
******
Lingga menunggu dengan harap-harap cemas saat dokter sedang menangani Vallery, kedua tangannya bahkan masih berlumuran darah dan kini sudah mengering. Kedua matanya terlihat memerah dan juga gelisah. Ia berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan. Mulutnya sedari tadi tidak berhenti berkomat-kamit seraya merapalkan doa agar sang istri diberi keselamatan. Ia tidak menginginkan lebih, baginya keselamatan Vallery lebih penting dari apapun.
"Bang, mending lo cuci tangan dulu deh. Itu tangan lo masih berlumuran darah," tegur Patricia takut-takut. Ia tahu Lingga sedang mencemaskan kondisi Vallery, kalau ia di posisi Lingga, mungkin saja ia tidak akan sempat berpikiran untuk melakukan hal lain.
"Enggak papa, Pat, nanti aja gue cuci tangannya." Lingga mencoba tersenyum samar.
Pada akhirnya Patricia hanya bisa mengangguk pasrah dan membiarkan suami sahabatnya ini melakukan apa yang dia inginkan.
Sekarang hanya Patricia lah yang menemaninya, Nick memang tidak ikut ke rumah sakit bersama mereka. Lingga menyuruh Nick menemani Mayang memberi kesaksian di kantor polisi. Tahu kondisi Vallery sampai begini, Lingga jelas tidak tinggal diam. Ia langsung melaporkan masalah ini kepada pihak yang berwajib agar semua diusut sampai tuntas. Ia tidak terima istrinya diperlakukan seperti ini. Ia akan meminta pertanggung jawaban dari si pelaku. Tadi ia juga sudah menghubungi Will agar ikut menemani Nick mengurus semuanya. Lingga menyerahkan semuanya kepada Will karena fokusnya saat ini ada pada kondisi Vallery.
Tak berapa lama setelahnya, dokter yang sempat menangani kondisi Vallery menghampiri Lingga.
"Wali pasien?"
Lingga mengangguk cepat. "Saya suaminya."
Kedua bola mata sang dokter sempat melotot beberapa saat, mengetahui pasiennya yang tergolong masih muda ini sudah memiliki suami. Mencoba untuk tidak kepo dan bersikap profesional, dokter itu berdehem lalu mengangguk paham.
"Gimana kondisi istri saya, dok?"
"Kondisi istri bapak cukup serius, bahu kanannya mengalami sedikit keretakan. Pendarahan hebat pada kepalanya membuatnya kehilangan banyak darah, kami memerlukan darah tambahan secepatnya. Setelah ini kami akan mengambil tindakan operasi untuk menghentikan pendarahan. Sekiranya ada keluarga atau kerabat yang mau mendonorkan darahnya untuk pasien sangat dianjurkan, karena takutnya nanti kami kehabisan stok. Soalnya pasien membutuhkan banyak."
Lingga baru hendak membuka suara untuk membalas ucapan dokter, namun tiba-tiba Randu dan Gilang datang dan menanyakan kondisi Vallery.
"Gimana kondisi Vallery? Serius enggak?" tanya Gilang mewakili, napasnya terdengar ngos-ngosan.
"Cukup serius, Bang," sahut sang dokter. Dia adalah junior Gilang dan Randu.
"Serius yang kayak gimana?"
"Butuh banyak donor darah."
"Golongan darah Vallery apaan sih?"
"A+."
"A+?"
"Gue aja kalau gitu, golongan darah gue A+ kebetulan," usul Randu tanpa berpikir panjang.
Lingga nampak terkejut. "Lo nggak papa, Ndu?" tanyanya khawatir. Ia sedikit sungkan menerima bantuan dari Randu.
Maksudnya pekerjaan Randu tidak bisa sembarangan ditinggal atau dialihkan ke rekannya.
Tanpa keraguan Randu mengangguk. "Santai aja, Ga, gue sehat kok. Istri lo bakal aman."
"Pasien lo?"
"Lagi diurus lakinya masing-masing, santai. Gue abis visit kok, dan perkiraan belum ada yang bakal melahirkan dalam waktu secepat kilat, kalau cuma ditinggal donor darah doang."
__ADS_1
Lingga masih terlihat ragu-ragu. "Enggak ngerepotin lo?"
"Astaga, ngomong apaan sih ini bapak-bapak?" decak Gilang tiba-tiba, "Ga, kita itu temen, sahabat. Nggak ada itu istilah ngerepotin kayak yang lo ucapin, sebagai sesama manusia aja kita harus saling tolong menolong, apalagi sama temen sendiri yang udah dianggep sodara. Udah deh, nggak usah aneh-aneh. Golongan darah gue kalau A+ juga bakal bakal gue donorin langsung. Lebay."
Kedua mata Lingga terlihat berkaca-kaca. "Thanks ya, guys, gue nggak tahu kalau nggak ada kalian gimana."
Randu terkekeh sambil menepuk pundak Lingga. Ia tahu banyak hal telah sahabatnya ini lalui, tapi ia tidak menyangka kalau kondisi Vallery akan membuat Lingga kembali seperti ini.
"Udah, Lang, jangan lo omelin dulu ini si Pak CEO, kasian tahu!" Randu kembali menguatkan Lingga, "udahan, Ga, gue yakin Vallery pasti kuat kok. Dia pasti akan bertahan dengan baik, lo juga harus kuat. Jangan terus-terusan sedih! Kasian Saka juga kan?"
Saka?
Kedua mata Gilang melotot sempurna. "Eh, lha terus gimana ini nasib Saka? Dia udah pulang belum sih?"
Lingga menggeleng frustasi sambil menyugar rambutnya ke belakang. "Enggak tahu, otak gue nggak bisa mikir, Lang. Dia belum gue ambil, masih di RS. Enggak tahu nanti, mungkin gue minta tolong jagain Ibu sementara gue urus Vallery."
Gilang mengangguk paham, diikuti Randu setelahnya.
"Ya udah untuk Bang Randu langsung ke ruang transfusi darah aja. Biar kondisi pasien bisa langsung ditangani. Dan untuk wali pasien silahkan ikut saya, untuk urus administrasi dan menanda tangani surat persetujuan."
*****
Gerald dan Riana berlari cepat menghampiri Lingga yang ditemani Bayu dan Dika. Lidiya sudah pulang beberapa saat yang lalu untuk mengurus Saka. Alhasil hanya mereka lah yang ada di sana.
"Gimana kondisi Vallery?" tanya Gerald dengan wajah paniknya. Ia dan istri baru mengetahui kabar ini karena sebelumnya mereka masih di rumah keluarga Riana. Begitu pulang dari sana mereka langsung meluncur ke rumah sakit.
"Lagi ditangani dokter, Pa."
Belum lama ini putri sulungnya merasakan dinginnya kamar operasi, dan sekarang ia harus merasakan kembali. Orang tua mana yang tidak sedih jika itu terjadi pada anaknya. Gerald yakin semua orang tua bakal bersedih.
"Lagi diusut polisi, Pa. Semoga bisa secepatnya ditemukan siapa pelakunya."
"Papa nggak mau damai," ucap Gerald dengan nada bicara serius, "Papa nggak peduli dia anak siapa, yang Papa mau si pelaku harus mendapatkan ganjaran setimpal."
Lingga mengangguk setuju. Dia memang sepemikiran dengan sang mertua, mau siapapun pelakunya, ia ingin si pelaku dihukum dengan setimpal. Ia tidak terima ini terjadi pada istrinya.
"Iya, Pa, Lingga juga berpikiran demikian. Pelaku harus dihukum setimpal, Lingga sendiri yang akan memastikan dia dihukum nantinya."
"Lalu gimana dengan Saka, Ga?" tanya Riana.
Lingga menghela napas panjang. "Saka udah dibawa pulang sama Ibu, Ma. Untuk sementara ibu yang akan merawat Saka."
"Ya ampun, kasian, Vallery pasti sedih. Setelah menunggu sekian lama akhirnya Saka udah diperbolehkan pulang, eh, dianya malah kena musibah." Riana memandang ke arah pintu ekspresi dengan wajah sedihnya, batinnya ikut terluka mengingat apa saja yang telah dilalui sang putri sambung.
"Doain saja, Ma, semoga Vallery diberi ketabahan untuk melewati ini semua."
Riana mengangguk. "Kamu juga, Ga, kamu juga harus lebih kuat dan tabah, ya."
Lingga diam sesaat, untuk saat ini dirinya masih merasa terlalu lemah. Dia benar-benar merasa terpukul dengan apa yang telah terjadi pada Vallery. Batinnya seolah tidak terima dengan takdir yang menimpanya.
Tak lama setelahnya, pintu kamar operasi terbuka. Seorang dokter keluar dari sana dan menghampiri Lingga.
__ADS_1
"Gimana, dok, istri saya baik-baik saja kan?"
Dokter itu mengangguk. "Syukurlah, operasi berjalan lancar. Pendarahan sudah dapat kami hentikan, tadi kondisi Vallery sempat drop karena pasien kehilangan banyak darah, tapi syukurlah kami dapat mengatasinya dengan baik. Untuk sementara pasien akan kami pindahkan ke ruangan ICU untuk pemantauan, kalau kondisi sudah benar-benar stabil, baru akan kami pindahkan ke ruang inap biasa."
"Syukurlah, apa kami bisa melihatnya sekarang, dok?"
"Bisa, tapi bergantian, ya. Satu-satu dulu, karena kondisi pasien saat ini masih butuh banyak istirahat. Lagi pula saat ini pasien juga masih berada di dalam pengaruh anestesi." Dokter itu kemudian tersenyum dan undur diri, "kalau begitu saya permisi."
"Iya, terima kasih dok."
"Sama-sama."
"Nanti Papa dulu aja yang lihat," ucap Lingga pada sang mertua.
Gerald nampak keheranan, ia menatap sang istri lalu beralih kepada sang menantu. Tepukan pelan ia berikan pada Lingga.
"Tidak apa-apa, nanti kamu dulu saja yang lihat kondisi dia. Papa bisa lihat setelah kamu," ucap Gerald pada akhirnya.
Melihat wajah sang menantu yang terlihat begitu khawatir membuatnya tidak tega. Lagi pula saat ini putrinya sudah menjadi suami Lingga, tanggung jawabnya kini berganti alih pada sang menantu. Jadi sudah sepantasnya jika Lingga yang lebih dulu melihat kondisi Vallery.
"Tapi, Pa?"
Lingga langsung memprotes tidak setuju, sekhawatir-khawatirnya dia, jelas Gerald lebih khawatir dengan Vallery.
"Enggak papa, lagi pula, Vallery lebih butuh kamu ketimbang Papa. Nanti begitu kamu selesai lihat kondisi dia, baru giliran Papa yang lihat dia. Bagi Papa tidak penting siapa yang duluan yang melihat, tahu dia baik-baik saja sudah cukup bagi Papa."
Lingga tersenyum sambil menahan haru, ia mengangguk setuju dan mengucapkan terima kasih kepada sang mertua. Setelah itu mereka memutuskan untuk segera bergegas menuju ruang ICU.
Setelah sampai di sana, Lingga segera memakai pakaian khusus untuk masuk ke ruangan ICU. Setelah siap, ia segera masuk ke dalam. Kedua mata Lingga mendadak terasa perih saat melihat tubuh sang istri terbaring lemah dengan wajah pucatnya. Ada selang oksigen yang membantu pernapasan sang istri, ditambah dengan suara pendeteksi jantung yang terasa nyaring terdengar di telinganya, begitu ia masuk ke dalam ruangan.
Perlahan Lingga mendekat dan mengambil posisi duduk di sebelah ranjang yang memang tersedia di sana. Ia menggenggam telapak tangan Vallery yang terbebas dari jarum infus.
"Terima kasih sudah bertahan, sayang, aku tahu kamu kuat," bisik Lingga. Kali ini ia tidak dapat menahan tangisnya, hatinya seolah teriris melihat kondisi sang istri yang begini. Sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak menangis, namun ternyata ia gagal. Pertahanannya pecah dan akhirnya membuat dia terisak penuh.
"Cepat bangun dan sembuh ya, Saka udah nungguin kamu di rumah. Dia pasti udah kangen kamu gendong dan kamu ajak main."
Lingga mengusap pipinya. "Aku janji, aku bakal penjarain orang yang udah bikin kamu begini. Kamu tenang aja, aku jamin orang itu akan dihukum setimpal dengan apa yang telah dia lakuin ke kamu. Aku janji sayang, cepet bangun, ya! Semua orang sayang sama kamu." ia kemudian menghujami punggung tangan Vallery dengan beberapa kecupan, seolah ingin memberi kekuatan pada sang istri.
"Saka," lirih Vallery dengan suara lemah. Kedua matanya masih terpejam, belum terbuka sama sekali.
Lingga otomatis berdiri. "Iya, sayang."
"Saka, Mas."
Lingga mengangguk. "Saya baik-baik saja, sayang, dia di rumah sama Ibu. Kamu nggak usah khawatirin dia, fokus dulu ke kesembuhan kamu."
Setelahnya Vallery tidak merespon apapun. Sepertinya ia kembali tertidur karena pengaruh obat bius. Lingga mengangguk maklum sambil mencium kening sang istri.
"Enggak papa, sayang, Mas tahu kamu akan bertahan dengan baik. Mas akan sabar nunggu bangunnya kamu."
Tbc
__ADS_1