
****
"Gimana udah nemu inspirasi pengen kemana belum?" tanya Lingga sambil meletakkan jus alpukat di atas meja. Ia kemudian ikut duduk di sebelah Vallery, lalu mengupas buah jeruk yang tadi ada di atas meja.
Vallery menggeleng. "Belum, masih bingung, Mas. Pusing."
"Santai aja, nggak lagi buru-buru juga kan. Masa mau nyari tempat refreshing malah bikin pusing. Udahan aja dulu kalau gitu, besok-besok lagi." Dengan cekatan ia meraih laptop Vallery dan meletakkannya di atas meja, samping gelas jus alpukat buatannya, "udah minum jus alpukat aja. Abisin!"
"Iihh, aku tuh nggak suka jus alpukat, Mas," rengek Vallery dengan wajah cemberutnya.
"Nggak papa, jus alpukat tuh bagus buat ibu hamil. Ayo, buruan minum! Nanti aku kasih hadiah."
"Apaan?"
Vallery menatap Lingga dengan ekspresi berbinar.
"Pijat plus-plus," bisik Lingga sambil mengerling jahil. Ia hanya ingin menggoda sang istri.
Vallery berdecak sambil memukul wajah Lingga menggunakan bantal sofa. "Itu sih maunya Mas Lingga."
Lingga terkekeh puas saat melihat ekspresi malu-malu Vallery. Ia membuang kulit jeruknya ke dalam tong sampah, lalu menyuapi sang istri dengan jeruk yang baru selesai ia kupas, baru setelahnya ia menyuapi dirinya sendiri.
"Emang kamu nggak mau?" goda Lingga sekali lagi.
"Ya, bukan nggak mau, Mas."
"Jadi mau nih?" Ekspresi Lingga berubah serius, "mau nyoba?"
"Kan udah pernah." Vallery kemudian mengelus perutnya, "ini buktinya."
"Ya, beda, waktu itu kamu mabuk. Kalau yang sama-sama sadar belum pernah."
Vallery melirik ke arah Lingga dengan tatapan herannya. "Kenapa mendadak bahas ini? Mas lagi pengen?"
Lingga meringis lalu menggeleng. "Enggak, Vallery, bukan maksud aku beneran ngajak kamu begitu sekarang."
"Terus?"
Mendadak Lingga menjadi salah tingkah. Ada apa dengan dirinya?
"Mas kamu beneran lagi pengen?"
"Hah? Enggak kok," elak Lingga dengan nada gugupnya.
"Bohong," tuduh Vallery.
"Astaga, beneran. Aku tadi cuma bercanda niatnya godain kamu aja. Serius." Sambil memasang wajah meyakinkannya, Lingga mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V.
Ekspresi Vallery berubah sedih, hal ini menimbulkan perasaan bersalah dari Lingga.
"Loh, kenapa? Kok sedih?" tanya Lingga keheranan.
"Aku jadi keinget omongan Ibu, Mas. Kita kan udah sah suami istri. Udah jadi kewajiban aku harusnya memenuhi kebutuhan biologis kamu, tapi sampai sekarang aku belum juga kasih hak kamu. Aku jadi takut makin tambah dosa, Mas."
"Enggak papa, Vallery, kan kamu sedang hamil. Jadi wajar kalau kamu nggak memenuhi hakku. Aku nggak mau maksa kamu. Kita bisa ngelakuinnya kalau kamu udah siap. Kita bakal hidup bersama nggak satu atau dua tahun, Vallery, tapi selamanya. Jadi pelan-pelan aja. Kamu nggak perlu merasa bersalah."
"Kamu nggak masalah, Mas?"
"Enggak lah. Kamu mau menikah dan mempertahankan pernikahan ini aja, aku udah bersyukur banget, Vallery. Aku jelas nggak boleh serakah."
Tanpa Lingga duga, Vallery tiba-tiba terkekeh. "Tapi manusia memiliki sifat serakah, Mas. Kamu nggak mau lebih?"
"Mau," jawab Lingga cepat dan tanpa keraguan. Hal ini membuat Vallery membulatkan matanya, "tapi nggak sekarang, Vallery. Kita bisa berproses lebih dulu. Pelan-pelan. Step by step." ia kemudian meraih gelas berisi jus alpukat buatannya. "Udah lah, nggak usah bahas soal ini dulu. Mending kamu minum jusnya. Masalah ini kita bahas lagi kapan-kapan."
"Tapi aku nggak suka, Mas," rengek Vallery tiba-tiba.
Lingga menatapnya heran. "Apanya yang nggak suka? Berprosesnya? Maunya langsung begituan?"
"Bukan, iiih, Mas Lingga!"
__ADS_1
Dengan wajah polosnya, Lingga terbahak. "Ya, maaf, kan aku nggak paham maksud kamu. Emang kamu nggak suka apanya? Jusnya?"
Vallery mengangguk.
"Dicoba dulu, enak kok."
"Tapi aku nggak suka," rengek Vallery sambil membekap mulutnya sendiri.
"Kali aja anak kita suka."
"Kamu aja yang minum."
"Kok jadi aku? Kalau aku yang minum ya masuknya ke dalam perut aku dong, Vallery. Ada-ada aja. Gini aja, ini dicoba dulu, nanti kalau beneran nggak bisa masuk atau bikin kamu enek, biar aku yang minum. Deal?"
"Serius?"
Lingga mengangguk dan menyuruh Vallery untuk segera meminum jus buatannya. Dengan ekspresi tidak rela dan berat hati, Vallery akhirnya meraih gelas itu. Mencepit hidungnya dengan dramatis dan mulai meneguk jus itu.
"Abisin, Vallery!"
"Enggak enak," jerit Vallery, "enggak mau minum lagi. Udah pokoknya kamu yang abisin. Air! Air! Air!"
"Masa nggak enak, jus alpukat kok nggak enak," kekeh Vallery dengan ekspresi tidak bersalahnya, Lingga kemudian membuka tutup boto air mineral dan menyodorkannya kepada Vallery.
"Aku bilang aku nggak suka, Mas."
"Gimana kalau minumnya lewat bibir aku biar enak?" usul Lingga tiba-tiba, tangannya kembali menyuapi Vallery potongan jeruk. Vallery tidak menjawab, ia hanya melototi sang suami dengan tatapan tajamnya. Lingga langsung terbahak, "bercanda, Vallery. Biasa aja matanya." dengan gerakan gemas, ia mencubit hidung mancung sang istri.
"Bercandanya nggak lucu!"
Lingga kembali terbahak. "Oke, karena aku pria sejati yang suka menepati janji, aku yang abisin." dengan senang hati, Lingga langsung meraih gelas itu lalu meneguknya hingga tandas.
"Enak, Mas?" tanya Vallery di sela ringisannya.
Dengan wajah penuh keyakinan, Lingga mengangguk, membenarkan. "Enak kok, kamu mau? Aku bikinin lagi, ya?" Ia bersiap untuk bangun dari sofa, namun, ditahan Vallery.
"Enak loh padahal," komentar Vallery kemudian.
"Tapi aku nggak suka," sahut Vallery dengan wajah kesalnya.
"Sekarang?" tanya Lingga tiba-tiba.
Vallery langsung menatap sang suami dengan tatapan herannya. "Apanya?"
"Dibikinin jusnya."
"Oh, enggak. Besok-besok lagi aja, sekarang makan buah aja." Vallery kemudian meraih jeruk yang sudah Lingga kupas tadi.
Fokusnya kembali pada layar laptopnya setelah Lingga menghilang dari penglihatannya untuk pergi ke kamar mandi. Namun, fokusnya kembali terbagi karena ponselnya terlihat berkedip. Nama 'Papa' yang terlihat di sana. Buru-buru ia menjawab panggilan tersebut.
"Ya, halo, Pa. Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumsalam. Lagi ngapain kamu?"
"Nyantai. Ada apa, Pa? Papa lagi di mana? Udah pulang ngantor belum?"
Di seberang terdengar kekehan dari Gerald, karena pertanyaan bertubi-tibi dari Vallery.
"Udah," balasnya kalem.
"Udah pulang ke rumah?"
"Belum."
"Terus? Lagi di mana?"
"Apartemen calon Ibu kamu."
Vallery mangguk-mangguk paham sambil ber'oh'ria. Ia tidak berkomentar lagi setelahnya.
__ADS_1
"Papa mau minta tolong," ucap Gerald.
Vallery langsung menegakkan tubuhnya. "Minta tolong apa, Pa?"
"Besok siang kamu free? Ada kelas nggak?"
"Ada, tapi aku besok masuk pagi, kelasku nggak sampai sore kok, jadi siang free. Kenapa, Pa? Vallery bisa bantu apa?"
Ada jeda sesaat, sebelum akhirnya Gerald berkata,"Besok kamu ikut ke butik sama Riana ya? Buat fitting baju lamaran kami."
"Papa ikut kan?" tanya Vallery ragu-ragu.
"Papa kurang yakin, soalnya Papa ada rapat penting, nggak bisa ditunda. Kalau waktunya masih memungkinkan akan Papa usahakan untuk menyusul."
Raut wajah Vallery berubah gelisah. Hubungannya dengan calon ibu tiri memang kini sudah membaik jika dibandingkan dulu. Tapi tetap saja kalau hanya berdua saja pasti suasananya masih terasa canggung. Hal ini membuat Vallery gelisah.
"Vallery, kamu masih di sana?" tanya Gerald memastikan.
"Jadi nanti aku bakal berdua aja sama Tante Riana, Pa?"
Terdengar helaan napas panjang dari Gerald. "Iya, nggak papa, Valle. Biar makin akrab. Bisa kan?"
Vallery diam sesaat sebelum menjawab, "Vallery usahain, Pa."
"Terima kasih. Besok biar Riana menjemput kamu."
"Nggak usah, Pa. Vallery langsung ke butik aja, nggak usah dijemput."
"Tidak bisa, kamu sedang hamil. Besok biar Riana menjemput kamu lebih dulu. Jangan coba-coba datang ke butik sendiri. Ini perintah, Vallery. Papa nggak mau denger penolakan. Sudah Papa tutup."
Klik.
Tut Tut Tut.
Sambungan terputus.
"Telfon dari siapa?"
Tak lama setelahnya Lingga kembali dari kamar mandi dan mendapati Vallery dengan wajah gelisahnya. Ia kemudian memilih duduk di sebelah sang istri.
"Papa," jawab Vallery singkat diiringi helaan napas panjang.
"Papa ngomong apa sampai bikin kamu menghela napas begitu?"
Vallery menghela napas sekali lagi. "Papa minta aku nemenin Tante Riana fitting baju besok. Berdua aja karena Papa ada rapat penting." Ia menautkan jari-jemarinya lalu menoleh ke arah Lingga, "hubungan kita emang udah membaik, Mas, cuma bayangin kalau cuma berdua aja kan pasti canggung banget. Iya nggak sih?"
"Ya, enggak papa--"
"Kok nggak papa?" protes Vallery.
Lingga berdecak gemas. "Belum selesai aku ngomongnya, Vallery. Jangan dipotong dulu," balasnya ikut memprotes, "maksud aku ya enggak papa kalau canggung pas di awal-awal. Wajar. Nanti lama kelamaan juga pasti akrab kok. Kamu tenang aja."
Vallery memasang wajah cemberutnya. "Kamu temenin ya?"
Tanpa berpikir panjang Lingga langsung menggeleng. "Papa pasti pengen kamu lebih akrab sama Riana."
"Bilang aja kalau emang nggak mau, nggak usah bawa-bawa Papa." Dengan wajah ditekuk Vallery langsung berdiri dan bersiap meninggalkan ruang tamu. Namun, ditahan Lingga.
"Mau kemana?"
"Tidur," ketus Vallery judes.
"Gitu aja ngambek? Marah?"
"Gitu aja?" beo Vallery dengan nada tersinggungnya, ia menghentakkan kakinya kesal, "kamu bilang gitu aja?"
Lingga meneguk ludahnya panik. Sepertinya ia salah bicara.
Tbc,
__ADS_1