Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
47. Pernyataan Cinta


__ADS_3

***


Gerald menatap putri dan menantunya secara bergantian dengan tatapan datar, sebelah tangannya berkacak pinggang, dengusan samar terdengar setelahnya.


"Kalian masih belum baikan?" tebak Gerald.


Vallery menjawab pertanyaan Gerald dengan sebuah anggukan, sedangkan Lingga menggeleng. Ekspresi keduanya terlihat berbanding balik dengan jawaban mereka. Lingga dengan ekspresi menahan senyumnya sedangkan Vallery dengan ekspresi masamnya.


"Kenapa jawabnya tidak kompak?"


Kali ini keduanya tampak kompak tidak menjawab.


Gerald menghela napas panjang. "Ya Tuhan, aku kehilangan kesabaran. Oke, Papa paham. Papa memang tidak harusnya ikut campur urusan rumah tangga kalian. Tapi tolong, Papa hari ini mau lamaran. Bisa kalian jaga sikap dan tidak mengacau?"


Dengan kompak keduanya mengangguk yakin.


"Tenang saja, Pa, kami tidak sedang bertengkar serius."


Gerald menatap menantunya dengan ekspresi serius. "Lingga, kamu tahu masalah sepele jika dibiarkan terus menerus akan menjadi besar dan berakibat fatal?"


Lingga menunduk dengan ekspresi menyesalnya. "Ya, Pa, Lingga tahu. Maafin Lingga. Kami janji akan segera menyelesaikan masalah kami."


Gerald menghela napas panjang sekali lagi. "Memang harusnya begitu, di dalam rumah tangga kalau ada masalah usahakan langsung dibicarain, biar masalahnya cepet kelar. Kalian berumah tangga, bukan pacaran yang kalau ada masalah bisa putus seenak kalian."


"Iya, Pa."


"Kalau ada masalah, usahakan pihak luar tidak usah tahu masalah kalian. Biar mereka tidak ikut campur."


"Iya, Pa."


Gerald berdecak sebal. "Jangan cuma iya-iya aja kamu bisanya. Buktikan!"


"Baik, Pa." Lingga mengangguk paham.


"Lingga, kamu jauh lebih dewasa dari aspek umur dan pengalaman hidup. Bisa kamu lebih ngalah? Saya bilang begini bukan karena Vallery putriku dan kamu hanya menantuku. Tapi berdasarkan fakta. Saya bukannya mau belain dia dan menyudutkan kamu."


"Papa, udah," lerai Vallery merasa malu sendiri. Saat ini yang salah dirinya tapi malah Lingga yang kena omel, "jadi mau lamaran nggak sih? Itu Oma udah siap."


Gerald kemudian menoleh ke arah pintu kamar ibunya, di sana Jasmine tampak sudah siap dan dengan stelan kebaya merah marun dan rok batiknya.


"Ya sudah, ayo berangkat."


"Aku ikut mobil Papa, ya?"


Gerald langsung menatap Vallery tajam, detik berikut ia menghela napas berat sambil melirik Lingga.


"Lingga, tolong ajari istri kamu ini! Saya sudah nyerah, nggak sanggup lagi saya," ucap Gerald pasrah, ia kemudian menghampiri Jasmine, ibunya.

__ADS_1


"Baik, Pa."


"Sayang, ayo kita berangkat!" ajak Jasmine saat melihat cucu dan menantunya malah diam saja, bukannya menyusul mereka.


Vallery mengangguk. "Iya, Oma." Ia kemudian langsung berlari kecil menghampiri Jasmine dan Gerald.


"Tidak usah lari, Vallery," tegur Lingga, "kamu hamil."


"Aku tahu, Mas," ketus Vallery sambil melirik Lingga sekilas.


Lingga hanya tertawa saat mendengar nada suara Vallery yang ketus. Kali ini ia tidak terlalu khawatir, yang ada dia malah senang. Astaga, istrinya sungguh imut saat sedang mode begini.


"Ah, sayang banget hari ini Papa lamaran, coba kalau enggak. Udah gue kunciin Vallery di kamar seharian ini." Lingga tertawa saat mendengar ucapannya sendiri.


***


"Kamu masih marah?"


Lingga memulai obrolannya saat perjalanan menuju rumah Riana. Sepanjang perjalanan dari hotel, Vallery lebih banyak diam. Ia bahkan menghindari kontak mata dengannya, terlihat jelas kalau Vallery sedang menghindarinya.


"Enggak," balas Vallery singkat. Ia tidak menoleh ke arah Lingga sama sekali, sepanjang perjalanan fokusnya pada jalanan yang ada di hadapannya. Padahal yang menyetir Lingga, tapi justru dia lah yang fokus menghadap jalan. Justru Lingga lah yang bolak-balik menoleh ke arah Vallery.


"Kalau enggak kenapa kamu diam aja dari tadi? Noleh aja enggak pula."


"Udah deh, Mas, nggak usah banyak nanya. Kamu fokus aja nyetir, aku udah nggak marah. Oke?"


"Aku udah nggak marah, Mas."


Lingga berdecak sebal. "Aku bilang sambil lihat aku, Vallery."


"Enggak mau."


"Kenapa?"


"Kamu serius nanya itu, Mas?"


"Ya, serius, masa bercanda."


Vallery kini akhirnya menoleh ke arah Lingga. Hal ini langsung disambut senyuman terbaik pria itu. "Aku begini karena kamu, Mas," serunya emosi.


Senyum Lingga perlahan pudar. "Aku minta maaf," sesalnya kemudian.


Di luar dugaan Lingga, Vallery tiba-tiba berdecak sambil membuang muka ke arah jendela. "Aku tuh begini karena malu sama kamu, Mas. Kenapa kamu yang minta maaf padahal harusnya aku yang minta maaf."


Senyum Lingga kembali terbit. "Kamu nggak perlu minta maaf, Vallery. Karena kamu nggak salah."


"Tapi aku udah nuduh kamu selingkuh."

__ADS_1


Lingga menggeleng tidak masalah. "Enggak papa, aku justru malah senang, Vallery."


"Apa?" Vallery tidak paham dengan ucapan Lingga.


"Sikap kamu tadi cukup menggambarkan progres kemajuan hubungan kita."


"Maksudnya?" Vallery semakin tidak paham arah pembicaraan sang suami.


"Aku optimis hubungan kita akan menjadi seperti pasangan suami istri pada umumnya. Terima kasih, Vallery.  Aku tahu, mungkin ucapanku saat ini sudah cukup terlambat. Tapi kamu harus tahu kalau aku juga mulai mencintaimu. Jadi, mulai sekarang bisa kamu berhenti merasa cemas kalau aku akan pergi ninggalin kamu setelah bayi itu lahir. Oke? Aku menikahi kamu bukan hanya karena merasa bertanggung jawab atas bayi itu. Tapi karena dari awal aku memang sudah mulai tertarik sama kamu, Vallery."


Kedua pipi Vallery terlihat merona, ia merasakan hawa panas secara tiba-tiba, seolah AC di dalam mobil mereka rusak, padahal tidak demikian.


"Apaan sih, Mas? Kenapa mendadak ngomong begituan," ucap Vallery berusaha untuk menutupi perasaan gugupnya.


"Aku serius, Vallery."


"Aku... aku kayaknya juga begitu, Mas."


"Begitu apa?" goda Lingga.


Vallery mendadak merasa malu, ia menjerit sambil menutupi wajahnya. "Diem deh, Mas! Nggak usah godain aku!"


Lingga tertawa lalu mengacak rambut Vallery.


Gila, yang diacak-acak rambutnya tapi kenapa hatinya yang terasa berhamburan. Ya, Tuhan, begini ya rasanya dapat pernyataan cinta dari suami sendiri. Jauh terasa berbunga-bunga.


"Mas Lingga, iiih, jangan diacak-acak rambutku. Nanti rusak, acara belum mulai juga," rajuk Vallery merasa sebal.


Lingga menyengir. "Hehe, maaf, aku terlalu bahagia, Vallery."


"Kebahagiaannya tolong dikontrol dong, jangan ngerugiin pasangannya."


"Iya, iya, maaf, bawelnya nggak usah keluar juga." Lingga merasa gemas sendiri, tangannya terulur secara tak tertahan dan mencubit pipi Vallery dengan gemas.


"MAS LINGGA!" amuk Vallery mulai kehilangan kesabarannya.


Lingga tertawa puas setelahnya.


"Sayang," panggil Lingga tiba-tiba.


Vallery langsung menatapnya aneh, perasaannya tidak enak kalau dilihat dari ekspresi Lingga saat ini.


"Abis kelar acara lamarannya, aku 'mau', ya?"


Nah, kan! Apa dia bilang, ujung-ujungnya pasti ke arah sana. Dasar laki-laki.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2