
***
Lingga berdecak kesal karena Vallery tidak kunjung turun dari lantai atas. Pasalnya hampir lima belas menit lebih ia menunggu, namun, sang istri tidak segera menunjukkan batang hidungnya.
"Lama banget sih, apa ketiduran jangan-jangan," gerutu Lingga. Ia kemudian memutuskan berdiri dan naik ke lantai atas, melihat apa yang sedang dilakukan sang istri.
Cklek!
Pintu kamar terbuka, Lingga segera masuk dan menemukan Vallery sedang berkacak pinggang di depan lemari. Hal ini tentu saja membuat pria itu terkejut. Astaga, padahal mereka cuma mau pergi ke rumah Ayahnya, kenapa harus pake mikir banget begini cuma perkara buat nyari baju. Ya memang di rumah Ayahnya sedang ada acara. Bayu hari ini berulang tahun, namun, acaranya tidak terlalu besar. Dan hanya mengundang keluarga kecilnya saja.
"Kok belum ganti baju? Aku dari tadi udah nungguin loh. Kita cuma mau ke rumah Ayah, bukan ke acara kondangan. Ribet banget sih, astaga, Vallery!"
"Iiih, bentar dulu dong, Mas. Kita tuh mau ke rumah Ayah. Otomatis nanti kita ketemu Mbak Jenny. Aku tuh suka insecure kalau ketemu dia, apalagi kalau liat badanya. Ya ampun, nggak kuat aku, Mas. Jiwa sirik, iri, dengkiku langsung bergelora. Aku yang notabenenya lebih muda jelas nggak mau kalah sama dia."
"Ya, kan Jenny model, Vallery. Jelas saja badannya bagus."
"Ya, tetep aja, Mas. Kamu liat dong badan aku sekarang? Udah kayak gajah bengkak." Vallery kemudian menunjukkan lengan dan perutnya, "ya ampun, Mas, lihat deh perut aku. Udah nggak sexy lagi," keluhnya sambil memasang wajah sedih.
Lingga memasang wajah datarnya, melirik ke arah perut Vallery sekilas dan berkata, "Emang sebelumnya sexy ya?" godanya jahil.
Vallery langsung memukul pundak Lingga dengan emosi. Pria itu hanya terbahak dan berusaha menutupi dirinya dengan kedua lengan.
"Iiih, ngeselin banget sih kamu," omel Vallery kesal, "aku begini emang gara-gara siapa?"
"Gara-gara aku dan aku puas kok, toh, kamu juga menikmati."
"Tahu lah, aku ngambek, nggak jadi pergi." Vallery menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu memilih duduk di tepi ranjang, pandangannya menatap ke sembarang arah, karena ia enggan bertatapan dengan sang suami.
"Ngambek terus, aku beneran tinggal loh," ancam Lingga tidak mau kalah.
"Tuh, kan, makin nyebelin. Istrinya kalau ngambek tuh, ya harusnya dibujuk. Masa malah digituin."
Lingga kemudian meraih salah satu dress selutut berwarna coklat milo. "Kamu kalau dibujuk sekarang suka ngelunjak. Udah pake ini aja," suruhnya kemudian, "buruan ganti!"
"Udah nggak muat, Mas, kemarin aku udah coba."
Lingga terlihat seolah tidak percaya. "Masa sih? Bukannya dulu kamu belinya pas masih hamil, muat kok, kenapa sekarang pas udah lahiran malah nggak muat?"
"Tadi pagi aku abis nimbang. Masa udah naik setengah kilo." Vallery cemberut, "aku gendutan ya, Mas?"
Lingga kemudian mengepaskan dress tersebut pada badan Vallery, "iya, nggak muat nih, kayaknya emang beneran gendutan deh kamu." ia berdecak tak lama setelahnya, "coba deh mulai diatur makannya dong, sayang. Berat badan kamu sama Saka tuh naiknya cepet kamu loh, kasih ke dia dikit kenapa sih?"
Kondisi Saka terus menunjukkan kemajuan yang pesat, berat badannya sudah nyaris memenuhi kriteria ideal. Sekarang pun ia sudah bisa bernapas tanpa bantuan alat lagi, Vallery bahkan sudah bisa merasakan menggendong Saka.
Vallery merengut kesal. "Katanya dulu cinta aku apa adanya, bukan body-nya gimana. Kenapa sekarang nyuruh diet? Kamu udah nggak sayang sama aku? Kamu mau ceraiin aku gegara aku udah nggak sexy lagi?" kali ini raut wajahnya berubah sedih.
"Kan, kan, aneh-aneh lagi mikirnya. Aku cuma bilang atur makan, karena emang akhir-akhir ini kamu tuh makannya suka nggak bener. Ya, aku sih nggak masalah sebenernya sama berat badan kamu yang mau berapa pun. Aku beneran masih sayang kok, lagian aku bukan tipe suami yang akan minta cerai karena masalah sepele begini."
__ADS_1
"Tapi kan kata Papa dalam rumah tangga tuh, masalah sepele bisa jadi gede, Mas."
Lingga tertawa sambil meraih tubuh Vallery ke dalam pelukannya. Awalnya perempuan itu menolak, tapi pada akhirnya ia pasrah dan balas memeluk sang suami. Meski perasaan kesal masih ia rasakan.
"Itu kalau yang punya masalah suka gede-gedein masalah, Vallery. Emang aku begitu?"
Dengan wajah polosnya Vallery mengangguk. "Kadang kamu suka gitu tahu, Mas."
"Oke, aku minta maaf kalau gitu. Jadi sekarang ini gimana? Jadi ke rumah Ayah enggak? Kita pasti udah ditungguin loh, bukannya kamu juga ada kelas memasak hari ini?"
Setelah berbagai hal yang ia alami, Vallery memutuskan untuk mengambil kelas memasak. Ia juga mengambil kelas parenting untuk persiapan merawat Saka nantinya kalau sudah diperbolehkan pulang. Bisa dibilang kegiatan Vallery cukup penuh selama beberapa bulan terakhir. Mulai dari kesibukan kuliahnya, bolak-balik ke rumah sakit untuk mengunjungi Saka dan bahkan ia harus mengikuti beberapa kelas tambahan. Meski awalnya ia merasa berat, tapi lama-lama ia terbiasa. Toh, ia melakukan semua ini demi bisa memberikan perawatan terbaik untuk sang putra nantinya. Dan ia tidak sabar melakukan itu semua.
"Kamu sih nakal, bikin aku bad mood duluan," gerutu Vallery dengan ekspresi cemberutnya.
Meski wajahnya kali ini sedang cemberut, namun, Vallery malah mengeratkan pelukannya. Berada dalam pelukan sang suami benar-benar membuatnya nyaman. Ia seperti merasa terlindungi.
"Bikin bad mood tapi peluk-peluk," cibir Lingga dengan nada menyindir.
Namun, Vallery seolah tidak memperdulikannya. Lingga hanya terkekeh geli setelahnya. Kalau drama ini dilanjut, mereka benar-benar bisa tidak jadi pergi.
"Aku gendut banget ya, Mas?" Vallery sedikit mengendurkan pelukannya dan mendongak, ke arah sang suami, "jawab jujur deh, Mas!"
"Enggak papa," balas Lingga, ia menepuk pundak sang istri yang masih terbungkus handuk kimononya.
"Berarti aku beneran gendutan?" Vallery melotot kesal.
"Tuh, kan, kamu nyebelin! Masa nggak bisa nyenengin istrinya sih?" potong Vallery kesal. Ia langsung menjauhkan diri dari tubuh sang suami.
Lingga berdecak kesal. "Tadi kamu mintanya jawaban jujur."
"Tau lah, kamu aja yang pergi sendiri ke rumah Ayah. Aku di rumah, bilang aja aku ada kelas masak jadi absen datang. Ibu pasti seneng kalau tahu aku nggak bisa dateng karena ini."
"Ngambek beneran nih?"
Vallery memalingkan wajahnya ke samping menghindari tatapan sang suami.
"Beneran ditinggal?"
"Tau lah," balas Vallery cuek.
Lingga terkekeh geli. Pria itu kemudian langsung berdiri dan pura-pura hendak berangkat pergi. Vallery meliriknya kesal.
"Udahan dramanya, buruan ganti baju terus kita berangkat."
"Enggak mau!" tolak Vallery tegas.
"Mama!" panggil Lingga dengan nada memperingatkan.
__ADS_1
Emosi Vallery makin tersulut. "Apaan? Aku bukan Mama kamu, jangan panggil-panggil aku Mama. Paham?"
"Tapi kamu Mama-nya anak aku. Udah dong, ngambeknya. Meski kamu gendutan kan yang penting kamu nggak sampai obesitas."
"Mas!"
"Maksudnya begini, sayang, ya emang kalau dibandingin sebelum kita nikah berat badan kamu sama yang sekarang kan beda jauh kan? Kamu tahu kenapa? Ya, karena pas sebelum nikah kamu kurus. Sekarang kamu lebih berisi dan aku lebih suka yang ini kok. Lebih sexy tahu, dipeluk enak. Daripada kurus."
"Tapi bagusan kurus, Mas, iiih, nyebelin."
"Yang penting aku masih kuat gendong kamu itu artinya nggak masalah."
Vallery lantas merentangkan kedua tangannya. "Gendong aku coba!"
"Waduh!"
Vallery langsung melotot kesal. Lingga tertawa sejenak lalu mulai melaksanakan perintah sang istri. Awalnya ia memasang wajah pura-pura tidak kuat saat hendak menggendong, hal ini tentu saja membuat Vallery kembali meradang.
"Bercanda," kekeh Lingga, "masih ringan kok."
"Beneran?"
Lingga mengangguk dan menurunkan Vallery dari gendongannya. "Kapan sih aku bohong? Meski pertanyaan kamu horor kan aku selalu jawab jujur, aku nggak cuma mau nyenengin kamu doang."
"Padahal aku maunya disenengin kayak istri-istri yang lain."
"Bohong cuma demi nyenengin kamu? Nanti kalau aku keterusan bohong gimana?"
"Ya, jangan diterusin!" decak Vallery kesal.
"Ya, makanya aku milih jujur, sayang. Sebisa mungkin aku nggak mau bohong sama kamu. Kamu tahu kenapa? Karena aku sayang sama kamu. Masih banyak cara nyenengin kamu tapi nggak dengan cara berbohong kan?"
Vallery mengangguk. Ia sadar betul tidak semua lelaki menggunakan cara yang sama untuk menunjukkan cintanya pada sang istri. Memang begini cara Lingga menunjukkan cintanya, ia tidak boleh protes apalagi membandingkannya dengan orang lain.
"Ya, udah aku ganti baju dulu."
"Dari tadi kek," gerutu Lingga. Ia kemudian beranjak keluar.
"Mau kemana?"
"Turun di bawah. Aku tunggu di sana aja."
"Tumben? Biasanya kalau aku ganti baju, aku usir aja aja kamu milih ogah-ogahan."
"Durasi, sayang, kita udah telat banget. Buruan ganti! Nggak usah lama-lama! Dandannya nanti di mobil," putus Lingga lalu keluar kamar.
Tbc,
__ADS_1
mon maaf, kemarin aku sebenernya up, cuma lolos reviewnya baru tadi pagiππππππππππππππππππππππ