
****
"Kenapa ini Mahmud? Cemberut ae? Kenapa udah nggak dapet jatah sun dari laki?"
Vallery mendudukkan bokongnya di kursi sambil memasang wajah betenya. Mereka baru saja pulang dari kampus dan janjian makan di Cafe deket kampus, kebetulan tadi begitu selesai kelas. Ia harus ke toilet dulu jadi ia membiarkan Nick dan Patricia duluan ke Cafenya.
"Iya," balas Vallery asal.
"Anjir, bercanda loh gue padahal. Kok bisa udah nggak dapet jatah? Kan Saka belum boleh pulang, masih di rumah sakit kan?"
"Ngambek dia."
"Buset, gue pikir karena udah Om-om bakal jarang ngambek loh suami lo, Valle. Eh, tahunya sama aja," kekeh Patricia, "lo abis ngapain emang deh? Perasaan dia baek banget deh dulu pas lo hamil."
"Biasa lah, Pat. Masalah rumah tangga tuh ada aja, yang tadinya cuma karena masalah sepele eh, buntutnya panjang."
"Sesepele apaan emang masalah kalian di awal?" tanya Nick kepo. Ia mencocol kentang goreng yang ada di hadapannya dan menyuapi Patricia, "enak?" tanyanya kemudian. Setelah mendapat anggukan dari sang kekasih baru lah ia mulai makan.
"Ini soal biaya perawatan Saka."
"Waduh, topiknya aja udah sensitif gini."
Nick terkekeh dan dapat menebak beberapa kemungkinan yang membuat Lingga merajuk. Apalagi ia cukup mengenal Vallery cukup dekat, jadi lumayan sudah ketebak lah.
"Kan maksud gue baik, Nick."
"Vallery, Mamah muda yang kece, yang abis ngelahirin tapi masih bisa tetep ikut kelas dan bahkan bisa nongkrong di Cafe. Mau sebaik apapun niat baik kita, belum tentu orang lain ngenggep niat kita beneran baik. Kadang ada aja loh niat kita udah baik, tapi orang mikirnya jahat. Ada kan?" Nick kemudian menyenggol lengan sang kekasih, "gue bener kan, beb?"
"Iya." Patricia mengangguk setuju, "apalagi ini soal ginian. Ini soal uang kan? Uang tuh emang kadang bisa menyatukan orang yang awalnya kurang cocok, Valle. Tapi kadang ada juga yang perkara soal uang jadi pemecah persahabatan atau bahkan persaudaraan loh, Valle. Kita harus lebih bijak dalam menyikapi hal ini. Oke, kita tahu maksud lo mungkin baik. Tapi lo harus ingat, cowok tuh egonya gede apalagi soal ginian."
"Betul," sahut Nick sambil mengangguk setuju.
__ADS_1
"Ya, kan gue udah lama nggak nyetir juga. Kan sekarang gue seringnya dianter kalau ngampus, pulang juga nebeng kalian. Mending mobil gue dijual aja kan? Lumayan buat nambah-nambah dana, soalnya biaya perawatan Saka bener-bener nggak sedikit. Gue jadinya mau ngebantu gitu loh niatnya, Nick, Pat."
Nick seketika langsung memasang wajah shocknya. "Anjir, lo mau sampe jual mobil lo?"
Vallery mengangguk. "Iya, soalnya ngapain juga kita punya mobil sendiri-sendiri? Kan satu aja cukup gitu, gue awalnya minta dibeliin motor aja gitu--"
"Kelewatan lo," sahut Nick memotong ucapan Vallery dengan emosi, "jelas aja dia ngamuk. Gue kalau jadi dia juga bakal marah lah, gila aja lo, Valle. Ini masalah harga diri, girl. Jelas ia tersinggung, lo kesannya jadi kek nggak percaya sama laki lo sendiri, kalau dia tuh bisa ngehidupin kalian." ia menunjuk Vallery secara terang-terangan, "menurut gue lo keterlaluan banget. Gue dukung suami lo."
"Loh, maksud gue nggak gitu, Nick. Lo jangan liat dari persepsi cowok doang dong, tapi liat dari persepsi cewek." Vallery langsung memukul lengan Patricia, "gimana menurut lo, Pat. Lo sebagai cewek kalau diginiin? Niat lo baik cuma mau ngebantu karena emang ada, dan daripada nganggur juga kan? Mending dijual kan?"
"Wisshhh, santai, Valle. Sekarang gue tanya dulu, keuangan suami lo lagi gimana dulu? Masih stabil atau mulai drop?"
"Ya, alhamdulillah masih cukup stabil sih."
"Nah, itu, ngapain lo segala mau jual mobil pas keuangan suami lo stabil? Lo tuh, ya, Valle, bener-bener," sahut Nick emosi.
"Terus salah gue?"
"Diem dulu deh, Nick!" omel Patricia kemudian. Fokusnya kembali pada Vallery, "sekarang nggak penting sih siapa yang salah atau bener. Karena menurut gue dua-duanya nggak ada yang salah. Niatnya pun sama-sama baik, cuma mungkin karena kalian lagi sama-sama emosi atau capek, atau bisa jadi karena lagi nggak mau disalahin makanya begini. Gue tahu maksud lo baik, Valle. Sebagai seorang ibu lo pasti juga pengen ngelakuin sesuatu buat anak lo, termasuk ngebantu biaya perawatannya."
Vallery mengangguk, membenarkan. Ia sangat ingin membantu. Ada perasaan bersalah yang ia rasakan. Kalau saja waktu itu ia bisa lebih berhati-hati, maka mungkin Saka masih bisa dipertahankan dalam kandungannya sampai usia cukup bulan. Tapi karena kecerobohannya, bayi mungilnya harus lahir lebih dulu sebelum waktunya. Hal ini masih sering kali menjadikan pukulan berat baginya.
"Tapi, Valle, lo juga harus tahu. Suami lo sayang sama lo, dia mau yang terbaik buat lo. Dia nggak rela hidup lo jadi merasa tidak terjamin setelah menikah dengannya. Dia mau hidup lo jadi makin enak setelah nikah sama dia, itu maksudnya dia. Lo harusnya berterima kasih lah sama suami lo, artinya dia peduli dan mau menjamin kehidupan lo bakal lebih baik. Bukannya malah marah-marah begini."
"Jadi, gue harus gimana?" Ekspresi bersalah terlihat pada wajah Vallery.
"Minta maaf lah sama dia. Kan lo salah sama suami lo," sahut Nick.
Patricia terkekeh tapi tetap mengangguk, mengiyakan. "Turunin gengsi dan minta maaf duluan juga bagus, Valle. Mengalah bukan berarti karena kita kalah."
Vallery menunduk sedih. Batinnya membenarkan apa yang Patricia katakan. Seperti begitu sampai rumah nanti, ia harus segera meminta maaf kepada Lingga. Saka pasti sedih kalau dirinya dan Lingga sedang bertengkar begini.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong gimana kondisi Saka? Kapan nih kira-kira kita bisa jenguk?"
"Gue aja kalau jenguk belum ketemu langsung, Nick. Masih liatin dari luar doang, gimana lo. Nanti aja kalau udah boleh pulang."
Patricia menyangga dagunya menggunakan lengan. "Emang kapan kira-kira boleh pulangnya?"
Vallery menggeleng sedih. "Belum tahu. Masih banyak banget 'pr'nya, Pat. Mulai dari naikin berat badan yang masih jauh banget sampai harus bisa bernapas sendiri."
"Sekarang berat badan berapa?"
"Masih sekilogram. Belum lebih sama sekali. Ya, doain aja, ya, semoga abis ini kekejar cepet. Sedih juga lama-lama."
Patricia langsung mengelus pundak Vallery. "Gue yakin Saka kuat, Valle, lo juga harus kuat. Kita bakal ada selalu buat lo."
"Thanks, ya."
Vallery mendadak melow. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Patricia mengangguk tidak masalah.
Nick langsung menyahut tiba-tiba, "Tapi lo yang bayar makanan kita."
"Astaga, Nick! Oke, deal, gue yang bayar. Puas lo?"
Nick langsung tersenyum cerah, ia langsung menyodorkan kedua jempolnya dan memanggil pelayan untuk menambah pesanannya.
"Astaga, nggak mau rugi ya lo!"
"Jelas."
Tbc,
bismilah, doain nanti malem mau up lagi. semoga gk ketiduran ya AllahðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1