapun yang akan kita di masa yang akan datang, bisa kita lewati bareng-bareng. Makasih telah lahir dan mau menjadi istri sekaligus Mamanya Saka. Aku sayang kamu." Seolah lupa kalau rumah sedang ramai, Lingga langsung mencium bibir sang istri.


Hal ini tentu saja membuat para orangtua menjerit heboh, karena ada Arvin di sini.


"Mas, ada Arvin nih, nggak bisa apa ditahan dulu?" omel Dika sambil menutup kedua mata sang putra, ia was-was jika putra kebanggaannya yang masih polos harus menyaksikan perbuatan tak senonoh begini.


Lingga meringis sambil meminta maaf. "Sorry, Ka, khilaf."


"Khilaf mulu lo," decak Randu ikut kesal, "tolong ngertiin perasaan gue sama Arvin."


Pasalnya di sini hanya ia dan Arvin yang tidak memiliki pasangan, sedangkan yang lain semua berpasangan. Bahkan kedua sahabat Vallery baru ia ketahui kalau ternyata berpasangan. Astaga, kenapa dunia seolah sengaja membuatnya menderita begini?


Semua orang langsung terbahak saat menyadari ucapan Randu.


Wisnu kebetulan yang berada di sebelahnya langsung menyahut, "Makanya nyari lah, jangan kerja mulu lo." ia kemudian merangkul pundak sang kekasih, "kalau nurutin sibuk sama kerja, kita semua begitu kali. Tapi buktinya apa? Kita semua dapet kok."


Gilang tiba-tiba terbahak. Membuat semua orang yang tadinya sedang mengucapkan selamat ulang tahun pada Vallery secara bergilir, mendadak menatapnya heran.


"Randu abis patah hati tahu, Nu, jangan lo gituin kasian."


Kini giliran kening Lingga yang mengerut heran. "Ditolak perawatnya itu?" tebaknya ragu-ragu.


Wisnu nampak kaget dan mendadak kepo. Namun, Gilang langsung menggeleng sambil menaham senyumnya.


"Nggak usah lo ceritain, Lang!"


"Tapi temen-temen lo pada kepo, Ran."


Randu berdecak kesal. "Ah, nggak asik sekarang curhat sama Gilang. Ember." ia merengut kesal.


Lingga terbahak lalu mengajak semua tamunya duduk dan menikmati hidangan yang tersedia. Karena kebetulan tamunya banyak makan hanya kedua orangtua dan mertuanya yang duduk sofa, sedangkan teman-temannya dan teman Vallery duduk di karpet bulu.


Acara kemudian dimulai. Semua orang menyanyikan lagu ulang tahun untuk Vallery dan mendoakan banyak hal kepada ibu muda itu. Tiup lilin, potong kue dan potong nasi tumpeng. Acara sengaja digelar dengan sederhana mengingat kondisi Saka yang belum sepenuhnya pulih.


Setelah acara selesai, orang tua Vallery dan Lingga pindah tempat, mereka pindah ke ruang keluarga. Tak lama setelahnya, Patricia dan Nick pamit. Kini yang tersisa hanya teman-teman berserta pasangannya dan juga Dika berserta Jenny.


"Sayang, kenalin, yang ini namanya Wisnu. Yang jadi dosen di Solo." Lingga kemudian memperkenalkan Wisnu, salah satu sahabatnya yang belum sempat ia kenalkan dengan sang istri, "nah, yang di sebelahnya itu calonnya. Biar orangnya sendiri deh yang kenalin. Kenalin, Nu!"


"Hai, Vallery, Wisnu," ucap Wisnu memperkenalkan diri pada Vallery, "temennya Lingga."

__ADS_1


"Vallery."


Vallery menerima jabat tangan Wisnu sambil tersenyum tipis. Wisnu kemudian memperkenalkan sang kekasih.


"Ini calon gue, namanya Dita."


Beberapa dari mereka kemudian berkenalan dengan Dita, kekasih Wisnu.


"Asik, kapan nih rencana dihalalinnya?" Gilang membuka suara setelah tadi perkenalan.


Wisnu tersenyum malu-malu sambil mengusap tengkuknya. "Doain aja, ya, semoga cepet nyusul."


"Gue tiba-tiba merasakan hawa panas," celetuk Randu tiba-tiba, membuat mereka langsung terbahak puas.


"Makanya move on, Ran, bini orang itu. Jangan jadi pembinor lo," ledek Gilang dengan tawa puasnya.


Wisnu langsung memasang wajah terkejutnya. "Hah, bini orang? Maksudnya gimana tuh?"


Gilang langsung menutup mulutnya secara reflek. "Ups! Keceplosan gue."


Randu langsung berdecak kesal. "Lo mentan-mentang Febi udah telat jadi bawaannya lupa segala, ya? Dibilang jangan cerita juga? Lupa lo kemarin gimana? Emang nggak tahu terima kasih lo," gerutunya kesal, "cabut aja lah gue. Kesel gue lama-lama di sini. Nggak tahan, gerah!"


"Dih, gitu aja ngambek lo, Ran. Suami gue kan nggak sengaja, lagian nggak papa kali. Biar temen-temen lo bisa ngehibur lo, biar nggak sedih mulu."


Mendengar ucapan Febi yang membela suaminya, Randu langsung berdecak kesal. Dihibur apanya, yang ada ia bakal diledek habis-habisan oleh mereka. Ia mendengus tak lama setelahnya.


"Febi udah telat?"


Gilang mengangguk dengan senyum cerahnya. "Iya, doain jadi, ya. Biar cepet punya temen ntar si Saka."


"Alhamdulillah, akhirnya. Penantian lo terbayarkan."


"Gue ikut seneng dengernya" Wisnu mengangguk setuju, "lanjut, Lang, ceritanya gue udah penasaran ini. Kok bisa Pak Bidan kita bisa naksir sama bini orang."


"Jangan-jangan Bang Randu naksir pasiennya," seloroh Dika sambil terbahak.


Randu berdecak kesal sambil melempar kulit kacang kepada Dika. "Sialan! Enak aja, gue nggak begitu, ya. Lo pikir gue cowok apaan? Ya, kali naksir pasien gue sendiri. Suka nggak ada otak lo ya, Ka?"


Dika terbahak dengan wajah tidak bersalahnya. "Ya, kan bisa jadi gitu. Kadang kan ibu hamil sexy-sexy menggoda." ia menaikkan alisnya naik turun menggoda sang istri.


"Anjir," komentar Randu, "udah dikode, Jen. Jadiin, tapi jangan jadiin gue dokter kandungan kalian. Cari dokter lain, kasian gue. Capek hati ini."


Semua orang kembali tertawa.


"Kasian banget nasibnya Pak Bidan gue," ledek Wisnu sambil terbahak, "buruan, Lang, cerita kronologinya. Biar gue bisa bantu cariin penggantinya."


Wisnu menoleh ke arah Randu, berniat meminta persetujuan. "Boleh nggak, Ran?"


"Ngapain nanya? Kalau faktanya lo udah bilang dari tadi. Bodo amat lah, nggak peduli gue." Randu berdecak kesal lalu berdiri dan menghampiri Arvin, "Vin, main sama Om, yuk," ajaknya kemudian.

__ADS_1


Beruntung ponakan Lingga itu langsung mengangguk setuju dan menurut saat Randu ajak.


TBC,


__ADS_2