
***
Hari ini adalah jadwalnya Vallery kembali chek kandungan. Usia kehamilannya kali ini sudah memasuki minggu ke 18, perutnya pun sudah semakin terlihat membesar jika dibandingkan sebelumnya. Dan saat ini mereka sedang berada di ruang tunggu tempat Randu praktek, menunggu namanya dipanggil. Tak lama setelahnya, nama Vallery dipanggil. Mereka segera berdiri dan bergegas untuk masuk ke dalam ruangan.
Namun, tak sengaja ia bertemu Gilang dan Febi. Mereka baru saja keluar dari ruangan Randu.
"Loh, kalian? Kok di sini? Akhirnya positif nih?" sapa Lingga tak dapat menyembunyikan raut wajah bahagianya.
Febi tersenyum tipis. "Belum, Ga, doain aja ya. Kami cuma baru konsultasi kok. Udah masuk gih kalian, kasian antrian masih panjang tuh."
Lingga langsung menoleh ke arah kursi tunggu, di sana beberapa ibu hamil tampak menatapnya tidak suka. Ia meringis tak enak sambil meminta maaf dan segera menyuruh Vallery untuk masuk lebih dahulu. Ia kemudian melirik Gilang yang terlihat kurang bersemangat.
"Langsung masuk sana, Ga! Temenin Vallery, kita duluan," pamit Febi.
Lingga merasa aneh dengan sikap Gilang yang tidak seperti biasa. Pria itu memaksakan senyum tipisnya sambil menepuk pundaknya. "Cabut duluan, Bro," ucap Gilang lalu pergi begitu saja.
"Gilang tadi abis konsul sama lo?" tanya Lingga saat masuk ke dalam ruangan praktek Randu dan menutup pintu.
Vallery tampak sedang diperiksa tekanan darahnya saat ia masuk. Lingga kemudian memilih untuk duduk di kursi yang ada di hadapan Randu, pria itu tampak sedang sibuk mencatat sesuatu di sana.
"Kenapa?" Randu balik bertanya tanpa menghentikan kegiatannya menulis.
"Dia agak aneh. Ada masalah?"
Kali ini Randu menghentikan kegiatan menulisnya, lalu mengangguk. "Hmm, emang ada sedikit masalah."
"Masalah apa?" tanya Lingga kepo.
"Gue nggak bisa bilang, Bro, ini privasi pasien. Gue nggak bisa melanggar kode etik."
"Ada masalah dengan kondisi Gilang?"
Randu mengangguk membenarkan. "Tapi nggak seserius itu kok, dia cuma masih shock dan butuh waktu aja mungkin."
Meski sebenarnya penasaran, Lingga memilih untuk tidak kembali bertanya. Randu benar, ini tentang privasi pasiennya, meski mereka bertiga berteman, tapi tetap saja Randu akan melanggar kode etik jika membeberkan privasi pasiennya.
"Sudah selesai, Win?"
__ADS_1
"Sudah, dok."
"Berapa tensinya?" Randu segera berdiri sambil menyuruh Vallery berbaring di atas brankar.
"Normal, dok. 110."
Randu lalu menghampiri Vallery dan mulai melakukan pemeriksaannya.
"Cewek nih," celetuk Randu diiringi kekehan kecil. Ia kemudian menoleh ke arah Lingga. Pria itu terlihat terkejut, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya.
"Beneran cewek, Ndu?" tanya Lingga memastikan sekali lagi. Ekspresi tidak percaya masih terlihat pada wajah bulenya.
Randu berdecak. "Lo nggak percaya sama gue?" Ia kemudian menunjuk layar monitor, "lihat! Nggak ada adeknya kan? Ya, kemungkinan besarnya itu cewek."
Vallery menerjap kaget. "Adek, dok? Emang kembar?" tanyanya polos. Wajahnya terlihat kebingungan.
"Hah?" Randu terlihat sama bingungnya dengan Vallery, sementara di sampingnya Winda terlihat sedang menahan tawanya, "maksud gue bukan itu, Vallery. Tapi..." Randu merasa heran sendiri, kenapa ia seperti tidak tega saat hendak mengucapkan alat kelamin pria, karena usia Vallery yang masih sangat muda. Meski sudah paham, tapi tetap saja rasanya mulutnya tidak tega mengeluarkan kata tersebut.
"Duh..., kenapa nggak tega gue mau nyebutnya. Itu loh, jenis kelamin, pedangnya cowok. Nah, kalau keliatan pedangnya cowok, tapi kalau pedangnya nggak keliatan berarti cewek. Begitu. Lo ngerti kan maksud gue?"
Vallery ber'oh'ria sambil mengangguk paham. "Oh, paham, dok. Saya kirain bayinya kembar terus punya adek."
Pandangan Lingga masih fokus pada layar monitor. "Itu udah akurat kalau lahirnya nanti bakal cewek, Ndu?"
Randu mengintruksi agar Winda segera membantu Vallery membersihkan perutnya yang terkena sisa gel. Sebelum akhirnya ia menjawab, "Ya, belum akurat juga sih, Ga. Ini kan baru perkiraan doang--"
Lingga langsung menoleh ke arah Randu. "Jadi masih ada kemungkinan berubah?"
"Mas, kamu nggak seneng anak kita cewek?" protes Vallery merasa tersinggung.
Lingga langsung menoleh ke arah sang istri. "Bukan begitu, cuma rasanya bakal berat jagain dua cewek sekaligus, Vallery. Aku pengennya cowok aja kalau bisa," akunya jujur.
"Alasan aja kamu kan?" dengus Vallery dengan wajah cemberutnya, ia kemudian memilih untuk langsung duduk di kursi.
Rand mengangguk maklum sambil menepuk pundak sahabat karibnya. "Tenang aja, Bro, masih ada kemungkinan lain kok. Bisa jadi kali ini nggak keliatan aja, kalau perkiraan cewek, nanti masih ada kemungkinan lahirnya cowok. Tapi kalau pedangnya udah keliatan, udah, fix, pasti lahirnya cowok nggak bakal ganti cewek," ujarnya menerangkan diiringi kekehan ringan.
Lingga akhirnya sedikit bisa bernapas lega. Setidaknya masih ada harapan. Meski hal itu belum bisa dipastikan, setidaknya masih ada kemungkinan lain.
__ADS_1
"Syukurlah."
"Segitu nggak mau-nya lo punya anak cewek?" Randu terkekeh tidak percaya dengan respon sang sahabat.
Lingga menggeleng. "Bukan gitu, gue ngerasa kalau anaknya nanti cewek, tugas gue bakal berat banget. Jagain dua cewek, Ndu."
Randu manggut-manggut. "Iya, apapun alasan lo, gue cuma mau ngingetin biar lo lebih hati-hati aja."
"Gue selalu berhati-hati kok selama ini. Lo minta gue untuk berhati-hati soal apa lagi?"
Randu menghela napas sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas putih kebanggaannya.
"Bukan itu maksud gue. Kandungan Vallery udah masuk ke minggu 18. Di usia segini, janin udah bisa menendang, mendengar, maupun menguap. Lo lihat aja perut istri lo, udah kelihatan banget kan?"
Mendadak perasaan bersalah mulai menghantuinya. Ia menatap Randu serius.
"Serius dia udah bisa denger kita?"
Randu mengangguk sambil membenarkan. "Jadi, mulai sekarang gue harap lo lebih berhati-hati aja."
Lingga tidak merespon, yang pria itu lakukan adalah menghampiri Vallery yang kini sedang duduk di depan meja Randu. Lingga mengambil posisi berjongkok sambil mengelus perut buncit sang istri.
"Sayang, maafin Papa, ya. Papa nggak maksud bikin kamu marah atau kecewa, apapun jenis kelamin kamu, Papa bakalan nerima kamu dengan senang hati kok," bisik Lingga pada perut buncit Vallery, berkali-kali ia menghujami perut sang istri, sesekali ia memberikan usapan lembut di sana, "Papa juga mau minta maaf ke Mama. Maaf kalau ucapan Papa tadi keterlaluan. Maafin ya, Ma?"
Di belakang mereka, Randu terkekeh tidak percaya. "Anjir, udah Mama-Papa aja panggilan mereka."
"Iya lah, kan mereka udah jadi calon Mama dan Papa," bisik Winda tiba-tiba berdiri di samping Randu, "dokter nggak pengen begitu juga?"
Dengan wajah santainya, Randu mengangguk. "Pengen kok, udah pengen banget malah. Tinggal kamu-nya yang perlu ditanya, kamu udah siap belum begitu sama saya?"
"Apaan sih, dok, bercandanya nggak lucu banget."
Randu kemudian tertawa. "Eh, nggak lucu, ya? Ya udah, besok dicoba lagi lah, siapa tahu bisa lebih lucu." Ia kemudian menoleh ke luar ruangan, "mereka pasien terakhir kita?"
Winda menggeleng sambil tertawa. "Mereka pasien ketiga dokter. Di luar antrian masih panjang, kan jam praktek dokter Randu baru mulai. Masa udah mau udahan aja.
Randu berdecak samar. "Lain kali kasih antrian mereka paling akhir aja," ia beralih ke Lingga dan Vallery, "bro, syutingnya dilanjut di rumah, ya, pasien gue yang lain nungguin."
__ADS_1
"Ganggu lo," decak Lingga sambil melirik Randu, ia kemudian segera mengajak Vallery keluar dari ruangan Randu. Sedang sang pemilik ruangan hanya mampu memasang wajah datarnya.
Tbc,