Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
23. Kekhawatiran Vallery


__ADS_3

 


Vallery merasa pusing sendiri setelah mengetahui Nick dan Patricia ternyata belum juga berbaikan. Seharian tadi keduanya masih saling mendiamkan, ia sudah berusaha untuk membuat keduanya saling berbicara tapi hasilnya nihil. Yang ada ia malah disinisin oleh mereka. Ck, memang salahnya apa sampai ia harus mendapat perlakuan sinis dari mereka?  Menyebalkan.


"Mau sampai kapan sih mereka diem-dieman gini. Masa nanti pas nikahan gue mereka mau diem-dieman, kan nggak seru," gerutu Vallery sambil memasang seatbelt-nya.


Hari ini ia memang menyetir sendiri, sejak ia mengaku tentang kehamilannya kepada Lingga, pria itu jarang membiarkan dirinya menyetir sendiri. Sering kali Lingga yang menjemput dan mengantarnya pulang, atau kalau Lingga sedang sibuk ia akan mengirim supir untuk mengantar atau menjemputnya. Tapi hari ini Lingga sedang sibuk dan supir yang biasanya ia suruh tidak bisa menjemput Vallery, alhasil Vallery menyetir sendiri.


Demi membunuh rasa bosan selama perjalanan menuju rumah, Vallery berinisiatif menyetel radio. Daripada ngantuk, karena kalau ngantuk dalam keadaan menyetir kan bahaya. Selain membahayakan diri dan juga calon bayinya, ia juga bisa membahayakan pengemudi yang lain. Lagian ia juga tidak ingin berakhir dengan diomeli Lingga dan membuatnya tidak diizinkan menyetir lagi.


Drrrt Drrrt Drrrt


Vallery melirik ke samping bangku kemudi, ponselnya yang mencuat dari tasnya terlihat berkedip. Ia kemudian menepikan mobilnya saat jalanan dirasa agak sepi lalu menjawab panggilan tersebut. Nama Tante Hilda tertera di sana, batinnya bertanya-tanya. Ada apa Tante-nya tiba-tiba menghubunginya? Tidak terjadi sesuatu dengan Neneknya bukan?


"Ya, halo, Tante. Assalamulaikum," sapa Vallery begitu sambungan terhubung.


"Wa'alaikumussamalam, sayang. Kamu di mana? Masih di kampus?" Suara lembut milik Hilda langsung menyapa gendang telinga Vallery.


"Enggak, Tante, Valle udah pulang. Lagi on the way pulang. Ada apa, ya, Tante?"


"Aduh, sayang, ini tadi Tante nelfon Papa kamu tapi nggak diangkat-angkat. Tante titip pesen ya."


Pesen? Pesen apaan? Batin Vallery kembali bertanya-tanya.


"Oh, Papa mungkin lagi meeting, Tante, makanya nggak bisa angkat telfon. Iya, nanti Valle sampein ke Papa. Memang ada apa, ya, Tante? Penting banget?"


Mendadak perasaan Vallery tidak enak. Entahlah, mendangar suara panik Tantenya membuat Vallery ikut merasa panik. Pikirannya mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Itu, Valle, Nenek kamu masuk rumah sakit."


Deg. Neneknya masuk rumah sakit? Kenapa bisa? Apa jangan-jangan karena mengetahui dirinya hamil sehingga membuat kesehatan sang Nenek menurun?

__ADS_1


"Sayang, Valle?" panggil Hilda terdengar khawatir, "kamu masih di sana?"


Vallery terkesiap. Buru-buru ia mengumpulkan kesadarannya. Ia menepikan mobilnya lebih dahulu. "Iya, Tante, Valle masih di sini kok. Maaf."


"Ya udah, gitu aja ya. Tante cuma mau ngasih tahu itu, sekalian kamu kasih tahu Papa kamu ya nanti."


Vallery mengangguk meski sadar Tantenya tidak bisa melihatnya. "Iya, Tante, nanti Valle ke sana sama Papa. Valle tutup ya, Tante, soalnya ini Valle masih di jalan."


"Iya, sayang, kamu hati-hati ya nyetirnya. Nenek kamu insha Allah baik-baik saja."


"Iya, Tante. Assalamualaikum. Makasih, Tante untuk infonya."


"Iya, sayang, sama-sama. Wa'allaikumsalam."


Tubuh Vallery terasa bergetar setelah menerima kabar kalau Neneknya masuk rumah sakit. Ia panik.


"Tenang, Valle, lo nggak boleh panik. Lo lagi hamil, Nenek pasti baik-baik saja. Jangan ceroboh! Lo harus nyetir buat sampai ke kantor Papa dengan selamat. Lo harus jadi ibu yang strong," bisik Vallery mencoba mensugesti dirinya sendiri.


Ia melakukan hal itu secara berulang-ulang, setelah dirasa agak tenang, ia kembali mengemudikan mobilnya membelah jalanan ibukota menuju kantor sang Papa.


Saat sampai di kantor Papanya, Vallery tidak sengaja bertemu Riana di lobi.


"Vallery? Ada apa?" sambut Riana langsung berlari menghampiri putri dari sang kekasih.


"Tante, di mana Papa? Aku mau ketemu Papa. Sekarang," ucap Vallery terlihat panik.


"Vallery kamu tenang dulu, ada apa? Ayo, kamu duduk dulu." Riana kemudian menuntun Vallery untuk duduk di salah satu sofa yang disediakan lobi kantor. Lalu ia menyuruh seorang resepsionis agar mengambilkan air minum untuk Vallery, "ada apa sayang? Cerita pelan-pelan sama Tante."


"Nenek. Kata Tante Hilda Nenek masuk rumah sakit, Tante, Valle takut. Valle takut Nenek sakit gara-gara Valle," isak tangis Vallery kali ini pecah, ia tidak bisa menahan kecemasannya saat ini. Bahkan tubuhnya terlihat seperti bergetar.


Dengan gerakan sigap, Riana langsung memeluk Vallery, mencoba menenangkan calon putri sambungnya.

__ADS_1


"Mbak Riana, ini tehnya," ucap seorang satpam sambil membawa segelas teh hangat yang disodorkan kepada Riana.


Riana langsung mengurai pelukannya. "Ayo, diminum dulu tehnya. Biar agak tenang."


Vallery menatap Riana ragu. Ini pertama kalinya ia berhadapan dengan kekasih Papanya seintens ini. Sepertinya selama ini ia telah salah menilai calon ibu sambungnya, Riana terlihat tulus dan juga peduli terhadapnya. Hal ini membuat Vallery sedikit malu.


"Sayang, ayo diminum dulu," ujar Riana dengan suara lembutnya.


Dengan sedikit ragu, Vallery menerima gelas yang Riana sodorkan lalu menyesap teh itu sedikit. Mendadak ia tersadar, kenapa ia tadi malah datang ke sini dan bukannya menelfon Lingga saja. Kalau begini kan ia malah malu sendiri karena harus bertemu Riana dalam kondisi seperti ini. Astaga, ke mana akal sehatnya tadi. Kenapa ia begitu mudahnya menangis dan bahkan memeluk Riana seperti tadi. Astaga. Hubungan mereka kan tidak sebaik itu.


"Sudah lebih baik?" tanya Riana.


Vallery mengangguk sambil menggeser tubuhnya agak menjauh dari Riana. "Di mana saya harus menemui Papa saya? Saya mau ketemu Papa," ucapnya setelah tersadar. Ia merasa canggung dan malu karena sikapnya barusan.


Riana menghela napas berat, sedikit kecewa dengan perubahan sikap Vallery yang kembali menjaga jarak dengannya.


"Papa kamu masih ada tamu penting, kamu mau jenguk Nenek kamu sekarang? Mau Tante antar?" tawar Riana yang langsung ditolak Vallery.


Vallery menggeleng dengan kepala menunduk. "Enggak. Saya nunggu Papa saja."


Meski kecewa Riana akhirnya mengangguk paham. Vallery dan Gerald sedikit banyak memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama susah didekati dan juga susah beradaptasi dengan orang baru kalau ia tidak merasa nyaman. Riana mencoba maklum, mengingat hubungan mereka yang belum cukup membaik. Setidaknya ia merasa senang karena Vallery tadi sempat tidak menolak pelukannya. Riana cukup bersyukur akan hal itu.


"Mau nunggu di sini atau naik ke atas?"


"Di sini saja. Tante Riana kalau mau balik kerja, silahkan. Saya tunggu di sini sendiri." Vallery mengigit bibir bawahnya ragu-ragu, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak yakin. "M.makasih buat yang tadi," bisiknya pelan.


Riana tersenyum samar sembari mengangguk lalu berdiri. "Tante naik dulu ya, kalau bosen langsung naik aja. Kayaknya Papa kamu masih agak lama."


Vallery hanya mengangguk sebagai tanda jawaban. Ia melirik Riana yang terlihat berbicara dengan resepsionis sebelum masuk ke dalam lift. Vallery mendengar samar-samar obrolan mereka, yang terdengar kalau Riana berpesan pada sang resepsionis agar memperhatikan Vallery. Mendengar hal itu, hati Vallery menghangat. Sepertinya ia benar-benar salah besar dalam menilai Riana. Dan ia cukup menyesal terhadap sikapnya selama ini.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2