Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
29. Pendarahan?


__ADS_3

•••••


Hari pernikahan Vallery dan Lingga hanya tinggal menghitung hari. Hari ini bahkan Dika dan Ibunya dijadwalkan untuk mengecek gedung dan catering. Persiapan sudah nyaris siap, gedung sudah dapat, gaun pengantin dan jas pengantin siap, catering sudah deal dan lainnya pun sudah siap. Undangan pun sudah disebar. Lingga bersyukur karena semua bejalan sesuai yang direncanakan.


"Bahagia banget, Bos, yang mau lepas lajang," goda Will seraya menyerahkan laporan kepada Lingga.


Lingga menerima map itu sambil memamerkan senyuman terbaiknya. "Jelas," sahut kemudian.


"Bos jujur sama saya!" ucap Will tiba-tiba, hal ini tentu saja langsung membuat Lingga mengangkat kepalanya.


"Kenapa?"


"Bos emang sengaja menghamili cewek itu kan biar--"


"Sembarangan!" potong Lingga dengan nada tidak terima, tanpa ampun ia segera melayangkan pukulan kepada Will menggunakan map-nya, "saya tidak sebrengsek itu, Will. Enak saja."


"Maaf, Bos, bercanda. Mukulnya kenceng banget. Sakit tau."


"Kamu akhir-akhir ini saya perhatikan makin ngelu--" omelan Lingga otomatis terhenti saat melihat ponselnya berkedip. Nama Vallery yang tertera di sana. Ia menatap Will. "Kali ini kamu selamat, keluar dari ruangan saya."


Will mengangguk patuh. "Terima kasih, Bos, saya permisi mau pamit kerja lagi."


"Hm," balas Lingga seadanya. Ia kemudian memilih untuk segera menjawab panggilan dari Vallery.


"Ya, Vallery. Ada apa?" sapa Lingga begitu sambungan terhubung.


"Mas, kamu di mana?"


"Kantor."


"Bisa ke rumah sekarang nggak?"


Suara Vallery terdengar tidak seperti biasa, ada nada kepanikan yang ia dengar.


"Ada apa?"


"Aku flek, Mas. Aku takut banget." Tak lama setelahnya, terdengar suara isakan dari seberang. Hal ini membuat Lingga ikut panik. Namun, sebisa mungkin ia menutupinya. Ia tidak mau membuat Vallery bertambah panik.


"Oke, kamu tenang dulu. Ini aku langsung berangkat. Kamu tunggu sebentar." Lingga kemudian langsung berdiri dan menyambar jasnya lalu keluar dari ruangan.


"Ada apa, Bos?" tanya Will keheranan saat melihat wajah panik sang atasan.

__ADS_1


"Saya harus ke rumah Vallery. Tolong kamu beresin meja saya, bawa semua berkas yang perlu saya cek ke rumah saya. Saya pergi."


Tanpa menunggu jawaban dari Will, Lingga langsung melesat pergi. Hal ini tentu saja membuat Will merasa makin keheranan. Batinnya bertanya-tanya, ada apa dengan Vallery sampai membuat bosnya itu terlihat sepanik itu.


Di dalam lift, Lingga langsung menghubungi Randu. Butuh waktu sedikit lebih lama sampai akhirnya panggilannya terjawab.


"What up, Bro?"


"Lo di mana?"


"Keluar dari ruang OK, pengen makan bebek goreng sama lalapan sih abis ini, tapi belum bisa karena harus ada visit." Randu terkekeh setelahnya, "kenapa? Mau traktir lo?


"Vallery pendarahan, lo bisa stand by nggak sekarang?"


"Hah? Kok bisa? Abis jatuh apa gimana?"


Lingga menggeleng sambil menjambak rambutnya frustasi, karena belum tahu keadaan sang calon istri dengan lebih detail.


"Gue juga belum tahu pastinya gimana, ini gue masih di kantor. Mau ke rumah buat cek keadaannya. Lo bisa kan stand by sekarang?"


"Bisa, bisa kok, gampang lah tinggal diatur. Lo langsung bawa aja ke sini, nanti kalau udah deket langsung kabari ya. Perlu gue kirim ambulans nggak?"


"Oke, kalau gitu. Hati-hati ya, jangan ngebut. Yang penting nyampe dengan selamat."


"Iya, thanks, Ndu."


"Halah, kayak sama siapa aja lo. Udah gue matiin, gue tungguin."


Klik. Tanpa menunggu persetujuan dari Lingga, Randu langsung mematikan sambungan telfon begitu saja. Bersamaan dengan itu, pintu lift akhirnya terbuka. Lingga dapat menghela napas lega dan segera berlari menuju tempat parkir. Memilih mengemudi dengan kecepatan lebih agar segera sampai di rumah Vallery. Ia benar-benar merasa cemas saat ini. Lingga takut terjadi sesuatu dengan Vallery dan calon bayinya mereka.


****


Sementara di tempat Vallery, duduk di sofanya dengan perasaan gelisah. Tangannya sedari tadi tidak berhenti mengelus perutnya seraya merapalkan doa. Sesekali air matanya jatuh. Ia takut terjadi sesuatu dengan bayinya. Meski dia ada karena sebuah kesalahan. Namun, tetap saja ia sangat menyayangi calon bayinya dan tentu saja ia tidak mau terjadi sesuatu dengannya.


"Non, gimana kondisinya? Mau saya telfonin Bapak?" tawar Bik Jum khawatir seraya duduk sebelahnya.


Vallery menggeleng masih dengan wajah cemasnya. "Enggak usah, Bik, aku udah telfon Mas Lingga, dia bentar lagi ke sini kok. Kalau telfon Papa, takutnya nanti Papa malah ikut khawatir."


Bik Jum kemudian mengangguk paham. "Mau saya bikinin teh?"


Kali ini Vallery mengangguk seraya tersenyum tipis. "Boleh, Bik, minta tolong, ya. Buatin dua juga deh, punyaku dibikin hangat aja, punya Mas Lingga dibikin panas aja nggak papa, soalnya belum tahu dia langsung nyampe atau enggak."

__ADS_1


"Baik, Non, kalau gitu Bik Jum ke belakang dulu. Non baik-baik ya di sini."


"Iya, Bik." Sekali lagi Vallery mengangguk, tangannya kembali mengelus perutnya. Sensasi tidak nyaman itu kembali hadir, hal itu membuatnya kembali merasakan kecemasan yang berlebih. Air matanya kembali jatuh, susah payah ia menenangkan diri agar tidak membuatnya terisak.


"Sayang, kamu baik-baik ya di sana. Jangan bikin Mama takut," bisik Vallery sambil mengelus permukaan perutnya.


Lama menunggu, akhirnya yang ditunggu tiba. Lingga langsung berlari kecil menghampiri Vallery, ia mengambil posisi jongkok sambil mengelus perut Vallery.


"Gimana? Apa yang kamu rasain? Perut kamu sakit?"


Vallery menggeleng. "Cuma agak nggak nyaman aja."


Lingga mengusap pipi Vallery yang masih terdapat sisa air matanya. "Kita ke rumah sakit sekarang, ya? Aku tadi udah nelfon Randu buat stand by di IGD. Kuat jalan?"


Vallery mengangguk sebagai tanda jawaban. Lingga kemudian merangkul pundak Vallery, berniat untuk membantu Vallery berdiri. Namun, karena kehadiran Bik Jum sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh membuatnya urung.


"Tehnya, Non, Mas."


Lingga lantas menoleh ke arah Vallery, meminta pendapat gadis itu. Vallery mengangguk lalu meraih salah satu cangkir.


"Minum dulu, Mas, kasian Bik Jum udah repot-repot bikinin."


"Iya, Mas, daripada mubazir. Diminum dulu, tapi punya Masnya memang masih agak panas, soalnya saya pikir Mas Lingga belum mau nyampe gitu."


Lingga tersenyum lalu mengangguk tidak masalah, tak lupa ia mengucapkan terima kasih sebelum meraih cangkir itu.


"Papa udah kamu kabarin?" tanya Lingga sambil meletakkan cangkirnya.


Vallery menggeleng sambil memainkan jarinya. Ia masih merasa begitu mencemaskan calon bayinya. Meski bukan pendarahan serius yang sampai menimbulkan sensasi nyeri, tapi tetap saja Vallery khawatir.


"Nanti aja kalau udah pulang periksa."


Lingga mengangguk paham, lalu membantu Vallery berdiri. "Bik, kami pamit dulu ya. Minta doanya, semoga bayi kami baik-baik saja."


"Pasti, Bibik bakalan doain Non Vallery dari rumah. Hati-hati ya, Mas, nyetirnya, kalau ada apa-apa, Bibik minta tolong dikabarin, ya."


"Iya, Bik."


Dalam hati, Vallery berdoa agar bayi yang dikandungnya baik-baik saja.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2