
***
Vallery dan Lingga akhirnya kembali ke Jakarta, dua hari setelah acara lamaran sang Papa. Berbeda dari rencana mereka sebelumnya, yang harusnya selepas acara lamaran besoknya kembali. Sejak pengakuan cinta dari kedua belah pihak, keduanya memang bak dimabuk kepayang, berlagak seperti pengantin baru yang maunya di kamar saja.
Tanggal pernikahan Gerald dan Riana sudah ditentukan, acara akan digelar di Bandung. Dua bulan setelah acara lamaran mereka kemarin. Baik acara ijab qobul sampai acara resepsi, semua diselenggarakan di kota yang memiliki julukan Kota Kembang itu.
Lalu untuk acara empat bulanan kehamilan Vallery, akan diselenggarakan hari ini. Di bawah sudah banyak orang hilir mudik menyiapkan segala keperluan jelang acara. Vallery ditemani Patricia sedang duduk bersantai sambil nonton drama Korea. Sebenarnya Vallery tentu ingin di bawah bantu-bantu yang lain, namun Lingga dan para tetua yang lainnya melarang. Jelas saja, wong dirinya lagi hamil gitu loh. Mana rela mereka membiarkannya bantu-bantu, apalagi Lingga masih menunjukkan tanda-tanda kebucinannya.
"Acaranya nanti kayaknya cukup rame, ya?" celetuk Patricia sambil menusuk sepotong buah semangka dan langsung melahapnya, "rame banget di bawah."
Vallery menggeleng. "Enggak rame-rame amat kok, cuma kerabat terdekat dan rekan kerjanya suami gue aja, sisanya anak yatim," jawabnya di sela kunyahan buah melonnya.
Patricia mengangguk paham, lalu menyomot sepotong kue brownis. "Ngomong-ngomong Nick jadi ke sini nggak sih, kok belum nampak batang hidungnya?"
Vallery mengangguk. "Jadi, lagi di bawah bantu-bantu." Ia kemudian menggoda Patricia, "kenapa udah kangen lo?"
Patricia menatap Vallery tidak percaya. "Ya, kali. Enggak lah." Ia mendengus tidak percaya dengan pertanyaan Vallery, "tapi kok tumben dia rajin bantu-bantu? Dia kan termasuk yang susah kalau disuruh-suruh. Lo ancem apaan dia?"
Vallery tertawa. "Mas Lingga yang nyuruh."
Patricia kemudian mengangguk paham sambil ber'oh'ria. "Oh, udah beneran di sini," gumannya kemudian.
Vallery mengangguk, meyakinkan. "Ya, udah lah, ya kali gue bohong. Emang belum ketemu sama lo?"
Patricia menggeleng sambil terkekeh. "Kalau udah, ya kali tanya, Valle."
Vallery menyengir. "Iya juga sih." sambil menggaruk pelipisnya.
Tak lama setelahnya pintu kamar Vallery terbuka, Nick masuk tak lama setelahnya.
"Gila, laki lo pinter banget manfaatin tubuh muda gue," keluh Nick sambil mengipasi dirinya menggunakan kaosnya yang dia pakai, "ini AC lo mati apa gimana sih, Valle? Panas banget hawanya, udah sepanas liat gebetan jalan sama yang lain."
"Kebanyakan ngeluh lo," komentar Patricia. Dengan sigap ia langsung menyodorkan kipas portable miliknya kepada Nick yang tengah kepanasan.
Nick tersenyum senang lalu menerima kipas itu dengan senang hati. "Makasih sayang, kamu emang yang terbaik," ucapnya sambil mengedip nakal.
Patricia membalasnya dengan dengusan. "Aku emang yang terbaik, kamu aja yang nggak tahu caranya bersyukur," sindirnya kemudian.
"Nggak bersyukur gimana?" balas Nick tidak terima, "aku selalu bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan karena telah mempersatukan kita berdua." ia kembali mengedip ke arah Patricia sambil menusuk potongan buah melon dan langsung melahapnya.
"Ya kalau kamu udah ngerasa bersyukur, nggak bakalan tuh yang namanya tebar pesona ke cewek lain," sindir Patricia.
__ADS_1
Nick langsung menoleh ke arah Vallery dan meminta penjelasan atas sikap ketus Patricia. "Dia kenapa?" bisiknya tanpa mengeluarkan suara.
Patricia sendiri beranjak berdiri dan masuk ke kamar mandi.
Setelah pintu tertutup, Nick kembali bertanya.
"Dia kenapa jutek begitu sama gue? Gue bikin salah apaan lagi deh?"
Vallery menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya tidak tahu. Ia kemudian ikut berbisik, "Harusnya gue yang tanya begitu, kenapa dia tiba-tiba jutek begitu, padahal tadi adem ayem. Lo apain dia? Kalian sempet ribut?"
Dengan wajah polosnya, Nick menggeleng.
Vallery tampak berpikir sambil menggaruk pelipisnga. "Gue juga nggak tahu dia kenapa, nggak cerita apa-apa soalnya. Padahal tadi sebelum lo masuk dia sempet nanyain lo, gue juga heran kenapa sampai mendadak jutek begitu dianya. Yakin kalian tadi nggak abis berantem atau ribut? Atau kemarin gitu, kali aja lo lupa."
Dengan wajah yakinnya, Nick menggeleng. "Yakin gue. Gue juga nggak ngerasa abis bikin salah kok. Nggak mungkin juga gue lupa kalau semisal abis berantem atau ribut."
Vallery mendengus. "Cowok kan kadang nggak sadar kalau abis bikin kesalahan," ucapnya dengan mulut penuhnya, "kalian tuh makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling nggak peka. Jadi nggak usah sok yakin dulu lo." ia kembali mengunyah buah semangkanya, "lo abis posting foto aneh-aneh kali?'" tuduhnya asal.
Nick menatap Vallery tidak paham. "Foto aneh-aneh yang gimana, yang lo maksud?" tanyanya tidak paham.
"Ya, yang aneh. Semisal lo pasang sama cewek lain gitu-gitu, pake caption ambigu. Udah punya cewek tapi yang dipasang fotonya cewek lain terus captionnya ambigu. Ya kan aneh, Nick."
"Kenapa?"
"Gue sekarang sadar kenapa dia begitu," lirik Nick dengan ekspresi pasrahnya.
"Kenapa?" tanya Vallery kepo. Detik berikutnya ia tersadar, "lo pasang foto sama siapa?"
Nick menahan salivanya susah payah kemudian meringis. "Sheeren," jawabnya.
Vallery mangguk-mangguk. "Oh, Shereen? Anak FK yang terkenal cakep itu kan?" Detik berikutnya ia baru tersadar, "apa? Sheeren anak FK? Sheeren temen SMA kita? Mantan lo juga? Gila! Pantesan jutek begitu, Nick, mukanya Patricia. Kali ini lo yang kelewatan."
Nick meringis sambil menggaruk rambut belakang kepalanya. "Gue lupa kalau kita dulu pernah pacaran, Valle."
Dengan wajah kesalnya Vallery berdecak. "Ya, makanya punya mantan nggak usah banyak-banyak, bikin lo bingung sendiri kan kalau udah begini?"
"Ya, tapi kan gue udah nggak ada perasaan apa-apa sama Sheeren, Valle. Lo nggak bisa ngehakimi gue gini lah," balas Nick tidak terima.
"Heh, Jamal! Yang jadi permasalahan penting saat ini bukan itu, mau lo ada perasaan sama dia atau enggak itu masih bisa dikesampingin. Yang jadi poin penting dari ngambeknya Patricia di sini adalah lo nggak ngehargain perasaan Patricia sebagai pacar lo dengan posting-posting foto mantan," omel Vallery dengan wajah kesalnya, ia kemudian menyodorkan tangannya, "sini, kasih liat gue foto apa yang lo posting kemarin."
Nick baru hendak merogoh saku kantongnya, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka dan Patricia keluar dari sana dengan wajah sembabnya.
__ADS_1
"Valle, gue pamit pulang, ya. Gue ngerasa kurang enak badan tiba-tiba."
"Aku anter," sahut Nick cepat. Ia langsung berdiri dan menghampiri sang kekasih.
"Enggak, gue bisa pulang sendiri," tolak Patricia cepat.
"Aku minta maaf, aku ngaku salah, Pat. Aku bakal langsung hapus foto itu, plis, maafin aku! Aku beneran udah nggak ada perasaan sama dia, sayang. Aku sayang dan cintanya sama kamu, kamu nggak percaya sama aku?"
"Aku bukannya nggak percaya sama kamu, Nick. Tapi sikap kamu yang selalu bikin aku kehilangan kepercayaan dari kamu. Kamu sadar nggak sih, kalau kamu terus-terusan begini, yang ada kamu nyakitin aku. Ngerti?"
Hati Nick rasanya hancur saat melihat Patricia lagi-lagi menangis karenanya. Ia menjambak rambutnya frustasi, frustasi dengan kebodohannya sendiri. Ia berusaha meraih tangan sang kekasih, namun dengan cepat gadis itu menghindar.
"Jangan sentuh aku," ucap Patricia memperingatkan, kedua matanya terlihat memerah dan pipinya masih basah, "ayo, kita pikirin sekali lagi hubungan kita, Nick. Barang kali emang kita cocoknya cuma temenan."
"Apa?!" Nick mendesis tidak percaya sambil menggeleng kuat, "enggak, aku sayang sama kamu, Patricia. Aku nggak mau kehilangan kamu."
Patricia mengelap pipinya yang basah dengan kasar. "Kamu nggak kehilangan aku, Nick, tapi kamu yang melepaskan aku pelan-pelan." Ia kemudian menoleh ke arah Vallery, "Valle, sorry, gue nggak bisa nemenin lo lebih lama. Gue cabut, ya?"
Merasa tidak enak, Vallery kemudian langsung mengangguk cepat dan beranjak berdiri dengan sedikit susah payah, karena perutnya yang mulai terlihat membuncit.
"Nggak usah anter gue, Valle, lo di sini aja. Gue bisa pulang sendiri."
"Tapi..."
"Valle, tolong!"
Mendengar suara Patricia yang terdengar penuh permohonan, membuat Vallery akhirnya kembali membenarkan posisi duduknya dan mengangguk maklum.
"Ya udah, hati-hati ya lo. Kalau udah nyampe rumah jangan lupa kabarin gue."
Patricia mengangguk. "Pasti. Gue duluan."
Vallery mengangguk, mempersilahkan. Lalu Patricia keluar dari kamarnya begitu saja, sedangkan Nick mematung di tempatnya. Perasaannya terlihat terguncang.
"Nggak mau lo kejar?" tanya Vallery tak tega melihat wajah sedih Nick.
Nick tersenyum miris sambil menggeleng. "Enggak, dia butuh waktu, Valle. Lagian di bawah banyak orang, gue rela ngebiarin dia jadi tontonan orang suruhan suami lo." Ia menghela napas pasrah dan kembali duduk.
Vallery ikut menghela napas, selera makan dan nontonnya sudah lenyap entah kemana.
Tbc,
__ADS_1