
Setelah memaksa Vallery untuk makan--meski hanya bisa masuk beberapa suap--Gerald membawa putrinya untuk menemui Ambar, Nenek Vallery yang berada di rumah sakit. Berkali-kali ia memperhatikan gerak-gerik Vallery yang terlihat gelisah. Helaan napas pendek keluar dari mulutnya, ia paham dengan kekhawatiran sang putri. Namun ia juga tidak bisa berbuat banyak untuk menenangkan kegelisahan putrinya itu.
Setelah sampai di tempat tujuan, Gerald langsung mengajak Vallery untuk segera turun. Sepanjang perjalanan menuju IGD, Vallery lebih banyak diam. Menurut informasi yang didapat, Neneknya masih berada di sana dan belum dipindah ke ruang rawat inap.
"Masih berani datang kemari setelah membuat ibuku seperti ini?" sambut Hapsari, putri sulung Ambar, dengan wajah galaknya. Tubuh itu langsung menghadang Gerald, menghalangi pria itu untuk sekedar melihat ibu mertuanya. Meski Helena sudah meninggal, bagi Gerald Ambar tetap ibu mertuanya.
Melihat wajah galak sang Budhe, Vallery memilih untuk langsung bersembunyi di belakang tubuh Gerald. Sejak kecil ia memang tidak akrab dengan Budhe-nya itu, karena watak Hapsari yang memang sedikit keras.
"Saya hanya ingin menjenguk Ibu, Mbak. Apa itu salah? Vallery masih jadi Cucu Ibu, jadi wajar kalau saya dan keluarga mau meng--"
Plak!
Tanpa mengizinkan Gerald menyelesaikan kalimatnya, Hapsari langsung menampar pipi Gerald cukup keras. Membuat beberapa orang yang di sana cukup terkejut saat melihatnya.
"Dasar tidak tahu diri! Kau lupa siapa yang telah membuat ibuku terbaring di sana? Kamu dan juga anakmu, setelah membawa berita besar yang memalukan itu, dan kalian masih punya muka untuk muncul di hadapan kami?" bentak Hapsari penuh emosi, "pergi sebelum aku panggil satpam untuk mengusir kalian!" usirnya kemudian.
Hilda tampak menggeleng tidak setuju. "Mbak Sari jangan gitu, kasian mereka. Mereka cuma mau jenguk Ibu, Vallery pengen liat keadaan Neneknya."
"Diam kamu, Hilda! Kamu tuh nggak ngerti apa-apa! Mereka nggak pantes ada di sini. Bikin malu keluarga saja," cibir Hapsari sambil memandang Gerald dan Vallery dengan tatapan jijik, "keluarga mereka tuh nggak bener. Lihat aja calon istrinya, masih muda begitu. Mbak yakin juga cuma ngincer hartanya doang, Mbak juga yakin--"
"Stop, Mbak! Mbak Sari udah keterlaluan. Mbak Sari nggak bo--"
"Hilda, jangan motong ucapan Mbak! Aku ini Mbakmu! Kamu bawa mereka keluar atau Mbak nggak kasih izin kamu buat ketemu Ibu," ancam Hapsari memotong ucapan Hilda.
Hilda ikut meradang. "Atas dasar apa Mbak Sari ngomong begitu? Mbak lupa kalau selama ini aku yang ngurus ibu? Mbak yakin bisa jagaian ibu tanpa aku? Selama ini juga semua keperluan ibu yang ngurus aku, Mbak Sari cuma bisanya nyuruh-nyuruh dan ngatur-ngatur. Mbak nggak malu?"
Wajah Hapsari berubah merah karena menahan malu. "Hilda, berani ya, sekarang kamu sama Mbak?"
"Selama ini aku diam karena mencoba menghormati Mbak Sari, tapi kali ini aku rasa Mbak Sari udah keterlaluan," balas Hilda terlihat emosi.
Gerald mengusap tengkuknya tak enak, ia merasa sedikit bersalah karena kehadirannya membuat dua bersaudara ini terlihat perdebatan.
"Hilda, sudah, biar saya sama Vallery langsung pamit. Ibu nggak papa kan?"
Hilda menghela napas lalu meminta maaf pada Gerald dan juga Vallery atas nama sang kakak. "Iya, Ibu nggak papa kok. Ya, maklum lah namanya orang tua, Mas. Tadi tekanan ibu sempet tinggi tapi sekarang udah mulai stabil kok. Paling nginep sehari dua hari buat observasi lebih lanjut aja."
Vallery tersenyum lega. "Syukurlah kalau Nenek nggak papa, Vallery tadi sempet khawatir banget, Tan."
Hilda tersenyum maklum lalu mendekati Vallery. "Enggak papa, sayang, maaf kalau tadi sempet bikin kamu khawatir, Tante nggak maksud. Kamu nggak papa kan?" tanyanya lembut.
"Tante maafin Vallery," isak Vallery langsung memeluk Hilda.
Hilda membalas pelukan itu, sesekali menepuk punggungnya pelan. "Enggak, sayang. Kamu nggak salah dan jangan salahin diri kamu, ya. Nenek nggak papa kok."
__ADS_1
Vallery mengangguk patuh lalu melepas pelukannya. Hilda tersenyum sambil mengusap pipinya yang basah. "Udah nggak usah nangis! Sekarang kamu pulang ya, sama Papa kamu. Jangan lupa jaga kesehatan, Tante janji bakalan dateng ke nikahan kamu."
"Makasih Tante." Vallery mengangguk patuh.
"Iya, sayang."
"Kalau begitu kami pulang dulu, kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin," pesan Gerald.
"Ngapain juga kami harus ngabarin kamu?" sahut Hapsari dengan wajah ketusnya.
"Nggak usah dengerin Mbak Sari, Mas. Nanti kalau ada apa-apa pasti aku kabarin kok," ucap Hilda sambil tersenyum dan mengangguk.
"Iya, makasih ya. Kami pamit."
______
Vallery langsung menjatuhkan tubuhnya di salah satu bangku yang ada di depan IGD. Riana sebagai orang pertama yang menyadari terlihat panik dan langsung menghampirinya.
"Vallery, kamu kenapa? Ada yang sakit?" Riana kemudian ikut duduk di sebelah gadis itu.
Bukannya menjawab, Vallery malah menangis sambil menutupi wajahnya. Gerald yang baru menyadari pun ikut panik. Ia bertanya tanpa suara pada Riana, yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.
"Kalau aja aku nggak hamil, semua pasti nggak akan kayak gini kan, Tante?"
Riana dan Gerald saling bertukar pandangan. Keduanya memilih diam dan tidak langsung menimpali.
Riana yang melihatnya jadi tidak tega. "Vallery, dengerin Tante!" ucapnya tiba-tiba. Tidak hanya Vallery yang menoleh ke arahnya, tapi Gerald juga.
Sepertinya ia penasaran dengan apa yang akan diucapkan sang kekasih.
Tangan Riana terulur dan menyentuh perut Vallery. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. "Dia mungkin ada karena sebuah kesalahan, Vallery. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, keberadaannya jangan kamu salahin. Semua sudah terjadi, Vallery. Percuma juga kalau kamu mencoba untuk menyalahkannya."
Air mata Vallery kembali luruh. Riana benar. Yang salah kan dirinya, ia tidak pantas menyalahkan bayinya. Dengan gerakan sigap, Riana langsung menarik tubuh Vallery ke dalam pelukannya. Di hadapan mereka Gerald memandang dua perempuan yang begitu dicintainya dengan perasaan bangga melihat keduanya tampak akur. Sepertinya dugaannya benar, putrinya kini mulai bisa menerima kehadiran Riana.
"Udahan nangisnya. Sekarang pulang, yuk!" ajak Riana mulai mengurai pelukan mereka.
Vallery menggeleng. "Papa sama Tante Riana kalau mau pulang duluan aja. Aku masih mau nunggu Mas Lingga. Dia mau jemput kok."
"Nggak papa ditinggal?" tanya Gerald memastikan.
"Mas, pake nanya lagi. Kita tungguin sampai Lingga dateng dong," balas Riana sambil berdecak, "masa mau ditinggal gitu aja."
"Nggak papa, Tante, Mas Lingga bentar lagi dateng kok. Ah, itu dia!" Vallery langsung dadah-dadah saat melihat Lingga yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Sore, Om," sapa Lingga, "sore--" Lingga menghentikan sapaannya, ia terlihat tidak enak jika langsung memanggil Riana tanpa embel-embel. Meski perempuan itu dulu tidak mempermasalahkan, toh, ia dan Lingga memang lebih tua Lingga.
__ADS_1
"Riana, Lingga. Tidak usah sungkan," ucap Riana sambil memamerkan senyumnya.
"Oke, Riana." Lingga kemudian beralih menatap Vallery, "udah? Langsung pulang? Aku perlu ikut jenguk Nenek kamu dulu nggak?"
"Nggak usah, langsung pulang saja sana!" sahut Gerald, "kami saja diusir, apalagi kamu."
Lingga mengangguk paham lalu mengajak Vallery untuk segera pulang, ia berpamitan dengan Gerald terlebih dahulu sebelum akhirnya mengajak Vallery masuk ke dalam mobil.
"Jaga mata, Riana. Di samping kamu ada calon suami kamu dan pria yang kamu pandangi penuh rasa kagum itu calon menantu kamu sendiri," sindir Gerald sambil mendengus, saat ia mempergoki kekasih sedang menatap pria lain penuh rasa kagum.
Gerald merasa egonya tersentil. Ia cemburu. Ia tidak suka diperlakukan demikian secara terang-terangan.
"Lagi menganggumi CEO muda cetakan novel dalam versi nyata, Mas," balas Riana sambil memamerkan senyumnya, "mubazir kalau disia-siain."
Gerald melotot. "Bicara apa kamu barusan? Calon suami kamu juga CEO, Riana, kalau kamu lupa."
Riana tersenyum kecut lalu mengangguk, membenarkan. "Ya, emang, tapi Mas udah nggak muda."
Sepertinya Riana sengaja ingin membuat kekasihnya cemburu. Lihat saja sudut bibirnya yang terlihat bergetar seperti sedang menahan tawa.
"Maksud kamu saya tua, begitu? Kamu jangan ngeremehin saya, Riana. Kalau kamu mau, ayo habis ini kita cari hotel. Saya buat kamu cepat hamil kayak Vallery," ucap Gerald dengan suara menggebu. Sepertinya pria ini berhasil terpovokasi.
Riana tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Istigfar, Mas! Sembarangan aja kalau ngomong. Ayo, buruan pulang. Kayaknya di sini banyak setannya."
Gerald memasang wajah jutek. "Kamu yang mulai, Riana. Kamu bikin saya kesal. Bagaimana bisa kamu muji-muji pria lain di hadapan saya?"
"Aku bercanda, Mas. Mas tuh terlalu serius, nggak capek apa?"
"Saya sudah pernah bilangkan, saya pria dewasa, Riana. Saya selalu serius dan tidak bisa main-main, apalagi kalau sama kamu."
"Ck. Begini nih resiko pacaran sama Om-om," guman Riana sambil geleng-geleng kepala.
"Ayo, pulang!" ajak Gerald tidak sabaran.
"Eh, bentar, Mas," ucap Riana menghentikan langkah kaki Gerald. Pria itu langsung menoleh dan menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa?"
"Aku kan tadi ke sini naik mobil Vallery. Kenapa kamu ngajak aku masuk mobil kamu."
Gerald mendesah frustasi. "Astaga, saya lupa!" Ia menepuk dahinya secara reflek, "terus ini gimana?"
"Gimana apanya?" Riana balik bertanya, "ya, aku naik mobil Vallery, Mas naik mobil Mas lah. Pake ditanya." Tanpa menunggu jawaban Gerald, Riana langsung bergegas menuju mobil Vallery dan masuk ke dalam.
"Astaga, kenapa saya bodoh sekali menyuruhnya membawa mobil Vallery. Harusnya tadi biar mobilnya ditinggal di kantor saja," gerutu Gerald menyesali perbuatannya.
__ADS_1
Tbc,