
*****
Lidiya memasuki rumah Lingga dan keadaan di sana masih tampak sepi. Ia kemudian melirik ke arah jam dinding yang tertera di tembok. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, tapi masih belum ada tanda-tanda aktivitas Lingga maupun Vallery.
Lidiya berdecak sambil geleng-geleng kepala. Ia kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Lingga.
Tok Tok Tok
Dengan tidak sabar, Lidiya mengetuk pintu kamar Lingga.
"Lingga! Vallery! Bangun kalian! Jangan mentang-mentang pengantin baru jadi kerjaannya ngamar terus. Ini sudah siang!" teriak Lidiya penuh emosi, "astaga! Mereka ini benar-benar."
Dengan sedikit ogah-ogahan, Lingga akhirnya bangun dan membuka pintu. Rambutnya masih terlihat acak-acakan, bahkan matanya terlihat masih enggan terbuka.
"Kenapa sih, Bu?" protes Lingga sambil garuk-garuk lehernya, dengan kedua mata menyipit.
"Kenapa? Bangun dong, ini udah siang," omel Lidiya.
"Ini hari minggu, Bu."
"Terus kalau minggu kenapa?"
"Ya, bisa bangun siang lah."
"Astaga, sampai jam berapa semalam? Istri kamu tuh lagi hamil, jangan keseringan diajak 'main' sama begadang. Apalagi dia masih hamil muda, kandungannya belum terlalu kuat. Ini jangan-jangan Vallery pendarahan kemarin gara-gara kamu ajakin terus kan?" tuduh Lidiya dengan kedua mata menyipit curiga.
"Apaan sih, Bu? Kok jadi nunduh Lingga yang enggak-enggak?" protes Lingga tidak terima, ia berdecak lalu meninggalkan ibunya menuruni anak tangga. Tak lama setelahnya, Lidiya mengekor di belakangnya.
"Mau ke mana?"
"Ambil minum, haus dengerin Ibu ngomel terus. Ibu ngapain sih ke sini?"
"Mau cek kalian. Pembantumu mana?"
"Belum dateng lah, nanti siang." Lingga kemudian berjalan menuju dapur, membuka pintu kulkas dan mengeluarkan botol air mineral dari dalam sana.
"Terus yang masakin kalau pagi siapa?"
"Bikin sendiri."
Ekspresi Lidiya berubah berbinar. "Istrimu bisa masak?"
__ADS_1
"Yang sederhana aja."
"Bisa apa aja?"
"Goreng telur ceplok, bikin roti panggang, bikin sandwich," ucap Lingga setelah meneguk air mineralnya, ia menutup kembali botol itu dan memasukkannya ke dalam kulkas.
"Hal paling simpel kayak nasi goreng nggak bisa?"
Lingga memilih untuk diam dan tidak menjawabnya.
"Ini nggak bisa dibiarkan."
"Bu," panggil Lingga dengan ekspresi memohon, "Vallery masih terlalu muda. Dia juga lagi hamil. Ibu jangan macem-macem sama istri Lingga ya, kalau Ibu berani, Lingga nggak akan tinggal diam."
Lidiya menatap Lingga dengan tatapan sinisnya. "Kamu pikir ibu, ibu tiri."
Lingga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Katanya Ibu Mertua bisa jadi lebih galak dari pada Ibu tiri," ucapnya santai, hal ini sukses membuatnya mendapat pukulan manis dari sang ibu, "sakit, Bu," protesnya kemudian.
Lidiya berdecak. "Bangunin istri kamu sana. Ibu mau ngomong."
"Mau ngomong apa?" tanya Lingga kepo.
"Bangunin dulu sana!" Lidiya mendorong tubuh Lingga agar segera meninggalkan dapur, "biar Ibu bikinin sarapan buat kalian. Kalian ada nasi sisa kemarin?"
"Istri kamu lagi hamil, mana kenyang kamu kasih menu diet kamu!" Lidiya berdecak sambil geleng-geleng kepala, "lebih baik mulai besok kalian tinggal sama Ibu. Biar Ibu lebih leluasa memantau kalian."
Lingga menaikkan kedua alisnya tidak paham. "Maksudnya?"
"Ya, biar ibu bisa bantu jamu jagain istrimu."
"Maksud Ibu apa sih? Lingga tersinggung loh, kesannya Lingga nggak bisa jagain istri sendiri."
"Udah, bangunin istri kamu sana!"
Lingga menggeleng lalu menarik salah satu kursi dan duduk di sana. "Biarin Vallery istirahat, ini hari minggu, Bu. Lingga aja paling sebel kalau hari minggu digangguin tidurnya." ia menoleh ke arah sang ibu, "nggak jadi masak, Bu?"
"Suruh istrimu belajar masak, suruh ambil kursus gitu." Lidiya meletakkan tas jinjingnya dan mendekat ke arah kulkas. Membuka kulkas lalu mengeluarkan berbagai bahan masakan dari dalam sana, "sana kamu masak nasinya. Biar Ibu yang masak lauk dan sayurnya. Ini istrimu ada alergi nggak?"
Lingga kemudian berdiri dari kursinya dan mendekat ke arah sang Ibu. "Mau masak apa emang?"
"Kamu mintanya apa?"
__ADS_1
"Masakin aja buat Vallery, Lingga nanti mau sarapan oatmeal sama yogurt aja." Lingga mendekat ke arah kulkas dan mengeluarkan yogurt dari sana. Setelahnya ia kembali duduk di kursi dan mulai menikmati yogurt itu.
"Memangnya nanti siang kamu nggak makan?"
"Gampang, nanti tinggal delivery," ucap Lingga dengan santainya, "ia kemudian menyuap kembali yogurtnya.
"Kamu itu sudah menikah, calon Ayah, harus lebih hemat dong. Kamu pikir ngebiayain istri sama anak itu nggak butuh dana besar? Jangan boros kamu, apa-apa delivery. Kurang efisein."
"Setidaknya terjamin kesehatannya, Bu. Kesehatan lebih mahal dari apapun." Lingga kemudian berdiri dan membuang bekas yogurtnya, "Bu, Lingga masih ngantuk nih, boleh tidur lagi?"
Dengan penuh emosi, Lidiya langsung memukul putra sulungnya. "Enak saja! Kamu nyuruh ibu masak sedangkan kamu mau enak-enakan tidur? Kamu pikir Ibu pembantumu?"
Lingga mengusap lengan bekas dipukul sang ibunda. Ia menatap Ibunya datar lalu berkata, "Ya udah, kalau gitu Ibu pulang aja. Lingga mau lanjut tidur."
"Astaga, ya Tuhan! Kamu berani ngusir Ibu?"
Masih dengan wajah datarnya Lingga menggeleng. "Enggak, cuma kasih Ibu pilihan. Lingga beneran ngantuk, Bu, semalem abis lembur."
"Ya siapa suruh pakai acara lembur, istri kamu itu sedang hamil muda, Lingga! Ingat! Jangan egois, nanti kalau kenapa-kenapa sama istri sama anak kamu gimana? Kamu mau tanggung jawab?"
Kali ini Lingga berdecak. "Lingga bukan lembur yang itu, Bu. Tapi beneran lembur dalam arti sesungguhnya."
"Terserah! Ibu tidak peduli."
****
Vallery menggeliat sambil merenggangkan tubuhnya. Dilirik jam weker yang ada di sampingnya, sudah pukul tujuh lewat lima belas menit. Ia kesiangan. Padahal rencananya ia ingin bangun jam tujuh tepat. Sebelumnya, Lingga dan Vallery memang sepakat untuk bangun siang saat hari minggu, jadi baik Lingga maupun dirinya tidak boleh saling membangunkan.
Dengan berat hati, ia kemudian bangun dan merapikan tempat tidurnya. Setelahnya ia masuk ke dalam kamar mandi, cuci muka dan menggosok gigi. Setelah dirasa jauh lebih segar, ia kemudian keluar kamar. Dilirik kamar Lingga, masih tertutup rapat. Ia kemudian memutuskan untuk turun ke bawah.
Ia tidak dapat menahan ekspresi terkejutnya saat sampai di dapur dan menemukan sang Ibu mertua--dengan pakaian fashionable-nya--. Namun, berkutat di dapur mereka. Jantung Vallery seakan lompat dari tempatnya. Panik dan gugup tengah ia rasakan.
"Ya ampun, Ibu? Kok Ibu yang masak?"
Vallery buru-buru menghampiri Lidiya dan mencium punggung tangan sang ibu mertua.
"Mas Lingga ke mana? Ibu udah lama?" Vallery menatap ke arah sekelilingnya, beberapa masakan sudah siap, hal itu membuatny semakin malu, "kenapa Vallery nggak dibangunin sih? Kan tahu begitu bisa Vallery bantu-bantu."
Lidiya tersenyum. "Enggak papa, kan kamu lagi hamil. Toh, ibu sudah selesai."
"Maafin Vallery ya, Bu," sesal Vallery penuh penyesalan, perasaan tidak enak jelas terlihat di wajahnya.
__ADS_1
"Ibu bilang nggak papa ya enggak papa. Ibu paham."
"Makasih, Bu."