
Gerald langsung menyuruh Riana membereskan barang-barangnya setelah gadis itu menceritakan perihal Vallery dan ibu mertuanya yang masuk rumah sakit. Sebenarnya ia sudah menduga hal ini, dan yang ia khawatirkan adalah Vallery. Putri semata wayangnya ini sangat mirip dengan mendiang istrinya dulu. Saat ini Vallery pasti sedang berprasangka yang tidak-tidak, seperti sedang menyalahkan diri semisalnya. Apalagi kondisi Vallery sedang hamil begini, ia takut kalau berita Ambar masuk rumah sakit mempengaruhi kondisi janinnya. Meski janin itu hadir sebelum diharapkan, tetap saja ia khawatir kalau terjadi sesuatu dengan mereka.
"Dia tadi nyetir sendiri?" tanya Gerald tanpa repot-repot menyembunyikan wajah kekhawatirannya.
Bagaimana pun, Vallery sedang mengandung. Meski Vallery hamil karena sebuah kecelakaan dan ia sendiri sempat berpikir untuk menyingkirkan janin itu karena khilaf, tapi tetap saja ia tidak mau jika terjadi sesuatu dengan mereka.
Riana menyerahkan jas milik Gerald dan membantu pria itu untuk memakainya. "Kayaknya iya, Pak."
"Tapi dia nggak papa kan?"
Riana mengangguk. "Tadi pas nyampe keliatan panik banget, tapi sehabis saya tenangin udah lumayan agak reda paniknya."
Gerald berdecak sebal. "Dia kan sudah punya calon suami, kenapa nggak telfon calonnya. Kenapa malah repot-repot nyetir ke sini coba," gerutunya tak habis pikir.
"Kayaknya Vallery panik banget sampai nggak mikir ke arah sana," balas Riana, "lagian ini juga masih jam kantor. Mungkin Vallery tidak mau mengganggu jam kerja calonnya."
Gerald kembali berdecak. "Dasar bocah. Itu kan perusahaan milik calon suaminya sendiri," gumannya menahan kesal.
Kali ini Riana tersenyum. "Bocah yang bentar lagi punya bocah ya, Pak."
Gerald menoleh ke arah Riana dengan tatapan datarnya. "Benci banget saya sama fakta itu. Nggak usah kamu ingetin terus menerus, Riana. Bisa-bisa darah tinggi saya." ia berpikir sejenak, "kamu ikut kan?"
"Pekerjaanku masih banyak. Nggak usah lah."
Gerald menggeleng tidak setuju. "Enggak, kamu harus ikut," perintahnya tidak ingin dibantah.
"Mas," tegur Riana dengan ekspresi serius.
Gerald mendadak berhenti lalu mendekat ke arah Riana. "Jangan panggil saya Mas kalau masih di area kantor, Riana. Kecuali kalau di ruangan saya. Saya takut dengernya, kamu serem kalau panggil saya begitu dan kita tidak sedang di ruangan saya." Ia bergidik ngeri sambil geleng-geleng kepala, sedangkan Riana hanya mendengus samar.
#####
Ting
Pintu lift terbuka, Riana dan Gerald kemudian keluar dari sana. Helaan napas panjang keluar dari bibir Gerald saat netranya menangkap sosok Vallery tengah duduk gelisah di sofa panjang yang ada di lobi. Tanpa mengajak Riana, ia langsung menghampiri putrinya. Riana pun sengaja tidak langsung mengekor di belakangnya, ia ingin memberi waktu untuk ayah dan anak itu.
"Kenapa nunggu di sini? Kenapa nggak ikut naik aja sekalian tadi barengan Riana?" Gerald menghela napas sambil duduk di sebelah Vallery.
__ADS_1
Vallery menggeleng sembari menahan tangisnya. "Pa, Vallery takut, Nenek nggak akan kenapa-kenapa kan?"
Gerald tersenyum lalu merengkuh tubuh putrinya. "Iya, percaya sama Papa, Nenek kamu akan baik-baik saja. Kamu nggak usah khawatir."
"Tapi, Pa."
"Udah, nggak usah terlalu dipikirin. Nanti bayi kamu ikut sedih kalau ibunya stress, kamu nggak mau dia kenapa-kenapa kan?" pesan Gerald sedikit berbisik, ia tidak mau karyawannya tahu tentang kehamilan Vallery.
Vallery menggeleng, secara reflek ia memeluk perutnya sendiri.
"Kamu sudah makan?"
Vallery menggeleng. "Vallery nggak laper."
"Kamu masih dari kampus terus ke sini?"
Vallery mengangguk. "Tadi niatnya mau langsung pulang, tapi Tante Hilda malah nelfon dan ngasih kabar kalau Nenek masuk rumah sakit."
"Sendirian? Kemana dua ekor kamu yang biasanya ngintilin kamu itu?"
"Mereka lagi berantem, Pa. Pusing Valle ngadepin mereka. Jangan tanyain mereka." Vallery memanyunkan bibirnya kesal saat mengingat aksi diam Patricia dan juga Nick.
Vallery menggeleng. "Valle nggak laper, Pa. Valle mau ketemu Nenek, Vallery mau minta maaf sama Nenek."
Gerald menghela napas. "Iya, setelah kita makan kita langsung ke rumah sakit."
"Enggak bisa, ya, kita ke rumah sakit dulu baru pergi makan?"
Gerald menggeleng. "Kamu nggak sendirian, Vallery, bayi kamu butuh makan juga. Jangan egois!"
"Tapi..."
"Vallery, plis, jangan ngebantah Papa bisa?!" gertak Gerald terdengar tidak ingin dibantah.
Vallery yang mendengarnya tidak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk patuh dan pasrah mengikuti kemauan sang Papa.
"Kamu langsung masuk mobil, biar mobil kamu dibawa Riana. Papa mau ngomong dulu sama dia, mana kunci mobil kamu."
Vallery mengangguk patuh lalu menyerahkan kunci mobilnya. Sebelum benar-benar keluar dari kantor Papanya, ia melirik kekasih Papa terlebih dahulu. Saat Riana hendak menyapanya, Vallery buru-buru melarikan diri.
__ADS_1
"Vallery, tidak usah lari!" ucap Gerald memperingatkan, ia berdecak kesal dengan kelakuan putrinya yang suka lupa kalau sedang mengandung, "kenapa sih dia?" gerutunya kemudian.
"Sepertinya dia malu denganku, Mas."
Gerald menaikkan sebelah alisnya heran. "Apa kamu bilang?" Ia kemudian tertawa, "mana mungkin dia malu denganmu, yang ada dia tuh nggak tahu malu, Riana."
"Mas kok ngomong gitu sih? Dia anakmu loh?"
"Memang."
"Tadi tuh ada kejadian."
"Kejadian apa?" tanya Gerald kepo.
"Tadi pas nyampe sini dia nangis-nangis gitu kan? Aku peluk dia nggak nolak loh, Mas."
Gerald menghentikan langkahnya dan menatap Riana serius. "Kamu tidak bercanda?"
"Enggak lah, Mas. Serius, dia mau aku peluk, terus cerita kenapa dia nangis, karena khawatir sama Neneknya."
"Terus?"
Riana meringis sambil menggaruk rambutnya. "Dia mendadak kayak malu gitu setelahnya, mungkin dia baru sadar kalau itu aku."
Gerald berpikir sejenak. "Memang dia ngira kamu siapa?"
"Enggak tahu, tapi dia manggil aku Tante Riana kok."
Gerald tersenyum. "Sepertinya kamu sudah mulai bisa mendapatkan hatinya. Sebentar lagi kamu mungkin akan diterima sebagai ibu tirinya."
Riana membekap mulutnya spontan. "Serius, Mas?"
Gerald mengangguk, meyakinkan. "Iya, lihat saja nanti. Tinggal kamu jinakin dikit, saya jamin kamu bisa mendapatkan hatinya." Ia kemudian menyerahkan membukakan pintu mobil Vallery dan menyuruh Riana segera masuk, "kamu nyetir sendiri nggak papa kan?"
Riana mengangguk tidak masalah lalu masuk ke dalam mobil. Gerald langsung menyerahkan kunci mobilnya.
"Hati-hati nyetirnya, kita ketemu di rumah makan yang biasa. Dan maaf, sepertinya hari ini kamu harus banyak ngalah dulu sama Putri saya. Plis, jangan cemburu sama calon anak sendiri," bisik Gerald tepat di telinga Riana, lalu membantu menutup pintu mobil. Setelahnya ia bergegas menuju mobilnya sendiri.
Riana yang sebenarnya sama sekali tidak merasa cemburu, hanya mampu memutar kedua bola mata. Astaga, begini banget ya pacaran sama duda anak satu.
__ADS_1
Tbc,