Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
90. Bertahan, Sayang


__ADS_3

******


Perasaan Lingga tidak tenang, berkali-kali ia mencoba mengecek ponselnya untuk memastikan apakah ada pesan dari sang istri. Ia merasa ada yang aneh, harusnya Vallery sudah sampai dan langsung menghubunginya. Tapi satu jam lewat, Vallery masih belum juga memberinya kabar. Tumben. Pikirnya makin gelisah.


"Apa gue coba telfon, ya," guman Lingga sambil memainkan jarinya di atas meja. Ketukan jarinya pada meja terdengar makin cepat, "apa dia lagi asik main sama Saka makanya lupa nggak ngasih kabar? Tapi tumbenan, biasanya kan dia selalu kasih kabar dulu."


Biasanya kalau Vallery datang ke rumah sakit dan ia tidak bisa ikut menmani, istrinya itu kerap kali membagikan momen Saka, melalui WhatsApp.


"Telfon aja lah," guman Lingga pada akhirnya.


Perasaannya semakin tidak karuan, dan ia harus segera mengetahui kabar sang istri. Karena kalau tidak, ia tidak akan bisa konsentrasi kerja dengan benar.


"Kok nggak diangkat," guman Lingga, "kemana sih. Apalagi naik ojek jadi nggak kedengeran. Tapi kan gue mintanya dia naik taksi online aja, biasanya juga nurut."


Setelah beberapa kali mencoba menghubungi dan tidak mendapatkan jawaban. Lingga berdecak frustasi, ia kemudian memutuskan untuk menghubungi Nick. Beruntung panggilannya langsung dijawab sang empu.


"Ya, kenapa, Bang?"


"Lo di mana? Masih di kampus?"


"Waduh, enggak, Bang, gue cabut duluan. Mau nonton sama Patricia. Tapi ini lagi makan sih, kenapa, Bang?"


"Enggak, gue khawatir deh sama Vallery, masa dia enggak bisa gue hubungi. Padahal tadi masih sempet bisa, kok perasaan gue enggak enak, ya? Lo bisa nggak telfon temen lo gitu yang kira-kira masih di kampus, dia udah cabut dari kampus atau belum gitu."


"Eh, masa, Bang? Tumben? Iya, deh ntar gue coba tanyain ke temen-temen liat dia apa enggak."


"Iya, thanks banget ya, Nick. Kalau udah dapat kabar langsung kabarin."


"Siap, Bang, begitu dapet info langsung gue share ke lo."


Klik.


Sambungan terputus. Otak Lingga kembali berpikir, ia berinisiatif untuk menelfon pihak rumah sakit. Menanyakan apakah Vallery sudah sampai di sana atau bahkan menjemput Saka. Terkadang, istrinya itu memang suka nekat jadi bisa saja Vallery sampai melakukan hal itu. Makanya ia tidak bisa menjawab ponselnya.


Namun, saat mengetahui ternyata Vallery belum sampai di sana membuat Lingga semakin gusar. Dengan perasaan tidak menentu ia kemudian langsung memakai jas dan bergegas meninggalkan kantor. Ia sudah tidak bisa menunggu, ia harus mencarinya langsung.


"Mau jemput Saka, Bos?"


Lingga menggeleng. "Bukan, saya mau cari istri saya. Dari tadi dia nggak bisa dihubungi, padahal sebelumnya kita sempet telfonan dan dia bilang mau langsung ke rumah sakit duluan."


"Udah sampai rumah sakit kali, lagi main sama Saka makanya nggak bisa angkat telfon."


Lingga menggeleng cepat. "Saya udah telfon pihak rumah sakit, apa memang dia udah sampai sana apa belum. Tapi katanya emang belum ada yang jenguk Saka."


Will berpikir sejenak. "Udah coba ditelfon?"


"Udah. Tersambung Will, tapi nggak diangkat."


"Kok aneh, Bos?" Will bertanya dengan nada keheranan.


"Makanya itu saya mau cari dia, soalnya nggak biasanya dia begini. Saya khawatir terjadi sesuatu sama dia."


Will mengangguk dengan ide sang atasan, ia kemudian langsung berdiri dan menawarkan bantuan. "Saya perlu ikut, Bos?"


Lingga kembali menggeleng. "Enggak usah, kamu tolong handle pekerjaan saya dulu. Nanti kalau saya butuh bantuan, langsung saya hubungi kamu."

__ADS_1


"Oke, Bos, hati-hati," pesan Will mulai ikut khawatir.


Dalam hati ia merapalkan doa agar istri sang atasan segera ditemukan. Sangat tidak lucu bukan saat kondisi putra mereka sudah bagus dan diperbolehkan pulang, eh, istrinya malah menghilang.


*****


Lingga merogoh kantong jasnya saat merasakan getaran dari sana. Dan benar aja, ada panggilan masuk. Nama Nick tertera pada layar, tanpa berpikir panjang ia langsung menjawab panggilan tersebut.


"Gimana, Nick dapet kabar?"


"Gue coba tadi tanya temen-temen mereka grup ada yang liat Vallery ninggalin kampus apa belum, dan ternyata banyak yang bilang belum, Bang. Menurut gue dia masih di kampus deh, gue coba minta tolong ke mereka kalau ada yang liat suruh langsung hubungi gue, Bang. Nanti kalau ada yang liat gue langsung kabarin. Ini gue sama Nick lagi mau balik ke kampus ikut nyari."


"Oke, thanks, Nick, ini gue sebentar lagi nyusul kalian."


Samar-samar Lingga mendengar suara ributnya.


"Yang, yang, Mayang abis liat Vallery tadi lagi sama Kak Siska dan temen-temennya."


"Lah, ngapain dia sama mereka. Emang Vallery kenal?"


"Ya, mana gue tahu."


"Kenapa, Nick?" tanya Lingga kepo.


"Anu, ini, Bang, katanya Patricia ada yang sempet liat Vallery gitu. Dia lagi sama Kating cewek, cuma gue juga nggak tahu ini masih sama dia apa enggak. Nanti kita cari tahu sama-sama, kita ketemu di kampus. Gue tutup, ya, Bang."


"Iya, thanks ya, Nick. Sorry ngerepotin, acara nonton kalian jadi batal."


"Enggak papa, Bang, nonton bisa besok-besok lagi. Sekarang mastiin kondisi Vallery baik-baik saja lebih penting."


"Iya, iya, Bang. Beres kalau sama gue."


Klik. Sambungan terputus. Lingga kemudian langsung melajukan mobilnya menuju kampus Vallery.


Begitu sampai di sana, Nick dan Patricia ternyata sampai lebih dulu. Hal ini dikarenakan keduanya naik motor sehingga lebih mudah menyalip dan sampai lebih cepat.


"Ini yang namanya Mayang, Bang. Yang tadi sempet liat Vallery sama Kating."


Lingga kemudian mengulurkan tangannya. "Saya Lingga, suaminya Vallery."


Mayang nampak sedikit terkejut, entah terkejut dengan bahasa Indonesianya yang bagus, atau terkejut dengan statusnya sebagai suami salah satu temannya. Lingga tidak tahu.


"Saya Mayang, Bang. Tadi saya sempet liat mereka gitu kayak ribut kecil, aku juga nggak tahu sih mereka ngeributin apa. Cuma tuh keliatannya Kak Siska kayak nggak suka banget gitu sama Vallery. Aku heran sih kenapa dia sampai nyari Vallery, karena setahu aku mereka nggak saling kenal."


"Terus kamu tahu mereka kemana abis itu?"


Mayang menggeleng. "Aku juga nggak tahu, Bang. Soalnya aku nggak mungkin ikutin mereka. Takutnya disangka kepo sama urusan orang, jadi aku nggak berani mau ngikutin. Tapi emang mereka mencurigakan sih."


"Kalau emang mencurigakan harusnya lo ikutin dong, May. Gimana sih, atau minimal lo lapor ke siapa gitu kek," decak Patricia merasa kesal dan frustasi karena belum menemukan keberadaan Vallery.


Kampus mereka luas, dan tidak semudah itu mencari keberadaan Vallery.


"Ya kan gue nggak tahu juga, Pat, kalau bakal begini. Tahu begini ya gue ikutin lah, gue baru kepikirannya juga karena chat lo tadi."


"Udah, udah, nggak usah saling nyalahin. Lebih baik sekarang kita fokus cari Vallery," lerai Nick.

__ADS_1


Di sampingnya, Lingga mengangguk setuju. Semua sudah terlanjur terjadi, tidak ada gunanya saling menyalahkan. Lebih baik saat ini mereka fokus mencari keberadaan Vallery. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada diri sang istri.


"Gimana kalau kita coba tanya Siska? Siapa tahu dia mengetahui keberadaan Vallery," usul Lingga.


Nick menggeleng lemah. "Enggak bisa, Bang, nggak cukup waktunya. Dia udah cabut telfon mereka juga nggak nyambung pas mau dihubungi."


"Kok bisa?" tanya Lingga keheranan.


"Enggak tahu, Bang, gue juga ngerasa ada hal aneh di sini. Fokus kita saat ini nyari Vallery, kita bakal bantu cari tahu lebih setelah Vallery ketemu."


"Eh, nomor Vallery masih aktif kan?"


Lingga mengangguk. "Tadi gue coba hubungi masih nyambung, cuma nggak diangkat."


"Kita coba lacak lewat hp, Bang," usul Nick.


Kedua bola mata Lingga langsung berbinar, detik berikutnya ia mengangguk setuju. Buru-buru ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana, lalu mengutak-atiknya sebentar.


"Ketemu. Ini di mana? Di kampus ini kan?"


Lingga kemudian mendekatkan ponselnya pada Nick.


Nick menerima ponsel Lingga dan memperlihatkannya pada sang kekasih. "Ini di gudang bukan sih?" tanyanya heran.


"Gudang?"


Nick mengangguk cepat. "Kita coba cek ke sana dulu, yuk, Bang."


Semakin diselimuti kekhawatiran, Lingga mengangguk setuju. Batinnya berdoa semoga Vallery ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. Demi Tuhan ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Vallery, hari ini adalah hari yang mereka tunggu. Mereka akan menyambut kepulangan Saka, jadi Vallery harus tetap dalam keadaan sehat. Istrinya tidak boleh kenapa-kenapa.


"Semoga Vallery nggak kenapa-kenapa, Bang," ucap Nick mencoba menyemangati Lingga.


Akhirnya mereka sampai di gudang, tanpa berpikir panjang, mereka langsung masuk ke dalam dan menemukan Vallery tergeletak di sana dengan darah segar mengalir di sekitar kepalanya.


Mereka langsung memekik terkejut. Dengan wajah paniknya Lingga langsung berlari menghampiri Vallery.


"Sayang, bangun, sayang! Astaga, siapa yang telah melakukan ini sama kamu! Nick, cepet panggil ambulance!" teriak Lingga tidak sabaran.


Dengan panik Nick langsung mengambil ponselnya dari dalam celana dan menghubungi ambulance.


"Bertahan, sayang," bisik Lingga sambil mendekap tubuh Vallery. Kedua tangannya kini ikut berlumuran darah, bahkan celana dan jasnya pun ikut terkena.


Perlahan kesadaran Vallery kembali, meski belum sepenuhnya. Ia merintih sesaat.


"Mana yang sakit?"


Vallery menggeleng. "Saka, Mas."


"Saka?" beo Lingga tidak paham, "Saka baik-baik saja, sayang. Dia aman di rumah sakit, udah kamu nggak usah mikirin Saka. Dia baik-baik saja. Sekarang kamu yang kenapa-kenapa? Astaga! Siapa yang udah ngelakuin ini ke kamu."


Kali ini Vallery sudah tidak merespon, perlahan kedua matanya kembali terpejam.


"Sayang, sayang, bangun! Sadar! Kamu harus bertahan! Sebentar lagi ambulance datang. Kamu nggak boleh tinggalin aku! Kamu harus kuat! Kuat demi kami"


Tbc,

__ADS_1


alamat gk bisa double up karena lagi flu menyerang😪😷🤒 trs klo weekend lama sih reviewnya


__ADS_2