Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
52. Perkara Susu


__ADS_3

***


Vallery dan Lingga akhirnya dapat bernapas lega karena acara empat bulanannya mereka berjalan lancar. Meski sebenarnya sudah terlewat karena memang sempat ditunda demi lamaran Gerald dan baru terlaksana hari ini. Setidaknya Vallery dan Lingga bersyukur karena semua berjalan lancar sesuai yang diharapkan.


"Lingga, sana istrimu kamu suruh langsung istirahat saja. Kasian pasti capek," ucap Lidiya merasa tidak tega melihat sang menantu terlihat seperti kelelahan.


Vallery tersenyum simpul mendengar ucapan sang mertua. "Nggak papa, Bu, Vallery belum capek kok."


Mendengar jawaban sang menantu, Lidiya mendengus tidak percaya. "Belum capek apa kalau muka kamu sudah kelihatan begitu. Udah, nggak papa, nggak usah sungkan. Ibu hamil memang dispesialkan, ayo buruan istirahat," intruksinya agar Vallery segera naik ke kamarnya. Ia kemudian memukul lengan putranya, "Lingga, ini buruan istrimu diajak naik ke atas, suruh istirahat. Tamu-tamu juga sudah pada mulai pulang."


Lingga mengangguk setuju. "Baik, Bu," ia kemudian merangkul pundak Valleru, "Ibu benar, Vallery, sebaiknya kamu segera istirahat. Ayo, aku anter ke kamar."


"Tapi, Mas," protes Vallery merasa tidak enak, "tamu-tamu kan masih belum pulang semua, Mas. Masa aku udah ke kamar."


"Enggak papa, nanti mereka juga pada pulang bentar lagi. Yang penting kamu, kamu lagi hamil loh."


Berpikir sejenak, akhirnya Vallery mengangguk pasrah dan naik ke kamarnya ditemani Lingga. Sebelumnya ia pamit lebih dulu ke tamu-tamu Lingga yang lain, pun dengan Patricia dan Nick. Yang sepertinya keduanya sudah berbaikan. Vallery senang melihat keduanya. Ia tidak perlu merasa cemas lagi.


"Sana ganti baju dulu, aku turun bentar, nanti ke sini lagi," pamit Lingga setelah memastikan Vallery masuk ke dalam kamar.


Lingga kemudian bergegas untuk menuruni anak tangga, mengambil beberapa camilan dan segelas susu hamil untuk sang istri.


Saat ia kembali ke kamar, Vallery sudah berganti pakaian. Gaun brokat berwarna baby blue-nya kini sudah berganti gaun tidur berwarna merah marunnya. Vallery tampak duduk di depan meja rias, membersihkan sisa make up yang menempel pada wajahnya.


"Perlu bantuan?" tawar Lingga sambil meletakkan nampan pada meja nakas, ia kemudian duduk di tepi ranjang menghadap Vallery.


Vallery menoleh. "Bantuan apa yang kamu tawarin, Mas?"


Lingga mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Ya, apapun itu yang kamu butuhkan. Kamu butuh bantuan apa emang?"


Vallery meringis. "Kaki aku pegel, Mas. Mau pijitin nggak?"


"Pake plus-plus nggak?" balas lingga malah menggoda Vallery.


Vallery berdecak sebal sambil melempar bekas kapasnya. "Ah, bodo amat, Mas. Nggak jadi!" judesnya kemudian, ia kemudian fokus membersihkan mukanya.


Sedangkan di tempatnya Lingga malah terbahak. Melihat wajah kesal sang istri memang kebahagiaan tersendiri baginya, Vallery tampak menggemaskan kalau sedang kesal. Apalagi dengan body-nya sekarang. Rasanya membuat Lingga ingin mengurung sang istri di dalam kamar terus-menerus.


"Bercanda, Sayang, sensi amat."


"Tahu lah, bodo amat."


"Kamu marah?" Lingga kemudian berjalan mendekat ke arah Vallery dan memeluk sang istri dari belakang, Vallery tidak menolak namun juga tidak membalas. Wajahnya terlihat cemberut menahan kesal.

__ADS_1


"Udah ah, ngambeknya, ayo buruan minum susunya. Nanti aku pijitin." Lingga kemudian melepaskan pelukannya, mengambil gelas berisi susu hamil Vallery dan menyodorkannya pada sang istri.


"Mas, aku kayaknya mulai bosen dah sama susu ini. Kapan-kapan ganti merk, ya? Yang ini udah mau abis belum?"


Seketika itu wajah Lingga memucat, ia meringis beberapa saat kemudian sambil mengusap tengkuknya salah tingkah.


"Yang ini tinggal buat besok pagi sih--"


"Ya udah, besok siang beli lagi tapi genti merk atau rasa aja," sahut Vallery sambil mangguk-mangguk.


"Aku tadi belum selesai ngomongnya, Vallery. Kemarin abis pulang kerja aku udah beli dua dus." Lingga meringis sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V, ekspresinya terlihat tidak enak dan juga bersalah.


Seketika raut wajah Vallery berubah. "Aduh, Mas, kenapa nggak tanya-tanya dulu sih?" ia kemudian berdecak kesal.


"Ya, kan maksud aku baik, Vallery. Aku inisiatif mau beliin tanpa kamu suruh, kamu harusnya berbangga sama suami kamu."


Vallery menghela napas sambil mangguk-mangguk. Setidaknya ia harus sedikit menghargai usaha sang suami.


"Oke, aku hargai inisiatif kamu, Mas. Tapi kamu beli yang ukuran berapa? Yang 200 gram kayak biasa kan?"


Pasalnya Vallery cukup mudah bosan dengan varian rasa, jadi untuk menyiasatinya ia memilih untuk membeli susu dengan ukuran kecil dan beda rasa.


Lingga menggeleng pelan. "400 gram."


"Ya, kan sekalian, sayang."


Raut wajah Vallery semakin gemas. Antara ingin marah tapi tidak tega. Ia menghela napas, mencoba meredam emosinya. "Sekalian gimana? Yang ada mubazir, aku udah bosen sama rasa ini, Mas," rengek Vallery frustasi.


"Ya, udah besok kita beli lagi. Mas beliin yang baru, yang beda rasa juga, yang ukurannya 200 gram juga biar kamu nggak bosen. Oke?" tawar Lingga dengan pandangan pasrah.


Vallery menatap Lingga datar. "Terus yang udah terlanjur kamu beli itu mau diapain?"


Lingga diam. Otaknya berpikir keras. Kalau dia mengusulkan untuk dibuang, Vallery jelas akan mengamuk. Toh, mubazir juga, kalau dikasih orang, mau dikasih siapa coba. Febi, istri Gilang belum ada tanda-tanda hamil, ya kali dikasih ke dia. Yang ada bisa ngamuk itu orang.


"Kenapa diem?" Vallery berdecak kesal sambil menyilangkan kedua tangannya, "kan, nggak tahu kan mau dikasih ke siapa? Kalau udah gini gimana solusinya? Ujung-ujungnya aku kan yang harus habisin."


Lingga menerjap senang. "Kamu mau ngehabisin?"


"Mas!!"


Lingga langsung bungkam dan menggeleng. "Iya, nanti aku kasih ke Will," usulnya kemudian.


"Apa?" Vallery melotot tajam ke arah sang suami.

__ADS_1


"Maksud aku biar dia yang bantu ngasih ke siapa gitu, Vallery," koreksi Lingga.


"Kamu tuh pemborosan, Mas." Vallery berdecak sekali lagi, lalu bangkit dari kursi, "kita tuh harus lebih berhemat. Ya, aku tahu kamu mampu mencukupi kehidupan aku sama anak kita dengan baik. Tapi bukankah lebih bagus kalau kita lebih hemat?"


Lingga mengangguk dengan pasrah. Ya, ia memang menyetujui ucapan Vallery. Kalau sudah dalam mode ini, istrinya ini benar-benar tidak terlihat seperti bocah berumur 19 tahun.


"Iya."


"Kamu jangan iya-iya aja ya, Mas," omel Vallery galak, "aku perhatiin kamu tuh borosnya nggak bisa diilangin banget. Terlalu royal, apalagi kalau cuma mau nuruti aku."


"Ya, kan kamu istri aku, Vallery. Aku masih mampu, masa nggak nuruti kemauan istri?" balas Lingga tidak mau kalah.


"Ya, tapi kan nggak harus semuanya sekaligus, bisa dicicil dulu bisa kan? Beliin mana yang kiranya paling dibutuhin dulu."


"Ya, mana aku tahu mana yang paling kamu butuhin, aku kira kamu butuh semua."


Jadi, ceritanya kemarin Vallery sempat mengeluh kalau hair dryernya tidak bisa digunakan, lalu di sore hari saat ia sedang mengerjakan tugas, ia kembali mengeluh kalau laptopnya lemot. Ia hanya mengeluh, tidak bermaksud supaya langsung dibelikan, tapi besoknya Lingga sudah membelikan keduanya. Padahal bisa loh dibawa ke tukang servis dahulu, nanti kalau sudah tidak bisa baru beli yang baru.


Vallery berdecak sebal. "Tahu lah, Mas. Sana kamu turun temenin temen-temen kamu, aku mau tidur." Ia kemudian langsung berbaring di atas ranjang.


"Mereka sudah pulang."


"Tumben?" Vallery mengangkat kepalanya heran. Biasanya kalau sudah pada kumpul mereka suka lupa waktu, kecuali ada emergency call yang membuat mereka harus segera kembali ke rumah sakit. Kalau tidak ada, mereka akan sangat betah mengobrol.


"Aku usir," ketus Lingga dengan ekspresi cemberutnya.


"Sadis amat."


Lingga langsung menatap Vallery. "Kamu tuh yang sadis, masa kita berantem cuma gara-gara susu," gerutunya dengan wajah kesal yang tidak bisa ia sembunyikan.


"Bukan cuma susu ya, Mas, tapi laptop baru dan hairdryer juga."


"Tapi yang itu kemarin kita udah baikan." Lingga cemberut, "cuma perkara salah beli susu aja kamu jadi ngungkit-ngungkit yang udah lalu."


"Ya udah, aku minta maaf."


Lingga tidak merespon, pria itu kemudian memilih untuk langsung keluar kamar, meninggalkan Vallery yang terbengong di atas ranjang.


"Lah, kenapa jadi dia yang ngambek?"


Tbc,


guys, tolong dong bantu koreksi semisal alurnya agak gimana gtu. kok aku agak pusing yaπŸ˜†πŸ™πŸ™πŸ™ˆ mendadak takut ketuker

__ADS_1


__ADS_2