
"Kamu baik-baik saja?"
Lingga melirik Vallery dengan tatapan khawatirnya. Sejak masuk ke dalam mobil gadis itu lebih banyak diam. Dan tentu saja itu membuat Lingga khawatir, ia takut Vallery stress hingga berdampak pada kesehatan bayi mereka atau Vallery sendiri.
"Kenapa?" Vallery menoleh dan malah balik bertanya.
Lingga menghela napas. "Kamu banyak diem, Vallery. Nggak kayak biasa, lagi mikirin apaan sih? Nenek kamu?"
"Banyak," aku Vallery jujur.
"Vallery, kamu sedang hamil. Jangan terlalu banyak pikiran, nanti berpengaruh sama kondisi kamu sama janin kita. Sekarang kamu cerita sama aku. Kamu udah makan? Kita cari makan dulu ya," tawar Lingga yang dijawab Vallery dengan gelengan kepala lemah.
Ekspresi sedih terlihat pada wajah Vallery, sambil menggeleng ia menjawab, "Aku udah makan. Aku pengen ke rumah kamu."
"Ngapain?" Lingga bertanya dengan wajah herannya.
Vallery pura-pura memasang wajah cemberutnya. "Nggak boleh?"
Lingga tertawa karena pertanyaan konyol sang calon istri. "Ya boleh dong, masa nggak boleh. Oke, kita ke rumah aku." Ia akhirnya mengangguk setuju dan menyetir mobilnua menuju rumah.
Begitu sampai di rumah, Lingga menyuruh mandi dan berganti pakaian. Awalnya Vallery menolak dengan alasan karena ia tidak membawa baju ganti. Tapi Lingga akhirnya tetap memaksa karena Vallery baru saja pulang dari rumah sakit, baginya rumah sakit tempat sarang kuman. Dan ia tidak akan rela membiarkan tubuh Vallery yang mungkin sudah terkena kuman rumah sakit tanpa mereka sadari. Berlebihan? Oh, tentu tidak. Baginya ini adalah bentuk kepeduliannya terhadap calon istri dan calon mereka.
Lingga cukup menyesali keputusannya untuk membawa Vallery ke rumahnya, dan menyuruh tunangannya itu untuk mandi sekaligus berganti pakaian menggunakan kemejanya. Dalam hati pria itu mengumpat kasar saat melihat Vallery keluar dari kamarnya, mengenakan kemeja putih miliknya yang mungkin sudah sedikit kekecilan untuknya, tapi tetap saja kedodoran jika dipakai Vallery, yang sialannya itu terlihat sexy di mata Lingga. Ya Tuhan otaknya perlu perlu dicuci sepertinya.
Dengan bertelanjang kaki Vallery menghampiri Lingga dengan bibir ditekuk. "Liat, Mas, aku udah kayak kelelawar tahu pake kemeja kamu," rajuknya sambil memajukan bibirnya. Namun, ia terkekeh geli tak lama setelahnya.
Glek!
__ADS_1
Lingga menelan salivanya dengan gugup. Mendadak ia kehilangan kewarasannya. "Damn, you look so gorgeous, Vallery," gumannya dengan suara serak menahan sisi liarnya, "Vallery, kayaknya kamu harus banget ganti baju kamu sendiri, lalu aku akan mengantarkan kamu pulang," imbuhnya kemudian.
Dengan gerakan buru-buru, Lingga membalikkan badannya agar pikirannya tidak semakin gila. Ia membenci sisi normalnya yang mendadak timbul.
"Aku jelek banget ya pake kemeja mahal kamu?" tanya Vallery terdengar sedih.
Saat ia bercermin tadi, tampilannya memang beda tipis dengan orang-orangan sawah, tapi ia tidak menyangka kalau respon yang Lingga tunjukkan akan seenggan ini untuk menatapnya.
"No, Vallery, justru kebalikannya. Pikiranku sekarang udah kotor banget liat penampilan kamu sekarang. Plis, aku masih pengen jadi calon menantu yang baik buat Papa kamu dan Ayah yang baik untuk anak kita. Aku nggak mau jadi pria brengsek lagi, Vallery. Plis, aku mohon ganti ya," pinta Lingga dengan suara memohon. Ia bahkan tidak berani untuk sekedar melirik Vallery, ia masih pada posisi membelakangi Vallery.
Vallery terkikik geli mendengar pengakuan Lingga. Ide jahil tiba-tiba terlintas di otaknya. Tanpa keraguan ia berjalan mengendap-endap dan memeluk Lingga dari belakang dengan gerakan tiba-tiba. Seketika Lingga langsung mendesis diiringi umpatan pelan.
"Jangan mancing, Vallery! Aku nggak mau kita berakhir di atas ranjang seperti malam itu."
"Kenapa? Bukannya itu terdengar menyenangkan," bisik Vallery semakin gencar menggoda Lingga.
Bukannya merasa terintimidasi, Vallery malah memamerkan senyuman terbaiknya. Hal ini membuat Lingga memajukan wajahnya dan memungut bibir Vallery sejenak.
"Gadis nakal," decak Lingga sambil melepas pungutannya.
Vallery tersenyum kecil. "I'm totally not virgin, Mas, kalau kamu lupa." Lalu tanpa rasa canggung, ia mengalungkan kedua lengannya di leher Lingga dan mencium bibir pria itu.
Lingga langsung menahan Vallery saat gadis itu ingin menghentikan ciuman mereka. Tentu saja ia tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Aku sudah memberimu peringatan, Vallery," bisik Lingga memberi kesempatan Vallery untuk bernapas sejenak, sebelum kembali melanjutkan ciuman mereka.
"Jangan ninggalin jejak," bisik Vallery saat ciuman Lingga turun ke lehernya.
__ADS_1
Detik itu juga Lingga langsung tersadar. Buru-buru ia menjauhkan tubuhnya dari Vallery. "Astaga! Kita abis ngapain, Vallery?" tanyanya panik.
"Make love?" Vallery bertanya dengan nada usil dan kerlingan jahil.
"Astaga, Vallery! Ini nggak bener. Sekarang kamu ganti baju! Aku anterin kamu pulang," perintah Lingga sambil mendorong tubuh Vallery pelan menuju kamarnya, "nggak harusnya aku iya in ajakan kamu buat ke sini," gerutunya kemudian, "di sini banyak setan."
"Maaf, aku khilaf, Mas. Niatnya tadi cuma bercanda nggak tahunya di sini banyak setan. Kepala aku pusing soalnya. Kayaknya aku agak stress deh," keluh Vallery sambil memijit pelipisnya.
"Kamu sakit?" tanya Lingga mulai cemas, "mau ke rumah sakit? Aku anterin? Atau kita telfon Randu?"
Vallery menggeleng lemah. Lingga kemudian menuntunnya menuju ranjang dan duduk di sana. "Keputusan kita untuk nikah bener nggak sih, Mas? Kadang aku mikir--"
"Vallery," panggil Lingga memotong kalimat Vallery, "capek banget, ya?" tanyanya kemudian. Tangannya terulur dan membelai rambut Vallery dengan lembut.
Lingga menatap Vallery penuh perhatian. Ekspresi khawatirnya benar-benar tidak bisa ia sembunyikan. Sambil menghela napas ia kemudian memeluk tubuh ramping Vallery. Sebuah kecupan ringan ia daratkan pada pucuk rambut gadis itu.
"Maaf," bisik Lingga. Perasaan bersalah tiba-tiba menghantuinya. Vallery terlalu muda untuk menanggung semua ini, "nggak seharusnya aku merusak kamu," sesalnya kemudian.
Kali ini Vallery diam, ia hanya memejamkan kedua matanya sembari menikmati semua perlakuan Lingga. Berada di pelukan Lingga seperti ini benar-benar memberi ketenangan baginya.
"Tapi semua ini sudah terjadi, Mas."
Lingga mengangguk setuju. "Kamu benar, maafkan aku." Ia kembali mendaratkan kecupan pada pucuk rambut Vallery.
"Biarkan begini sebentar, ya, Mas. Rasanya aneh, karena aku nyaman begini."
Lingga tidak mengatakan apapun, yang ia lakukan hanya mempererat pelukannya.
__ADS_1
Tbc,