
****
Vallery dan Lingga duduk bersandingan di ruangan dokter Rita. Akhirnya setelah hampir bosan menunggu mereka dipanggil. Awalnya Lingga melarang Vallery agar tidak usah ikut, namun, jelas saja perempuan itu menolak dengan keras. Vallery ngotot ingin ikut dan mendengar penjelasan langsung dari sang dokter.
"Gimana Bu Vallery, kondisinya? Sudah membaik?"
Rita berbasa-basi sebelum mengambil posisi duduk di hadapan Lingga dan Vallery.
Vallery mengangguk sambil tersenyum tipis. Perasaannya masih gelisah mengingat kondisi Saka yang belum ia ketahui secara pasti.
"Syukurlah, mukanya juga udah nggak sepucat tadi. Sehat-sehatnya, Bu Vallery. Saka masih butuh banyak doa dan support dadi Mama-nya."
"Gimana hasilnya, dok? Kondisinya tidak terlalu serius kan?"
"Menurut hasil pemeriksaan Saka mengalami pneumonia neonatal, penyakit radang paru yang biasanya terjadi pada bayi baru lahir. Ada dua jenis pneumonia neonatal, yang pertama pneumonia neonatal awitan dini dan yang kedua pneumonia neonatal awitan lambat. Untuk Saka dia mengalami pneumonia neonatal jenis kedua. Biasanya bayi yang dirawat di NICU dan dipasangi ventilator, memang lebih rentan terkena infeksi akut paru yang menyerang alveolus dan jaringan pendukung lainnya ini. Apalagi mengingat kondisi Saka yang masih memiliki sistem imunitas yang lemah, sehingga ia belum mampu membasmi infeksi awal yang ringan. Alhasil, infeksi menyebar ke paru-paru dan menyebabkan pneumonia."
Vallery tidak dapat membendung air matanya saat mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi Saka. Di sampingnya Lingga hanya mampu merangkul bahu sang istri dan coba memberinya kekuatan.
"Lalu tindakan apa yang harus kita ambil, dok? Saka nggak harus sampai dioperasi lagi kan?"
Lingga bertanya, mewakili.
"Tidak. Untuk beberapa hari ke depan Saka akan kami awasi secara lebih intensif lagi. Kami akan menyuntikkan antibiotik untuk membunuh bakteri, dan sementara ventilator akan kami biarkan terpasang sampai kondisinya membaik. Semoga hal ini tidak berlangsung lama. Kita berdoa saja yang terbaik semoga Saka dapat melewati semua ini," ucap Rita menjelaskan, "Ayah dan ibu bisa pulang setelah ini. Kami akan terus mengupdate jika ada perkembangan lebih lanjut setelah ini." Rita kemudian menoleh ke arah Vallery, "apalagi kondisi Bu Vallery sedang kurang baik, lebih baik istirahat di rumah. Petugas medis di sini sudah menganggap Saka seperti keluarga sendiri, jadi dia aman bersama kami."
Vallery mengangguk setuju sambil mengusap pipinya yang basah. Dokter Rita benar, Saka pasti akan baik-baik saja karena selama ini putranya telah melewati banyak hal bersama petugas medis yang ada di sini. Ketimbang bersamanya, petugas medis lah yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Saka.
"Iya, Vallery, dokter Rita benar. Lebih baik kita langsung pulang, ya, setelah liat Saka." bujuk Lingga.
Kali ini Vallery tidak memprotes sama sekali. Ia langsung menurut. Tenaganya seolah habis jika ia harus mengeluarkan aksi protesnya.
"Kalau begitu kami permisi dulu ya, dok. Terima kasih untuk waktunya."
Lingga segera berdiri dan mengajak Vallery berdiri.
"Iya, sama-sama. Semoga lekas sehat kembali ya, Bu Vallery. Harus kuat dan tegar ya, semangat demi Saka."
Vallery mengangguk dengan kedua mata berkaca-kacanya. "Baik dok, terima kasih. Kami permisi dulu."
"Iya." Rita mengangguk dan mempersilahkan Lingga dan Vallery untuk keluar dari ruangannya.
Sepasang suami istri itu langsung meninggalkan ruangan. Mereka mampir ke NICU sebentar untuk berpamitan dengan Saka.
__ADS_1
"Gimana kondisi Saka? Baik-baik aja kan?"
Nick langsung berdiri menyambut Vallery dan Lingga. Ekspresi pria itu tak kalah cemas dari Vallery dan Lingga.
"Perlu penanganan intensif lagi, Nick. Thanks ya, lo udah anter istri gue dan mau nemenin dia hari ini. Sorry banget kalau kita ngerepotin."
"Apaan sih, Bang, kayak sama siapa aja. Vallery itu udah gue anggep kayak kembaran gue, jadi kalau ada apa-apa pasti gue tolongin lah. Ya, kali enggak. Kalian sama sekali nggak ngerepotin kok, gue seneng bantuin kalian. Yang penting gue bisa mah, gue nggak masalah." Nick menatap Lingga dan Vallery secara bergantian, "ini kalian udah mau langsung pulang atau gimana dulu?"
"Pulang aja, Nick, Vallery butuh istirahat."
"Mobil gue lo bawa aja dulu, Nick. Enggak papa, kapan-kapan biar gue ambil," ucap Vallery dengan suara lemahnya. Meski sudah lebih baik, wajahnya masih sedikit pucat.
Lingga nampak kebingungan. "Lo bawa mobil Vallery ke sini tadi?"
Nick mengangguk, membenarkan. "Gue bawa motor, Bang. Ntar gue anterin langsung ke rumah kalian, kita misah di tempat parkir aja. Gue balik ke kampusnya naik ojek aja."
Lingga menggeleng tidak setuju. "Lo bawa aja mobil Vallery ke kampus buat ambil motor lo, ntar biar supir gue yang ambil mobil Vallery"
Kali ini Nick mengangguk setuju. "Ya udah kalau gitu, gue nggak bisa nolak. Langsung cabut nih?"
Lingga mengangguk. "Ya, tapi kalau lo mau di sini nyari cewek dulu, ya silahkan!"
Lingga meringis dengan ekspresi bersalahnya. Sesaat ia lupa kalau Nick sudah memiliki kekasih.
"Tahu nih, sesat banget laki lo, masa ngajarin gue buat selingkuh. Nggak bener lo, Bang."
"Gue lupa, Nick," elak Lingga tidak terima, "soalnya lo kadang nggak keliatan kayak punya pacar. Matanya kadang suka kayak nggak dijaga pandangannya dari cewek yang bening dikit."
"Ya elah, Bang, emang cowok yang udah punya pacar nggak boleh liatin cewek cakep?"
Lingga menaikkan kedua bahunya acuh tak acuh. "Ya mana gue tahu, lo tanyain aja istri gue. Boleh begitu enggak."
"Ya, enggak lah, kecuali lo emang nggak ngehargain pasangan lo," sahut Vallery dengan nada judesnya. Sesat ia seperti mendapat kekuatan ekstra.
"Tuh, dengerin! Baikan dulu sana sama cewek lo, minta maaf yang bener," ucap Lingga mulai menasehati.
Di sampingnya Vallery terkekeh samar. "Yang lagi ngambek dia, Mas," bisiknya kemudian.
"Lah, kok? Tumben?"
****
__ADS_1
Begitu sampai di rumah, Lingga langsung menyuruh Vallery agar beristirahat. Ia menyetop semua kegiatan Vallery dan meminta sang istri agar beristirahat total. Ia bahkan tidak mengizinkan Vallery turun ranjang kecuali untuk keperluan ke kamar mandi. Lingga ingin Vallery benar-benar bed rest.
"Kamu butuh apalagi?"
Lingga sudah meletakkan cemilan dan beberapa keperluan Vallery di atas meja. Kini ia duduk di tepi ranjang dan menatap Vallery penuh perhatian.
Vallery menggeleng. "Enggak ada, nanti kalau aku butuh sesuatu aku ambil sendiri."
"Enggak, aku nggak kasih izin. Kamu nggak boleh kecapean, sayang. Aku nggak mau kamu ikut sakit. Plis, dengerin aku, oke?"
"Mas, kamu bisa nggak sih nggak usah lebay."
"Kalau berurusan sama kamu dan Saka, aku nggak bisa untuk nggak lebay. Kalian berdua penting dalam hidup aku. Aku nggak bisa bersikap biasa aja untuk orang yang spesial." Lingga menggeleng tegas lalu menyentuh dahi Vallery, takut kalau sang istri tiba-tiba demam, "kok agak hangat sih? Kamu demam? Pusing?"
"Enggak, Mas, itu karena kamu abis cuci tangan makanya rasanya agak hangat pas pegang aku."
"Oh, ya? Beneran nggak lagi demam kan kamu?"
Vallery menggeleng. "Enggak, aku baik-baik saja. Astaga! Udah mending sekarang kamu kerja, aku mau tidur mumpung lagi bolos."
"Aku temenin?" tawar Lingga tiba-tiba.
Vallery mendengus. "Enggak. Sana, kerja! Kamu jangan banyak alasan, sana kerja, Mas. Kita butuh banyak uang, kalau kamu nggak kerja mau makan apa nanti kita?"
Merasa diusir istri sendiri, Lingga langsung cemberut. "Dulu aja pas kamu hamil kalau aku tinggal kerja sebentar udah ngamuk-ngamuk, kenapa sekarang malah kebalikannya begini?" tanyanya heran.
"Ya, karena dulu aku hamil, Mas, sensitif. Maunya disayang-sayang, sekarang kan udah enggak. Saka udah lahir, dulu kan anakmu yang mau deket-deket sama kamu. Tapi kamunya yang malah sok sibuk."
"Apa aku harus cepet bikin hamil kamu lagi biar--aduh!"
Lingga mengaduh kesakitan saat tiba-tiba Vallery memukul lengannya. Kedua mata sang istri melotot tajam. "Omongannya! Anaknya lagi drop kok bisa-bisa ngajakin bercanda. Udah sana kerja, aku mau tidur. Aku butuh banyak istirahat biar cepet sehat, Mas. Aku nggak mau ketinggalan kelas."
"Ya udah, iya-iya, aku kerja. Aku kerjanya di kamar sini aja, ya?" tawar Lingga.
"Di mana pun kamu mau kerja, ya, terserah, yang penting kamu nggak gangguin aku."
Dengan wajah sumringahnya, Lingga mengacungkan jempolnya dan mengangguk kegirangan. Ia segera mengambil laptopnya di ruang kerjanya dan kembali ke kamarnya lagi. Perasaannya tidak tenang jika harus meninggalkan sang istri. Entah lah, terkesan berlebihan memang. Tapi mau bagaimana lagi, ia hanya ingin tetap bekerja dan mengawasi sang istri.
Tbc,
😪😪😪😪 penuh perjungan up siang bolong begini🤣🤣🤣🤣
__ADS_1