Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
60. Nemenin Kondangan


__ADS_3

****


Lingga menatap heran ke arah Vallery yang kini hanya berdiri di depan lemari dan bukannya berganti pakaian. Ia kemudian melirik ke arah jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan, padahal ia keluar dari kamar mandi tadi jam setengah delapan. Masa iya, istrinya itu berdiri di depan lemari selama setengah jam.


"Vallery, kamu ngapain? Kok belum ganti baju?"


Vallery memang masih mengenakan handuk kimononya, sedang berkacak pinggang di depan lemari mereka dan bukannya segera bergegas.


"Bingung milih baju. Aku nggak punya baju deh, Mas," keluh Vallery dengan bibir majunya.


"Enggak punya baju gimana? Udah pada nggak muat?" tanya Lingga, ia kemudian langsung berjalan mendekat ke arah Vallery.


"Kamu ngatain aku gendut?"


"Nanya doang astaga! Enggak ada yang ngatain, Vallery." Lingga kemudian meraih salah satu dress selutut yang baru dibelinya dua minggu yang lalu, "pakai ini aja."


Vallery menggeleng. "Enggak mau, kemarin abis pake itu pas nemenin kamu. Masa pake itu terus? Apa kata temen kamu nanti?"


Lingga mulai gemas sendiri. Mode menyebalkan Vallery sedang mode on. Hal ini membuat Lingga harus menahan emosinya mati-matian.


"Sayang, temen aku nggak bakal tahu kamu kemarin pake ini. Seandainya tahu pun, mereka nggak bakal bilang 'eh, ini baju yang kamu pake minggu lalu kan?'. Enggak bakal, Vallery, astaga! Bisa nggak sih nggak usah bikin ribet?"


Vallery masih dengan ekspresi manyunnya. "Tapi aku nggak mau pake itu, Mas."


"Ya udah pake yang lain." Lingga mengangguk setuju dengan ekspresi pasrahnya.


"Bingung mau pake yang mana."


"Ya udah pake ini." Lingga kemudian mengambil dress dengan asal.


"Aku nggak suka modelnya."


"Kenapa nggak suka dulu dibeli?"


"Warnanya cantik."


Masih mencoba bersabar. Lingga kemudian kembali memilih dress untuk Vallery kenakan. Setelah serius berpikir, ia mengambil dan menyerahkannya pada Vallery.


"Bagus ini, aku suka."


Namun, bukannya merasa terharu atau berterima kasih, Vallery malah menampilkan ekspresi tidak sukanya. Kedua matanya melirik Lingga tajam.


"Kamu sengaja mau ngeledek aku, Mas?"


"Maksudnya?" tanya Lingga tidak paham.


"Ya, kamu lihat dong bentuk dan ukuran bajunya. Aku mana masih muat pake baju gituan. Kamu nggak liat perut aku udah segede apa?" Dengan wajah kesalnya, Vallery menunjuk perut buncitnya.


Lingga langsung menampilkan wajah bersalahnya. "Maaf," sesalnya kemudian, "jadi kamu mau pake yang mana? Mau beli yang baru kan waktunya udah mepet, Vallery. Ini udah jam delapan. Acara jam sepuluh, jaraknya juga jauh, belum kalau kejebak macet juga."


"Ya, makanya ini aku lagi mikir mau pake yang mana. Tapi kamu gangguin terus. Udah sana kamu mandi."


Lingga berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Perkara baju aja segini ribetnya sih? Yang penting nyaman dipake kan kelar. Ngapain ribet?"


"Kamu mana paham, Mas. Perempuan emang harus ribet, ya, apalagi kalau urusan baju mau kondangan. Udah, kamu nggak usah protes."


"Ya, gimana nggak protes, kamu milih baju aja setengah jam, terus nanti make up sejam, perjalanan ke lokasi sejam, kejebak macet setengah jam. Keburu kelar acaranya," gerutu Lingga sambil geleng-geleng kepala.


Dengan pasrah, ia kemudian meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Saat ia selesai mandi, Vallery masih belum berganti pakaian. Hal ini tentu saja membuat Lingga langsung berdecak tidak percaya.


"Astagfirullah, nggak jadi pergi nih?"


Vallery menoleh ke arah Lingga. "Jadi kok," ucapnya lalu meraih baju yang Lingga pilihkan tadi. Yang baru dibeli dua minggu lalu, dan baru dipake sekali pada minggu lalu.


"Pake ini gimana?"


Dengan wajah malasnya, Lingga kemudian mengangguk. "Bagus kok, cantik."


"Kok ngomongnya kayak kurang ikhlas?"

__ADS_1


"Bagus, sayang, cantik. Aku kan tadi milihin itu."


Vallery mangguk-mangguk lalu memakai baju itu. "Kamu buruan ganti baju, Mas, biar abis ini kita langsung berangkat dan nggak telat."


"Iya."


Tampilan Lingga saat ini sudah keren. Celana bahan warna hitamnya, yang ia padukan dengan atasan kemeja batik panjang. Berbanding balik dengan Vallery yang masih mengenakan handuk kimononya dan duduk di depan meja rias.


"Kalau begini kenapa tadi nggak make-up an dulu baru nyari baju sih?" guman Lingga kembali melayangkan aksi protesnya. Ia berdecak lalu geleng-geleng tak percaya.


Tahu kalau akan lama, Lingga kemudian memutuskan untuk mengecek email. Ia meraih laptop dan berniat membukanya, tapi urung karena suara ponselnya yang terlihat berkedip.


"Posisi di mana, bro?" Tungguin gue, gue baru ada emergency call, jadi baru nyampe."


Lingga berdecak sambil melirik Vallery yang nampak memoleskan lipstik di bibirnya. "Gue bahkan belum berangkat."


"Si anjir, ini jam berapa? Kenapa? Vallery rewel lagi?"


"Hm. Biasa, bingung milih baju."


"Tipekal cewek banget ya. Nggak papa, katanya semua perempuan begitu kok. Adek gue, Hana, aja yang lo tahu kalemnya kayak apa aja kalau milih baju ribetnya setengah idup. Apalagi bini lo. Ya udah, lo nggak usah buru-buru, ntar biar gue bilang sama yang lain, kalau lo bakal telat."


"Oke, thanks, Ndu."


Klik.


"Kira-kira aku harus bantuin apa biar cepet?"


"Serius mau bantuin?" Vallery menatap sang suami dengan ragu.


Dengan wajah penuh keyakinannya, Lingga mengangguk yakin. "Apaan emang?"


"Jangan banyak nanya."


Seketika mulut Lingga langsung tertutup rapat. Enggak berani nanya apapun kecuali nanti diajak berangkat.


Akhirnya, Vallery selesai setalah Lingga membalas email dari salah satu investor. Ia langsung menyimpan laptopnya dan turun dari ranjang. Kali ini penampilan keduanya sudah oke. Sudah siap berangkat kondangan.


Vallery mengangguk dan meraih hand bag-nya. "Mbak Carissa diundang juga kan katanya, Mas?"


Lingga mengangguk membenarkan. Kebetulan teman mereka yang menikah ini juga mengenal Carissa. Keduanya cukup akrab sehingga Carissa yang kebetulan masih berada di Indonesia diundang.


"Kenapa? Kamu masih cemburu sama Rissa?"


"Dih, aku tuh nggak pernah cemburu sama Mbak Carissa. Kamu jangan nyebarin hoax ya, Mas."


"Terus kalau nggak cemburu namanya apa?" Lingga menghentikan niatannya untuk membuka mobil, dan menunggu jawaban dari sang istri.


Namun, bukannya menjawab Vallery malah masuk ke dalam mobil begitu saja dan menutup pintu dengan keras. Hal ini tentu saja mengundang tawa renyah dari sang suami.


Sambil terkekeh dan geleng-geleng kepala, Lingga kemudian menyusul masuk ke dalam mobil.


"Ya ampun, ngegemesin ya bocah gue," guman Lingga merasa geli dengan sikapnya sendiri.


*****


Saat mereka sampai di tempat acara, tamu undangan nampak ramai dan acara sudah berlangsung. Mereka telat sekitar empat puluh menit dari rencana yang mereka tentukan di awal. Vallery jelas saja mengomel. Padahal dia yang salah karena lama.


"Duduk dulu," ucap Lingga saat melihat antrian tamu yang hendak bersalaman dengan pengantin, "mau makan sekalian? Biar aku ambilin?"


Vallery menggeleng sambil melihat dandanannya melalui layar kamera. Lingga kemudian ikut duduk di sebelahnya.


"Mau foto?"


Vallery menggeleng lalu memasukkan ponselnya ke dalam hand bag-nya kembali. "Enggak, menuh-menuhin memori," jawabnya asal.


"Tapi kita kayaknya belum punya foto selfi berdua deh. Foto, yuk?" ajak Lingga tiba-tiba, ia kemudian merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana.


"Apaan sih? Kok mendadak ngajak foto?"

__ADS_1


"Buat kenang-kenangan. Ayo, foto."


Vallery menggeleng tegas. "Enggak mau, pipi aku masih kayak bakpao. Nanti aja kalau udah kurusan dikit."


"Kapan itu?"


Vallery langsung melotot tajam. "Maksudnya apa itu?"


Lingga tidak mempedulikan tatapan tidak bersahabat milik sang istri, yang ia lakukan malah mengambil foto mereka berdua, dengan Lingga yang sedang berpose sambil menunjuk wajah cemberut sang istri.


"Gue pikir nggak bakal dateng lo," sapa Randu kemudian duduk di kursi kosong, "Gilang sama Febi mana nih?"


Lingga menggeleng. "Enggak tahu, belum ketemu sih gue. Gue lama banget nggak ketemu mereka, terakhir ketemu pas chek kandungan waktu itu."


Randu kemudian ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Ya udah, nggak usah dibahas dulu kalau gitu."


Sisi penasaran Lingga tiba-tiba mencuat. "Gilang nggak papa kan?"


"Gue cabut dulu deh, gue tadi ke sini sama Rissa soalnya."


Melihat respon Randu yang selalu menghindar saat ditanyain tentang Gilang, membuatnya berpikir kalau memang terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.


"Lo sama Rissa?"


Randu mengangguk, membenarkan.


Lingga menggeleng. "Maksud gue, lo pedekate sama dia?"


Kali ini Randu tertawa sambil mengibaskan tangannya. "Kaga lah, berat, man! Beda tempat ibadah gitu kok. Gue cuma kebetulan males dateng sendiri aja, kebetulan dia yang ngajak. Jadi gue iyain, mayan nggak usah repot-repot nyari pacar sewaan," selorohnya dengan nada bercanda.


Seketika jiwa kepo Vallery muncul. "Mbak Carissa non muslim, Mas?"


"Kenapa?" Lingga malah balik bertanya.


Vallery menggeleng sambil meringis. "Ya, enggak papa sih."


"Mau dia muslim atau non muslim nggak ada hubungannya sama kita, dia tetep temenku. Paham?"


Vallery mengangguk dengan ekspresi tidak bisa ditebak. Setelahnya ia lebih banyak diam.


Tak lama setelahnya teman-teman Lingga datang menyapa.


"Ya ampun, Ga, apa kabar lo? Makin sukses ya sekarang lo?"


"Enggak biasa aja."


"Bini lo?" salah satu di antara mereka menunjuk ke arah Vallery.


Vallery tersenyum sambil menyapa mereka.


Lingga mengangguk, membenarkan, lalu memperkenalkan Vallery.


"Cakep juga. Masih muda lagi. Kok lo mau sama om-om begini?" goda yang lainnya.


"Ya, gimana, om-om kan banyak duitnya."


"Mulutnya tolong difilter!" ucap Lingga dengan nada memperingatkan. Ia menatap malas ke arah rekan-rekannya.


"Enggak bisa, Pak, udah dari sononya begini. Jadi asal mangap aja," seloroh mereka sambil tertawa puas.


Lingga mendengus tak lama setelahnya.


"Eh, tapi, Ga, gue tadi liat Rissa. Gue pikir lo bakal sama dia loh," ucap pria berkemeja batik dengan lengan panjang. Lalu di sebelahnya ikut mengangguk.


"Sama, gue pikir juga gitu. Apalagi denger-denger kan dulu Rissa sempet hamil juga kan? Makanya gue kaget pas nggak jadi sama dia?"


Seorang pria berkemeja panjang menggeleng tidak setuju. "Gue dari awal tahu sih kalau nggak bakal jadi, soalnya beda tempat ibadah coy. Susah."


"Mbak Carissa pernah hamil, Mas? Hamil anak siapa?"

__ADS_1


Tubuh Lingga rasanya langsung menegang sempurna. Bibirnya terasa kelu saat hendak membalas pertanyaan Vallery. Sedang teman-teman Lingga hanya mampu memasang wajah penyesalan mereka.


Tbc,


__ADS_2