Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
45. Ngambek


__ADS_3

###


Setelah obrolan mereka tempo hari, Vallery dan Lingga akhirnya memutuskan untuk tidur bersama. Vallery bahkan sudah memindahkan semua barang-barangnya ke kamar Lingga, kali ini mereka selangkah lebih maju. Mereka mulai belajar lebih dekat lagi.


"Mas aku kayaknya ngidam lagi deh."


Kali ini mereka sedang tidak berada di rumah, melainkan berada di hotel. Untuk chek in supaya kena gerebek seperti yang sempat diutarakan Lingga tempo hari? Bukan, bukan untuk itu, mereka di menginap di hotel karena ada acara lamaran Papa mereka yang akan berlangsung nanti malam. Meski sebenarnya Lingga benar-benar pernah mengajak Vallery untuk melakukan hal tersebut, sehari setelah obrolan mereka waktu itu, yang tentu saja langsung ditolak Vallery.


"Hmm," respon Lingga seadanya.


Merasa dia abaikan, Vallery jelas merasa kesal. "Kamu dengerin aku nggak sih, Mas?"


"Dengerin. Kali ini pengen apa? Pesen Go-Food dulu aja, ya. Nih, pake hp aku." Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop, ia menyodorkan ponselnya kepada Vallery yang duduk di sebelahnya, "nanti kalau aku selesai kita keluar," sambungnya kemudian.


Vallery menggeleng dan tidak menerima ponsel yang Lingga sodorkan. "Aku nggak ngidam ngidam makan, tapi ngidam jalan-jalan sama kamu, Mas. Keluar, yuk," rengeknya kemudian, "anak kamu bosen di kamar terus."


Lingga langsung menoleh ke arah Vallery. "Harus banget sekarang? Bisa ditunda dulu nggak? Aku janji abis cek laporan ini, kita langsung keluar." ia langsung mendekatkan kepalanya pada perut Vallery, "sayang, jalan-jalannya setelah Papa selesai kerja ya?"


"Enggak mau! Maunya sekarang!" bisik Vallery pura-pura menirukan suara anak kecil.


Lingga langsung mendongak dan menatap Vallery. "Bentar doang, Vallery," pintanya dengan ekspresi memelas, "kamu bilangin dong ke anak kita biar nunggu bentar lagi. Bentar banget."


"Bentarnya kamu brapa lama lagi, Mas?"


Lingga diam.


Vallery ikut diam. Ia menghela napas tak lama setelahnya. "Lupain, Mas, anggep aku nggak pernah nanya begituan." Ia kemudian beranjak dari sofa, "aku izin keluar jalan-jalan. Nggak jauh kok, bosen aku di kamar terus."


"Kamu marah?"


Vallery menggeleng.


Lingga menghela napas panjang. "Vallery, bukannya aku nggak mau nemenin kamu. Tapi tolong, ngertiin aku juga. Aku lagi kerja, bisa tunggu sebentar nggak sih? Aku bilang, nggak akan lama, Vallery."


Vallery menyilangkan kedua lengannya di depan dada seraya mendengus. "Nggak akan lama?" beonya dengan nada menyindir, "aku tanya sama kamu sekali lagi, Mas. Enggak lama yang kamu maksud itu berapa jam? Kasih aku kepastian! Dari dua jam yang lalu kamu juga bilang begitu. Bentar lagi, nggak akan lama, dikit lagi, ini udah mau kelar, kamu yang sabar. Tapi apa buktinya? Kamu sibuk sama kerjaan kamu. Ya, aku tahu, itu kewajiban kamu, tanggung jawab kamu. Kamu kerja juga demi aku sama anak kita, tapi tolong dong, jangan memberi harapan palsu kalau emang dirasa kamu nggak mampu untuk ngelakuin. Jangan memaksakan diri! Aku nggak papa, Mas."

__ADS_1


Lingga menghela napas panjang sambil meraup wajahnya frustasi. Lagi-lagi ia membuat Vallery kesal.


"Maaf," sesal Lingga bersungguh-sungguh, "aku nggak maksud begitu, Vallery. Sungguh."


Vallery menghela napas. "Lanjutin kerjaan kamu, Mas, aku keluar sebentar."


"Aku ikut."


"Aku butuh waktu sendiri, Mas. Bisa kamu percaya kalau aku bisa menjaga diri dan bayi kita?"


Lingga terdiam cukup lama. Ia merasa frustasi, ingin memberi izin tapi rasanya ia tidak tega membiarkan Vallery keluar sendirian. Tidak memberi izin, itu sama saja ia tidak cukup mempercayainya, hal ini tentu saja akan membuat Vallery semakin kecewa terhadapnya.


"Kamu nggak percaya sama aku, Mas?"


"Hati-hati," ucap Lingga pada akhirnya. Ia kembali duduk dan fokus pada pekerjaannya tadi.


Vallery menggumankan terima kasih lalu keluar kamar. Tujuannya saat ini adalah menemui Papanya. Ia butuh teman berkeluh kesah.


"Kenapa sama ekspresi muka kamu?" sambut Gerald, saat ia membuka pintu dan menemukan wajah suntuk putri semata wayangnya. Ia melebarkan pintu, membiarkan Vallery masuk dengan leluasa.


"Berantem?" tebak Gerald seraya terkekeh, "dasar bocah," ledeknya kemudian, "dulu kan Papa pernah bilang, menikah itu berat, Vallery."


Vallery diam. Bibirnya merengut kesal. Bukannya dihibur ia malah diledek, tentu saja ia bertambah kesal.


"Aku tuh cuma minta ditemenin jalan-jalan, Pa, emang salah?"


"Ya, kamu mintanya pas suami kamu sibuk apa enggak dulu?"


"Emang nggak bisa, ya, Pa, ninggalin kerjaan demi istri sendiri?" Vallery menatap Gerald dengan perasaan menggebu, "istri sendiri loh, Pa, bukan istri orang," dengusnya kemudian.


"Vallery, dengerin Papa! Di dalam rumah tangga itu bukan melulu tentang kamu yang harus dingertiin, kamu juga harus ngertiin suami kamu. Kalau suami kamu emang lagi sibuk, sebaiknya jangan kamu ganggu dia dengan ngajak pergi. Kan kasian juga dianya jadi nggak konsen kerja."


"Jadi menurut Papa aku yang salah?"


"Nggak penting kamu salah atau benar. Yang penting sekarang kamu kembali ke kamar kamu, minta maaf, baikan. Malam ini Papa mau lamaran, Vallery, kamu jangan mengacau. Papa juga mau menikah." Gerald berdecak sebal mengingat kalau pernikahan mereka sempat ditunda karena pernikahannya.

__ADS_1


Vallery tertawa. "Papa ngebet banget ya mau nikahin Tante Vallery?"


Gerald menampilkan wajah kesalnya. "Menurut kamu? Kalau bukan karena kamu mendului Papa, sekarang Papa sama Tante Riana sudah resmi jadi suami istri."


Vallery kembali tertawa. "Papa terlalu percaya diri, kalau Vallery nggak kasih izin, Papa jelas nggak bisa nikah. Oma sama Nenek nggak bakal kasih restunya kalau aku nggak kasih izin Papa nikah lagi."


Gerald mangguk-mangguk paham. "Ya, ya, ya, kamu menang. Sekarang kamu kembali ke kamar kamu. Baikan sama suami kamu!" usirnya kemudian.


Meski awalnya menolak, Vallery akhirnya memilih untuk keluar dari kamar Papanya. Mungkin Papanya benar, ia memang harus meminta maaf dan berhenti merajuk.


"Iya, iya, aku pamit, Pa. Doain kita abis ini langsung baikan."


"Ya, asal kamu nggak ngambek-ngambekan tidak perlu doa Papa pun, kalian pasti langsung baikan," balas Gerald.


Bibir Vallery mengerucut sebal, dirinya tidak terima dikatain tukang ngambekan. Padahal dirinya tidak merasa begitu.


###


"Mas!" panggil Vallery saat memasuki kamar, ruangan tampak sepi, "lagi mandi mungkin," gumannya kemudian.


Sekali lagi ia memanggil, namun lagi-lagi tidak ada jawaban. Bahkan saat ia mencoba membuka pintu kamar mandi, pintu itu tidak terkunci dan di dalam sana tidak ada siapapun. Tak ingin menyerah, ia kemudian mencari ponselnya dan menghubungi Lingga. Tapi tidak dijawab. Otaknya berpikir keras, kemana kira-kira perginya sang suami. Apa dia mencarinya? Batinnya menebak.


Tanpa berpikir panjang, Vallery kemudian bergegas turun ke restoran yang ada di lantai dasar. Mungkin saja Lingga ada di sana untuk mencarinya.


"Duh, Mas, kamu kemana sih. Kan aku cuma pergi bentar, masa udah ilang aja," guman Vallery dengan perasaan cemasnya.


Ting


Pintu lift terbuka, Vallery buru-buru keluar dari sana dan masuk ke restoran yang ada di hotel tersebut. Matanya terus menyusuri seisi ruangan, sampai akhirnya netranya menangkap sesosok yang ia kenal. Itu suaminya. Lingga Maheswara. Tapi dengan siapa dia? Kenapa mereka tampak akrab? Ia kalang kabut mencari Lingga, tapi justru suaminya itu tampak asik bercengkrama dan ketawa haha hihi bersama wanita lain?


Tanpa sadar Vallery tertawa. Menertawakan kebodohannya sendiri.


"Nyesel gue panik nyariin dia, eh, dianya malah asik sama cewek lain. Pantesan panggilan gue nggak digubris, cakep gitu. Oke, fine. Kita lihat aja nanti, Mas. Aku bales kamu."


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2