Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
39. Drama Pacarannya Nick & Patricia


__ADS_3



"Jangan lupa, hari ini kita cek kandungan kamu, ya. Aku udah bikin janji sama Randu, nanti aku jemput," ucap Lingga sambil meletakkan segelas susu khusus ibu hamil di samping piring Vallery. Ia masih berdiri di samping Vallery, menunggu perempuan itu menghabiskan susu buatannya.



Vallery langsung mengangguk patuh, meraih gelas itu dan menghabiskan susu tersebut dalam satu tegukan. Lingga tersenyum bangga saat melihatnya, usapan lembut pada rambut Vallery ia berikan secara spontan. Setelahnya ia baru kembali ke tempat duduk dan memulai sarapannya.



"Hari ini Patricia jadi jemput?" tanya Lingga sambil memotong sandwichnya.



Mereka sudah resmi menikah selama hampir satu bulan lebih, selama itu Vallery dapat merasakan perhatian kecil Lingga. Pria itu kadang sedikit cuek tapi sebisa mungkin membuatnya tetap nyaman berada di dekatnya. Dia hampir merasa diperlakukan seperti seorang putri karena perhatian pria itu. Setidaknya lebih baik dari ekspektasinya sebelum menikah.



Selama menikah pun, Lingga jarang membuatnya kesal kecuali dengan jam kerja pria itu, yang kadang suka tidak kenal waktu. Itu yang terparah sejauh ini. Dan yang membuat Vallery heran, meski pria itu bekerja lembur hampir semalaman tapi Lingga tetap bisa bangun lebih pagi. Bukankah itu aneh? Ia yang selalu tidur lebih awal saja sesusah itu untuk bangun pagi, tapi kenapa Lingga bisa?



Vallery mengangguk. "Jadi, hari ini dia bawa mobil soalnya."



"Nggak dianter Nick?"



Vallery mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Enggak tahu, kayaknya berantem sih mereka." Ia menghentikan kunyahannya dan meneguk air mineralnya, "aku tuh nggak ngerti sama mereka, Mas, perasaan ribut mulu, marahan mulu, diem-dieman mulu. Sehari baikan, besoknya berantem lagi, gitu-gitu terus, aku sampai muak liat kelakuan mereka." Ia kembali melanjutkan makannya, "kalau tahu siklusnya bakal begini, nggak aku dukung mereka buat pacaran."



"Enggak boleh, gitu, namanya sebuah hubungan wajar kalau sesekali beda pendapat dan berujung marahan."



"Tapi kita enggak tuh."



Lingga terkekeh. "Masa sih kita enggak perasaan udah?"



"Kapan?



"Yang kemarin pas Ibu abis dari sini."



Lingga benar, kemarin saat mereka kedatangan ibu, ia sempat kesal dengannya.



"Tapi mereka parah, Mas."



"Mungkin belum aja kalau begitu."



Vallery berpikir sejenak, sepertinya perkataan suaminya ada benarnya. Bagaimana pun pernikahan mereka baru satu bulan, kalau kata orang masih tahap manis-manisnya. Meski ia tidak terlalu yakin kalau mereka sedang melewati masa itu.



"Ngomong-ngomong kita kan belum bikin plan buat honeymoon, kamu ada tempat yang pengen kamu kunjungi?"



"Honeymoon?" beo Vallery sambil berpikir sejenak. Sejujurnya, ia tidak memiliki rencana untuk melakukan itu.



Lingga mengangguk. "Tapi karena kamu sedang hamil bukan honeymoon lagi sih, udah ganti jadi babymoon." Ia menyesap kopi hitamnya, "jadi, negara mana yang pengen kamu datengin? Nanti kita konsultasi sama Randu memungkinkan nggak buat ngadain perjalanan jauh, cuma kalau memang nggak disarankan, kita bisa ke tempat-tempat yang nggak terlalu jauh. Ya, di Indonesia saja semisal."


__ADS_1


"Jujur, aku belum kepikiran buat itu sih, Mas."



Lingga tersenyum maklum. "Nggak papa, nggak harus dalam waktu dekat juga kok, kamu bisa pikir-pikir dulu pengen kemana. Nanti kalau sudah ketemu pengen kemana, kasih tahu aku, ya. Biar bisa langsung aku urus."



"Siap, bos!" seru Vallery sambil hormat.



"Aku kayaknya harus berangkat duluan deh, takut macet. Kamu beneran dijemput Patricia kan?" Lingga melirik arloji lalu mengelap ujung bibirnya, "apa mau bareng aku sekalian?"



Vallery menggeleng sambil meraih selembar roti tawar dan juga selai. "Enggak usah, Mas duluan aja, nanti aku nunggu Patricia." Ia mulai mengoleskan selai di atas rotinya, "lagian aku belum selesai sarapannya."



"Oke. Aku duluan, minta Patricia jangan ngebut nyetirnya. Nanti siang aku jemput." Lingga kemudian berdiri sambil memakai jasnya, membereskan barang-barangnya, "ingat nanti kita ada janji ketemu Randu buat chek kandungan kamu," imbuhnya mengingatkan.



Vallery mengangguk paham di sela kunyahannya. "Iya, Pak, iya. Nggak usah diulang-ulang juga."



Lingga terkekeh sambil mengangguk. "Mejanya biarin gitu aja nggak papa, nggak usah kamu beresin, nanti Bu Ningsih ke sini. Tinggalin gitu aja!" lalu meninggalkan dapur begitu saja.



Jangan bayangkan akan ada kecupan kening dan semacamnya, karena mereka tidak melakukan itu semua. Entahlah, setelah menikah, mereka lebih jarang melakukan skinship.



Setelah dirasa kenyang, Vallery segera membereskan meja makan. Meski dilarang Lingga untuk membereskan meja, jelas saja ia tidak mungkin meninggalkan begitu saja kan? Rasanya kurang sopan, toh, Patricia belum datang menjemputnya.



Setelah semua rapi, baru kemudian ia bersiap-siap untuk berangkat ke kampus sambil menunggu kedatangan Patricia.




**Patricia** : perlu gue jemput ke dalam sekalian atau keluar sendiri?



Vallery mendengus saat membaca chat yang Patricia kirimkan. Jari jemarinya dengan lincah mengetik balasan.



**Anda** : otewe bosku πŸƒπŸΌβ€β™€οΈ



**Patricia** : oke, nggak usah lari. Nanti gue diomelin suami lo



Vallery segera turun dan keluar dari rumah. Menutup pintu gerbang dan masuk ke dalam mobil Patricia.



"Ribut lagi sama Nick?" tanya Vallery begitu masuk ke dalam mobil, ia langsung memasang seatbeltnya dan menyuruh Patricia untuk mengemudikan mobilnya.



Gadis itu mendengus sesaat, mengumpat pelan sebelum akhirnya mengemudikan mobilnya meninggalkan area komplek rumah Vallery.



"Nggak usah bahas dia, males gue."



"Kenapa lagi sih? Cerita aja, Pat!"



"Temen lo ngeselin. Kita tuh baru pacaran, tapi posesifnya udah ngalahin pasangan suami istri. Ya gue kesel, Valle."

__ADS_1



Vallery mengeluarkan tupperware berisi potongan buah yang Lingga siapkan tadi pagi. Ia menusukkan sepotong melon dan menyuapkan ke mulut Patricia.



"Posesif yang gimana?" Ia menusukkan potongan apel ke dalam mulutnya dan mengunyahnya secara perlahan.



"Jadi ceritanya gue kemarin sama Nick pergi nonton, nggak ketemu temen SMP gue, terus dia minta nomor gue. Tapi larang Nick, posesif banget kan? Padahal hobinya juga tebar pesona."



"Temen lo cowok?"



Patricia mengangguk.



Vallery berpikir sejenak, kemudian bertanya, "Ganteng?"



"Lumayan."



"Ya, wajar lah, Pat, lo ceweknya. Masa ada cowok ganteng yang minta nomornya Nick diem aja? Gue kalau jadi Nick nggak bakalan rela juga kali." Vallery berdecak heran, "lo tuh sebenernya serius nggak sih sama Nick? Kalau enggak mending udahan aja deh. Capek juga gue lama-lama lihatnya, Pat."



Patricia mendadak bungkam.



"Sekarang gue tanya, kenapa itu temen cowok lo minta nomor hape lo? Ada sesuatu yang mau kalian bahas gitu?"



Lagi-lagi Patricia masih bungkam. Hal ini membuat Vallery kembali berdecak.



"Fix, lo yang salah ini, Pat. Nggak mau tahu nanti lo yang harus minta maaf."



"Tapi, Valle--



"Nggak ada tapi-tapian, nggak mau tahu lo harus minta maaf. Lo kesannya jadi kayak nggak ngehargain Nick, Patricia sayangku. Lo pacaran, kalian pacarankan?"



"Tapi dia bisa kan mintanya baik-baik, nggak usah judes sama temen gue."



Vallery mendesah frustasi. "Tahu lah, Pat, serah lo. Pusing juga gue lama-lama, kalau emang nggak kuat pacaran sama Nick putus aja. Kalian sekarang pacaran, tolong diinget baik-baik! Kalian udah nggak sekedar temenan doang. Oke?"



Dengan ekspresi cemberut ia kemudian mengangguk pasrah. "Iya, ya, gue yang salah. Puas lo?"



"Enggak, biasa aja tuh."



"Ah, rese lo!"



Vallery tertawa, kembali menyuapkan potongan buah ke dalam mulut Patricia. "Udah, diem fokus nyetir aja lo!"



**Tbc**,

__ADS_1


__ADS_2