Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
70. Baikan?


__ADS_3

****


"Siang, Vallery, gimana kabarnya hari ini?" sapa Randu saat memasuki ruangan.


Nick yang menyadari keberadaan Randu dan Lingga langsung menyingkir. Ia mempersilahkan Lingga agar berada di sisi Vallery, sementara dirinya memilih untuk duduk di sofa.


"Baik, dok."


Randu mengangguk sambil memamerkan senyumannya, ia kemudian meminta izin untuk menyikap baju pasiennya. "Dicek dulu, ya." pria itu kembali mengangguk dan menutup baju pasien Vallery setelah ia selesai memeriksa, "bagus kok, bekas jahitannya udah mulai mengering ya pelan-pelan. Masih ngerasa nyeri banget nggak?"


Vallery menggeleng. "Udah enggak, dok."


"Oke, berarti udah siap ketemu babynya dong?"


Raut wajah Vallery seketika berubah berbinar. "Emang udah bisa ketemu, dok?"


Randu tertawa dan malah balik bertanya. "Ya, gimana, kamunya udah siap atau belum. Kalau siap, hari ini juga kita temuin dia." ia menggeleng tak lama setelahnya, "eh, bukan kita deng, kalian maksudnya. Lo sama Lingga aja. Gue enggak."


Dengan kedua mata yang nampak berkaca-kaca, Vallery mengangguk yakin. "Udah nggak sabar pengen ketemu dari kemarin, dok. Jadi kalau udah dikasih izin pengen langsung liat."


"Tapi sebelum ketemu, kamu perlu nyiapin diri dulu, Vallery. Karena kondisi bayi kalian terlahir prematur. Gue takut nantinya lo belum siap, kita nggak mau nanti begitu lo lihat anak kalian, lo-nya shock dan drop."


"Emang gimana kondisi bayi kami?"


"Kelahiran bayi prematur 6 bulan, 5 bulan, atau kurang dari 28 minggu (7 bulan) memang jarang terjadi, kemungkinannya hanya 1 persen. Kebanyakan bayi yang lahir di usia kandungan ini memiliki berat badan kurang dari 1 kilogram, begitu juga dengan bayi kalian. Hampir seluruh tubuhnya ditutupi bulu halus atau dikenal dengan istilah lanugo. Kulitnya pun tidak seperti bayi yang lahir cukup bulan. Nanti kalau lihat kulit bayi masih agak berkerut dan masih keliatan tipis sampe pembuluh darah di bawah kulitnya keliatan jangan kaget ya."


Meski masih kelihatan shock dan tidak tega membayangkan, Vallery tetap mengangguk yakin. Yakin kalau memang ia sudah siap untuk bertemu buah hatinya. Mau bagaimana pun kondisi bayinya saat ini, ia sudah menyiapkan diri.


Melihat ekspresi yakin Vallery, Randu ikut mengangguk. "Oke, nanti gue coba bilang ke dokter Rita ya, semoga aja hari ini bisa kalian ditemuin."


"Kalau nggak bisa?" kali ini Lingga yang buka suara.


"Ya, berarti harus ditunda dulu. Kan kondisi bayi prematur kadang masih suka naik turun gitu, Ga. Nggak bisa setiap waktu dijenguk." Ia menatap Lingga dan Vallery secara bergantian, "ya, moga aja kondisinya hari ini pas bagus, jadi bisa dijengukin."


Lingga mengangguk paham, Vallery hanya mampu memasang wajah kecewanya.


"Jangan berkecil hati dulu, Valle. Kan belum tentu belum bisa dijengukin." Randu mencoba menenangkan Vallery.


"Lo nggak bisa telfon dokternya buat nanyain ini?"


"Bisa aja sih, cuma masalahnya gue nggak lagi bawa hp."


"Pake hp gue," tawar Lingga, ia kemudian merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana. Lalu menyerahkan pada Randu.

__ADS_1


"Gue mana apal nomornya, Ga. Yang bener aja lo, nomor adek gue sendiri aja gue nggak apal gimana nomor orang lain. Nomor pin gue aja kadang lupa." Randu kemudian menoleh ke arah Nick yang terlihat duduk di sofa sambil asik memainkan ponselnya, "kamu temennya Vallery?"


Nick mengangguk dengan wajah bingungnya.


"Ikut saya!"


"Hah? Ngapain, dok?" Ekspresi Nick terlihat makin bingung. Namun, meski begitu ia tetap berdiri.


"Nggak usah banyak nanya kamu. Ikut aja," balas Randu, ia kemudian menoleh ke arah Vallery, "gue pinjem bentar ya, Valle, temen lo. Entar kalau udah selesai gue balikin." setelahnya Randu mendekat ke arah Lingga dan berbisik, "manfaatin waktu sebaik-baiknya, bro."


Lingga mengangguk. "Thanks."


Suasana kamar inap Vallery mendadak berubah sunyi saat Randu dan Nick pergi. Vallery terlihat tidak nyaman dengan keberadaan Lingga, perempuan itu bahkan seolah terlihat seperti enggan menatap suaminya sendiri.


"Vallery," panggil Lingga, ia menarik kursi dan duduk di sana, helaan napas panjang terdengar setelahnya. Sebelah tangannya meraih telapak tangan Vallery dan menggenggamnya erat, "aku tahu sulit bagi kamu menerima gaya hidupku di masa lalu. Apa yang aku perbuat dulu memang sulit untuk kamu terima. Aku sadar betul, Vallery. Tapi demi Tuhan! Aku sudah tidak begitu lagi, aku sudah bertekad untuk begitu lagi. Hal itu kulakukan jauh sebelum ketemu kamu."


"Ya, aku memang sempat khilaf saat melakukannya sama kamu. Awalnya aku memang hanya melakukan semuanya ini karena rasa bersalahku terhadap kamu. Tapi lama kelamaan aku beneran sayang sama kamu, aku butuh kamu dalam hidupku. Aku nggak mau kita pisah. Bisa kita perbaiki hubungan kita dan mulai semuanya dengan benar? Aku beneran sayang sama kamu, Vallery, aku nggak mau kehilangan kamu."


Kedua mata Vallery terlihat berkaca-kaca, hatinya luluh. Entah dapat dorongan dari mana, ia merasa apa yang Lingga katakan terdengar tulus.


"Aku juga sayang sama kamu, Mas. Tapi boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Apa kamu bisa janji buat nggak lakuin itu lagi?"


Senyuman Vallery mendadak terbit. Hatinya terasa berbunga, dapat ia rasakan remasan elusan pada punggung tangannya.


"Mas, boleh peluk?"


Sambil terkekeh geli, Lingga mengangguk. Ia tidak mengatakan apapun, yang ia lakukan hanya memeluk tubuh Vallery begitu saja.


"Aku sayang sama kamu, Vallery," bisik Lingga tulus. Kecupan hangat ia daratkan beberapa kali pada pucuk rambut Vallery, "terima kasih, sayang. I love you."


"I love you too, Mas."


Lingga merenggangkan pelukannya. "Jadi, kamu mau menerima masa lalu aku?"


"Bismilah, Mas, aku mau belajar nerimanya. Tuhan aja Maha pemaaf, masa aku enggak?"


"Good girl," puji Lingga. Kali ini ia tidak mengecup pucuk rambut Vallery lagi, melainkan mengecup bibirnya, "kalau aku minta lebih boleh nggak sih?" cengirnya kemudian.


Kedua alis Vallery saling bertaut heran. Minta lebih yang gimana nih? Batinnya bingung.

__ADS_1


"Minta lebih yang apa nih?"


"Ini," sahut Lingga sambil mengecup bibir Vallery secepat kilat, "boleh, ya? Bentar aja, aku kangen banget sama kamu."


Vallery menyipitkan kedua matanya, pura-pura memasang wajah merajuknya. Ia berdecak tak lama setelahnya. "Kamu tuh bener-bener deh, Mas," keluhnya kemudian.


Namun, tanpa Lingga duga Vallery tiba-tiba memajukan wajahnya. Mendekatkan bibirnya pada bibir Lingga, tak butuh waktu lama kedua bibirnya mereka langsung saling memungut.


Cklek!


Pintu kamar inap Vallery mendadak terbuka. Randu masuk dan tidak sengaja melihat kegiatan mereka. Umpatan kasar terdengar setelahnya.


"Sialan, kampret lo bule Jawa! Mentang-mentang udah halal, baikan dua menit aja udah langsung tukeran ludah. Taik!" umpatnya langsung menutup pintu kamar lagi.


Di belakangnya, Nick langsung shock. Ia bukan shock dengan kegiatan yang mereka lakukan, melainkan dengan umpatan Randu. Ini pertama baginya melihat seorang dokter mengumpat di hadapannya langsung.


"Ganggu aja lo, Ndu!" balas Lingga dengan suara berteriak, ia kemudian mengelap bibir Vallery yang sedikit membengkak karena ulahnya, "maaf, sayang," bisiknya penuh sesal, "aku nyakitin kamu?"


"Kamu bikin aku malu, Mas, ketimbang nyakitin."


Lingga meringis. "Sorry." ia kembali mengecup bibir Vallery singkat dan menyuruh Randu masuk.


"Anjir lo, bener-bener ya, keterlaluan. Emang nggak bisa ya ditahan bentar?" protes Randu saat memasuki ruangan.


Dengan wajah santainya Lingga menggeleng. "Gue udah nahan kelamaan, Ndu."


"Njir, masih bisa aja itu mulut ngejawabnya. Gue slepet juga lo lama-lama. Gemes gue. Kalau bukan karena temen, udah gue laporin lo karena perbuatan asusila!" omel Randu dengan wajah snewennya, ia kemudian menoleh ke arah Nick, "tuh, liat! Lo nggak liat gimana wajah shock temennya bini lo?" tangannya kemudian menunjuk ke arah Nick.


Yang ditunjuk menunjukkan wajah meringisnya. "Tapi, dok, saya bukan kaget gegara adegan kissing mereka."


"Terus gara-gara apa?" tanya Lingga dengan wajah bingungnya.


"Dokter." Nick menunjuk ke arah Randu dengan wajah polosnya.


"Kok gue? Emang gue ngapain?"


"Ngumpat. Ini pertama kalinya saya liat seorang dokter ngumpat di hadapan saya langsung. Kalau liat orang kissing di depan saya mah, saya udah biasa. Tapi kalau seorang dokter ngumpat, seumur-umur saya belum pernah ngalamin. Jadi saya kaget. Shock gitu."


"Hahaha."


Seketika Lingga langsung terbahak puas, menertawakan Randu. Sedangkan yang ditertawakan hanya mampu memasang wajah cemberut dan kembali mengumpat kasar.


"Kan, kan, kan, yang beginian tuh saya belum pernah liat, dok."

__ADS_1


Randu langsung melotot tajam ke arahnya. "Main lo kurang jauh tuh, makanya belum pernah liat yang ginian," sahutnya sewot.


Tbc,


__ADS_2