
*****
"Kenapa dia?"
Nick baru saja sampai di kantin dan sudah disambut dengan ekspresi tak mengenakkan dari Vallery. Bumil itu tampak tidak bersemangat sejak di kelas tadi, ia pikir mungkin karena lapar atau mengantuk. Tapi sepertinya tebakannya salah, buktinya saat mereka sudah di kantin dan berhadapan dengan makanan favoritnya, moodnya belum juga membaik.
"Galau," bisik Patricia tanpa suara.
Nick mengerutkan dahinya heran. Galau? Apa yang membuat istri muda ini merasakan galau? Perasaan beberapa minggu terakhir ini, Vallery selalu ceria dan seperti sedang dimabuk kebayang, kenapa tiba-tiba mendadak galau begini.
"Galau kenapa?" tanya Nick kepo. Ia mengambil posisi tepat di samping Patricia, menghadap langsung ke arah Vallery, "lo kenapa deh?"
"Gue sedih, Nick," aku Vallery dengan ekspresi sedihnya, sebelah tangannya ia gunakan untuk menopang dagu.
"Sedih kenapa? Cerita sama kita, siapa tahu kita bisa bantu. Gue sama Patricia emang belum ada pengalaman berumah tangga, tapi kan seenggaknya kalau lo cerita kita bisa bantu hibur lo, paling enggak."
"Temennya suami gue dari kemarin nginep di rumah gue."
"Terus kenapa? Itu bikin lo nggak nyaman di rumah? Ya kan lo tinggal bilang ke laki lo." Nick berdecak kesal sambil membuka sebungkus roti selai yang ada di hadapannya, "Valle, kita cowok nggak bakal tahu kalau kalian para cewek nggak bilang apa maunya kalian. Kita ini manusia biasa, bukan Ki Joko Bodo yang bisa baca pikiran orang. Apalagi kalian udah berumah tangga, kalau ada apa-apa ya kan berdua."
"Emang Ki Joko Bodo bisa baca pikiran orang, Nick."
Nick langsung berdecak sambil melotot tajam ke arah sang kekasih.
"Ya mana gue tahu, maksud gue itu tadi cuma perumpamaan, Sayangnya aku. Gue juga nggak tahu dia bisa baca pikiran apa enggak, bukan urusan gue maupun kita. Oke, lupakan!"
Vallery menatap Nick sambil mencibir. "Kenapa jadi lo yang sewot? Lo sensi banget deh kayak laki gue kalau nggak dapat jatah."
"Gue nggak sewot, cuma agak gemes sama temen lo." Nick menunjuk wajah Patricia secara terang-terangan lalu menggeleng, "enggak, maksud gue pacar gue," ralatnya kemudian, "bisa diamuk lagi gue ntar," imbuhnya dengan suara pelan.
Nick kemudian mangguk-mangguk. "Gue emang udah lama nggak dapet jatah. Pacar gue sekarang Patricia. Enggak bisa jajan sembarang juga, jadi..." Ia menggantung kalimatnya sambil tertawa miris, "ya begini lah nasib gue."
"Jadi salah gue?" tanya Patricia gantian sewot.
Nick langsung berdecak dengan wajah frustasinya. ***** makannya seketika menguap. "Anjir, masih tetep aja salah gue."
Patricia langsung memasang wajah galaknya dan memilih untuk tidak membalas. Hal ini tentu saja membuat Vallery bertambah kesal saat melihatnya.
"Woy, tolong dong, gue ini lagi galau, butuh kalian hibur. Kenapa malah ditambah-tambahin? Gue lagi bunting juga ini."
Nick langsung menoleh ke arah Vallery. "Anjir, bunting banget nih lo nyebutnya?"
"Tau lah," balas Vallery cuek.
Moodnya kian terjun bebas. Di rumah menggalau karena keberadaan Carissa, di sini kedua sahabatnya malah memperburuk moodnya. Jelas saja ia kesal.
"Oke, kembali ke topik. Emang temen laki lo kenapa? Berisik? Suka ngajakin suami lo begadang? Atau gimana?"
"Cantik."
Nick dan Patricia langsung bertukar pandang. Ekspresi terkejut langsung tergambar jelas pada wajah keduanya. Cantik? Itu artinya teman suami Vallery perempuan?
"Bentar, gue kayaknya salah denger deh."
"Gue juga."
__ADS_1
Patricia ikut-ikutan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Menurutnya Lingga bukan tipekal pria yang seperti itu, tapi kenapa sampai tega begini? Membiarkan perempuan asing masuk ke dalam rumah mereka jelas bukan pertanda baik. Oke, mungkin bukan perempuan asing. Tapi bagi istrinya, jelas perempuan itu asing bagi Vallery.
Vallery menggeleng dengan ekspresi sedihnya. "Kalian nggak salah dengar, temen Mas Lingga emang perempuan. Cantik, putih, tinggi semampai, sexy, anggun, jago masak pula."
Brak!
"Brengsek!" umpat Nick sambil menggebrak meja secara tiba-tiba.
Vallery dan Patricia sampai tersentak kaget, bahkan mahasiswa lain pun ikut tersentak kaget. Semua pengunjung kantin langsung menatap ke arahnya dengan tatapan kesalnya.
"Lo kenapa sih, Nick? Ngagetin aja! Ngajak ribut siapa lo?" tanya salah satu mahasiswa senior yang kebetulan duduk tak jauh dari meja mereka.
Nick langsung menunduk sambil meminta maaf. "Maaf, Kak. Reflek. Enggak ngajak ribut siapa-siapa kok, kan saya cinta damai," ringisnya salah tingkah, "maaf, Kak, sekali lagi."
"Awas lo kalau begitu sekali lagi. Ini kantin umum, bukan kantin milik keluarga lo, jadi jangan seenaknya!"
"Iya, Kak, maaf."
"Jangan mentang-mentang lo dari keluarga berada dan ganteng, terus lo bisa seenaknya!"
Nick meringis sambil menggeleng panik. "Enggak kok, Kak, serius, yang tadi cuma reflek. Maaf, Kak, sekali lagi." Ia kembali membungkuk untuk meminta maaf kepada senior dan pengunjung kantin yang lain.
Setelah keadaan mulai tenang, Nick akhirnya kembali duduk. Di sampingnya Patricia langsung mengumpatinya.
"Mampus lo! Diserang kan, makanya pula sikap dan mulut dikontrol!" omel Patricia.
Nick meringis malu. "Ya, gimana, reflek, yang. Abis kelakuan suami Vallery begitu. Kan gue kesel, sebagai role model gue, gue merasa tersinggung. Masa pria dewasa udah nikah begitu sama istrinya sendiri? Kan nggak sopan." Ia kemudian menoleh ke arah Vallery, "lo tenang aja, Valle, biar gue kasih pelajaran sama suami lo nanti. Biar dia sadar diri dan nggak giniin lo lagi. Gue tetep berada di pihak lo."
"Apaan sih lo," protes Vallery sambil berdecak, "maksud gue bukan begitu."
"Terus apaan?"
"Sama aja, Valle, astaga!" Nick kembali berdecak, "yang jadi poin penting saat ini ada sikap suami lo yang seolah nggak menghargai lo sebagai istrinya."
Kali ini Vallery ikut berdecak, ia tidak terima saat suaminya dijelekkan orang lain. "Lo jangan ngomong sembarang, Nick! Suami gue selalu berusaha ngehargai gue. Dia nggak seperti yang lo bilang."
Nick mendengus malas. "Vallery, setiap usaha belum tentu membuahkan hasil. Ada kalanya usaha itu tetap berujung gagal meski kita sudah berusaha sekuat tenaga. Kita bisa berencana, tapi tetep Tuhan yang menentukan." Ia menyatukan kedua tangannya di atas meja, "seperti dalam kasus lo. Bisa jadi emang suami lo berusaha untuk menghargai dan menghormati lo sebagai istrinya, tapi namanya manusia pasti pernah khilaf. Secara sengaja maupun nggak sengaja, bisa aja tetep ngecewain lo. Seperti saat ini. Lo kecewa kan dengan sikap Bang Lingga karena ngebiarin wanita lain nginep di rumah kalian?"
Vallery tidak langsung menjawab. Bibirnya tertutup rapat. Apa yang dikatakan Nick ada benarnya, ia memang merasa sedikit kecewa dengan sikap Lingga yang membiarkan perempuan lain menginap di rumah mereka. Ia ingin memprotes. Namun, tidak dapat ia lakukan, karena ia takut disangka terlalu posesif atau semacamnya. Apalagi Lingga sempat memohon agar membiarkan Carissa menginap. Ia jelas tidak bisa berbuat banyak.
"Gue bener kan? Lo sebenernya pengen protes tapi merasa nggak berdaya juga."
Vallery masih memilih untuk diam.
"Lo kenapa nggak bilang aja sih, Valle, kalau perempuan itu bikin lo nggak nyaman."
"Cewek ya, begini kan, sukanya nyari penyakit. Udah gue bilang ratusan kali, kalau emang ada yang ganggu pikiran lo, ngomong!" sahut Nick sewot, ia kemudian menoleh ke arah Patricia, "ini juga berlaku buat kamu. Kita pacaran. Enggak suka gue kalau ada drama ginian. Kalau ada yang ganggu pikiran lo, langsung ngomong ke gue."
"Kenapa jadi gue yang kena?" protes Patricia tidak terima.
"Antisipasi doang, sayang. Kan kalian sama-sama perempuan, suka begini pula kamunya. Jadi, biar nggak berkelanjutan gue ingetin sekalian." Fokus Nick kembali ke Vallery, "seenggaknya gue sama Patricia masih pacaran, Valle. Tapi kalian udah nikah loh. Problemnya beda. Masalah sepele aja bisa jadi boomerang kalau dibiarin. Jadi saran gue, mending lo ngomong."
Vallery menghela napas panjang. "Masalahnya gue nggak enak, Nick, gue bingung ngomongnya."
"Enggak enak, bingung ngomongnya atau gengsi?"
__ADS_1
Vallery berdecak.
Nick langsung mendengus. "Ya udah, pelihara itu gengsi lo ampe jadi gede. Gengsi kok dipelihara, kalau udah gini siapa yang susah? Lo sendiri kan?"
"Kenapa lo malah ngomelin gue sih?" protes Vallery kembali berdecak. Niatnya ia hanya ingin berbagi cerita biar lebih lega sedikit, tapi kenapa malah begini ujungnya.
"Ya abis lo bego."
"Siapa yang bilang bego?"
Suasana mendadak langsung berubah, saat seorang pria tiba-tiba duduk di sebelah Vallery. Nick langsung memasang wajah paniknya, Vallery dengan tatapan malasnya dan Patricia dengan tatapan herannya.
"Kak Raka," sapa Nick sambil meringis canggung, "apa kabar, Kak?"
"Nggak usah sok asik lo sama gue. Gue ulang pertanyaan gue, siapa yang lo bilang bego?"
Raka yang tidak lain, tidak bukan senior di kampusnya. Terlihat tidak ingin berbasa-basi dengannya. Nada suaranya terdengar ketus dan dingin. Membuat Nick, yang notabene-nya hanya adik tingkat, jelas merasa nyalinya menciut seketika.
"Enggak ada, Kak." Nick menggeleng cepat masih dengan wajah paniknya.
Raka kemudian menoleh ke arah Vallery. "Bener itu?"
Vallery menampilkan wajah seolah sedang berkata 'ini Kating sok asik banget sih sama gue'.
"Kak Raka ngapain di sini?"
Bukannya menjawab, Vallery malah balik bertanya dengan nada dinginnya.
Raka langsung tertawa. "Emang ada larangan buat gue duduk di sini?"
Vallery menggeleng santai. "Ya enggak, tapi Kak Raka bikin kita nggak nyaman."
Nick melotot kaget sambil menggeleng cepat, kedua tangannya mengibas. "Enggak, Kak, kita biasa aja kok."
Raka kemudian menoleh ke arah Patricia. "Lo ngerasa terganggu?"
"Sedikit, Kak."
Nick langsung mengumpat kasar. "Sialan, ini dua cewek suka bener uji nyali."
Raka langsung terbahak. "Astaga, jadi gue ganggu?"
"Bukan ganggu, cuma bikin kurang nggak nyaman," koreksi Vallery dengan ekspresi datarnya.
Nick tertawa hambar. "Ya, ampun, Kak, ini dua temen saya emang suka bercanda kok. Kak Raka sama sekali nggak ganggu." Ia kemudian menyenggol lengan Patricia dan menendang kaki Vallery pelan. Mengintruksi kedua perempuan itu agar tidak memperkeruh keadaan, "ngomong-ngomong Kak Raka ada perlu apa ke sini?"
Raka berpikir sejenak lalu menoleh ke arah Vallery. "Gue ada urusan sama Vallery. Bisa kalian kasih kita waktu berdua."
"Maaf, Kak, enggak bisa," ucap Patricia mewakili.
"Nama lo Vallery?"
"Bukan. Tapi gue lebih dulu ada urusan sama Vallery." Patricia kemudian merangkul lengan Vallery dan mengajak perempuan itu berdiri, "yuk, Valle!"
"Sialan!" umpat Raka kasar, "tunggu aja, gue pasti dapetin lo!" gumannya sambil mengepalkan telapak tangannya.
__ADS_1
Di hadapannya Nick hanya mampu memasang wajah ibanya. Dalam hati ia berbisik, "Kasian Kating gue. Kalah saing sama Bule Jawa.
Tbc,