
********
Gerald menghela napas kasar setelah Vallery dan Lingga meninggalkan ruang makan. Ditatap sang kekasih dengan pandangan intens.
"Biar saya tanya satu hal, Riana. Tolong jawab saya dengan jujur!"
Riana langsung mengangkat kepalanya yang tadi menunduk dan mengangguk yakin. "Aku akan menjawabnya dengan jujur, Mas. Tanyakan apapun yang mengganggumu."
Gerald mengangguk paham seraya berpikir. Cukup lama ia melakukannya, sampai akhirnya ia menatap Riana kembali. "Apa kamu benar mencintaiku?"
Riana terlihat terkejut dengan pertanyaan Gerald. "Maksud Mas apa?"
"Jawab saja, Riana! Kamu harus menjawabnya dengan jujur." Kali ini Gerald mengalihkan pandangannya ke arah lain, "aku siap dengan semua jawabanmu, asal itu sebuah kejujuran."
Riana membungkam mulutnya secara spontan. "Mas meragukanku?" tanyanya dengan nada suara kecewa.
Gerald mengangguk. "Iya," jawabnya tanpa ragu, "sikapmu barusan yang membuatku meragu, Riana. Kalau kamu benar mencintaiku, kamu jelas tidak akan mengatakan hal itu kan?"
Riana merasa tersinggung. Ia pikir kekasihnya itu tahu betapa tulusnya ia mencintai dirinya. Tapi sepertinya ia keliru. Gerald bahkan meragukan cintanya.
"Kenapa Mas berpikiran demikian? Mas nggak punya hak menyimpulkan itu, aku mencintai Mas dengan tulus. Terlepas dengan status dan kekuasaan yang Mas miliki. Selama ini aku bahkan mengabaikan fakta kalau perbedaan umur kita yang jauh. Aku juga tidak peduli kalau kamu sudah punya seorang anak gadis, dan bahkan sebentar lagi akan memiliki cucu. Aku tetap tidak mempedulikannya, Mas tahu karena apa? Karena aku memang mencintaimu, tapi kenapa Mas tega bilang kalau aku tidak benar-benar tulus? Kenapa, Mas?"
Gerald menghela napas panjang lalu kembali bertanya, "Kamu mau kunikahi?"
"Perempuan gila mana yang tidak mau dinikahi kekasihnya yang dicintai, Mas? Nggak ada."
"Lalu kenapa kamu malah berharap Vallery yang menikah lebih dulu?" Nada suara Gerald mendadak meninggi, hal ini membuat Riana cukup tersentak kaget. Buru-buru ia menutupi perasaan terkejutnya. Sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak menangis, ditatap Gerald dengan pandangan kecewanya.
"Karena Vallery sedang hamil, Mas. Dia putrimu, aku harusnya tidak menjelaskan lebih." Riana mengelap pipinya yang basah dan berdiri. Perasaannya terlanjur kecewa, "lebih baik aku pulang. Tidak baik jika aku terus-terusan di sini," pamitnya kemudian.
"Saya belum selesai bicara, Riana," ucap Gerald memperingatkan.
"Kita bisa melanjutkannya besok. Saat ini kita sama-sama emosi, Mas."
Gerald menghela napas dan ikut berdiri. "Saya antar."
"Tidak perlu," tolak Riana dingin.
"Saya tidak menawarkan, Riana. Jadi kamu tidak punya hak untuk menolak," ucap Gerald terdengar tidak ingin dibantah.
Dengan ekspresinya yang tidak kalah dingin, ia kemudian merebut tas milik Riana. Hal ini membuat Riana tidak bisa membantah dan hanya bisa mendesah kalah.
#####
Riana menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba lalu berbalik, menatap bos sekaligus kekasihnya dengan tatapan ragu. Semenjak perdebatannya dengan Gerald semalam, keduanya masih perang dingin. Gerald memang menyapanya, tapi hanya sebatas formalitas antara atasan dan bawahan. Bosnya itu tampak sibuk dengan pekerjaannya. Riana menghela napas pendek lalu berniat untuk segera keluar dari ruangan atasannya, namun secara tiba-tiba Gerald memanggilnya.
"Ada yang ingin kamu katakan?" Gerald bertanya dengan santai namun belum mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Riana menggeleng. "Tidak, Pak."
Gerald berpikir sejenak lalu menatap Riana. "Saya ada."
Riana mengetukkan high heels-nya sambil mendekap map berisi berkas yang sudah Gerald tanda tangani.
"Ada apa, Pak?" tanya Riana gugup.
Gerald bangkit berdiri, berjalan mendekat ke arah pintu dan menguncinya.
"Kenapa dikunci?" tanya Riana heran sekaligus panik.
"Saya tidak mau obrolan kita diganggu," balas Gerald lalu berjalan menuju sofa dan duduk di sana.
Riana hanya mematung di tempatnya, tidak menyusul Gerald. Membuat pria itu berdecak. "Tenang saja, Riana, saya tidak akan ngapa-ngapain kamu, kecuali kamu yang minta."
"Bapak!"
Gerald melirik Riana sedikit tajam lalu mendesis. "Saya bukan Bapak kamu, Riana."
Riana mengangguk, membenarkan. "Memang bukan, Bapak atasan saya."
Gerald menghela napas panjang. "Duduk, Riana!" ajaknya kemudian, "kita perlu bicara. Bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi sebagai sepasang kekasih."
"Ini jam kantor, Pak. Saya tidak bisa mengobrol banyak kalau bukan urusan pekerjaan," tolak Riana sopan.
Gerald menyilangkan sebelah kakinya sambil melirik Riana datar. "Sekarang kamu bosnya di sini?"
Riana gelagapan. "Bukan begitu, Pak. Maksud saya-- bukannya Bapak mengajak saya bicara sepasang kekasih bukan sebagai bawahan Bapak?"
__ADS_1
"Tapi kenapa kamu masih memanggil saya begitu."
Riana terlihat kebingungan untuk mencari alasan.
"Tidak perlu mencari alasan! Cepat duduk, jangan memancing kesabaran saya, Riana. Pekerjaan saya banyak," ucap Gerald memperingatkan,
"Saat pintu ruangan ini terkunci, itu tandanya posisi kamu berganti sebagai kekasih saya, bukan sekertaris saya. Jadi berhenti memanggil saya Pak."
Riana mengangguk seraya menunduk. Dengan berat hati akhirny ia duduk di sofa sesuai intruksi sang kekasih.
Riana mengeluh dalam hati. Kekasihnya ini benar-benar pemegang kendali atas semuanya, Gerald bukan tipekal atasan bucin yang akan tunduk begitu saja dengan perempuannya. Bahkan Gerald anti dengan yang begitu, pria ini menjunjung harga diri yang tinggi. Terdengar seperti seorang pria egois memang, tapi kalau sudah mengenalnya dengan baik, sebenarnya Gerald sama sekali bukan pria egois. Karena keputusan yang diambil selalu penuh pertimbangan, yang sebenarnya menjurus ke arah yang baik. Meski terkadang tetap saja mengesalkan menurut versi Riana.
"Apa kita sedang melakukan physical distancing, kenapa duduk berjauhan begitu?" tanya Gerald cukup kesal dengan tingkah Riana yang seolah memberi jarak.
"Kita sedang marahan, Mas, wajar kalau duduk kita berjarak," balas Riana dengan wajah cemberutnya.
"Riana, saya sudah terlalu tua untuk melakukan hal-hal semacam ini. Berhenti merajuk dan mendekatlah!" perintah Gerald agar lebih mendekat ke arahnya.
Riana menggeleng. "Aku nggak merajuk, Mas," elaknya tidak terima.
Gerald mengangguk tidak peduli. "Ya, terserah apapun itu namanya. Cepat mendekat, atau setidaknya jangan memberi jarak sejauh ini."
Dengan sedikit terpaksa, Riana akhirnya menggeser tubuhnya mendekat sedikit ke arah Gerald.
"Mas mau ngomong apa? Aku males kalau harus berantem lagi kayak semalem."
"Saya tidak berencana mengajakmu begitu."
"Terus?"
"Kamu serius nggak masalah kalau seandainya Vallery menikah lebih dahulu?"
Dengan wajah yakinnya, Riana mengangguk untuk meyakinkan sang kekasih. "Aku nggak masalah, Mas. Insha Allah aku ikhlas."
Gerald menghela napas panjang sambil meraup wajahnya frustasi. "Tapi saya tidak ikhlas, Riana. Saya tidak bisa melihat karyawan lain menatap kamu meremehkan, saya harus segera menikahi kamu agar mereka mengerti posisi kamu. Tolong mengerti juga posisi saya. Saya sangat menyayangi kamu. Saya tidak bisa terus-terusan melihat kamu diperlakukan seperti itu. Saya tidak rela, Riana."
Mendengar nada bicara sang kekasih yang terdengar putus asa, Riana hanya bisa terdiam. Ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan putus asa. Ia tidak tahu kalau Gerald merasakan hal ini juga. Ia memang sadar betul dengan tatapan meremehkan karyawan yang lain saat bertemu dengannya, ia sebenarnya memang terluka, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menerimanya. Karena ia sadar betul, ini memang termasuk resiko dari keputusannya memilih Gerald sebagai kekasihnya.
"Tolong jangan perlakukan ini terhadap saya, Riana."
"Saya mohon, Riana."
"Tapi, Mas, di sini kita yang lebih dewasa. Apa salahnya mengalah?"
"Tapi, Riana--"
"Mas," panggil Riana memotong kalimat Gerald dengan penuh permohonan.
Gerald mendesah putus asa lalu berdiri. "Keluarlah! Kita bahas ini setelah jam kerja habis. Pekerjaan saya banyak, Riana," ujarnya terdengar dingin dan tanpa menoleh ke arah Riana.
Riana mengangguk paham, ia kemudian meraih map-nya dan pamit keluar.
"Saya permisi, Pak," ucapnya kembali formal.
Gerald mengangguk, mempersilahkan. "Hmm," responnya selayaknya pada karyawan yang lain.
#######
"Jadi, kalian beneran mau nikah?"
"Yup."
Vallery menjawab pertanyaan Patricia dengan penuh keyakinan. Kedua orangtua Lingga sudah mulai menerimanya, Papa-nya pun sedikit demi sedikit mulai kembali bersikap seperti biasa, setidaknya sudah tidak terlalu mengabaikan dirinya lagi. Kalau sudah begini, bukankah tanda-tanda ia akan direstui untuk menikah semakin jelas.
"Terus Om Gerald gimana?" tanya Patricia kepo.
"Papa udah mulai nerima sih pelan-pelan," jawab Vallery sambil mengunyah roti selai strawbery-nya, "kemarin Lingga juga diundang Papa untuk makan malam bareng. Jadi, gue rasa udah lumayan bagus lah."
Nick ikut menyahut, ''Terus gimana sama rencana pernikahan Bokap lo? Jadi apa nggak tuh?"
Patricia ikut-ikutan menyahut kepo, "Iya, gimana sama nasib pernikahan beliau? Masih tetep jadi? Kalau jadi siapa dulu? Apa mau dibarengin sekalian? Biar lebih hemat semisal?"
"Jadi kok, nggak bakalan batal. Nggak mungkin batal lah, Bokap gue ngebet banget kawin soalnya," balas Vallery dengan mulut penuh.
Nick terkekeh melihat perubahan cara makan Vallery yang meningkat drastis. Ia menarik tisu yang ada di dekatnya lalu menyodorkan kepada Vallery.
"Kayak anak kecil lo, makan pake belepotan segala," cibir Nick meledek Vallery.
__ADS_1
Vallery mencengir sambil menerima tisu yang Nick sodorkan. "Thanks. Bawaan bayi mungkin," ucapnya pelan. Mereka sedang di taman, jadi harus pelan.
"Anjir, nyalahin anaknya lagi."
Nick berdecak tidak percaya. Vallery lalu memukulnya dengan keras.
"Kita lagi di tempat umum, Nick, jangan ngomong sembarangan dong," keluhnya kesal.
Nick sendiri hanya mampu menertawakannya, karena kebetulan suasana taman saat ini tidak terlalu ramai. Ditambah semuanya sibuk dengan gerombolan masing-masing.
"Jadi siapa yang bakalan duluan? Lo apa bokap lo?"
Vallery mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. "Papa mintanya duluan, padahal keadaan gue lebih mendesak. Calonnya juga mau ngalah dan biarin gue duluan, tapi Papa nggak rela kalau gue langkahi."
"Terus Lingga gimana?"
"Heh, umur kalian beda jauh banget, Nick. Masa lo manggilnya nama aja sih?" protes Patricia tiba-tiba baru tersadar.
"Suka-suka gue, selagi orangnya nggak protes. Lagian nggak enak gue, masa mau manggil Om sama calon suami temen gue sendiri. Ntar keliatan kalau temen gue nikahnya sama Om-Om dong."
Vallery terbahak. "Nyebelin lo, Nick, sumpah. Tapi lebih nyebelinnya lagi bener lagi. Ah, gue kesel."
Sementara Nick kembali terbahak puas. Di sebelahnya Patricia mendengkus samar.
"Bilang aja lo cemburu," sahutnya tiba-tiba.
Baik Vallery dan Nick, keduanya sama-sama menaikkan kedua alisnya bingung.
"Hah? Siapa yang cemburu sama siapa, Pat?" tanyaVallery.
"Ya, temen lo ini lah," ucap Patricia sambil menunjuk Nick secara terang-terangan, "temen lo cemburu gegara lo udah mau nikah aja sama bapak kandung anak lo."
Vallery kemudian menoleh ke arah Nick. Pria itu tampak diam dengan wajah datarnya, meski begitu Vallery yakin kalau Nick sedang menahan kekesalan yang teramat besar.
"Apa?" tantang Patricia sambil mendongakkan dagunya.
Nick berdecak kesal. "Gue tuh nggak ngerti lo itu cuma nggak peka, bego apa buta sih, Pat? Gue itu jelas-jelas sukanya ke lo, lo nggak nyadar? Lo nggak liat cara gue memperlakukan lo itu terlalu spesial?"
Suasana taman seolah mendadak berubah mencekam. Patricia terdiam karena terkejut, begitu pun dengan Vallery. Ia cukup terkejut dengan pernyataan cinta Nick secara tidak langsung ini.
Karena kesal bercampur malu, Nick segera beranjak berdiri sambil meraih tas ranselnya. Namun ditahan Vallery.
"Be gentleman, Bro! Lo udah nyatain perasaan yang lo pendem selama ini. Tanggung jawab dong. Duduk lagi!" perintah Vallery tak ingin dibantah.
Nick mengeram jengkel. "Tapi pernyataan cinta gue nggak keren, Valle," keluhnya kemudian. Ia mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi. Frustasi dengan sikapnya sendiri yang seakan di luar kendalinya.
Vallery tertawa kecil. "Salah sendiri, di sini lo juga bego. Gue kan udah bilang dari dulu, ungkapin, Nick! Biar lo bisa bikin pernyataan cinta yang keren. Seenggaknya gue nggak ada lah, bener-bener momen berdua. Ngeyel sih lo."
"Juga?" Patricia menatap Vallery tersinggung.
"Iya, lo juga termasuk, Pat. Kalian berdua itu, tuh, bikin gemes tau nggak. Tahu lah, ini urusan kalian. Gue cabut duluan. Bye!" Vallery kemudian berdiri dan meninggalkan keduanya.
Suasana mendadak akward, Nick terlihat mempersiapkan kata-kata dan juga mentalnya. Namun dengan tidak terduga Patricia ikut berdiri.
"Lo mau ke mana?" tahan Nick terlihat kesal sambil mencekal pergelangan tangan Patricia.
"Gue... Gue harus cabut, Nick, ini... ini nggak bener. Sorry!" Patricia terlihat gugup dan salah tingkah, ia tidak menyangka kalau akan dapat pernyataan cinta tak terduga.
"Gue ditolak mentah-mentah?"
Patricia menggeleng cepat. "Enggak gitu, Nick."
"Terus apa? Gue ditolak setengah mateng gitu?"
Kalau tidak dalam situasi akward begini, Patricia yakin dirinya akan terbahak dengan ucapan Nick yang menurutnya lucu itu.
"Gue perlu mencerna semua ini, gue perlu berpikir," aku Patricia jujur, "kasih mikir."
"Iya, gue tahu, gue jelas akan ngasih waktu buat mikir. Tapi lo nggak bisa pergi gitu aja dong, Pat, seenggaknya biar gue--"
"Nick, plis!" pinta Patricia penuh permohonan, "lepasin tangan lo bisa?"
Nick mendengkus kasar. "Dari sekian banyak cewek yang gue temui, gue selalu bertanya-tanya kenapa cewek itu harus lo sih," ucapnya kesal.
Ia kemudian melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Patricia lalu meninggalkan Patricia begitu saja. Harga dirinya terlanjur terluka, Nick benci fakta itu. Yang bisa ia lakukan hanya mengumpat sepanjang perjalanan.
Tbc,
__ADS_1