
*****
Suara alarm di pagi hari berhasil mengusik tidur Vallery. Ia segera bangun dari tidurnya sambil mencepol rambutnya, dilirik sang suami yang masih tertidur pulas. Ia kemudian bergegas melihat Saka, yang ternyata masih sama-sama tertidur pulas. Ia tersenyum lega lalu segera bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Begini lah kegiatan Vallery sehari-hari, bangun paling awal dan sering kali tertidur yang paling akhir. Ingin protes? Tentu saja tidak, ia sudah cukup bersyukur masih diberi kesempatan untuk kembali menjalani peran seutuhnya sebagai ibu dan istri. Meski terkadang melelahkan karena ia masih harus melanjutkan study-nya, namun, sebisa mungkin ia tetap menikmatinya. Selelah-lelahnya dia, biasanya akan langsung hilang saat melihat senyum cerah sang buah hati. Pertumbuhan Saka terhitung cukup cepat untuk ukuran bayi yang sempat lahir prematur.
Meski untuk seukuran bayi berumur setahun, berat badan Saka memang termasuk cukup kecil. Benar, jagoan Lingga dan Vallery sudah genap berumur satu tahun pada dua hari yang lalu. Saka masih aktif merangkak dan masih belajar berdiri.
Karena hari ini ada acara empat bulanan sang Mama, Vallery memilih untuk memasak masakan yang simpel. Kebetulan nasi sisa kemarin masih lumayan, alhasil Vallery memutuskan untuk membuat nasi goreng. Dan untuk Saka, ia hanya membuatkan bubur bayi instan, karena waktunya tidak akan cukup jika ia harus membuat MPASI khusus untuk Saka.
Setelah semua masakan siap, Vallery segera bergegas membangunkan sang suami.
"Mas, bangun!"
"Hmm."
"Bangun, Mas. Hari ini kita mau ke rumah Papa, mau bantuin acara empat bulanan Mama."
"Iya, bentar lagi," balas Lingga seadanya. Kedua matanya masih enggan terbuka, bahkan dengan percaya dirinya ia malah menarik selimut hingga batas leher.
Dengan kesal Vallery memukul pantat sang suami. "Mas, bangun!" omelnya kesal, "kita harus segera siap-siap terus ke rumah Papa. Kamu jangan males-malesan, buruan sana mandi!"
"Iya, iya, bentar lagi, ini matanya masih susah melek," gerutu Lingga, ia sedikit mengangkat kepalanya dengan kedua mata sedikit mengintip, "Saka emang udah bangun."
"Belum, makanya mumpung dia belum bangun. Buruan mandi atau sarapan dulu sana!"
Lingga berdecak sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Ya ampun, sayang, ntar aja deh. Aku masih ngantuk, kamu juga sini deh, tidur lagi aja dulu. Masih pagi, nggak usah rajin-rajin kalau ujung-unjungnya sambil ngomel. Pusing dengernya."
"Tidur lagi apanya, aku harus beres-beres rumah, Mas. Kamu bangun dulu, sarapan, nanti kalau keburu Saka bangun ntar nggak jadi sarapan. Aku udah bikin sarapan."
"Tapi aku lebih butuh tidur ketimbang sarapan."
Akhirnya Vallery menyerah. Mulutnya sudah lelah mengomel, mumpung Saka masih tidur akhirnya ia memilih untuk segera beberes. Seolah tidak kenal lelah, jagoan kecilnya itu selalu aktif memberantaki mainannya. Entah berapa kali Vallery harus membereskan semua itu.
Setelah selesai, ia segera kembali ke kamar untuk mengecek apakah suami dan putranya sudah bangun. Vallery hanya mampu berdecak sambil berkacak pinggang melihat suaminya masih tertidur pulas di balik selimutnya, lalu saat ia beralih pada box bayinya, Saka sudah bangun. Bocah itu sedang memainkan mainannya sambil mengoceh tidak jelas.
Vallery yang melihatnya jelas mendadak naik darah. "Mas, itu anaknya udah bangun!"
Lingga tersentak kaget lalu bangun. "Hah? Kenapa?"
"Saka udah bangun, Mas."
"Oh, ya udah langsung dimandiin sana. Abis itu kamu mandi juga sekalian, biar Saka aku yang jagain."
Vallery menghela napas. "Aku masih mau suapin Saka dulu, terserah kamu mau ngapain." Ia segera menggendong tubuh sang putra dan mengajaknya turun ke bawah.
Detik berikutnya, kedua bola mata Lingga langsung membulat. Ia bisa menyadari perubahan suara Vallery. Tak ingin memperkeruh suasana, ia segera bangun dari tempat tidur dan bergegas mandi. Ia masih cinta damai, bisa gawat kalau Vallery ngambek yang berkelanjutan. Bisa-bisa tidak dapat jatah dia.
"Sayang, aku udah selesai mandi," teriak Lingga sambil berlari menuruni anak tangga. Ia langsung bergegas menuju ruang makan.
Di sana Vallery sedang sarapan sambil sesekali menyuapi Saka.
"Aku udah mandi, sayang," cicit Lingga takut-takut.
"Ya, buruan sarapan! Abis ini kamu mandiian Saka."
"Kamu sekalian nggak?" tawar Lingga bermaksud mencairkan suasana.
Namun, sepertinya Lingga gagal. "Oke, aku diam." Pasalnya bukannya suasana mencair, Vallery malah langsung melototinya kesal. Setelahnya Lingga tidak berani mengatakan apapun dan langsung menutup bibirnya rapat-rapat.
****
__ADS_1
Acara empat bulanan Riana berjalan lancar, menurut prediksi, adik Vallery nanti berjenis kelamin laki-laki. Rumah Gerald terlihat sudah lumayan sepi, namun, Vallery masih nampak sibuk di dapur.
"Mau nginep di sini apa pulang?" tanya Lingga saat masuk ke dalam dapur, istrinya masih nampak sibuk mencuci piring dan perabotan memasak.
"Saka udah tidur?"
Lingga menggeleng. "Lagi main sama Papa." Tanpa diminta, ia langsung membantu Vallery dengan sigap, "sana kamu tidurin dia aja dulu, ini biar aku yang selesaiin. Tinggal ini kan?"
Vallery mengangguk sambil mengeringkan tangannya. "Ya, udah kamu selesaiin ini dulu. Aku ke depan bentar."
"Jangan capek-capek!" seru Lingga memperingatkan, seharian ini ia merasa Vallery begitu sibuk mengerjakan ini itu.
"Iya."
Saat Vallery sampai di ruang tengah, ternyata Saka sudah di gendongan sang Mama. Buru-buru ia berlari dan mengambil alih sang putra.
"Loh kok jadi sama Mama? Tadi kata Mas Lingga lagi main sama Papa."
"Ngantuk sih kayaknya, nggak mau digendong Papa kamu, ya udah Mama gantiin gendongnya. Kecapekan juga kayaknya, mending kamu tidurin di kamar, kasian kalau malam-malam begini mau diajak pulang."
Merasakan tubuh gelisah Saka saat ia gendong, Vallery akhirnya mengangguk setuju dan membawa Saka untuk ke kamarnya dulu. Kebetulan tubuhnya juga sudah cukup lelah, matanya pun sudah mulai mengantuk. Sambil menyusui sang putra, perlahan Vallery ikut terlelap. Sampai akhirnya ia merasakan tepukan pelan pada lengannya.
"Ssst, kancingnya ditutup dulu. Dingin," bisik Lingga, "kamu udah makan belum?" tanyanya kemudian.
Masih dalam keadaan setengah mengantuk, Vallery mengangguk sambil mengancingkan kancing kemejanya dan memilih kembali tidur.
"Tapi aku belum."
"Ya udah, makan dong, Mas. Astaga!"
"Ambilin," rengek Lingga.
.
"Ambilin dong, sayang, aku mana berani ambil makan sendiri. Kita lagi nggak di rumah tapi di rumah Papa. Kalau kamu nggak ambilin, aku keluar buat beli makan" ancam Lingga.
Karena kantuk yang kian tidak tertahan kan, Vallery hanya mengangguk, mengiyakan. "Terserah, mau kamu pelihara itu laper kamu atau mau kamu pergi keluar jajan, terserah, Mas. Aku ngantuk, udah nggak sanggup melek rasanya. Plis, jangan ganggu aku."
"Ya udah, aku keluar."
Dengan wajah cemberutnya, Lingga kemudian meraih kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja. Vallery otomatis membuka mata.
"Lah, beneran mau keluar jajan dia?" Vallery segera bangun dan menyibak selimutnya, "Papa kamu itu bener-bener, ya, Nak. Nyusahin. Untung Mama sayang," gerutunya sambil meletakkan bantal dan guling pada kedua sisi Saka.
Setelahnya ia segera bergegas turun dan menyusul sang suami. Kalau saja ia tidak gesit, sepertinya Lingga benar-benar akan pergi keluar untuk membeli makan.
*****
Sepulangnya dari acara empat bulanan sang Mama, Vallery merasa seperti tidak enak badan. Badannya terasa tidak nyaman, ia merasa pusing dan juga mual, bahkan ia juga merasa kehilangan selera makannya.
"Padahal nggak demam loh," guman Lingga sambil mengecek suhu tubuh Vallery.
Ia kemudian duduk di tepi ranjang dan menurunkan Saka dari gendongannya. Lingga membiarkan sang putra bermain sesukanya. Sementara ia merawat Vallery.
"Mau ke dokter?"
Vallery menggeleng. "Pengen yang seger-seger deh, Mas."
Secara tiba-tiba Lingga terkekeh. "Hamil lagi nih jangan-jangan."
"Sembarangan! Enggak mau, Saka masih kecil banget. Aku juga baru mulai aktif kuliah, kamu kalau ngomong hati-hati dong, Mas."
__ADS_1
"Abis, aku enek banget liat nasi. Males makan yang lain, pengen makan buah aja. Di kulkas ada apaan sih, Mas? Tolong cek in dong, aku males mau bangun."
Lingga mengangguk lalu berdiri. "Ya udah, bentar dulu. Aku coba cek bentar, kamu sambul lihat--ehh, sayang, itu remote-nya jangan dimakan. Jorok itu banyak kuman." Lingga kemudian menggendong Saka dan menurunkannya pada ranjang, "di sini aja ya, mainnya, temenin Mama. Papa ke dapur dulu."
"Pha pa pa pha," racau Saka sambil merentangkan kedua tangannya meminta digendong.
"Mau ikut kamu itu, Mas."
Lingga akhirnya kembali menggendong sang putra dan mengajaknya ke dapur. Setelah menemukan yang dicari, ia segera kembali ke kamar.
"Adanya ini. Apa mau dibeliin dulu? Tapi nggak papa kamu aku tinggal sama Saka doang?"
"Enggak usah, itu aja nggak papa."
"Saka, sayang, kasih jeruknya ke Mama," ucap Lingga mengintruksi sang putra. Dengan patuh Saka langsung memberikan jeruk yang sempat ia mainkan tadi.
"Mau aku suruh Will buat beliin?" tawar Lingga setelahnya.
Vallery kembali menggeleng. "Enggak usah dulu. Ini cukup kok, lumayan, udah nggak terlalu mual abis makan jeruk."
"Kamu juga tumben belum belanja bulanan, biasanya juga paling rajin."
Vallery menggeleng. "Enggak tahu, kemarin males aja gitu bawaannya, terus juga kan sibuk sama persiapan empat bulanan Mama, aku jadi lupa isi kulkas."
"Ya udah, nggak papa, namanya manusia. Sesekali simulasi hidup prihatin, biar bisa respect sama yang kurang berada." Lingga mengelus pundak sang istri lalu beranjak berdiri. Setelahnya ia memilih untuk segera bermain dengan Saka.
****
Wajah Vallery seketika langsung berubah pucat saat melihat dua garis yang tertera pada testpack yang ia coba barusan. Mendengar candaan Lingga kemarin mendadak membuat Vallery cemas, apalagi saat ia mengecek kalender dan ia memang belum mendapatkan kedatang tamu rutinnya, membuat Vallery semakin panik. Demi Tuhan, ia baru kembali masuk kuliah, masa iya mau cuti melahirkan lagi. Big no! Vallery belum siap.
"Sayang, Vallery! Mama! Kamu ngapain sih di kamar mandi? Kok dari tadi nggak keluar-keluar."
Tak lama setelahnya Vallery keluar, wajahnya terlihat ditekuk.
"Kenapa? Mual lagi?"
Vallery menggeleng. "Aku sebel sama kamu."
"Aku salah apa? Aku lupa belum matiin kran? Apa sikat gigi kamu aku jatohin? Eh, enggak kok perasaan." Lingga berguman sambil mencoba mengingat-ingat apa kesalahannya.
Namun, nihil. Ia tidak dapat menemukannya.
Lalu masih dengan wajah cemberutnya, Vallery tiba-tiba melempar sesuatu di atas kasur. "Tahu lah, Mama kesel sama Papa kamu, Kak. Dibilang suruh hati-hati malah begini, kan kamu yang umur segini jadinya harus berbagi kasih sayang sama adikmu nantinya."
"Apa? Kak? Adik?" guman Lingga tidak paham, buru-buru ia mengecek sesuatu yang sempat di lempar Vallery tanda.
Sebuah testpack. Dua garis. Hamil dong?
"Kamu hamil lagi?" pekik Lingga heboh, "Saka bakal punya adek?"
Dengan wajah kesal bercampur menahan senyum, akhirnya Vallery mengangguk. Kedua bola mata Lingga langsung berubah cerah, ia seolah tidak percaya.
"Seriusan? Beneran? Ini punya kamu? Kamu beneran hamil?"
"Iya, Mas, aku barusan cek. Dan pas aku cek tanggalan, aku emang udah telat."
"Ya ampun, nggak nyangka bakal dikasih secepet ini. Terima kasih ya Allah, terima kasih, sayang," Lingga kemudian menciumi perut rata Vallery, membuat sang istri menjerit kegelian, "Saka sebentar lagi kamu jadi Abang!" teriaknya kemudian. Sementara bocah yang baru berumur satu tahun itu hanya memasang wajah bingungnya.
🤭🤭🤭🤭 udh gk tbc, ya. ganti The End
Happy ending🤭 abis ini aku bakal bikin cerita Pak Bidan ya, tapi cerita bakal kupost di akun pf oren. tengkiyu buat semuanya yg mau dan rela baca cerita gajeku, setia nungguin ketidak jelasan ceritanya Mas bule. maaf kalau ceritanya masih banyak kurangnya. aku cuma bisa bilang terima kasih, terima kasih, dan maaf mengecewakan😅🤭
__ADS_1
sampai jumpa di cerita selanjutanya, sayang banyak2 buat kalian😍🥰😍🥰