Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
80. Hanya Mimpi atau Memang Firasat?


__ADS_3

****


Lingga baru saja keluar dari kamar mandi dan menyelesaikan hajatnya. Niatnya, ia ingin segera kembali tidur. Namun, hal itu urung ia lakukan karena saat ia hendak merebahkan tubuhnya, ia menyadari ada yang berbeda dari tidur sang istri. Vallery tampak gelisah dalam tidurnya, keringat sebesar biji jagung terlihat pada dahi dan pelipisnya.


Buru-buru ia meletakkan telapak tangannya pada orang Lo dahi Vallery, untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Tidak panas." Lingga bergumam pelan saat menyadari suhu tubuh Vallery yang tergolong normal. Berarti kemungkinan Vallery sedang bermimpi buruk, buru-buru ia membangunkan sang istri.


"Vallery, sayang, bangun dulu! Hei, Vallery! Sayang!"


Lingga menggoyangkan pundak Vallery dengan perasaan cemas, karena perempuan itu tak kunjung bangun dari tidurnya. Kalau diperhatikan dari wajahnya saat ini, sang istri terlihat begitu tersiksa di dalam mimpinya. Hal ini membuatnya tidak tega.


"Vallery, sayang, bangun! Hei, Vallery, ayo bangun dulu!"


Kali ini Lingga beralih menepuk kedua pipi Vallery dengan suara pelan.


"Sayang, Vallery, ayo bangun dulu! Hei!"


Berhasil. Vallery akhirnya terbangun dengan napas yang terdengar ngos-ngosan. Rambutnya acak-acakan dan keringat dingin nampak membasahi wajahnya.


"Ya ampun, kamu abis mimpi buruk, sayang?" tanya Lingga penuh dengan lembut, ia langsung merapikan rambut Vallery dengan cekatan, "abis mimpi apa kamu?"


"Saka, Mas."


"Saka kenapa?"


"Aku mimpi buruk tentang dia. Aku nggak mau kehilangan dia. Aku takut, Mas."


Tes!


Air mata Vallery seketika langsung jatuh. Dengan gerakan sigap, Lingga langsung mengusapnya menggunakan ibu jarinya. Tanpa berkata apapun terlebih dahulu, ia langsung memeluk Vallery.


"Ssst, nggak papa, Saka baik-baik saja, sayang. Itu tadi cuma mimpi. Dia anak yang hebat, kamu tahu sendiri kan gimana perjuangan dia selama ini? Jadi kamu nggak perlu takut. Dia nggak akan tega ninggalin kita, karena kita sayang Saka." Lingga kemudian mengurai pelukannya, "jangan khawatir. Itu semua cuma mimpi. Sekarang tidur lagi ya?" bujuknya kemudian.


Vallery menggeleng cepat. "Aku nggak bisa kembali tidur sebelum tahu kondisi Saka, Mas. Telfonin dokter Randu dan suruh dia pastiin kondisi Saka emang baik-baik saja."


"Hei, sayang, kamu tenang dulu dong." Lingga kemudian meraih kedua pipi Vallery dan berusaha menyadarkan sang istri agar tidak terlalu panik, "ini udah dini hari, Vallery, Randu belum tentu dapet shift juga loh malem hari ini. Jadi semisal kita telfon dia, kita belum bisa tahu kondisi Saka."


"Telfon pihak rumah sakit langsung kalau gitu."


"Vallery, itu cuma mimpi. Mimpi itu cuma bunga tidur kamu mengerti? Kamu tenang dulu!"


Vallery menggeleng tegas. "Aku nggak bisa tenang sebelum tahu kondisi Saka sekarang, Mas. Tolong telfon seseorang untuk memastikan kondisi Saka. Aku takut." ia menangis sesegukan, perasaannya gelisah saat mengingat kembali mimpinya barusan.


Lingga mendesah panjang. "Ya udah, aku coba telfon Randu. Semoga dia pas dapet jaga malam, ya." ia kemudian meraih ponselnya yang sedang dicharger. Mencari kontak Randu dan langsung menghubunginya.


Beruntung panggilannya langsung terjawab.


"Ya, Ga, kenapa nelfon malem-malem gini? Ada urgent?"


"Sorry, Ndu, ganggu malem-malem. Lo lagi jaga malem nggak?"


"Iya, nggak papa, Ga. Kebetulan gue dapet shift jaga malem, kenapa?"


Lingga menoleh ke arah Vallery yang kini tengah menatapnya harap-harap cemas. Helaan napas pendek terdengar setelahnya. Jujur, ia sedikit tidak enak karena meminta bantuan tengah malam begini. Apalagi Randu sudah begitu sering membantunya.

__ADS_1


"Anu... itu... lo bisa nggak kira-kira ke NICU sekarang?"


"Hah? Ngapain?" Nada suara kaget sekaligus bingung terdengar dari seberang.


"Vallery baru aja ngimpi. Gue juga nggak tahu pasti dia abis ngimpi apa, cuma dia kayak orang ketakutan campur khawatir gitu. Gue ini jadinya ikut khawatir, Ndu. Lo kira-kira punya akses masuk ke sana nggak jam segini?"


"Oalah, ya ampun, gue kira kenapa. Iya, gue abis ini coba deh cek ke sana. Tapi nanti dulu, ya, gue mau cek pembukaan pasien gue dulu. Tadi ada wali yang abis laporan, dan kebetulan gue sendirian, dokter residen gue lagi turun ke IGD. Semoga aja belum pembukaan lengkap, tapi kalau pembukaan lengkap gue urus persalinan dulu nggak papa kan?"


Lingga mengangguk meski ia tahu kalau Randu tidak dapat melihat anggukannya. "Iya, nggak papa. Pasien lo lebih penting, urusan Vallery nanti tinggal gue tenangin. Sorry, ya, gue minta tolong malem-malem gini. Duh, gue jadi nggak enak sama lo karena udah sering banget minta tolong begini."


"Halah, kayak sama siapa aja, Ga. Santai aja. Tapi kalau emang lo ngerasa nggak enak karena minta tolong mulu, ya, gampang aja sih urusan sama gue. Tinggal beliin gue sepatu baru buat gue, yang kayak apa selera gue, lo paling tahu lah. Masih apal kan lo ukuran sepatu gue?"


Lingga terkekeh samar. "Iya, gampang nanti gue beliin. Gue beliin yang harga merakyat ya?"


"Ya, terserah deh, yang penting asli. Enggak suka gue barang KW. Enggak nyaman dipake soalnya, kapok gue beli yang gituan. Niat mau ngirit malah kerasa kelilit."


"Ya ntar deh, gampang, tapi gue diskusi sama bini dulu, ya? Duit berdua sekarang, Ndu."


"Rebes. Udah, ya, gue tutup, nanti gue kabarin secepatnya."


"Iya, thanks ya sekali lagi."


"Yoi."


Klik. Sambungan terputus. Lingga kemudian meletakkan ponselnya di atas meja dan mendekati Vallery yang terlihat masih gelisah.


"Aku bikinin teh, ya?" tawar Lingga kemudian, tanpa menunggu jawaban pasti dari Vallery, Lingga segera turun dari ranjang dan keluar kamar.


Dengan langkah terburu-buru, ia menuruni anak tangga menuju dapur. Begitu sampai di sana ia segera membuatkan teh untuk Vallery, setelah siap, ia segera kembali ke kamar.


Meski awalnya menolak, Vallery akhirnya menerima cangkir itu atas desakan Lingga. Ia menyesap tehnya sedikit lalu mengembalikannya pada Lingga kembali.


"Udah, Mas."


"Udah enakan?"


Vallery mengangguk. Lingga kemudian naik ke atas ranjang dan memeluk sang istri.


"Udah, nggak papa, kita tunggu kabar dari Randu, ya? Dia masih harus periksa pasien soalnya. Percaya sama aku, Saka pasti baik-baik saja."


Vallery mengangguk sambil mengeratkan pelukannya. Batinnya masih diselimuti kegelisahan. Khawatir dan cemas jadi satu.


"Semoga aja."


"Dicoba tidur lagi ya?" bujuk Lingga.


Vallery menggeleng tanda tidak setuju.


"Aku temenin, tidurnya sama nyender di aku deh," sarannya kemudian, "besok kamu ada kelas pagi kan?"


Vallery mengangguk.


"Dicoba tidur lagi ya? Biar besok kamunya nggak ngantuk di kelas?"


Vallery menatap Lingga intens, ia dapat melihat pancaran kekhawatiran dari kedua bola mata sang suami. Hal ini membuat Vallery akhirnya mau tidak mau mengangguk setuju.

__ADS_1


Lingga tersenyum lega lalu mengurai pelukannya. "Bentar, aku benerin dulu bantalnya." ia segera menata bantal untuk sandarannya. Setelah dirasa sudah membuatnya nyaman, ia kemudian menyandarkan punggungnya pada bantal dan segera membawa Vallery ke dalam pelukannya, "berdoa dulu sebelum tidur," bisiknya sambil membenarkan selimut mereka.


Vallery mengangguk setuju dan mulai memejamkan kedua matanya, sambil membaca doa sebelum tidur. Meski sulit, ia berusaha untuk kembali menuju alam mimpi.


"Aku takut, Mas," bisik Vallery sambil mengeratkan pelukannya, detik berikutnya Lingga dapat merasakan dadanya basah oleh rembesan air mata sang istri. Tak butuh waktu lama lagi, istrinya itu menangis sesegukan, "aku mimpi Saka ninggalin kita, Mas. Aku nggak mau, aku sayang banget sama dia. Aku nggak mau kehilangan dia."


"Ssst, nggak usah diinget-inget lagi. Itu kan cuma mimpi, kan kita tiap hari ke rumah sakit, kita tahu banget kondisi dia yang kian hari kian menunjukkan perkembangan yang bagus. Bahkan untuk kategori bayi prematur 6 bulan, perkembangan Saka pesat banget, sayang, kamu tahu kan itu artinya putra kita kuat?"


"Tapi mimpi tadi tuh kayak nyata banget, Mas. Aku nggak siap kalau harus kehilangan dia."


"Udah, aku bilang tidur, sayang."


Vallery menggeleng. "Susah, Mas, tiap aku nutup mata, rasanya bayangan mimpi itu seolah kayak kejadian lagi. Aku takut."


Lingga mengeratkan pelukannya. "Ya udah, jangan tidur kalau gitu."


Vallery langsung mengangguk setuju. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi lewat lima belas menit. Keduanya tidak ada yang memejamkan mata, namun sama-sama diam. Seolah larut dalam pikiran masing-masing.


Menunggu kabar dari Randu dalam keheningan malam. Sampai akhirnya sekitar pukul setengah tiga dini hari ponsel Lingga terlihat berkedip. Sambil mengendurkan pelukannya ia meraih ponselnya.


"Gimana, Ndu? Lo udah cek?"


"Sorry, Ga, baru ngabarin. Tadi gue langsung ke IGD dulu begitu cek pasien. Kondisinya agak serius jadi gue harus turun tangan, ini aja gue udah di depan ruang OK, siap-siap mau operasi. Tapi tadi gue udah minta tolong sama salah satu dek koas gue yang sekarang ada di stase anak buat ngecekin. Dan alhamdulillah kondisinya baik-baik aja kok, dia tadi juga gue suruh ambil foto. Nanti gue kirim abis ini. Nanti kalau gue udah agak luang gue langsung ke NICU buat pastiin sendiri. Enggak papa kan?"


"Iya, nggak papa. Thanks banget ya, gue udah ngerepotin kalian."


"It's okay, Ga, selagi masih bisa gue bantu. Kenapa enggak?" terdengar suara gemrusuk, "eh, udah dulu, ya. Gue nggak bisa lama-lama, gue harus siap-siap. Udah ditungguin nih pasti."


"Hm. Sekali lagi thanks, Ga."


"Halah, borong thanks banget lo seharian ini. Heran gue. Iya-iya, udah langsung gue tutup."


Klik.


Tut Tut Tut. Sambungan langsung terputus, tak lama setelahnya sebuah pesan masuk. Buru-buru Lingga membukanya.


Randu : send a picture


Lingga kemudian menyodorkan ponselnya pada Vallery. "Dia baik-baik saja."


"Alhamdulillah, aku lega, Mas."


"Kan aku bilang juga apa, itu cuma mimpi, sayang. Udah ya, sekarang kita tidur lagi?" bujuk Lingga.


Kali ini dengan patuh, Vallery mengangguk setuju.


"Udah, nggak usah mikir yang macem-macem! Bismilah aja, semoga semua baik-baik saja." Lingga kemudian mengecup pucuk rambut sang istri dan segera membenarkan posisi berbaringnya agar lebih nyaman.


"Jangan lupa baca doa dulu sebelum tidur," bisiknya sekali lagi.


Tbc,


huaaa, sedih bgt aku tuh karena sekarang susah bgt klo mau up mlm, padahl udh mau fokus ngetik, tapi tetep aja ketiduran😭😭😭😭


maaf ya gaesπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2