Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
87. Kating Rese


__ADS_3

****


"Nih, buat lo."


Vallery tersentak kaget saat keluar dari kelas tiba-tiba ada yang menyodorkan sekotak cokelat yang dihiasi pita berwarna merah muda. Ia menaikkan alisnya heran saat mengetahui siapa yang melakukan hal tersebut. Dia adalah Raka, Katingnya yang sempat menaksirnya dari zaman ia masih jadi mahasiswa baru.


"Apaan ini maksudnya, Kak?" tanya Vallery heran.


"Buat lo. Kata anak-anak lo kemarin ulang tahun, makanya gue beli ini buat lo. Sekalian ngucapin selamat ulang tahun. Happy birthday, ya, Valle. Sorry telat, soalnya gue tahunya juga baru."


Vallery tersenyum samar. "Thanks, Kak, tapi sorry gue nggak bisa terima cokelatnya. Kak Raka bisa simpen lagi itu. Makasih buat ucapannya. Gue duluan."


Tidak suka dengan penolakan, Raka langsung mencekal lengan Vallery yang hendak pergi melewatinya begitu saja. Ia tersenyum penuh dengan intimidasi.


"Gue nggak suka penolakan, Valle. Saat ada yang kasih lo sesuatu, tuh, harusnya lo bilang makasih, terlebih yang kasih itu senior lo. Seenggaknya hargain usaha orang."


Dengan mudah, Vallery melepaskan diri dari cengkraman Raka. "Sorry, Kak, gue nggak bisa nerima pemberian barang dari pria lain, meski itu dari Kating gue sendiri. But, anyway, thanks buat niatnya. Tapi, sorry, tetep aja gue nggak bisa nerima. Permisi, Kak." ia tersenyum tipis demi menjaga kesopanan terhadap sang senior.


Setelahnya Vallery langsung meninggalkan Raka begitu saja. Membuat pria itu langsung berdecak kesal diiringi umpatan samar.


"Sok cakep banget sih itu orang jadi cewek," gerutu Raka merasa dipermalukan.


"Tapi Vallery emang cantik sih, Ka," sahut seorang pria dari belakang, yang tak lain tak bukan teman Raka sendiri.


Raka kembali berdecak dan melotot kepada temennya itu. Pandangannya kemudian beralih pada punggung Vallery yang masih nampak kelihatan dari kejauhan.


"Pokoknya nggak mau tahu, gue harus taklukin dia. Dia harus jadi milik gue, nggak peduli apapun yang terjadi," ucap Raka penuh tekat.


"Ya elah, Ka, cewek bukan cuma dia. Masih banyak kali yang jelas-jelas ngejar-ngejar lo atau sekedar mau sama lo, nggak kalah cantik kok mereka."


Raka menggeleng tidak peduli. "Gue maunya Vallery, Ko. Karena dia udah dengan belagunya nolak gue, gue nggak terima. Gue harus bikin dia nyesel karena nolak gue. Paham lo?"


Joko, teman Raka itu menggeleng. Ia tidak paham kenapa sahabatnya ini begitu terobsesi dengan Vallery. Ia akui Vallery memang cantik dan menarik, tapi yang cantik dan menarik kan bukan cuma dia. Di luaran sana banyak yang lebih cantik sekaligus menarik jika dibandingkan adik tingkatnya itu. Ditambah lagi gadis itu jelas-jelas menunjukkan penolakan keras, jadi untuk apa ia mengejar-ngejar perempuan yang tidak mau dengannya. Di situ lah Joko merasa heran.


Decakan kembali terdengar, tatapan mata kesal kembali Raka tunjukan. "Masa gitu aja nggak paham?" protesnya kesal.


"Gue nggak paham sama obsesi lo ke Vallery, dia emang cakep, tapi buat apa ngejar-ngejar yang nggak mau sama kita. Bikin capek hati tahu, Ka, apalagi denger-denger dia itu udah nggak perawan kan? Dinikahin sama Om-om gitu? Anaknya lahir prematur lagi, mau lo jadi Bapak sambungnya? Kalau gue sih ogah!"


Dengan tatapan galaknya, Raka langsung memukul kepala Joko dengan cukup keras. Terbukti dari suara yang ditimbulkan cukup keras dan membuat si empu mengaduh kesakitan.


"Pikiran lo kejauhan, bego! Gue bilang gue mau dapetin dia, bukan nikahin dia. Lagian masalah dia udah perawan atau enggak bukan urusan gue, tapi urusan dia. Terus kalau dia udah nggak perawan, itu tandanya bagus. Gue jadi bisa puas main sama dia nantinya, karena kalau dia udah dinikahin Om-om pasti udah punya bangak pengalaman. Gue pasti bisa dibikin enak."


"Astagfirullah, sesat banget sih punya temen. Brengsek lo!" ucap Joko mengumpati Raka, ia melirik sang sahabat dengan tatapan prihatin, "inget, woy, emak lo juga perempuan. Punya niat jangan bejat-bejat ngapa."


"Halah, nyokap gue aja suka main di belakang bokap gue kok. Ngapain gue peduli? Suka gonta-ganti lagi, masa gue nggak boleh?" Raka kemduian tersenyum mengejek, "lagian nggak usah sok bener lo, kek lu lurus-lurus aja. Lo juga sama aja brengsek, ya. Lo pikir gue nggak tahu, gue tahu semua kelakuan bejat lo. Kita bisa temenan lo pikir karena apa kalau bukan karena ini?"


Joko menyengir malu-malu sambil menggaruk tengkuknya. "Gue begini juga karena lo kali, Ka."

__ADS_1


"Halah, busuk lo, bejat ya bejat aja. Nggak usah sok nyalahin orang," dengus Raka kesal. Ia melirik Joko sekilas lalu segera mengajak pria itu meninggalkan kelas, "nih, buat lo aja. Terserah mau lo buang atau makan."


Joko langsung menerimanya dengan senang hati. "Mubazir banget kalau dibuang, mending gue kasih ke Mbak Yuni." dengan ekspresi berbinarnya ia memasukkan kotak cokelat itu ke dalam tas lalu mengejar Raka.


"Siapa si Yuni?"


"Oh, itu penjaga warung kopi deket kostan gue."


"Cakep?"


Joko mengangguk semangat. "Bahenol, Ka. Janda rasa perawan."


Raka menghentikan langkah kakinya, ia mendadak merasa penasaran. "Lo pernah?"


"Pernah apa?"


"Tidur sama janda yang lo ceritain."


"Oh." Joko menggeleng, "belum. Ini lagi usaha dideketin, susah juga, njir. Rada jual mahal gitu orangnya."


"Terus dari mana lo tahu kalau dia janda rasa perawan?"


"Kata orang-orang yang udah pernah ngajakin sih gitu. Makanya gue penasaran."


Senyum Raka perlahan terbit. "Gue jadi penasaran. Anterin gue ke sana, yuk!"


"Tapi belum tentu dia mau sama gue kan?"


Joko berpikir sejenak. "Iya, bener juga sih, tapi enggak lah. Kalau lo ikutan gue jelas kalah, jadi lo nggak usah ikutan."


"Ikutan ke mana nih?"


Baik Raka dan Joko langsung menghentikan obrolan mereka, saat ada seorang perempuan yang tiba-tiba menghampiri mereka.


Raka berdecak samar sambil mengalihkan pandangannya, menghindari perempuan itu. "Bukan urusan lo," ketusnya lalu meninggalkan perempuan itu.


Joko memandang prihatin ke arah perempuan itu dan menepuk pundaknya. "Sabar, ya, selera Raka tuh tinggi. Nggak sembarangan, dia suka yang jual mahal. Bukan murahan macem lo!"


Perempuan itu langsung mengumpat kasar. "Sialan, emang kurang gue apa?"


"Kurang lo cuma satu."


"Apa?" tanya perempuan itu penasaran.


"Lo kurang cakep dari Vallery." Joko terbahak puas dan meninggalkan perempuan itu begitu saja.


Perempuan itu langsung mengumpat sekali lagi. "Secantik apa sih itu yang namanya Vallery. Awas aja lo, lo bakal ngerasain akibatnya karena udah bikin gue ditolak begini."

__ADS_1


****


"Kenapa sih? Jutek amat mukanya?" sambut Lingga saat Vallery masuk ke dalam mobil dengan muka ditekuknya.


Hari ini rencananya mereka akan melihat kondisi Saka, jadi Vallery sengaja tidak membawa mobil agar bisa Lingga jemput.


"Bad mood aku tuh, Mas."


Lingga menunggu Vallery memasang seat beltnya sebelum menjalankan mobil. "Kenapa? Dosennya ngasih banyak tugas? Atau ngasih kuis dadakan? Atau--"


"Bukan, Mas. Itu ada Kating aku yang nyebelin banget," potong Vallery.


Ekspresinya terlihat seperti orang yang benar-benar sedang kesal. Kening Lingga langsung mengerut tanpa bisa dicegah. Apa yang dilakukan sama Kakak tingkat Vallery sampai membuat sang istri begitu kesal.


"Emang dia ngapain kamu sampe bikin kamu sebegini kesalnya?"


Vallery melirik Lingga ragu. Haruskah ia memberi tahu sang suami kalau Katingnya ini naksir dirinya sejak ia menjadi Maba? Kalau ia cerita kira-kira nanti Lingga cemburu tidak, ya? Perasaan khawatir tiba-tiba hadir. Ia tidak mau bertengkar dengan sang suami, jadi lebih baik ia tidak usah cerita. Cari aman saja lah.


"Kok diem? Katingnya kenapa? Dia gangguin kamu? Nyuruh-nyuruh kamu? Atau dibully kamu?"


"Hah?" Vallery menerjab bingung lalu menggeleng cepat, "eng, enggak papa kok. Dia emang nyebelin gitu, Mas. Nggak usah terlalu dipikirin."


Lingga tertawa mendengar jawaban sang istri lalu mulai melajukan mobilnya. "Harusnya aku dong yang ngomong nggak usah terlalu dipikirin, kenapa jadi kamu? Aneh-aneh aja sih?"


"Iya, juga, ya."


"Kenapa sih?" tanya Lingga mendadak kepo.


Vallery menggeleng. "Enggak, enggak papa kok."


"Kok kamu mencurigakan sih?" tanya Lingga penuh selidik, ia merasa tidak puas dengan jawaban sang istri. Menurutnya ada sesuatu hal yang sedang Vallery sembunyikan.


"Ini kita mau langsung ke rumah sakit atau mampir makan dulu?" tanya Vallery mengalihkan pembicaraan.


Lingga memilih diam. Batinnya langsung menyimpulkan kalau Vallery memang sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi apa itu?


"Mas," panggil Vallery hati-hati, "kamu denger aku ngomong nggak sih?"


Lingga langsung mengangguk cepat. "Denger kok, kita langsung ke rumah sakit aja ya, nanti nyari makan di sana sekalian. Kamu nggak papa?"


Setelahnya Vallery ikut mengangguk, ia tidak masalah dengan usul Lingga. Toh, ia seolah sudah terbiasa makan, makanan yang tersedia di kantin rumah sakit.


Suasan mendadak canggung setelahnya, Lingga menjadi lebih banyak diam. Hal ini membuat Vallery khawatir. Terlihat sekali kalau suaminya ini kecewa karena ia tidak jadi cerita soal Kating-nya. sebenarnya Vallery ingin bercerita, tapi ia ragu juga kalau hal itu akan mengganggu pikiran Lingga. Alhasil ia memilih untuk diam. Sungguh menyebalkan, ini semua gara-gara Katingnya. Kalau saja ia tidak kembali berulah begini, maka Lingga tidak akan mendiamkannya begini.


Tbc,


rasanya tanganku kek gemeteran ngetik mulu🀣🀣🀣🀣 tpi gpp lah, demi mengelarkan mas bule. biar segera plong tanggung jawabku. oh ya, utk pak bidan nanti dia bakal punya lapak cerita sendiri kok. tenang aja kalian, cuma kemungkinan besarnya bakal aku post di lapak orenku yang akun baruπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


dah, lah, mohon doanya biar mlm bisa up. tolong dong, suka sedih deh klo ktmu bantal sama kasur kok tau2 molor ajaπŸ˜ͺ😫😴😭😭😭


__ADS_2