
Β
Vallery akhirnya dapat bernapas lega karena acaranya sudah selesai. Tamu-tamu sudah pada pulang dan kini saatnya ia mulai membersihkan diri dan beristirahat. Setelah selesai acara ia baru sadar betapa melelahkannya menjadi pengantin baru. Tidak mengadakan resepsi saja sebegininya, apalagi kalau sampai harus diadakan resepsi. Astaga, Vallery tidak sanggup untuk membayangkannya.
"Perlu bantuan?" tawar Lingga saat memasuki kamar Vallery, yang kini sudah resmi menjadi kamarnya juga.
Ia kemdudian mengambil posisi duduk di tepi ranjang dekat meja rias. Vallery saat ini sedang duduk di hadapan meja rias, bersiap untuk membersihkan make up-nya.
Sambil tersenyum, Vallery menggeleng. "Enggak usah, kamu langsung mandi saja, Mas. Nanti kalau butuh bantuan, aku bilang." Ia menoleh ke arah Lingga sebentar dan memulai aktivitasnya membersihkan sisa make up-nya.
Lingga mengangguk paham lalu berdiri. "Ya sudah, aku mandi dulu."
Lingga langsung berdiri dan membongkar isi kopernya. Mengeluarkan pakaian untuk dipakai sekarang, peralatan mandi, danΒ handuk miliknya sendiri. Setelahnya ia langsung masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan make up-nya, Vallery kemudian berganti pakaian yang lebih nyaman. Ia kemudian bergegas mendekat ke arah koper Lingga, mengeluarkan beberapa pakaian dari dalam sana dan memindahkannya ke dalam lemari.
Tak berapa lama kemudian, Lingga keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya.
"Baju-baju kamu udah aku pindahin ke lemari sini, ya," ucap Vallery sambil menempatkan koper milik Lingga ke sudut ruangan.
"Iya, makasih, maaf ngerepotin. Padahal aku bisa pindahin sendiri," ucap Lingga sedikit sungkan, ia menghentikan kegiatan menggosok rambutnya yang basah sejenak.
Vallery tersenyum tidak masalah. "Pake hair dryer aja biar cepet kering, aku kurang suka bantal ikut basah karena rambut kamu yang basah." Ia berjalan ke arah meja riasnya, menarik laci dan mengeluarkan hair dryer dari dalam sana, "sini duduk! Aku bantu keringin."
"Enggak usah, kamu mandi aja, ini udah sore loh. Nanti dingin," tolak Lingga sambil menggeleng.
Vallery berdecak. "Enggak, makanya kamu buruan ke sini, biar cepet."
"Tapi--"
"Mas," panggil Vallery dengan ekspresi seriusnya. Hal ini membuat Lingga tidak dapat membantahnya.
"Oke." Lingga kemudian mengangguk pasrah, berjalan mendekati Vallery dengan sedikit canggung dan duduk di depan meja rias.
"Meski kita nikah karena terpaksa, bukan berarti aku bisa abai sama tugasku. Kita juga udah sepakat kan menjalani peran ini pelan-pelan."
Lingga menatap Vallery dari layar kaca. "Tapi kamu tidak perlu melakukan ini semua."
"Apa tidak boleh?" Vallery menghentikan kegiatannya dan menatap Lingga melalui cermin di hadapan mereka.
Lingga diam, hal ini membuat Vallery tersenyum.
"Bukannya tidak boleh, hanya saja aku tidak mau membebani kamu, Vallery. Kamu masih terlalu muda untuk melakukan ini semua, dan aku rasa itu tidak perlu," ucap Lingga dengan perasaan tidak enaknya.
Vallery diam sesaat lalu mematikan hair dryer-nya. Helaan napas terdengar setelahnya.
"Haruskah aku berhenti?"
"Bukannya sudah?" Lingga malah balik bertanya, karena ia sedikit tidak paham dengan arah pembicaraan sang istri.
Istri? Rasanya kadang masih terasa aneh, mengingat kini mereka sudah resmi menjadi suami istri. Baik sah secara hukum maupun agama. Perasaan canggung itu masih terasa nyata. Apalagi kalau mengingat keduanya yang menikah karena terpaksa.
"Belum." Ia kembali menghidupkan hair dryer miliknya dan melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda, "bukan itu. Tapi sesuatu yang menjadi kewajibanku."
"Asal kamu tidak melakukannya secara terpaksa dan itu tidak membebanimu, lakukan! Tapi kalau kamu melakukannya hanya karena sungkan, lebih baik tidak perlu. Aku tidak akan marah atau protes, aku paham, Vallery."
"Terima kasih."
Lingga menoleh ke arah Vallery. "Kenapa tiba-tiba berterima kasih?"
"Pengen aja." Vallery menyengir polos lalu mematikan hair dryer-nya, "udah selesai."
"Makasih, sana kamu buruan mandi! Biar aku yang beresin ini."
__ADS_1
Vallery mengangguk setuju, lalu bergegas ke kamar mandi. Lingga tersenyum sambil geleng-geleng kepala, tingkah laku sang istri kadang benar-benar mencerminkan kalau ia masih bocah, meski kadang kala juga terlihat cukup dewasa untuk seusianya.
Karena bingung hendak berbuat apa, Lingga kemudian memutuskan untuk membuka ponselnya. Ia mengusap layar dan kunci pun terbuka, ia memang tidak memberi proteksi apapun pada layar kuncinya karena baginya itu merepotkan. Ada puluhan chat yang belum terbaca, kebanyakan dari mereka adalah rekan bisnis maupun karyawannya yang mengucapkan selamat atas pernikahannya. Sisanya mereka bertanya kenapa mereka bisa tidak menerima undangan. Chat yang pertama kali dibuka adalah roomchat grupnya bersama kawan-kawannya.
Gilang telah mengubah nama grup menjadi 'Hampir Sold Out, Kurang Pak Bidanππ€£'
Lingga tidak bisa menahan tawanya saat membaca nama grup mereka yang baru. Ada-ada saja tingkah mereka ini, mereka kalau sedang rajin berbagi pesan di grup memang paling rajin mengganti nama grupnya menjadi aneh-aneh. Ia sendiri sering kali tidak paham apa manfaatnya.
Randu : itu kenapa nama grupnya jadi begitu? Ganti nggak?ππ
Wisnu : nggak papa, Ran, biar lo sadar diri. Ingat status, ingat kodrat, biar nggak ngurusin pasien doang.
Wisnu : by the way happy wedding buat @Lingga, si bule jawa kita. Samawa, ya. Sehat2 buat debaynya
π€©
Wisnu : cepet nyusul Pak Bidan
Randu : π lo juga belum taken, ya, Pak Dosen, jangan berlagak cuma gue yang belum kawin
Randu : gue timpuk juga loπ€
Gilang : ngakak so hard
Gilang : ngakak online
Gilang : ngakak puolllll
Gilang : π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£
Gilang : udah, ah, capek
Gilang : tapi, Ran, seenggaknya Pak Dosen kita udah ada calon. Tinggal dihalalin. Yoi, nggak, Pak?
Gilang : gue paling nggak suka sama nama panggilan yang kalian bikinin buat gue
Gilang : punya gue paling nggak keren taukπ
Randu : udah terima nasib
Wisnu : udah terima nasih (2)
Gilang : ππππ
Randu : Nu, lo nggak kepo kek apa bentukan istri Lingga?
Wisnu : penasaran dong, send pict dong. Gue kan nggak bisa hadir
Wisnu : gue kesel banget kalau inget nggak bisa dateng, padahal gue udah pesen tiket segala tinggal berangkat
Gilang : emang kenapa lo mendadak nggak bisa dateng?
Wisnu : rekan dosen gue yang awalnya setuju buat gantiin kelas gue mendadak ingkar janji alhasil, gue sendiri yang harus isi kelas.
Randu : gue kemarin juga terancam gak bisa dateng gegara kondisi pasien gue nggak begitu bagus. Untung masih sempet
Wisnu : kirim buruan, woe!
Gilang : nggak sabaran amat sih lo @wisnu jadi dosen
Gilang : send a picture
Randu : send a picture
__ADS_1
Wisnu : wooow
Wisnu : cakep amat anjir
Gilang : aslinya lebih cakep, bro
Wisnu : π²π²serius?
Gilang : nggak percaya coba tanya Randu
Randu : iya, bener
Randu : tapi lo nggak penasaran berapa umurnya?
Gilang : anjir, diamuk penganten baru baru tahu rasa lo
Randu : nggak takut gue, paling juga lagi sibuk tukeran ludah
Randu : santai kawanku
Lingga : ehem ehem
Randu :π²Β salah lihat kan ini gue
Randu : mampus π¨π©
Gilang : mampus (2)
Wisnu : mampus (3)
Gilang : mampus (4)
Wisnu : mampus (5)
Lingga : mampus (6)
Lingga tidak bisa menahan kekehannya saat berhasil mengerjai Randu. Ia terlihat asik membaca pesan yang kawan-kawannya kirimkan, sampai ia tidak sadar kalau Vallery sudah keluar dari kamar mandi dan tengah menatapnya heran.
"Chat sama siapa sih? Asik bener keliatannya?" guman Vallery pelan.
Entah benar mendengar atau tidak, Lingga langsung mengangkat wajahnya. "Udah selesai mandinya?"
Vallery mengangguk lalu duduk di depan meja rias. "Abis chat sama siapa emang? Asik bener?"
"Temen."
"Temen siapa?" tanya Vallery mendadak curiga.
Lingga sedikit menaikkan alisnya bingung. Merasa sedikit aneh dengan nada suara Vallery yang tiba-tiba berubah. Tanpa berpikir panjang, ia kemudian memperlihatkan layar ponselnya kepada sang istri.
"Kamu main grup WhatsApp juga? Aku pikir enggak?" tanya Vallery setelah melirik layar ponsel Lingga sekilas, ia kemudian menyisir rambutnya.
"Anak-anak yang bikin, aku cuma sih jarang nimbrung, paling cuma jadi silent reader aja. Suka heran aku tuh sama mereka padahal mereka tuh orang-orang sibuk semua loh, tapi masih sempet aja gibah di grup kayak emak-emak jaman sekarang ini."
Vallery mengucir rambutnya seperti kuda, lalu memutar tubuhnya menghadap Lingga. "Emang pekerjaan mereka apa aja?"
"Untuk Gilang, yang tadi datengnya bawa istrinya dia juga dokter kayak Randu, cuma bedanya dia dokter spesialis penyakit dalam, sedangkan Wisnu, yang nggak dateng karena dia ada di Solo tuh dosen."
Vallery langsung berseru takjub, saat mendengar profesi yang dilakukan teman-teman Lingga. Hal ini membuatnya merasa kecil hati. Kalau teman-temannya saja profesinya bagus-bagus begitu, bukankah mantannya memiliki potensi demikian? Mendadak ia merasa cemburu. Hah? Apa yang baru saja ia katakan? Cemburu? Astaga! Ada-ada saja
Tbc,
update malem ini lagi apa lanjut besok nih? π€
__ADS_1