Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
31. Damai


__ADS_3

****


"Kita perlu menikah kontrak?"


Lingga berdecak kesal sembari melepas seat beltnya sedikit kasar. Susah payah ia mengontrol emosinya.


"Maksud kamu ngomong begitu apa?" Lingga memutar tubuhnya menghadap ke arah Vallery, "bukannya kita udah sepakat buat serius menjalani pernikahan ini? Memang akan berat, tapi setidaknya kita usaha untuk serius kan? Kamu sendiri yang bilang kalau pernikahan bukan sebuah permainan, Vallery."


Lingga mendengus tidak percaya. "Menikah kontrak? Kamu pikir kita sedang syuting drama? Jangan bercanda, Vallery! Aku pria dewasa dan ingin serius bertanggung jawab. Susah banget ya nerima keseriusanku?"


Vallery diam.


Lingga menghela napas panjang. "Vallery, pernikahan kita memang tidak dilandasi dengan cinta. Tapi aku mau belajar mencintai kamu, begitu pun dengan kamu, kamu bisa belajar mencintaiku nantinya. Mungkin memang kita perlu waktu dan kesabaran, tapi apa salahnya kita mencobanya? Jangan langsung berpikiran untuk menikah kontrak. Bisa kita berusaha untuk optimis?"


Vallery menggeleng tidak yakin. "Aku nggak tahu, Mas. Aku takut. Perbedaan umur kita terlalu jauh, aku tidak yakin kamu bakal siap menerima kekanakanku nantinya. Aku juga nggak yakin apa aku bisa jadi istri yang baik untuk kamu nantinya."


"Kita bisa belajar bareng-bareng nantinya, Vallery. Aku juga masih banyak kurangnya."


"Kalau kita gagal gimana?"


Lingga berdecak gemas. "Vallery, kita belum jalani itu, kita belum mencobanya. Jangan langsung beranggapan gagal. Kita bisa belajar bareng buat nggak menjadikannya sebuah kegagalan. Kamu mau kan?"


Vallery diam sesaat. Kedua matanya menatap intens kedua mata Lingga. Ia ingin mencari tahu seberapa serius calon Ayah bayinya.


"Aku berani bersumpah kalau aku tidak punya pikiran seperti yang kamu sebutkan. Aku hanya khawatir dengan keadaan kamu. Kamu sudah terlalu menderita karenaku, Vallery, dan aku nggak mau kamu lebih menderita lagi. Aku hanya ingin yang terbaik buat kamu. Maaf kalau apa yang aku ucapkan tadi menyakiti kamu. Sungguh, aku tidak bermaksud begitu."


Vallery mengalihkan pandangannya, pandangannya lurus ke depan. Otaknya berpikir serius.


"Mas."


"Hm."


"Kita batalin aja resepsinya kalau gitu. Kita menikah yang penting sah secara hukum dan negara. Tidak perlu diadakan pesta besar."


"Kamu serius? Enggak ditunda aja?" tanya Lingga dengan ekspresi tidak yakinnya.


Vallery menggeleng sambil melepas seat beltnya. "Nikah yang penting sah di mata hukum dan agama saja."


Awalnya Lingga hendak memprotes. Namun, melihat ekspresi Vallery saat ini membuatnya urung.


"Aku masuk, kamu nggak usah anterin aku. Langsung balik ke kantor aja." Vallery tersenyum tipis, "aku baik-baik saja."


Tidak ingin terlihat seperti calon suami yang over protectif, Lingga akhirnya mengangguk setuju. "Hati-hati!" pesannya kemudian.


"Mas Lingga juga. Kalau sudah sampai kantor kabari aja." Vallery segera keluar dari mobil Lingga dan menyuruh calon suaminya kembali ke kantor.

__ADS_1


Tak ingin berdebat, lagi-lagi Lingga hanya mengangguk dan menuruti kemauan Vallery.


****


Dika baru selesai mengecek gedung untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan Lingga, semua persiapan berjalan lancar. Gaun maupun jas sudah siap, catering sudah deal, undangan bahkan sudah jadi dan disebar. Saatnya ia bersiap kembali ke kantor, pekerjaannya sudah menanti. Ia tersenyum puas dengan kerja kerasnya beberapa minggu terakhir, berkat ketelitian dan kecerewetan sang ibu semua berjalan lancar. Vallery dan Lingga memang menyerahkan semuanya pada mereka. Lingga sendiri tidak begitu paham tentang hal begitu, jadi ia memilih terima beres. Karena Vallery sedang hamil, jadi ia hanya dimintai pendapat saja.


"Abis ini kamu mau langsung balik ke kantor?" tanya Lidiya.


Dika mengangguk, mengiyakan pertanyaan sang ibu. Ia kemudian membukakan pintu untuk beliau.


"Dika masih banyak kerjaan di kantor. Ibu duluan aja." Ia kemudian beralih ke supir pribadi Lidiya, "Pak, bawa mobilnya pelan-pelan aja ya, nggak usah ngebut. Yang penting sampai rumah dengan selamat," pesannya penuh perhatian.


"Baik, Mas." Sang supir mengangguk patuh sambil tersenyum ramah ke anak majikan dan mengacungkan jempol, "Mas Dika nggak ikut sekalian, nanti saya antar," tawarnya kemudian.


Dika menggeleng sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana. "Nggak usah, Pak, makasih. Kan saya bawa mobil sendiri."


Lidiya menurunkan kaca mobilnya. "Ya, udah sana kamu balik ke kantor. Ibu mau pulang," ia tiba-tiba teringat sesuatu, "ohya, Lintang, Ibu kangen cucu ibu, nanti malem ajakin main ke rumah, ya. Istrimu juga."


"Jenny? Mau ada acara apaan emang?" Dika sedikit menundukkan kepalanya.


Lidiya menatap putra bungsunya dengan tatapan datar. "Memangnya harus ada acara supaya kalian mau main ke rumah?"


Dika menggaruk bagian kepalanya salah tingkah. Sepertinya ia salah bicara. "Bukan begitu maksud Dika, Bu."


"Dika usahakan."


"Usaha yang keras. Awas kamu kalau nggak ada yang datang. Ibu coret kamu dari daftar KK," ancam Lidiya terdengar tidak main-main.


Yang tentu saja tidak mempan bagi Dika. Karena memang ia sudah tidak berada di daftar Kartu Keluarga Bayu Manggala lagi. Ia sudah memiliki Kartu Keluarga sendiri. Ada-ada saja ibunya ini. Namun, meski begitu Dika pada akhirnya tetap mengangguk meski sedikit tidak rela. Ia kemudian menyuruh sang supir agar segera mengemudikan mobilnya. Karena ia mulai bosan mendengar betapa cerewetnya sang ibu. Saat mobil sang ibu sudah jauh dari pandangannya, baru lah ia masuk ke dalam mobilnya sendiri.


"Yang mau nikah siapa, yang ribet siapa," gerutunya sambil memasang seatbelt-nya.


Saat seatbelt-nya sudah terpasang dan ia sudah siap melajukan mobilnya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Buru-buru ia merogoh saku dalam jasnya. Nama sang kakak yang tertera di sana. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab panggilan tersebut.


"Ya, kenapa, Mas?" sapanya kemudian. Ia mulai melajukan mobilnya tak lama setelahnya.


"Lo di mana?" tanya Lingga terdengar tidak ingin berbasa-basi.


"Tempat parkir hotel resepsi lo. Mau nanya progress persiapan ya?" Dika tertawa jumawa, "tenang, Mas, semua udah beres. Lo nggak perlu bilang makasih."


"Lo udah dapet gedung hotelnya?"


"Udah. Kan tadi gue bilang udah beres, gue juga udah kirim fotonya kan tadi? Calon Kakak ipar gue juga udah gue kirimin kok. Beres pokoknya kalau sama gue. Aman, Mas." Dika menghentikan mobilnya karena lampu merah, "kita juga udah bayar DP kok. Santai aja. Gue yang bayar, Mas, dan lo nggak perlu ganti. Itung-itung buat kado pernikahan kalian, abis gue sama Jenny masih bingung mau ngado kalian apa, fasilitas di rumah lo udah lengkap semua sih. Atau lo mau minta kado apaan nih, Mas? Tanyain ke calon kakak ipar gue deh, kalau semisal lo bingung."


Sambil melirik jam yang ada di pergelangan tangan kirinya dan lampu lalu lintas secara bergantian. Mobil yang ada di depannya tidak segera maju, sepertinya ia terjebak macet saat melihat ke arah luar. Bisa-bisa ia terlambat sampai kantor nih.

__ADS_1


"Gue minta lo batalin sewa gedungnya sebagai kado pernikahan gue."


"Lo bilang apa barusan, Mas?"


Suara klakson terdengar bersautan, hal ini membuatnya tidak dapat mendengar ucapan Lingga dengan jelas.


"Sorry, Bang, gue lagi di lampu merah. Nggak jalan-jalan. Pada berisik banget lagi bunyiin klakson."


Di seberang Lingga terdengar berdecak. "Batalin sewa gedungnya, Lintang Mahardika," kata Lingga mengulang kalimatnya.


"Apa?! Lo gila, Mas?" Emosi Dika mendadak memuncak, "lo tahu, gue sama ibu bahkan udah testi buat menu hidangan resepsi kalian. Kenapa mendadak minta dibatalin? Undangan juga udah disebar bukannya?"


"Sorry, Ka, gue tahu lo udah ngeluangin banyak waktu cuma buat nyiapin pesta pernikahan gue tapi mau gimana lagi, kondisi Vallery sedikit nggak bagus. Dia tadi sempet pendarahan."


Dika terdengar terkejut. Mobil depan sudah mulai melaju, kini giliran ia yang melajukan mobilnya. "Pendarahan? Kok bisa? Abis jatuh apa gimana?"


"Enggak abis jatuh."


"Terus kecapekan? Udah dibawa ke rumah sakit? Terus gimana? Apa kata dokternya?"


"Kata Randu sih nggak papa, nggak tahu tadi dia ngalamin pendarahan apaan gitu, gue lupa. Cuma tetep aja gue khawatir, Ka. Vallery masih terlalu muda, kehamilannya juga. Gue takut mereka kenapa-kenapa. Makanya dibatalin aja. Vallery juga sudah setuju."


"Terus calon mertua lo?"


"Ya, nanti bakal kita kasih tahu."


Dika mendesah sebal. "Ya, lo sih pake ngehamilin anak kecil. Repot sendiri kan lo? Emang brengsek lo, Mas," makinya penuh emosi dan dilanjut dengan umpatan lainnya.


"Sorry, Ka," sesal Lingga terdengar tidak enak.


"Lo tahu berapa duit yang udah gue keluarin buat persiapan ini? Nggak sedikit, Mas, DP kalau udah dibayar kan nggak bisa balik lagi."


"Gue ganti. Tenang aja lo, sebut saja berapa nanti gue suruh Will buat langsung kirim."


Dika berdecak. "Bukan masalah uangnya, tapi waktu berharga gue, Mas. Bodo amat, nanti kita ketemu di rumah ibu. Kita bahas ini, jangan langsung ambil keputusan sendiri, kita bahas bareng-bareng, apa memang itu solusi terbaiknya."


Klik.


Tanpa menunggu jawaban Lingga, Dika langsung mematikan sambungan telfonnya begitu saja.


"Gila, rasanya pengen banget ngamuk gue," gerutu Dika langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir hotel.


Tbc,


minta tolong dong, abis ini aku perlu update sehari 2 kali. tolong dibantu ingetin ya, semisal aku lupa dan cuma update satu bab

__ADS_1


__ADS_2