Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
76. Belum Baikan (part 2)


__ADS_3

***


Lingga menghela napas panjang begitu selesai rapat. Beberapa karyawannya sudah meninggalkan ruang rapat, kini tinggal dirinya dan Will yang menemaninya.


"Enggak langsung balik ke ruangan, Bos?" tanya Will hati-hati, pasalnya seharian ini mood atasannya ini sangat tidak bagus. Alhasil ia harus lebih berhati-hati kalau tidak ingin berujung kena semprot.


Lingga menggeleng. "Saya pusing."


"Hah? Bos sakit? Mau saya telfonin ambulance?"


Lingga langsung berdecak sambil menatap Will galak. "Bukan pusing yang begitu maksud saya."


Will segera menarik salah satu kursi dan duduk di sana. "Pusing kenapa lagi sih, Bos? Masalah Saka? Ya, gimana ya, bos, kan Saka lahirnya masih jauh banget dari usia cukup. Jadi Bos Lingga harus banyak-banyak sabar, saya yakin kok nantinya Saka bisa tumbuh normal kayak anak-anak yang lahir usia cukup bulan."


"Iya, saya tahu kalau itu. Saya percaya putra saya bisa melewati ini semua dan bakal tumbuh seperti anak normal. Tapi masalahnya bukan itu yang bikin saya pusing."


"Terus soal apaan lagi? Istri bos berubah pikiran lagi dan serius minta cerai?"


Will tidak dapat menahan keterkejutannya saat ia menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Buru-buru ia meminta maaf karena Lingga sendiri langsung berdecak kesal sambil melotot tajam ke arahnya.


"Terus masalah apa dong?" tanya Will semakin kepo.


"Mamanya Saka yang bikin saya pusing."


"Waduh, kenapa lagi nih?"


"Saya kesel sama dia." Lingga memulai ceritanya.


"Kesel karena?"


"Dia mau jual mobilnya buat biaya rumah sakit Saka."


Will menerjap bingung. Bagian mananya yang bisa membuat seseorang kesal? Batinnya tidak habis pikir.


"Maaf, bos, bukannya itu bagus?"


Lingga kembali memelototi Will. "Bagus dari mananya? Saya masih punya cukup uang untuk biaya perawatan Saka di rumah sakit, termasuk biaya hidup kami ke depannya. Kenapa kamu berbicara seolah-olah kalau saya tidak mampu membayar tagihan rumah sakit?"


"Bukan begitu maksudnya, bos."


"Terus maksudnya apa?" Ekspresi kesal terlihat pada wajah Lingga.


"Ya kan niatnya bagus, bos. Nggak semua perempuan rela melakukan hal begitu kan? Bu bos baik loh ini, bos, artinya mau diajak prihatin. Nggak mau enaknya doang, harusnya bos bersyukur karena dapetin yang begini."

__ADS_1


Apa yang Will katakan ada benarnya juga. Harusnya ia bersyukur karena niat Vallery sebenernya memang baik, ia hanya ingin membantu meringankan tapi karena egonya, Lingga langsung ngambek. Mendadak ia merasa bersalah.


"Jadi di sini yang salah saya gitu?"


Will meringis sambil mengangguk. "Kalau menurut saya sih harusnya Bos Lingga tidak perlu pusing sampai begininya. Selow aja lah, Bos. Masa cuma perkara beginian aja sampe bikin pusing, stress, galau gini. Udah lah, Bos. Fokus aja dulu buat kesembuhan Saka. Bos sama Bu Bos harusnya tuh makin mesra, bukannya malah dikit-dikit ngambek. Masa kayak abg begini, malu sama umur lah."


"Ya habis saya tuh kesel, Will. Masa kamu nggak ngerti? Ini masalah harga diri loh. Kamu tahu kan keuangan saya nggak seburuk itu?"


Will mengangguk, membenarkan lalu meraih botol minuman yang tersedia di meja rapat. "Tapi kan Bu Bos nggak tahu pastinya kekayaan Bos seberapa. Makanya dia khawatir. Dia bisa aja bersalah juga loh, Bos."


Kening Lingga terangkat spontan. Tidak paham arah pembicaraan Will. Vallery merasa bersalah? Karena apa? Pikirnya heran.


"Ya, kan Saka lahir karena kondisi bu bos yang waktu itu nggak baik. Coba aja kalau waktu itu bu bos nggak kepleset dan jatuh, pasti saat ini Saka masih di dalem perut Bu Bos. Baru abis tujuh bulanan."


"Kenapa kamu jadi seolah-olah nyalahin istri saya? Itu takdir, Will, emang Tuhan maunya begini. Kamu jangan nyalahin istri saya," omel Lingga kesal.


Will langsung memutar kedua bola matanya datar. Persetan dengan sopan santun terhadap sang atasan. Ia tidak peduli, ia sedang kesal terhadap sang atasan.


"Bos mah kerjaannya su'udzon terus. Maksud saya tuh, kali aja bu bos yang mikir begitu. Namanya perempuan tuh pikirannya ada aja, Bos. Enggak ketebak sama sekali. Suka bikin pusing juga."


Helaan napas panjang terdengar setelahnya. Lingga lah pemilik helaan napas tersebut. Pria yang kini sudah memiliki status sebagai Papa muda itu, menyandarkan punggungnya. Kepalanya pening.


"Jadi saya harus bagaimana?"


Lingga langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Will tidak suka. "Saya duluan gitu?"


Will pun tak mau kalah, ia juga langsung menatap sang atasan dengan tatapan yang tak kalah. "Terus siapa? Saya duluan gitu?" tanyanya kesal.


Lingga langsung menutup bibirnya rapat-rapat dan tidak dapat berkata-kata lagi. Ia memalingkan wajahnya ke sembarang arah sambil berdecak samar.


"Saya tuh masih kesal, Will."


"Ya udah, pelihara aja terus itu rasa keselnya. Biar Bu Bos sama cowok lain, toh, dia masih muda. Sekarang udah nggak hamil, gampang banget tuh ninggalin Bos."


Lingga langsung memberikan tatapan mautnya. "Kamu bosan hidup, Will?"


Dengan wajah polosnya Will lalu menggeleng. "Enggak, saya cuma bosen liat bos yang ngambekan gini. Udah tua loh, bos, malu sama umur."


"Bukan maksudnya begitu, Will. Saya cuma masih kesel aja gitu kalau inget. Bukan karena saya yang ngambekan."


"Ya, nggak usah diinget-inget lah kalau begitu," sahut Will cuek.


Lingga berpikir sejenak lalu melirik Will. "Jadi saya duluan yang minta maaf?"

__ADS_1


Will langsung mengangguk cepat.


"Tapi kalau dia tiba-tiba ngusulin buat jual mobil lagi gimana?"


"Ya, tolak lah. Terus tunjukin semua aset kekayaan Bos Lingga. Beres kan?"


Perlahan tapi pasti senyuman Lingga langsung terbit. "Pinter juga kamu, nggak salah saya pilih kamu jadi Personal Asisten saya. Thanks, Will."


Will mengangguk tidak masalah. "Makanya, Bos, emosi boleh, tapi otak tetep harus dipake dong."


Lingga langsung terbahak. Umpatan samar terdengar setelahnya. Ia tidak membantah, dalam hati malah ia membenarkan, sikapnya kemarin memang hanya berdasarkan emosi sesaat. Ia tidak menggunakan otaknya untuk berpikir jernih karena sudah terlanjur terbawa emosi.


"Ngomong-ngomong, gimana kondisi Baby Saka, Bos? Perkembangan makin bagus kan?"


Ekspresi wajah Lingga berubah sedih. "Ya, bantu doa aja ya, Will. Semoga keadaannya makin membaik. Sejauh ini kondisinya stabil sih, tapi ya kan kita tetep harus waspada. Soalnya kadang kondisinya masih tidak terduga gitu. Kadang yang tiba-tiba ngedrop juga."


"Aamiin. Semoga saja kondisinya terus membaik dan bisa cepet pulang. Jadi nanti kalau datang ke nikahan saya, Bos Lingga udah bertiga."


Lingga mengangguk sambil menggumankan kata terima kasih, jarinya mengetuk meja dengan gerakan pelan. Ia tidak terlalu menyadari ucapan Will di awal, sampai akhirnya selang beberapa menit kemudian ia baru tersadar.


"Nikahan kamu?" Lingga menoleh ke arah Will dengan tatapan kagetnya, "kamu udah mau nikah? Sama yang kemarin sukses?"


Sambil tersenyum malu-malu, Will mengangguk. "Doain ya, Bos, semoga lancar sampai hari H."


"Ya ampun, serius kamu? Selamat deh, kalau begitu. Aamiin, semoga lancar sampai hari H. Rencana kapan?"


"Akhir minggu ini rencananya saya mau ngelamar. Tapi kalau untuk acara nikahannya belum tahu deh, nanti nurut dari keluarga calon maunya kapan."


Lingga tersenyum lalu mengangguk paham. Ia ikut bahagia mendengar kabar baik ini. Will bekerja untuknya cukup lama, jadi ia sudah menganggap pria ini seperti saudaranya sendiri ketimbang anak buahnya.


"Nanti bilang aja mau minta kado apa. Enggak usah sungkan," ucap Lingga sambil berdiri dan mengajak Will untuk segera meninggalkan ruang rapat.


Namun, Will malah menggeleng dengan ekspresi meringis. "Jangan deh, Bos, nggak enak sama Bu Bos. Saya mah nggak minta kado yang neko-neko. Seikhlasnya saja."


"Ya sudah kalau begitu. Nggak jadi nawarin ya, saya?"


"Iya, Bos."


"Oke."


Tbc,


udah ketiduran dan baru bisa up. mon maap, semoga gk lulus review bsok pagi😅

__ADS_1


__ADS_2