
****
Vallery hanya mampu memasang wajah pasrahnya, saat Lingga merangkul dan mengajaknya kembali ke ruang tamu. Ada perasaan tidak suka yang ia rasakan saat bertemu wanita itu. Apalagi sikap Lingga yang menurutnya tidak seperti biasanya, suaminya itu bukan tipekal pria yang akrab dengan wanita. Tapi saat bersama wanita itu suaminya tampak seperti orang asing baginya. Seperti ada sisi yang belum pernah ia lihat sebelumnya dan hanya ditunjukkan pada perempuan itu.
Apakah perempuan itu pernah menjadi orang spesial bagi suaminya di masa lalu? Kalau iya, Vallery pasti akan sangat cemburu dengan wanita itu.
"Aku kayaknya lebih baik nginep di hotel aja deh, Ga."
Carissa langsung berdiri dan meraih blazernya. Pandangannya melirik Vallery tidak enak.
"Aku nggak mau ganggu kalian," imbuhnya kemudian.
Lingga langsung menatap Vallery. "Sayang," panggilnya dengan nada memperingatkan.
Vallery berdecak samar. "Mbak Carissa nggak usah cari hotel, mending nginep di sini aja."
Carissa menatap Lingga dan Vallery secara bergantian. "Serius nggak papa?" tanyanya ragu.
Lingga langsung mengangguk, mengiyakan. Sedangkan Vallery memilih diam.
Carissa kembali melirik Vallery. Ekspresi tidak suka terlihat jelas pada wajah perempuan berdaster batik dan perut buncitnya. Hal ini tentu saja menimbulkan perasaan sungkan pada diri Carissa.
Carissa kemudian tertawa maklum. Seandainya ia berada di posisi Vallery, ia mungkin saja akan bersikap demikian.
"It's okay, Ga, aku bisa cari hotel." Carissa tersenyum sembari mengangguk dan melirik ke arah Vallery sekali lagi. Ia kemudian memakai blazernya, kali ini benar-benar ia pakai, bukan sekedar disampirkan pada pundaknya.
"Aku nggak mau disebut..." Carissa menghentikan kalimatnya serasa melirik Lingga, "apaan sih namanya, Ga? Yang ngerebut suami orang itu? Pernah denger, tapi lupa." otaknya kembali berpikir keras. Namun, jawaban itu tak kunjung ia temukan.
"Pelakor, Mbak," sahut Vallery cepat. Ekspresi cemberut masih terlihat samar-samar pada wajahnya.
Carissa mangguk-mangguk. "Nah, iya, itu. Aku bukan orang begitu kok, santai aja. Aku mau yang produk lokal, bule dan punya orang nggak bakal aku rebut."
Vallery berpikir sejenak. Penampilan Carissa memang membuatnya iri setengah mati, apalagi ditambah dengan kemampuan perempuan itu yang katanya bisa memasak. Namun, entah kenapa ia merasa apa yang dikatakan wanita itu sebuah kejujuran. Meski cantik dan punya kemampuan untuk merebut suami orang, tapi sepertinya dia perempuan baik yang tidak akan melalukan hal itu. Haruskah ia membiarkan wanita itu menginap di sini selama beberapa hari? Kali saja perempuan itu bisa menemaninya kala bosan menghadang dan Lingga belum pulang. Terdengar tidak buruk.
Vallery mengigit bibir bawahnya ragu. "Kalau begitu, Mbak Carissa boleh nginep di sini," ucapnya kemudian.
"Seriosly?" Carissa yang tadinya hendak memakai tas selempangnya mendadak terhenti, pandangannya beralih pada Vallery yang masih menampilkan ekspresi ragu-ragunya, "enggak usah, Vallery, saya bisa nginep di hotel." ia tersenyum maklum lalu mangguk-mangguk dan memakai tas selempangnya.
"Mbak Carissa bukan pelakor kan?" tanya Vallery dengan wajah polosnya.
Carissa melotot kaget dengan pertanyaan Vallery yang menurutnya tiba-tiba. Ia melirik ke arah Lingga dengan wajah shocknya, lalu menoleh ke arah Vallery kembali. Ia kemudian menggeleng tegas sambil mengibaskan kedua tangannya cepat.
__ADS_1
"Big no! Aku wanita baik-baik, enggak suka yang begitu-begitu. Ya, meski sebenernya bukan baik-baik banget juga sih." Carissa berpikir sejenak lalu mengimbuhi, "intinya aku anti dengan merebut milik orang."
Vallery tersenyum sambil mengangguk percaya. "Kata Mas Lingga, Mbak Carissa bisa masak?"
Carissa berdecak tidak suka. "Aduh, please, Vallery! Don't call me Mbak, oke? Emang muka aku kayak Mbak-mbak?" protesnya kemudian, ia bersedekap sambil melirik Lingga, "ya, aku bisa masak. Kamu mau aku masakin kalian?"
"Aku mau belajar masak."
Carissa tidak langsung menjawab, ia melirik ke arah Lingga untuk meminta persetujuan. Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya sebagai tanda jawaban, menandakan kalau semua keputusan ada di tangan Carissa sendiri.
Carissa mengangguk paham, ia kemudian tertawa. "Aku sih nggak masalah asal kamu sabar aja, aku soalnya agak galak. Tapi, Vallery, aku mau kasih tahu kamu satu hal, Lingga itu sebenernya nggak suka perempuan yang jago masak, karena dia lebih suka sama perempuan yang jago di ranjang."
Lingga berdecak kesal seraya mengumpat kasar menggunakan bahasa asing. "Ris, gue udah nikah."
"So what? Aku bener kan? Kamu sendiri yang bilang begitu?"
Carissa memasang wajah tidak bersalahnya, sedangkan Vallery hanya mampu memasang bingungnya. Melihat keduanya yang tampak begitu akrab membuat sisi cemburunya kembali muncul ke permukaan.
"Sayang, kamu jangan dengerin Rissa! Yuk, katanya tadi kamu lagi ngerjain tugas kan? Aku temenin." Lingga menoleh ke arah Carissa, "bikinin kita sarapan, ya," perintahnya kemudian.
Carissa langsung melotot tidak setuju. "Aku baru nyampe, Ga, masih jetlag. Masa kamu tega nyuruh aku masak?" protesnya kemudian.
"Mau nginep di sini kan lo?" tanya Lingga memastikan.
"Ya udah, masak! Anggap aja itu untuk uang bayar sewa selama lo nginep di sini." Lingga tersenyum santai lalu mengajak Vallery segera menyingkir dari hadapan Carissa.
Sedangkan Carissa hanya mampu mengumpat kasar setelahnya. Ia tidak bisa memprotes. Ia tidak memiliki banyak kenalan di Indonesia, jadi ia paling malas kalau harus menginap di hotel.
Akhirnya, dengan terpaksa ia menyeret kopernya dan masuk ke dalam kamar tamu yang ada di rumah ini. Berganti pakaian dan kembali turun ke dapur untuk memasak.
****
Tidak butuh waktu lama, meja makan rumah Lingga sudah penuh dengan masakan Carissa. Pria itu tersenyum puas melihat hasil kerja keras sang sahabat. Dua acungan jempol ia tunjukkan untuk memuji wanita itu.
"Wah, keliatannya enak nih," puji Lingga dengan senyum puasnya.
"Of course," ucap Carissa dengan senyum angkuhnya, "kamu nggak ngantor?"
"Weekend, Ris," decak Lingga, "by the way, gue kayak kenal sama kemeja yang lo pakai? Bukan punya gue kan?"
"Ya, punya kamu lah. Aku mana punya kemeja beginian. Kemeja kamu tuh yang terbaik kalau dipakai di rumah. Gue bawa ke Paris ya, nanti?"
__ADS_1
Lingga mendengus kesal. "Lo setiap ke Indo pasti selalu nyolong kemeja gue, Ris. Kenapa sekarang belagak nanya?" sindirnya kemudian.
Carissa langsung terbahak. "Ya, kan kamu sekarang udah punya istri. Takutnya kalau langsung aku bawa, nanti istri kamu marah, ngamuk, terus minta cerai. Nah, kalau begitu siapa yang kamu salahin? Aku pasti nanti. Terus nanti kamu minta ganti rugi. Kalau cuma ngurusin urusan ranjang sih aku oke-oke aja, tapi kalau tambah yang lain. Big no! Say sorry, ya, Ga. Aku nggak mau."
Lingga berdecak gemas dengan mulut Carissa yang terdengar begitu menyebalkan. "Ris, tolong, sekali lagi! Gue nikah, gue udah nggak single macem dulu. Bisa nggak sih lo nggak usah bawa-bawa bercandaan yang begitu?"
Dengan wajah polosnya, Carissa menggeleng. "I'm so sorry, Ga. I can't. Udah tabiat lama, susah diilangin."
Lingga berdecak kesal. "Pengen gue usir aja lo rasanya, Ris."
"Hei! Mentang-mentang aku udah masak, terus kamu mau ngusir aku aja gitu?" protes Carissa dengan wajah kesalnya, ia berkacak pinggang dengan kedua melotot tajam.
Lingga tertawa sambil melirik ke arah piring yang di atas meja. "Kok ada empat? Kan kita cuma bertiga." tanyanya heran.
Carissa baru hendak membuka suara. Namun, urung karena mendengar suara bell berbunyi.
"Nah, itu dia."
"Lo undang siapa?" tanya Lingga dengan wajah paniknya.
"Temen kamu."
"Temen gue?" beo Lingga dengan wajah bingungnya. Otaknya kemudian berpikir keras, menebak siapa yang Carissa maksud. Namun, tidak kunjung menemukan jawaban. Apalagi di luar bell berbunyi makin tidak sabaran.
"Mending kamu buka dulu deh, aku mau mandi. Kalian jangan makan tanpa aku. Oke?" ucap Carissa memperingatkan. Ia kemudian melenggang keluar dari dapur menuju kamar tamu, yang akan menjadi kamarnya beberapa hari ke depan.
Ting Tong Ting Tong
Bunyi bell terdengar makin tidak sabaran, akhirnya berhasil membuyarkan lamunannya. Lingga kemudian langsung bergegas keluar rumah untuk membuka pintu gerbang.
"Lama banget sih?" decak tamu itu begitu ia membuka pintu gerbang.
Lingga melotot tidak percaya dengan pria di hadapannya saat ini.
"Lo ngapain ke sini, Ndu?"
Yup, pria itu adalah Randu. Sahabatnya sejak di bangku SMA sekaligus dokter kandungan yang mengurusi kehamilan sang istri.
"Mau minta makan," balas Randu cuek. Bau antiseptik masih tercium dari pria itu, hal ini membuat Lingga langsung menebak kalau pria ini pasti baru pulang dari rumah sakit untuk menyelesaikan shift malamnya.
Hancur sudah weekend indah bersama sang istri kalau kedua orang itu disatukan. Satu saja sudah bikin pusing, apalagi dua. Mendadak Lingga merasa menyesal telah membiarkan Carissa untuk menginap. Ini salahnya.
__ADS_1
Tbc,