Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
42. Ngidam


__ADS_3

###


Lingga terpaksa harus bangun dari tidur nyenyaknya karena haus yang tiba-tiba melanda. Masih dengan kedua mata yang enggan terbuka, ia turun dari ranjang, keluar kamar, menuruni anak tangga, dan berjalan menuju dapur. Ia baru bisa tidur sekitar dua jam yang lalu karena harus menyelesaikan pekerjaannya tadi siang. Sekalian menemani Vallery yang memang begadang untuk mengerjakan tugas.


Ia tidak dapat menahan rasa terkejutnya, saat selesai menutup pintu kulkas dan menemukan Vallery sedang duduk termenung di kursi makan. Kedua tangannya menopang kedua pipinya, bibirnya terlihat mengerucut sedih.


"Astaga, Vallery! Sedang apa kamu? Kenapa tidak tidur?"


Vallery menggeleng sambil melirik Lingga sekilas. Pandangannya kembali menerawang jauh. Hal ini tentu saja membuat Lingga khawatir. Dia beneran Vallery istrinya? Bukan makhluk jadi-jadian?


Ragu-ragu Lingga menyentuh pundak sang istri. "Kamu beneran Vallery?"


"Maksud kamu apa, Mas? Aku hantu?"


Lingga meringis lalu menarik kursi yang ada di samping Vallery dan duduk di sana. "Abis kamu malem-malem duduk ngelamun di sini. Serem tahu. Kenapa sih?" ia menatap Vallery dengan ekspresi cemasnya, "kenapa? Enggak bisa tidur? Apa ada yang bikin kamu ngerasa nggak nyaman? Mau aku telfonin Randu?" tawarnya kemudian.


Bukannya langsung menjawab, Vallery malah mengigit bibir bawahnya. Ia terlihat seperti ragu-ragu saat hendak mengatakan sesuatu. Hal ini tentu saja membuat Lingga bertambah bingung.


"Kenapa? Ada yang sakit?"


Vallery menggeleng.


"Terus kenapa? Jangan buat aku bingung, Vallery. Bilang aja, nggak papa! Mau tidak mau, aku adalah suami kamu. Kamu tanggung jawabku, bilang aja. Apapun yang mengganggu pikiran kamu," bujuk Lingga penuh perhatian.


Ekspresi Vallery terlihat sedikit lebih yakin saat mendengar kalimat Lingga. Namun beberapa detik kemudian ia tiba-tiba menggeleng cepat. Mengundang kerutan di dahi Lingga. Sepertinya Vallery tidak yakin untuk mengatakan sesuatu yang mengganggu pikirannya itu.


Lingga masih harus berusaha untuk menebak. "Kamu laper? Mau aku buatin sesuatu?"


Vallery terlihat masih ragu-ragu, beberapa detik kemudian ia menggeleng cepat. Hal itu ia lakukan sampai beberapa kali, membuat Lingga semakin kebingungan dibuatnya.


"Kamu pengen makan sesuatu?" tebak Lingga masih tidak ingin menyerah.


Kali ini Vallery diam. Berpikir sejenak lalu menggeleng sekali lagi.


"Ya sudah kalau gitu tidur," putus Lingga pada akhirnya, ia bangkit berdiri mengajak Vallery agar kembali ke kamarnya dan beristirahat.


Namun, Vallery tetap bergeming. Tidak ada tanda-tanda kalau ia akan segera bangkit berdiri.


Lingga menghela napas panjang. Memutar otak agar Vallery mau mengatakan apa yang mengganggu pikirannya. Sepertinya ia mulai kehilangan kesabarannya. Ia mengeram tertahan guna meredam emosinya.


"Vallery, tolong kerja samanya, kamu jangan begini! Aku jadinya bingung harus ngapain. Kamu kenapa? Aku bikin salah?"


Vallery menggeleng. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah bersalah. Ia segera bangkit berdiri dan mengajak Lingga untuk kembali ke kamar dan beristirahat, sesuai yang dikatakan Lingga tadi.


"Kamu ngidam, ya?" tanya Lingga tiba-tiba.

__ADS_1


Ekspresi Vallery terlihat terkejut. "Hah?"


Lingga menghela napas panjang. "Kamu sebenernya pengen sesuatu tapi sungkan bilang sama aku." Ia menatap Vallery serius, "aku benar?"


Vallery tidak menjawab, ia hanya diam saja dengan kepala menunduk. Secara spontan ia meraba perutnya dengan gerakan melingkar.


Lingga terkekeh gemas. Demi Tuhan, ia ingin sekali mencubit kedua pipi Vallery saking gemasnya. "Astaga, Vallery, Vallery. Kamu ini ada-ada aja. Aku sudah pernah bilang kan, kalau kamu mau sesuatu, entah apapun itu kamu bisa bilang ke aku. Kalau aku lagi tidur, kan bisa bangunin."


"Aku nggak enak sama kamu. Maaf."


Lingga terkekeh. "Nggak papa, kamu nggak perlu minta maaf, Vallery. Jadi kamu pengen apa?" ia kembali duduk di kursi.


Vallery masih terlihat malu-malu dan juga ragu saat mengatakannya. "Besok aja deh."


"Enggak papa, Vallery, aku bakal usaha buat cariin."


"Tapi..."


"Vallery!" panggil Lingga dengan nada suara tertahan, terlihat sekali pria itu sedang mencoba menahan kegemasannya dalam menghadapi sang istri.


"Bubur ayam," sahut Vallery cepat.


"Nah, gitu dong. Tinggal bilang, lalu aku cariin. Lain kali nggak usah pake acara sungkan. Oke, mau berapa bungkus?"


Vallery terlihat terkejut. "Mau Mas cariin? Sekarang?"


"Mas percaya gituan?" Vallery memandang Lingga ragu.


Lingga berpikir sejenak lalu berkata, "Daripada ibunya yang ngiler kalau gitu," koreksinya kemudian.


Ekspresi Vallery berubah cemberut. "Enggak usah lah, besok aja. Ini kan udah hampir dini hari. Mana ada tukang bubur ayam yang masih buka." Ia kemudian mengajak Lingga untuk kembali tidur.


Lingga mengangguk yakin. "Ada. Di Jakarta banyak kok tukang bubur yang buka 24 jam. Kamu tenang aja, jadi kamu mau berapa bungkus? Aku beliin langsung."


"Serius?" Ekspresi berbinar tidak bisa Vallery sembunyikan. Namun, beberapa detik kemudian ia kembali memasang wajah sedihnya, "nggak usah lah, besok aja. Aku nggak begitu laper, cuma tadi kebetulan pengen aja. Nggak harus langsung dituruti, kan besok masih ada hari." Ia kemudian tersadar akan sesuatu, "eh, ini udah ganti hari ya, Mas? Ya udah, ayo tidur lagi. Kamu besok ada rapat pagi-pagi kan? Carinya nanti kalau udah agak siang aja."


Lingga menggeleng tidak setuju. "Nggak papa, aku bisa kok tetep bangun pagi. Aku beliin sekarang, ya. Kamu kalau mau tidur, tidur aja dulu, nanti begitu dapet buburnya. Langsung aku bangunin," pesan Lingga. Ia menepuk pundak Vallery pelan dan langsung beranjak naik ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Ya udah, hati-hati."


Vallery hanya mampu menghela napas pasrah setelahnya. Ada perasaan tak enak yang hadir di dalam dirinya. Ah, harusnya ia lebih bisa menahan diri untuk beberapa jam.


 ****


Lingga akhirnya dapat bernapas lega karena bisa membawa sebungkus bubur ayam. Ia tidak bisa membayangkan betapa kecewa dan tidak enaknya Vallery kalau ia tidak berhasil mendapatkannya.

__ADS_1


"Beneran dapet?" sambut Vallery saat Lingga masuk ke dalam rumah sambil menenteng plastik putih berisi styrofoam.


"Dapet dong," ucap Lingga membanggakan diri, "aku harus ganti nama kalau nggak bisa dapetin apa yang kamu mau," imbuhnya jumawa.


Vallery terkekeh geli, tidak menyangka kalau ayah dari bayinya begitu pandai membanggakan diri sendiri begini. Baru tahu dia.


"Mau makan di sini atau di dapur?"


"Dapur aja lah."


Lingga mengangguk paham lalu mengajak Vallery ke dapur.


"Sebungkus aja?" tanya Vallery saat membuka isi plastiknya, ekspresinya terlihat bersalah, "kamu gimana?"


"Kan yang ngidam kamu. Lagian masih jam segini, Vallery. Aku nanti makannya kayak jam biasa aja, jam segini belum laper." Lingga menggeleng, lalu menyuruh Vallery agar segera menyantap buburnya dan tidak mempedulikan dirinya, "mau aku beliin dua bungkus takut nggak abis. Emang kurang sebungkus aja? Kalau kurang aku beliin lagi."


Vallery menggeleng cepat. "Enggak usah, segini cukup kom, cuma masa aku makan sendiri?"


"Ya nggak papa, nggak usah pikirin yang lain. Sekarang mending langsung dimakan, daripada nanti keburu dingin nggak enak."


Meski ragu-ragu, Vallery akhirnya menyantap bubur ayam itu. Ia mencoba untuk menyuapi Lingga, namun ditolak pria itu.


"Enak?" tanya Lingga sambil menopang dagunya, kedua matanya menatap Vallery dengan senang saat melihatnya makan begitu lahap. Ada perasaan bangga yang tidak bisa ia jelaskan karena berhasil memenuhi ngidamnya Vallery di tengah malam begini.


Vallery mengangguk puas. "Kamu mau coba? Dikit aja," tawarnya sekali lagi.


Lagi-lagi Lingga menggeleng tanda penolakan.


"Vallery," panggil Lingga tiba-tiba.


Vallery masih terlihat melahap bubur ayamnya dengan penuh nikmat. Ia hanya merespon panggilan Lingga dengan seadanya.


"Hmm."


Lingga menghela napas. "Lain kali kalau kamu pengen sesuatu, entah itu barang atau makanan. Jam berapa pun kamu menginginkannya, bilang sama aku ya. Kamu nggak perlu sungkan. Meski kita baru mengenal, aku suami kamu, kamu tanggung jawabku, dan kamu berhak melakukan itu. Oke?"


Vallery tiba-tiba menghentikan suapannya lalu menatap Lingga ragu. "Bukannya itu terlalu berlebihan?"


"Enggak. Aku melakukan itu semua demi kebahagiaan kamu dan bayi kita. Kalian adalah prioritasku."


Vallery berkedip. Bubur ayamnya yang tinggal beberapa suap mendadak tidak menarik minatnya lagi. Ia benar-benar merasa tersentuh dengan ucapan Lingga barusan. Ia tidak paham kenapa pria ini bertindak sampai sejauh ini.


"Kenapa malah ngelamun? Ayo, buruan diabisin! Biar tidurnya nyenyak, bukannya besok kamu ada kelas pagi? Nanti kesiangan," tegur Lingga karena Vallery tidak kunjung menghabiskan bubur ayamnya.


Meski sebenarnya sudah tidak terlalu berselera. Namun ia tetap menghabiskannya, bagaimana pun Lingga sudah capek-capek mencarikannya.

__ADS_1


"Makasih, Mas," ucap Vallery tulus.


Tbc,


__ADS_2