
***
Vallery kembali ke kamar dengan perasaan jengkel. Kekesalannya yang tadi hampir mereda kini mendadak naik kembali, bahkan ia merasa lebih kesal daripada sebelumnya. Ia marah dan merasa terabaikan.
"Dasar suami nggak tahu diri, udah tahu istrinya lagi hamil masih aja tebar pesona sama cewek lain, mana pinter banget lagi, milihnya yang cakep. Dasar laki-laki," gerutunya kesal, "awas aja nanti, kalau balik ke kamar. Kuhabisi dia." Ia kembali mencoba menghubungi Lingga, dan kali ini panggilannya terjawab.
"Ya, halo, kamu di mana, Vallery? Aku nyariin kamu."
Vallery mendengus. "Di mana? Yang harusnya tanya itu aku, Mas, kamu yang di mana? Aku di kamar tuh dari tadi."
"Kamu udah balik ke kamar?"
Vallery tidak menjawab dan memilih untuk langsung mematikan sambungan telfon begitu saja. Biarkan saja, siapa suruh membuatnya kesal dan bertambah kesal. Bukan salahnya, tapi salah Lingga sendiri. Sudah tahu dirinya sedang hamil, dan butuh perhatian khusus, tapi tetap saja masih sering dibuat kesal, tentu saja ia jengkel. Istri mana yang tidak jengkel jika sudah diperlakukan seperti itu?
Tak berselang lama, Lingga kembali menghubunginya. Vallery menatap malas ke arah ponsel yang ada di dalam genggamannya. Ia memilih untuk mengulur waktu dan bukannya langsung menjawab panggilan tersebut. Sampai akhirnya panggilan itu berhenti, Vallery hendak ingin meletakkan ponselnya, namun panggilan itu kembali berdering. Mau tidak mau, akhirnya ia menjawabnya kali ini.
"Kenapa telfonnya kamu matiin gitu aja? Aku belum selesai bicara, Vallery."
Suara Lingga terdengar sedikit kesal, napasnya pun samar-samar terdengar sedikit ngos-ngosan.
Habis ngapain dia sampai ngos-ngosan begitu. Batin Vallery tidak habis pikir.
"Nggak ada sinyal kali makanya keputus," balas Vallery acuh tak acuh.
"Apa?" Di seberang Lingga terdengar mendengus tidak percaya, "memang kamu pikir kita sedang ada di mana, Vallery?"
"Ya, namanya sinyal, yang susah emangnya cuma di hutan doang?" balas Vallery dengan nada jengkel.
Lingga menghela napas panjang, sepertinya Vallery masih marah. "Oke, anggap aja kamu benar. Tunggu di kamar, jangan kemana-mana, aku udah ada di lift bentar lagi sampai."
"Hmm, aku dari tadi juga udah di kamar, Mas. Kamu aja yang kelayapan. Aku matiin, aku mau mandi. Gerah."
Tut Tut Tut
Lingga mendesah pasrah, Vallery terdengar masih sangat marah terhadapnya. Apa yang harus ia lakukan agar istrinya itu berhenti merajuk? Ia kehabisan ide.
###
Saat ia kembali ke kamar, ruangan tampak sepi. Lingga memutuskan untuk mengecek keberadaan Vallery di kamar mandi.
Tok Tok Tok
"Vallery, kamu masih mandi?"
"Aku masih mandi, Mas," teriak Vallery dari dalam sana.
"Aku mau pesen makan lewat layanan kamar. Kamu mau dipesenin apa?"
Hening. Tidak ada jawaban. Sambil mengangguk paham, Lingga kemudian memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya lelah, pikirannya pun ikut lelah. Vallery masih merajuk. Astaga, kepalanya nyaris pecah merasakannya. Ia berniat ingin memejamkan kedua matanya, berharap sedikit meredakan rasa lelahnya. Namun, baru saja ia memejamkan kelopak matanya, terdengar suara pintu terbuka. Buru-buru terbangun dari posisi berbaringnya dengan gerakan reflek dan cepat, hal ini tentu saja membuat kepalanya berdenyut nyeri.
"Akhh," rintihnya menahan sakit.
Vallery panik. "Kenapa, Mas?"
"Pusing," jawab Lingga singkat sembari memijit pelipisnya, "kamu udah selesai mandi?"
Vallery mengangguk lalu berlari menghampiri Lingga. "Kamu sakit? Perlu minum obat?" tanyanya khawatir.
Lingga menggeleng sambil terkekeh, gerakan jarinya masih setia memijit pelipisnya yang sedikit masih nyeri.
"Enggak, cuma gara-gara bangun tiba-tiba aja."
__ADS_1
Vallery berdehem lalu menggeser tubuhnya menjauh dari Lingga. Ekspresinya kembali jutek.
Lingga menaikkan kedua alisnya heran, saat melihat perubahan ekspresi Vallery yang kembali jutek. Tahu bakal begini, jelas ia kan memilih untuk pura-pura sakit saja.
"Aduh, tapi kepala aku masih pusing, Vallery. Aku sakit deh kayaknya demam juga," keluh Lingga sambil memegang kepalanya dramatis, "aku perlu obat deh kayaknya."
Vallery memicingkan kedua matanya curiga. Ragu-ragu ia mendekat ke arah Lingga dan menyentuh dahi suaminya. Tidak panas. Batinnya heran. Detik berikutnya ia baru tersadar kalau Lingga telah membohonginya. Ia berdecak tidak percaya dengan trik bodoh sang suami.
"Maksudnya... aku rasanya hampir kayak mau demam, Vallery, emang belum kerasa panas banget gitu. Tapi kepala aku sakit banget." Lingga masih tidak ingin menyerah.
Vallery mendengus. "Itu obatnya ada di tas, cari aja sendiri." Ia jelas tak ingin kembali tertipu dengan trik Lingga, dengan santai ia berjalan ke arah koper dan mengeluarkan hair dryer dan pouch make up-nya.
"Nggak mempan ternyata," guman Lingga terdengar putus asa. Dan kebetulan masih dapat didengar oleh Vallery.
"Ya, enggak lah. Kamu pikir aku istri apaan," balas Vallery sambil menatap Lingga sinis.
"Aku harus gimana sih biar kamu nggak semarah ini? Aku minta maaf, Vallery, aku ngaku salah. Harusnya aku nggak kasih harapan palsu ke kamu, harusnya aku sadar dengan kemampuan aku sebatas mana, di mana aku bisa nemenin kamu atau enggak. Harusnya--"
"Aku marah bukan karena itu, Mas," potong Vallery cepat.
"Terus?" tanya Lingga kebingungan.
Seingatnya terakhir kesalahan yang ia lakukan itu, tapi kenapa Vallery bilang bukan? Apa ia melakukan kesalahan lain yang tidak disadarinya? Kalau iya, mampuslah dia.
Kali ini Vallery memilih untuk diam dan tidak menjawab. Ekspresi wajahnya jutek.
"Aku bikin salah apa? Seingatku cuma itu." Lingga berguman ragu, "ada hal lain yang aku lakuin? Tapi kayaknya enggan deh."
"Mandi sana, Mas! Kita harus siap-siap buat acara lamaran Papa," ucap Vallery mengalihkan pembicaraan, tangannya masih fokus mengeringkan rambutnya yang basah.
"Kasih tahu dulu salah aku apa!"
"Nanti. Sekarang kamu mandi kalau nggak mau terlambat."
Bayangan wajah tersenyum Lingga bersama wanita lain benar-benar merusak moodnya. Rambutnya belum sepenuhnya kering tapi dengan mendadak ia mematikan hair dryernya.
"Gue penasaran deh sama itu cewek. Mantannya jangan-jangan." Ekspresi wajah Vallery berubah sedih, "kalau mantannya gue pasti insecure banget deh, cakep gila. Dewasa, anggun, kayaknya juga berpendidikan tinggi. Lah, gue? Bocah, labil, ngambekan, egois, bunting duluan, badan udah mulai melar, masih mahasiswa doang lagi. Ah, nyebelin." Otaknya mulai membayangkan yang iya-iya, "gimana kalau dia bakal ngerebut Mas Lingga dari gue, terus gue diceraiin karena kalah sexy, kalah cakep juga. Terus gue jadi janda dengan anak satu masih harus lanjut kuliah dan lainnya."
Vallery tiba-tiba histeris. "Enggak! Enggak mau! Gue nggak mau jadi janda."
Lingga keluar dari kamar mandi dengan kedua mata melotot heran dan mulut terbuka. Kenapa dengan istrinya ini? Batinnya keheranan. Ia kemudian langsung berlari panik dan menghampiri Vallery. Bahkan saking paniknya, Lingga tanpa sadar melempar handuknya ke sembarang arah.
"Vallery, kamu kenapa? Kamu habis mimpi buruk? Kamu baru saja ketiduran?"
Raut wajah Vallery berubah merah, terlihat seperti sedang menahan tangis. Detik berikutnya tangisnya pecah.
"Mas, jangan ceraiin aku ya? Aku nggak mau jadi janda. Meski nanti aku udah nggak cantik maupun sexy lagi, plis, jangan lirik-lirik wanita lain. Meski kita nikah cuma karena terpaksa, jangan berpaling dari aku cuma gara-gara aku udah nggak punya body goal kayak perempuan-perempuan di luar sana. Pokoknya aku mau kamu tetep jadi suami aku, jadi ayah dari anak-anak kita nantinya. Huaa..." Tangis Vallery semakin menjadi dan hal ini membuat Lingga semakin bingung apa yang akan ia lakukan.
Susah payah ia mencoba untuk menenangkan sang istri. "Hei, hei, tenang dulu, Vallery! Kamu kenapa? Coba cerita pelan-pelan."
Vallery mencoba menghentikan tangisnya. "Jangan selingkuh!" ia masih sedikit sesegukan.
Lingga masih tidak paham arah pembicaraannya. "Siapa yang mau selingkuh, Vallery? Enggak ada, kamu ini sebenernya kenapa?" ia mengusap kedua pipi Vallery yang basah.
"Aku takut, Mas," isak Vallery.
Kali ini Lingga memilih untuk memeluk Vallery demi agar dapat menenangkannya. Tepukan lembut ia berikan setelahnya, setelah dirasa tangisnya sudah mulai mereda, ia baru melepaskan pelukannya.
"Sekarang cerita sama aku, apa yang bikin kamu begini." Lingga bertanya dengan nada lebih lembut, sambil menyingkirkan anak rambut yang sedikit menjuntai dan menutupinya wajah Vallery.
"Kamu nggak bakal selingkuh kan, Mas?"
__ADS_1
Nada suara Vallery terdengar sedikit bergetar saat menanyakan pertanyaan tersebut. Kedua matanya terlihat kembali berkaca-kaca.
"Enggak, kenapa kamu bisa mikir begitu, hm?"
"Karena kita menikah bukan karena cinta. Itu cukup dapat dijadikan alasan kamu buat ninggalin aku." Vallery menatap Lingga, "aku bener kan, Mas?"
Lingga tidak langsung menjawab, pria itu terdiam selama beberapa saat. Sebelum akhirnya ia bersuara. "Kita memang menikah bukan berdasarkan cinta, tapi bukan berarti hal itu dapat dijadikan alasan agar aku bisa berkhianat, Vallery. Aku bukan pria seperti itu, aku tidak akan pernah meninggalkan seseorang yang sedang menjalin hubungan denganku demi wanita lain, jika memang aku ingin memulai dengan wanita ain, maka aku akan mengakhirinya terlebih dulu. Aku tidak sepengecut itu."
Kali ini Vallery lebih bisa menguasai diri. Ia tampak mengangguk paham. "Jadi kamu berencana mengakhiri hubungan denganku setelah anak ini lahir?"
Lingga menghela napas panjang. "Bukan itu maksudku, Vallery. Kita sudah sepakat untuk serius dengan pernikahan ini bukan?" ia terlihat mulai frustasi menghadapinya.
"Bisa aja kamu berubah pikiran."
Lingga memicingkan kedua matanya curiga. "Sebentar, biar aku tanya dulu. Kamu habis lihat apa sih? Nonton serial drama pelakor?" tanyanya tidak habis pikir.
Vallery menggeleng.
"Terus?"
Vallery memilih bungkam.
"Tadi kamu lihat aku di restoran yang ada di bawa?" tebak Lingga sepertinya mulai menyadari tingkah aneh sang istri, detik berikutnya ia tertawa tidak percaya, "kamu cemburu?"
"ENGGAK!" elak Vallery gugup.
Lingga memicingkan kedua matanya tidak percaya. Kedua tangannya menyilang di depan dada."Yakin?" godanya tidak puas dengan jawaban Vallery, "iya juga nggak papa kok. Nanti aku kasih bonus, uang saku kamu aku tambah." Lingga semakin gencar menggoda Vallery. Hal ini membuat wajah gugup Vallery bertambah merah.
"AKU BILANG ENGGAK, YA, ENGGAK, MAS!" balas Vallery ngegas.
Meski sedikit gemas, ia mencoba untuk menahan senyumnya dan berpura-pura mengangguk paham. "Jadi kamu beneran nggak cemburu?" tanyanya mencoba memastikan.
Dengan wajah sok angkuhnya, Vallery menggeleng cepat. "Enggak tuh."
"Terus kalau nggak cemburu kenapa kamu sampai nangis-nangis takut aku ceraiin?"
Wajah Vallery tampak memerah. Entah karena sedang menahan malu atau menahan marah. Ia terlihat gugup.
"Itu... itu karena aku... itu karena aku hamil anak kamu. Kamu senyum-senyum sama perempuan lain, cantik pula. Wajar kalau aku khawatir kamu mungkin saja akan ninggalin aku. Karena aku nggak secantik dia."
"Vallery," panggil Lingga tiba-tiba.
"Apa?"
"Jadi kamu beneran lihat kami tadi?"
Vallery mengangguk, membenarkan.
"Dan kamu nggak nyapa kami?"
"Biar apa?"
"Kok biar apa?" Lingga bertanya dengan nada heran sekaligus tidak percaya, "masa nyapa adik ipar sendiri kamu bilang biar apa?"
"Ya iya lah, ngapain juga nyapa adik ipar sendiri." detik berikutnya Vallery menyadari kesalahannya, "eh, apa? Adik ipar sendiri? Adiknya siapa? Adik kamu?" ia membekap mulutnya spontan, "tadi itu Mbak Jenny"
Lingga mengangguk, membenarkan. "Iya, tadi Jenny, istri Dika, Mama-nya Arvin, adik ipar kamu."
Astaga, apa yang telah ia lakukan?
Lingga terkekeh gemas sambil mengacak rambut Vallery yang masih basah. "Udah sana, cuci muka lagi. Baru dilanjut siap-siapnya." ia kemudian berdiri dan memungut handuknya yang tergeletak di lantai. Ekspresinya tampak senang, seperti wajah remaja yang baru saja mendapatkan pengakuan cinta dari gadis yang ditaksirnya. Sedangkan Vallery masih diam mematung dengan perasaan shock bercampur malunya.
__ADS_1
Astaga Vallery, kenpa kamu tampak sebodoh ini?
Tbc,