
*****
Lingga langsung melesat menuju rumah sakit, begitu mendapat kabar dari Nick. Perasaannya berkecamuk, khawatir, gelisah, dan juga bercampur kesal. Ia kesal karena Vallery tega tidak mengabarinya saat kondisi Saka sedang mengalami penurunan. Sesibuk-sibuk apapun dia, sepenting apapun rapat yang sedang ia lakukan, ia jelas ingin Vallery langsung mengabarinya. Tapi ini apa yang Vallery lakukan? Istrinya itu malah memilih meminta bantuan pada Nick ketimbang meminta bantuan darinya. Jelas saja dia kesal.
Tempat pertama yang ia tuju ialah IGD, tadi Nick memberitahu kalau Vallery masuk IGD karena shock mendengar kondisi Saka. Lingga berlari kecil ke bagian Nurse station yang ada di IGD untuk menanyakan keberadaan sang istri.
"Sus, pasien atas nama Calistha Vallery di bed mana ya?"
Nada panik terdengar dari bicara Lingga, napasnya pun bahkan masih terdengar sedikit ngos-ngosan.
"Ada di bed 3, Pak."
"Baik, terima kasih, Sus."
"Sama-sama."
Lingga kemudian langsung menghampiri bed yang perawat tadi maksud. Ia menemukan sang istri tengah terbaring dengan wajah pucatnya ditemani Nick.
"Ya ampun, Vallery, kamu kenapa? Kok sampai masuk IGD begini? Gimana keadaan kamu sekarang? Apa yang sakit?"
Lingga tidak bisa menyembunyikan raut wajah cemasnya. Ia berdiri tepat di sebelah kiri Vallery sambil mengelus rambut sang istri penuh kasih sayang.
"Aku nggak papa, Mas. Cuma shock sedikit tadi."
Tak puas dengan jawaban sang istri, Lingga langsung menoleh ke arah Nick dengan tatapan tajamnya. "Beneran itu, Nick?"
Nick mengangguk. "Iya, Bang, nggak papa, kata dokter yang meriksa tadi sih emang cuma shock dikit, terus bikin tekanan darah Vallery jadi rendah, makanya lemes begini. Kok lo cepet banget sih, Bang? Lo ngebut?"
"Ya iya lah, gue nggak tenang pengen cepet-cepet sampai sini begitu dapet kabar dari. Gue panik lah, Nick, pas lo bilang Vallery ada di IGD gara-gara shock abis denger kabar kondisi Saka yang ngedrop. Makanya gue langsung tinggalin meeting dan ke sini."
Raut wajah bersalah terlihat dari wajah Vallery. "Kamu ninggalin rapat gitu aja, Mas?"
"Ya, enggak gitu aja, sayang. Aku suruh Will buat ambil alih, karena keadaan kamu lebih urgent, alhamdulillah, investor paham. Kamu tenang aja, kita nggak akan kehilangan apapun, aku sudah cukup berpengalaman dalam urusan bisnis. Jadi, aku nggak akan gegabah buat ngambil langkah."
"Tapi kamu ninggalin rapat gitu aja, Mas."
"Kamu lebih penting, sayang. Udah nggak usah mikir yang aneh-aneh!"
__ADS_1
"Tapi aku nggak papa, Mas."
Lingga berdecak tidak percaya sambil menatap Vallery galak. "Nggak papa gimana, muka kamu masih pucet gini kok. Ini mana dokter yang jadi penanggung jawab kamu?" ia celingukan ke sekitar ruang IGD, "kondisi kamu ampe pucet gini masa cuma dibiarin gini doang? Enggak dikasih infus atau apa gitu?" tanya sebal.
"Aku nggak butuh, Mas."
"Tapi kamu pucet, Vallery!"
"Itu karena make up aku luntur," balas Vallery membela diri.
"Kamu pikir aku belum pernah liat kamu nggak pake make up? Tiap hari aku udah liat kamu nggak pake make up, Vallery, jadi aku bisa bedain mana muka pucat kamu karena kurang sehat, mana muka pucet kamu karena nggak make up-an. Aku masih bisa bedain."
Vallery cemberut kesal saat mendapati nada bicara Lingga yang terdengar kesal. Perempuan itu memalingkan wajahnya ke arah samping, sengaja menghindari tatapan tajam dari sang suami. Ia paling malas kalau Lingga sedang dalam mode ini.
"Bang," panggil Nick berusaha mencairkan suasana tegang keduanya, ia menusuk lengan Lingga menggunakan ujung jarinya.
"Apaan sih, Nick?" protes Lingga kesal.
"Astaga, jangan marah-marah mulu kenapa? Nggak enak sama pasien lain, kasian, mereka butuh ketenangan. Lagian Vallery tadi udah diperiksa, dokternya baik, ramah, masih muda, cakep lagi. Paket komplit pokoknya. Dokternya udah nawarin buat kasih Vallery cairan infus, gegara kondisi Vallery yang keliatan pucet dan lemes begini. Tapi dia-nya nolak. Jadi marahnya ditunda dulu bisa? Kasian dokternya, lagian Vallery juga masih lemes begini. Bukannya lo tenangin malah lo omelin? Lo pikir dia begini karena apa? Karena shock, lo mau, Bang, Vallery tambah kenapa-kenapa gara-gara shock abis lo omelin?"
Lingga langsung melotot tidak terima. "Lo jangan ngomong sembarang gitu dong, Nick! Istri gue ini," protesnya kemudian.
Lingga mengangguk patuh mendengar balasan Nick. Pria itu kemudian meminta maaf kepada sang istri sambil mengecup pucuk rambutnya.
"Maafin aku, ya, sayang. Aku nggak ada maksud buat marah-marahin kamu, aku cuma khawatir itu aja. Enggak lebih."
Vallery mengangguk paham. "Iya, Mas, aku nggak papa kok. Aku tahu kamu khawatir, cuma kan aku udah bilang kalau aku baik-baik aja. Aku lebih tahu kondisi tubuhku ketimbang orang lain. Aku baik-baik saja, Mas, aku mau liat Saka lagi."
"Nanti," tolak Lingga, "kamu masih pucat, di sini dulu, ya. Biar aku yang ke sana cek kondisi Saka." Lingga kemudian menoleh ke arah Nick, "Nick, titip Vallery, ya, tolong jagain! Gue cek kondisi Saka dulu."
"Siap, Bang."
"Baik-baik ya, sayang," bisik Lingga sambil mengecup dahi Vallery sebelum pria itu meninggalkan sang istri.
*****
"Mau lihat kondisi Saka, Pak Lingga?"
__ADS_1
Lingga mengangguk cepat saat bertemu dengan Rita. Dokter itu kemudian mengajak Lingga agar mengikutinya. Perasaan Lingga kembali tidak karuan. Jujur, ia tak kalah takut dari Vallery kalau sudah menyangkut urusan sang putra. Selama beberapa bulan terakhir ia sudah cukup sering mengalami senam jantung karena kondisi Saka yang memang sering kali naik turun.
"Dia baik-baik saja kan, Dok?" tanya Lingga khawatir.
"Untuk saat ini dia baik-baik saja, hanya saja kami kembali memasang ventilator pada Saka karena kondisinya yang tiba-tiba ngedrop."
"Kok bisa? Bukannya dokter bilang kalau kondisi putra saya cukup baik?" Lingga heran sekaligus tidak paham, karena selama ventilator dilepas kondisi putranya bernapas cukup baik, seperti tidak ada tanda-tanda kelainan. Setidaknya begitulah yang dikatakan dokter yang menangani Saka.
Rita mengangguk. "Benar, selama ini kondisi Saka memang tergolong sangat bagus, perkembangannya pun cukup pesat. Tapi namanya bayi prematur dengan usia kandungan jauh dari perkiraan memang tidak bisa kita prediksi, Pak. Kami sudah mengupayakan sebaik mungkin untuk tetap mempertahankan kondisi Saka agar tetap stabil, tapi semua ini di luar kuasa kami kalau seandainya Tuhan berkata lain."
Napas Lingga seolah terasa tercekat. "Maksud dokter? Putra saya sudah tidak bisa bertahan?"
"Tidak, bukan begitu maksud saya. Terlalu dini untuk menyimpulkan hal tersebut, kami sedang berusaha mencari tahu penyebab terjadinya penurunan kondisi Saka hari ini."
Lingga berdecak frustasi. "Sampai kapan saya harus menunggu hasilnya?"
"Ini sedang kami usahakan agar hasilnya keluar lebih cepat, agar kita bisa cepat-cepat mengambil tindakan. Pak Lingga mohon bersabar sebentar lagi," ucap Rita menjelaskan, ia paham kekalutan wali pasiennya saat ini.
Kalau ia berada di posisi sebagai wali pasien, ia pun akan merasakan hal yang sama. Melihat anak kesayangannya harus terus-terusan berjuang dengan maut tidaklah mudah. Rita sadar betul rasa kekhawatiran Lingga dan Vallery, karena ia juga seorang ibu.
"Bagaimana dengan kondisi Bu Vallery, Pak?" tanya Rita mencoba mengalihkan pembicaraan.
Lingga mengangguk. "Istri saya baik-baik saja, tapi dia masih gelisah menunggu hasilnya. Saya pun demikian."
Rita mengangguk paham. "Saya mengerti kondisi anda, Pak Lingga, bagi tim medis pun setiap detik dan menit memang terasa mendebarkan kalau mengingat kondisi Saka. Tapi jagoan kecil Pak Lingga dan Bu Vallery sejauh ini sangat kuat, sejauh ini pun dia mampu melewati semua ini dengan baik. Itu sudah termasuk hal yang luar biasa, ini sudah termasuk sebuah keajaiban juga."
"Tapi tetap saja saya masih merasa khawatir, bagaimana kalau kali ini dia tidak dapat melewatinya?"
"Sebaiknya kita optimis dulu untuk kesembuhan Saka. Saya yakin dia pasti akan bertahan dan mampu melewati semua ini, sejauh ini Ibu dan Bapak pun dapat melewatinya dengan baik, jadi saran saya jangan menyerah terlalu cepat. Karena takutnya Saka nantinya juga ikut menyerah untuk melawan sakitnya."
Masih dengan wajah putus asanya, Lingga mengangguk dan membenarkan ucapan sang dokter. Bagaimana pun juga yang dikatakan dokter Rita ada benarnya, ia dan Vallery tidak boleh menyerah terlalu cepat kalau tidak ingin Saka ikut menyerah. Karena selama ini Saka sudah berjuang dengan sangat hebat, jadi ia tetap harus optimis menunggu kesembuhan sang putra.
"Baik, dok, terima kasih. Kalau begitu saya permisi, tolong segera hubungi saya jika hasilnya sudah keluar."
"Baik, Pak, akan segera saya lakukan begitu hasilnya sudah keluar."
Tbc,
__ADS_1
suka sebel sama diri sendiri, segala usaha udah dilakukan kulakukan, tapi tetep aja gagal up malem dan malah ketiduranππππ maaf gaesπππππ