Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
49. Sedang Manis-Manisnya


__ADS_3

****


Lingga menaikan sebelah alisnya heran, saat melihat Vallery kembali dengan muka cemberutnya. Ia menyerahkan tas milik sang istri dan menyuruh perempuan itu duduk.


"Kenapa? Kok mukanya ditekuk gitu?"


Vallery berdecak lalu duduk. "Aku kesel, Mas, sama Ibu-ibu di dapur. Mereka ngegosipin aku sama Tante Riana. Kan nyebelin banget tuh." ia mendesah panjang, "iya, oke, sebagian yang mereka omongin bener. Tapi kan nggak semuanya bener. Ya, aku emang salah, pernah khilaf sampai berujung begini. Tapi kan nggak harus jelek-jelekin Tante Riana, aku tahu kok Tante Riana orang baik. Dia beneran tulus sama Papa aku, tapi dikira mau sama Papa karena berduit. Ah, aku sebel banget." deru napasnya terdengar tidak sabaran, "kalau bukan karena pas lagi acara, udah aku bales pasti omongan mereka. Ngomong kok asal ngejeplak aja."


"Sabar," ucap Lingga dengan ekspresi tenangnya, ia kemudian menyodorkan air mineral dalam bentuk gelasan dan menyuruh Vallery meminumnya agar lebih tenang.


Setelah air minum itu diterima sang istri, Lingga langsung berdiri.


"Mau ke mana?" tanya Vallery cemas. Suaminya ini tidak sedang berpikir untuk menemui ibu-ibu tadi kan?


"Nyari Oma."


"Buat? Ngadu?"


Lingga berdecak. "Ya, bukan, mau pinjem sesuatu kali aja punya." setelah mengatakan itu ia langsung pergi di antara kerumunan tamu.


Vallery hanya mampu menatap punggung sang suami yang kian menjauh. Ia kemudian mengangkat bahunya tidak peduli. Suaminya ini sudah besar, mengarah ke tua, jadi sudah jelas lebih tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Dan tidak seharusnya ia merasa cemas.


Tak berselang lama, Lingga kembali dan membawa kipas. Ia kembali duduk di samping Vallery dan langsung mengipasi sang istri.


Secara spontan Vallery tertawa. "Dapet dari mana ini?"


Emosinya kini berhasil menguap, digantikan hawa sejuk dari kipas. Karena perhatian manis dari Lingga.


"Minjem Oma. Biar kamu nggak makin emosi dan gerah."


"Ya ampun, so sweet banget sih suaminya aku." Vallery terkikik geli sambil mengelus perutnya, "ya ampun, sayang, Papa kamu perhatian banget sama Mama. Mama jadi terharu."


Lingga tersenyum lalu ikut mengelus perut Vallery. "Yang penting kamu bahagia. Meski mereka ngomongin keburukan kita, kan kita masih punya dua tangan untuk menutup kedua telinga kita biar nggak usah dengerin mereka. Kan, ya, kita nggak bisa, Vallery, nyuruh mereka ngomongin kebaikan kita aja."


"Tapi aku udah terlanjur denger dan kesel, Mas," keluh Vallery.


"Ya, nggak usah diinget kalau gitu."


Vallery mendengus. "Gampang banget kamu ngomong, Mas. Maunya aku juga begitu, nggak usah inget-inget omongan mereka, tapi keinget sendiri." ia mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ya udah gini aja, dibanding mikirin omongan mereka yang belum tentu benarnya itu. Mending mikirin aku," goda Lingga sambil memainkan kedua alinya naik-turun.


Detik berikutnya, Vallery langsung membuat ekspresi mau muntah. "Ya ampun, Mas, mau muntah aku rasanya."


"Astagfirullah, jahatnya, masa sama suami sendiri begitu?"


Vallery hanya terbahak setelahnya.


***


Vallery menggeliat saat merasakan tepukan pelan pada pantatnya, susah payah ia mengumpulkan nyawa. Namun, tetap masih enggan untuk membuka mata. Sampai akhirnya suara Lingga menyapa gendang telinganya.


"Sayang, ayo bangun salat subuh dulu! Nanti disambung lagi tidurnya."


Sayang? Secara spontan Vallery membuka kedua matanya dan menemukan Lingga dengan wajah tersenyum.


"Ayo, bangun! Salat subuh, Vallery."


Oh, ternyata Vallery salah dengar. Tanpa berpikir panjang, ia kembali memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Astaga, kok malah tidur lagi." Lingga berdecak tidak sabaran sambil menepuk pantat Vallery, "sayang, bangun! Kamu denger aku nggak sih?" Ia mulai kehilangan kesabarannya, "kamu perlu mandi junub dulu, sayang. Buruan bangun! Atau aku seret, ya," ancamnya kemudian, "jadi bumil nggak boleh mager. Abis ini kita jalan pagi."


Kali ini Vallery tidak peduli, yang ia lakukan malah membenarkan selimutnya yang tadi sempat tertarik Lingga.


"Bentar, Mas, aku masih ngantuk," keluh Vallery sambil merubah posisi berbaringnya jadi membelakangi sang suami, "lagian aku ngantuk dan susah bangun begini karena siapa coba? Gara-gara kamu, Mas. Coba kalau kamu nggak minta nambah, nggak bakal begini pasti."


"Iya, maaf, tapi bangun dulu dong. Kan bangun buat ibadah, sayang. Nggak boleh begitu, ah, nggak baik. Ayo, bangun dulu! Ya udah deh, nanti abis subuhan langsung tidur lagi aja kalau kamu emang beneran capek banget gini." Lingga mengelus pucuk rambut sang istri lalu mengecupnya singkat. Hal ini  secara ajaib langsung membuat Vallery terbangun dari posisi berbaringnya.


Lingga terkekeh melihat sikap Vallery. "Oh, jadi ini ya, trik yang biar kamu cepet bangun," godanya kemudian.


Vallery melotot tak suka, sambil menarik selimutnya hingga mencapai batas dada. "Mas, kamu sadar nggak sih pagi ini aneh banget? Nggak biasanya begini loh?"


"Kenapa? Aku cuma sedang menjalankan peran suami yang baik."


"Tapi biasanya nggak begini, kamu jadi aneh tahu. Serem! Kamu nggak minta nambah kan nanti siang?"


Lingga menggeleng. "Enggak, nanti malem aja."


Vallery memasang wajah bingungnya. "Hah? Bukannya sore kita pulang?"


Dengan wajah santainya Lingga menggeleng. "Enggak, besok kita pulangnya."


"Kenapa mendadak berubah?"


"Karena aku belum puas," bisik Lingga dengan suara seraknya.


Vallery mendengus. "Kan bisa nanti dilanjut di rumah, Mas."


Lingga mengusap tengkuknya dan kembali berbisik, "Sensansinya beda." ia kemudian tertawa saat melihat ekspresi Vallery yang kembali mendengus, "udah sana, buruan mandi! Nanti keburu siang."


Vallery mengangguk setuju. "Tapi kamu merem dulu, Mas. Aku malu kalau kamu lihat."


Lingga tertawa. "Kenapa? Kan aku juga sudah lihat semua."


Sambi terkekeh, Lingga akhirnya menurut. "Udah. Sana buruan mandi!"


"Nggak boleh ngintip."


"Iya."


Lingga hanya terkekeh saat mengintip punggung polos sang istri sambil menggeleng tidak habis pikir. Kenapa pula Vallery harus merasa malu saat keduanya sudah cukup sering melihat tubuh telanjang masing-masing. Ada-ada saja. Batinnya tidak habis pikir.


"Mas, aku bilang nggak boleh ngintip!"


Buru-buru Lingga kembali menutup kedua matanya rapat-rapat lalu membalas, "Enggak! Udah buruan kamu masuk ke kamar mandi."


Vallery tiba-tiba berdecak. "Tuh kan, kamu tahu aku belum masuk ke kamar mandi. Pasti ngintip tuh," tuduhnya kemudian.


"Nggak papa, ngintip istri sendiri ini, bukan istri orang," balas Lingga santai.


"Ah, dasar nyebelin," decak Vallery kesal.


"Iya, aku sayang kamu juga, sayang," balas Lingga tidak nyambung.


"Bukannya terharu atau berbunga-bunga, kok gue malah ngerasa ngeri ya kalau itu Om-om panggil-panggil sayang," guman Vallery langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah mendengar suara pintu kamar mandi tertutup, barulah Lingga benar-benar membuka matanya. Ia kemudian segera bergegas untuk berganti pakaian. Tak lama setelahnya, Vallery keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang membungkus kepalanya. Ia terlihat heran saat melihat Lingga sudah berganti pakaian. Baju koko dan sarungnya kini sudah berganti dengan kaos polos berwarna hitam dan celana boxernya.


"Mas, kamu udah subuhan?"

__ADS_1


Dengan wajah santainya, Lingga mengangguk.


"Tega kamu ninggalin aku? Mas kamu itu imam rumah tangga aku, harusnya kamu imamin aku dong, bukannya ditinggal begini." Dengan wajah cemberutnya, Vallery berkacak pinggang, "masa sama istri gitu? Begitu kamu bilang sayang dan cinta sama aku?"


"Aku udah usaha bangunin kamu, tapi kamu susah. Jadi daripada aku telat juga salatnya, mending aku salat duluan terus coba bangun kamu lagi. Begitu, susah banget tahu kamu itu kalau dibangunin," keluh Lingga membeberkan fakta sesungguhnya, "udah, buruan sana ganti baju terus salat!" perintahnya kemudian. "Aku mau ke toilet bentar." ia kemudian meletakkan ponselnya dan berlari kecil ke kamar mandi. Kalau dilihat dari gelagatnya sih, sepertinya Lingga sedang kebelet.


Tak ingin membuang waktu, Vallery kemudian bergegas untuk menunaikan ibadah salat subuhnya.


###


Saat Lingga keluar dari kamar mandi, Vallery sudah selesai salat, perempuan itu tampak sedang memainkan ponselnya dengan posisi bersandar menggunakan bantal. Sambil tersenyum saat melihatnya, dan tanpa berpikir panjang, ia langsung menghampiri sang istri dan berbaring di sana. Ia menggunakan paha Vallery sebagai bantalnya, dan tubuh Vallery sebagai gulingnya untuk dipeluknya.


"Wanginya istriku," puji Lingga sambil mengendus aroma tubuh Vallery, kecupan ringan ia berikan pada perut sang istri setelahnya.


Dengan wajah datarnya, seolah tidak memperdulikan apa yang Lingga menyahut, "Enggak, ya, Mas. Aku capek, nanti siang aku mau jalan-jalan, jangan bikin aku nggak bisa kemana-mana. Tidur aja udah, mumpung masih pagi!"


Linga terkekeh saat Vallery paham dengan kode yang ia sebar. Namun, ia tetap berkilah seolah memang tidak menginginkannya. "Enggak, ya, apaan, orang aku cuma mau ngobrol sama anak aku. Kamu itu kali yang mau nambah," ia tiba-tiba mencibir, "tadi katanya capek, tapi udah pengen aja."


"Sebahagia kamu, Mas," balas Vallery cuek dan sibuk menscroll beranda Instagram-nya.


"Serius? Aku main bentar, ya?" Ekspresi Lingga terlihat penuh harap.


Masih dengan wajah datar, Vallery mengangguk. Hal ini langsung membuat Lingga bangun dari posisi berbaringnya.


"Serius boleh?"


Vallery mengangguk. "Iya, tapi main 'solo' di kamar mandi, Mas," kedipnya sambil menepuk pipi Lingga pelan.


Ekspresi langsung berubah masam. "Dasar php," rajuknya kemudian kembali berbaring di atas paha sang istri.


Vallery terkekeh sambil mengelus rambut sang suami, ponselnya sudah ia letakkan di atas meja. Fokusnya kini sepenuhnya pada sang suami. "Emang belum puas yang semalem, Mas?"


"Bukan masalah udah puas atau belum, Vallery."


"Terus?"


Lingga menahan senyumnya. "Pengen lagi aja gitu, soalnya nanti kalau kita balik ke Jakarta kamu pasti sibuk sama tugas kuliah kamu, aku sama kerjaan aku. Nggak bisa begini sampai puas."


"Bisa kok, asal kamu mau luangin waktu kamu. Jangan terlalu sibuk sama kerjaan terus, Mas, anak istrimu juga perlu diperhatiin."


"Ini juga lagi diperhatiin," ucap Lingga sambil memeluk pinggang Vallery, "sayang," panggilnya kemudian, nada suaranya tiba-tiba memberat terdengar seperti sedang menahan sesuatu.


"Hmm," respon Vallery belum terlalu menyadari perubahan suara sang suami.


"Sekali aja, ya," bisik Lingga sambil mengelus punggung Vallery dengan gerakan menggoda, "kamu nggak pake bra, Vallery. Tandanya kamu siap."


"Siapa yang bikin teori begitu?"


Lingga mengangkat kedua bahunya tidak peduli. "Siapa yang peduli dengan hal itu? Udah nggak tahan ini, bentaran doang, janji ngga akan lama."


Kabut gairah terlihat sudah menyelimuti diri Lingga. Pria itu terlihat begitu frustasi karena Vallery tidak kunjung membantunya melepaskan gairahnya. Kedua tangannya sudah bersiap mengangkat piama Vallery, namun belum ia lakukan karena belum mendapat restu dari sang pemilik.


"Tapi kita baru selesai mandi, aku males kalau nanti harus mandi keramas lagi. Belum harus keringin rambut dulu, ribet, ah. Males."


Lingga mendesah mendesah frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri. "Nolak melayani suami termasuk dosa loh, Vallery. Lagian kamu tega liat aku begini?"


Vallery meringis sambil melirik bagian bawah sang suami. Susah payah ia menelan salivanya sendiri, dalam hati ia menggumpat kesal. Kenapa dirinya ikut bergairah hanya karena 'melihatnya'.


"Ya, udah, ayo! Daripada dosa." Vallery menyerah pasrah sambil mengangkat piyamanya, namun ditahan Lingga.

__ADS_1


"Biar aku saja. Kamu tinggal menikmatinya," kedip Lingga sambil menidurkan Vallery.


Tbc,


__ADS_2