
***
Saat Gerald tiba di rumah, Lingga hendak pulang. Benar sesuai dugaannya kalau Vallery tadi sempat pergi menemui Lingga dan pria itu mengantarkannya pulang.
"Sudah mau pulang?" tanya Gerald berbasa-basi.
Lingga tersenyum kikuk sambil mengangguk. "Saya cuma nga--"
"Saya perlu bicara dengan kamu, ayo masuk dulu," potong Gerald lalu meninggalkan halaman dan masuk ke dalam rumah, namun baru beberapa langkah ia berhenti karena teriakan Vallery dengan suaranya yang terdengar sedikit bergetar.
"Kalau Papa minta Lingga buat bujuk aku biar gugurin bayi kami, lebih baik nggak usah, Pa. Karena percuma, Lingga nggak akan mau."
Gerald tiba-tiba berbalik dan menatap putrinya sambil berdecak samar. Oh, tidak, ia salah. Kalau sudah begini, putrinya ini lebih mirip dengan mendiang istrinya dulu, Helena, Mama Vallery. Selalu menduga-duga sendiri padahal dugaannya belum tentu benar. Oh, oke, mungkin itu bukan sifat mendiang istrinya saja, tapi memang kebanyakan perempuan memiliki naluriah tersebut. Karena setelah diingat-ingat lagi, Riana pun terkadang demikian.
"Memang siapa yang mau bilang begitu?" tantang Gerald dengan wajah datarnya.
"Ya, Papa."
"Sok tahu kamu, persis Mama-mu." Pandangan Gerald kemudian beralih pada Lingga, "masuk dulu, Ga, saya mau ngomong penting."
"Iya, Om."
Lingga hanya mengangguk paham dan mengekor di belakang Gerald sambil berdebat kecil dengan Vallery. Karena kekasihnya ini mengusirnya sedari tadi dan memintanya untuk tidak mendengarkan Papanya. Gila! Mana berani Lingga membantah perkataan calon mertuanya?
"Kamu serius menikahi putri saya?" tembak Gerald tanpa basa-basi.
Hal ini tentu saja membuat Vallery maupun Lingga sama-sama terkejut.
"Papa!" seru Vallery tidak suka. Entahlah, sepertinya putrinya ini masih ngambek dengan pertengkaran mereka tadi.
"Iya, Om, saya serius. Terlepas dari ada atau tidaknya bayi kami, saya serius mau menikahi putri Om."
Gerald tiba-tiba tertawa meremehkan. "Gila kamu! Putriku masih 19tahun dan kamu mau serius menikahinya? Kalau bukan karena Vallery yang hamil duluan, saya tidak akan sudi. Enak saja kamu, mau mengambil putriku satu-satunya."
"Papa!"
"Apa?" Gerald menoleh ke arah Vallery dengan wajah snewennya.
Vallery diam dan hanya memasang wajah cemberutnya. Membuat Gerald akhirnya melanjutkan ucapannya.
"Besok malam, bawa kedua orangtua kamu. Kita harus membicarakan detail pernikahan kalian, saya akan mengalah demi Cucu saya."
__ADS_1
"Papa," panggil Vallery dengan suara yang sedikit bergetar.
"Papa minta maaf soal yang tadi, Papa mengaku salah," sesal Gerald sambil meringis.
Vallery menggeleng sambil menahan tangisnya, ia kemudian mendekat ke arah Gerald dan memeluknya erat.
"Makasih, Pa, makasih banget. Maafin Valle juga ya, Valle janji nggak akan ngecewain Papa lagi setelah ini. Valle sayang Papa."
"Papa juga."
Lingga tersenyum haru melihat interaksi keduanya. Mendadak perasaannya menjadi melankolis. Ia bahkan tidak sadar kalau Gerald kini tengah menatapnya serius.
"Kenapa kamu senyam-senyum? Mikirin jorok?" celetuknya pedas.
Lingga menerjap kaget dan buru-buru menggeleng cepat. "Enggak, Om."
"Papa jangan godain Mas Lingga," rajuk Vallery dengan wajah cemberutnya.
Dahi Gerald mengernyit. "Ngapain Papa godain calon suami orang, kalau jelas-jelas Papa sendiri punya calon istri super cantik?" Vallery makin cemberut, "sudah, sudah. Lebih baik kamu pulang sekarang!" imbuhnya kemudian, mengusir Lingga secara tidak langsung.
Lingga mengangguk paham dan langsung berdiri. "Kalau begitu saya langsung pamit, Om. Selamat malam, assalamualaikum."
"Wa'allaikumsalam."
Gerald hanya memperhatikan keduanya dari kejauhan sambil membatin, "Dasar bucin."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Gerald langsung mencibir saat melihat Vallery berjalan menuju ruang makan dengan wajah sumringah. Semalam Vallery resmi dilamar oleh Lingga, karena hal ini lah yang membuat mood Vallery hari ini bagus dan mood Gerald sedikit buruk.
"Selamat pagi, Pa," sapa Vallery sambil menarik kursi untuk didudukinya.
Gerald mengangguk lalu menyuruh Vallery menyantap sarapannya. Tanpa memprotes Vallery segera membalik piringnya dan mengambil nasi goreng dan telur dadar secukupnya, setelahnya ia langsung melahap sarapannya dalam diam.
"Malam ini Papa mungkin telat, Papa akan menemui Nenekmu. Meski rasanya tidak sanggup, Papa tetap harus memberitahu beliau," ucap Gerald dengan tenang dan tanpa menoleh ke arah Vallery.
Gerakan tangan Vallery yang tadinya hendak menyendok mendadak terhenti, kala mendengar ucapan sang Papa. Jantungnya mendadak berdebar kencang. Papanya hendak akan memberitahu Neneknya kalau ia hamil dan akan menikah? Astaga, membayangkannya saja ia tidak sanggup. Bagaimana Papanya akan menghadapi kenyataan itu.
"Vallery ikut," ucap Vallery lantang, genggaman sendoknya menguat secara spontan. Ia tidak rela sang Papa harus menemui Nenek dari pihak ibu-nya sendirian.
"Tidak perlu, Papa akan menemuinya sendirian," tolak Gerald tenang. Ia mengangguk, berusaha meyakinkan sang putri agar tidak terlalu mencemaskan dirinya.
__ADS_1
Tapi bagaimana Vallery tidak cemas. Nenek Vallery memiliki watak keras, ia tidak membayangkan apa yang akan terjadi pada Papanya kalau sampai seandainya datang sendirian. Setidaknya kalau ia ikut, mungkin Neneknya tidak akan terlalu murka. Atau minimal, Papanya tidak perlu menerima kemurkaan sang Nenek seorang diri.
"Enggak, pokoknya Vallery tetep harus ikut. Valle nggak mau Papa kenapa-kenapa," cicit Vallery semakin cemas.
Kali ini Gerald tersenyum. "Nggak papa. Papa bisa jaga diri, Valle. Kamu nggak perlu khawatir. Paling juga nanti Papa ditampar sama diceramahin, kayak pas Papa ngasih tau Oma kamu."
Oma yang Gerald maksud adalah ibu kandungnya. Ya, Gerald memang sudah memberitahu ibunya tentang kehamilan Vallery.
"O.oma udah tahu?" tanya Vallery terkejut.
Gerald mengangguk dengan ekspresi tenangnya.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, masalah Oma-mu sudah Papa urus. Dan untuk Nenek kamu juga bakalan Papa urus. Kamu pikirin kesehatan dan juga kuliahan kamu, masalah persiapan pernikahan biar calon suami-mu yang urus." Gerald segera meraih cangkir dan menyesap kopi hitamnya yang tinggal sedikit, "Papa ada meeting pagi ini, Papa duluan. Kamu hati-hati nyetirnya, kalau dirasa nggak kuat nyetir sendiri telfon calon suami kamu, suruh jemput. Papa berangkat. Assalamualaikum!"
Sebelum benar-benar meninggalkan ruang makan, Gerald menyempatkan diri untuk mencium kening Vallery sebentar. Hal ini membuat hati Vallery menghangat. Mendadak ia merasa melankolis, batinnya kemudian bertanya-tanya. Kapan terakhir kali Papanya melakukan hal itu. Ia bahkan nyaris lupa.
"Loh, Non Vallery nangis?"
Vallery bahkan tidak menyadari kalau dirinya menangis. Ia baru sadar saat mendengar pertanyaan Bik Jum, yang membuatnya buru-buru mengelap air matanya.
"Papa abis nyium Valle, Bik."
"Hah? Gimana, Non?"
Ekspresi Bik Jum terlihat kaget dan kebingungan.
"Papa barusan nyium kening Vallery, padahal udah lama banget Papa nggak ngelakuin itu. Terakhir kayaknya pas Valle masih SMP deh."
Mendengar jawaban Vallery--yang terdengar masih sesegukan--Bik Jum tersenyum. "Udah nangisnya, nanti kalau si Bapak udah pulang biar Bik Jum omelin, ya," guraunya kemudian.
"Iiihh, bukan gitu, Bik. Valle tuh seneng," jerit Vallery mendadak kesal.
Bik Jum malah pura-pura memasang wajah bingungnya. "Loh, kalau seneng kenapa Non Vallery nangis?"
"Tau ah, Valle ngambek," rajuk Vallery langsung menghabiskan sarapannya dan segera bangkit dari kursi.
"Iya, iya, Non, Bik Jum kan cuma bercanda. Sensi amat. Gegara Mas Bule belum jemput, ya?" goda Bik Jum yang kali ini langsung membuat kedua pipi Vallery memerah karena menahan malu.
"BIK JUM!!!"
"Hahaha."
__ADS_1
______
Tbc,