
*****
"Ya ampun, kalian ini kok baru dateng sih? Dari mana aja?" omel Lidiya menyambut putra sulung dan menantunya.
Vallery meringis tidak enak lalu meminta maaf sambil mencium punggung tangan sang mertua.
Di sampingnya Lingga langsung menyahut dengan nada santai. "Ibu kayak nggak tahu aja perempuan kalau dandan lama. Dika udah sampai?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, lagi di ruang tengah sama Ayahmu. Sana kalian temui Ayahmu dulu. Ibu mau ke dapur lanjut masaknya. Valle, kalau udah selesai nemuin Ayahmu langsung nyusul ibu ke dapur ya?"
Vallery langsung mengangguk patuh. "Iya, Bu."
"Jenny ikut juga?"
"Tadinya, tapi cuma sebentar. Sekarang udah pergi lagi. Biasanya adik iparmu kan sibuknya ngalahin Ayahmu."
"Arvin?"
"Ya, di ruang tengah juga. Paling juga lagi main lego," ucap Lidiya sebelum bergegas menuju dapur.
Lingga mengangguk paham lalu mengajak Vallery untuk segera menemui Ayah mereka. Saat mereka sampai di ruang tengah, Dika tampak mengobrol dengan sang Ayah. Sedangkan Arvin terlihat sibuk bermain lego, sesuai dugaan sang ibu.
"Kok baru nyampe? Abis mampir ke RS nengokin Saka dulu?" sapa Dika saat pria itu menyadari Vallery dan Lingga memasuki ruang tengah.
Lingga menggeleng lalu duduk di salah satu sofa yang kosong. "Dari rumah kok."
Vallery langsung menghampiri sang mertua dan mencium punggung tangannya. Ia kemudian memberikan bingkisan kepada sang mertua.
"Ya ampun, kenapa bawa kado segala? Udah tua juga. Tapi makasih ya, harusnya nggak usah loh."
Vallery tersenyum. "Enggak papa, Yah. Sesekali."
"Vin, Arvin, taroh dulu itu legonya, Nak. Sini salim dulu sama Pakdhe sama Budhe!"
Mendengar perintah sang Papa, Arvin, bocah berumur sebentar lagi berumur 8 tahun itu segera bangun dan meninggalkan mainannya. Berlari kecil menghampiri Vallery dan Lingga.
"Budhe, main sama Arvin, yuk!" ajak Arvin setelah selesai bersalaman dengan Lingga dan Vallery secara bergantian.
"Nanti, ya, Budhe mau bantuin Uti kamu dulu di dapur. Nanti begitu selesai Budhe langsung ke sini, kita main bareng. Oke?"
Meski ekspresinya terlihat kecewa dan sedih, Arvin pada akhirnya tetap mengangguk pasrah. "Janji, ya, nanti main sama Arvin?"
Vallery tersenyum sambil mengacungkan jari kelingkingnya. "Janji," ucapnya sambil mengangguk yakin. Ia mengelus rambut sang keponakan dengan perasaan gemas.
Terkadang terselip juga perasaan sedih dalam dirinya, saat mengingat putranya masih harus berjuang sendirian di rumah sakit tanpa kehadirannya. Perasaan bersalah pun tak jarang timbul.
Lingga kemudian mendekat ke arah Arvin. "Main sama Pakdhe dulu, yuk," tawarnya kemudian.
"Tuh, Pakdhe ngajakin main. Kamu mau enggak?"
Arvin langsung menoleh ke arah Lingga. "Emang Pakdhe bisa?"
"Bisa dong," sahut Vallery, Lingga hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Kan game yang biasanya kamu mainin yang bikin Pakdhe, Vin." Dika ikut menyahut tak lama setelahnya.
"Tapi kan beda, Pa, Pakde bisanya bikin game gituan. Main ginian mana bisa?"
Arvin terlihat meragukan kemampuan Lingga. Ia berdecak samar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, tidak setuju dengan ide Lingga yang ingin menemani bermain dengannya.
"Dicoba dulu, kalau nggak dicoba mana tahu kan?" bujuk Vallery.
Arvin mengusap dagunya, seolah sedang berpikir serius. Sesekali ia melirik Lingga dan Vallery secara bergantian. Sampai akhirnya, ia mengangguk pasrah.
"Ya udah, oke. Tapi awasnya kalau nanti Pakde nggak bisa."
"Kenapa kalau Pakde nggak bisa?" tantang Lingga.
Arvin berpikir sebentar lalu menggeleng dengan polos. "Ya, enggak kenapa-kenapa juga sih. Cuma pokoknya nanti Pakde bantuin susun legonya, ya, nggak boleh minta diajarin."
__ADS_1
"Berarti nanti kamu juga nggak boleh minta diajarin kalau semisal nggak bisa?"
"Ya, enggak bisa dong. Kan Arvin masih anak kecil, Pakde udah besar."
Melihat Arvin yang sudah asik bercengkrama dengan Lingga, Vallery kemudian memutuskan untuk segera ke dapur sebelum Ibu mertuanya itu mengomel.
"Kok kamu curang?" protes Lingga pura-pura tidak terima.
Mendengar aksi protes Lingga, Arvin langsung mengomel. "Tuh, belum mulai main aja udah protes duluan. Arvin main sendiri aja lah, Pakde nggak asik kalau diajak main."
"Jadi Pakde nggak boleh ikut main nih?"
"Enggak, Pakde mending main sama Papa sama Kakung aja. Biar Arvin main sendiri."
Lingga lantas langsung berdiri. "Ya, udah kalau gitu kalau nggak dibolehin main." ia terkekeh sambil mengacak rambut Arvin gemas. Membuat bocah itu langsung menjerit kesal. "Pakde!"
"Makin cerewet aja dia. Nggak kayak Mamanya," komentar Lingga langsung duduk di sebelah Dika.
"Mirip gue soalnya, Mas."
"Belum ada rencana kasih adek buat Arvin, Ka? Dia minggu depan udah 8 tahun kan?"
Dika menggeleng sambil menyesap kopinya. "Mama-nya masih terikat kontrak sama agensi, Mas, jadi kita belum ada rencana buat nambah. Nanti lah."
"Dia tadi ikut ke sini kata Ibu? Kemana sekarang?"
"Bandara. Ada pemotretan di Bali."
"Gue perhatiin, Jenny sering ambil job ke luar kota deh, Ka. Lo nggak masalah?"
Dika meletakkan cangkirnya dan kembali menggeleng santai. Ia sangat mendukung profesi istrinya sebagai seorang model. Dan ia mempercayai istrinya, jadi kenapa itu harus jadi masalah. Toh, kalau istrinya punya karier bagus, ia ikut merasakan dampak positifnya juga. Jadi, ia tidak keberatan.
"Gue sepenuhnya dukung karir dia, Mas."
"Suruh kurang-kurangin lah, nggak khawatir lo kalau dia nanti malah keasikan sama dunia modelingnya dan nggak mau hamil lagi?"
"Lingga bener, Ka, kenapa nggak kamu suruh istrimu ngurangin job pemotretannya sih? Emang kalian butuh uang banget gitu sampai kamu ngebiarin dia kerja kesana kemari seolah lupa waktu." Tak lama setelahnya, Bayu ikut menyahut, "emang nggak mau punya anak lagi kamu?"
"Terus mau sampai kapan kalian nunda buat nambah momongan? Mau nunggu Arvin segede apa? Dia udah umurnya punya adek loh, Ka, coba deh kamu mulai ajak diskusi istrimu soal ini. Pelan-pelan aja gitu ngomongnya, atau minimal bikin plan-nya dulu kan nggak papa."
"Ayah bener, Ka, minimal diskusiin deh. Gue aja udah diskusi soal adik Saka nantinya."
"Ya, gimana ya, Mas, Jenny bener-bener lagi menikmati kesibukannya lagi jadi model, terus Arvin juga selama ini belum pernah minta adek ke kita. Gue juga kadang masih kayak kewalahan gitu loh cuma punya anak satu, gimana dua. Jadi, ya, kita nggak pernah bahas soal ini lagi karena emang kita bertiga udah sama-sama nyaman saat ini," ujar Dika menjelaskan.
"Padahal Ayah berharap punya banyak Cucu dari kalian," kekeh Bayu dengan nada bercanda.
"Tenang, Yah, kan masih ada Lingga sama Vallery. Lingga juga ada rencana punya banyak anak."
"Mau langsung gaspol nambah nih kalau Saka udah sehat dan gede?"
Tanpa keraguan, Lingga langsung mengangguk
"Iya, rencana gue sih paling lama jarak umur antara Saka sama adeknya dua atau tiga tahun sih."
"Buset, lo mau gaspol, Mas? Vallery masih kuliah loh, nggak nunggu dia lulus dulu? Nggak kasian lo?" Dika langsung berseru heboh sambil geleng-geleng tidak percaya, mendengar pengakuan sang Kakak.
"Ya, gimana gue maunya emang jarak umur mereka nggak terlalu jauh, Ka."
"Terus Vallery setuju?"
Lingga menggeleng. "Ya, belum sih kalau sekarang, kan kondisi Saka meski udah nunjukin progress yang bagus, tapi kan masih butuh perawatan intensif di rumah sakit."
"Tapi menurut gue kasian loh, Mas, Vallery masih muda. Dia perlu menikmati masa mudanya dulu, apalagi kalian dulu menikah karena kecelakaan. Masa lo tega mau nyuruh dia ngurusin anak-anak lo. Jangan gitu lah, kasian."
"Dika bener, Ga, jangan terlalu terburu-buru. Nikmati waktu bertiga dulu lah nanti, kasian kalau Vallery harus jadi ngurusin Saka, kuliah, terus hamil lagi. Tega kamu?" Bayu menggeleng tegas, "kalau Ayah nggak tega. Jangan mentingin pengennya kamu doang, kayak yang dibilang Dika tadi, kan nanti yang hamil istrimu. Kamu mah enak cuma nitip benih doang, yang bawa kemana-mana siapa? Istrimu kan?"
Dika langsung terbahak puas mendengar ekspresi murung Lingga. "Tuh, dengerin apa kata Ayah, Mas. Jangan mau enaknya doang."
"Iya," sahut Lingga seadanya.
__ADS_1
"Jangan cuma iya-iya doang, Mas."
****
"Gimana, Valle, kamu udah bisa masak apa aja sejauh ini?" tanya Lidiya sambil menumis bumbu.
Di sampingnya, Vallery sedang memotong sayuran. "Ya, masih yang simple, Bu, belum yang susah-susah banget. Masih perlu banyak belajar."
"Ya, enggak papa, pelan-pelan aja dulu. Dulu ibu juga nggak bisa masak kok, sama kayak kamu begini. Nggak bisa bedain juga ketumbar sama merica dan bumbu dapur lainnya, tapi Uti-nya Lingga yang ngajarin. Kalau kamu enak udah tinggal sendiri sama suami kamu, kalau Ibu dulu, tinggalnya sama mertua. Kebayang lah gimana menderitanya ibu dulu, nggak tahu bumbu, bahasa Indonesia Ibu juga dulu masih kurang lancar. Tapi untungnya Uti-nya Lingga baik, meski kadang cerewet, beliau selalu baik kalau ngajarin ini-itu. Ngomel sih emang kadang, cuma niatnya baik."
"Kamu kalau denger Ibu ngomel bukan karena Ibu nggak sayang atau nggak suka kamu, cuma emang kebiasaan kalau udah jadi ibu tuh bawaannya pengen ngomel. Nanti kalau Saka sudah besar kamu pasti paham."
Vallery mengangguk paham sambil tersenyum mendengar nasehat dari sang mertua.
"Kuliah lancar kan?"
"Alhamdulillah, lancar, Bu. Meski ikut beberapa kelas tambahan tapi kuliah masih jadi prioritas."
Lidiya mengangguk setuju. "Iya, bener, prioritasin dulu kuliah kamu, mumpung Saka belum kamu sendiri yang ngurus. Soalnya nanti begitu dia boleh pulang, kamu ibu yakin kamu harus ambil cuti biar lebih fokus ngurusin dia dulu. Apalagi kan kondisi Saka agak spesial, jadi butuh perawatan ekstra."
"Tenang saja, nanti ibu bakal bantuin kalian. Kalau Saka sudah boleh pulang, ibu bakal pindah ke rumah kalian. Ya, mungkin kamu bakal kurang nyaman sama keberadaan ibu nantinya, tapi ini demi kebaikan kalian." setelah mengungkep ayam, Lidiya beralih membuat bumbu sayur sop, "ibu bilang begini bukan karena ibu nggak percaya sama kamu. Tapi karena ini anak pertama kalian, jadi kalian pasti belum ada pengalaman. Makanya ibu nawarin bantuan, daripada nyari pengasuh kan buat bantuin. Mending ibu sendiri yang bantuin kalian."
"Iya, nggak papa, Bu. Makasih atas niat baiknya, Vallery seneng kok."
Lidiya tersenyum senang. "Ibu seneng dengernya. Ibu tinggal bentar ke toilet bentar ya, kebelet deh, kayaknya agak lama. Itu nanti ayamnya sesekali kamu cek, terus itu kamu bikin oseng mi-nya dulu, ya. Arvin suka nggak mau makan di sini kalau nggak ada oseng mi-nya."
Lagi-lagi Vallery hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan sang ibu mertua. Setelah Lidiya menghilang dari pandangannya, dengan segera ia melaksanakan perintah sang mertua.
"Ibu kemana?"
Vallery sedikit tersentak kaget karena kemunculan Lingga yang tiba-tiba. Pria tiba berdiri tepat di belakangnya dan berbisik pada telinga kirinya.
"Ngagetin kamu, Mas. ibu lagi di toilet, kebelet. Kenapa nyusulin ke sini? Nggak jadi main sama Arvin?"
Lingga menggeleng. "Enggak mau dianya. Bikin apaan sih itu, oseng mi? Wah, enak tuh keliatannya. Boleh nyobain?"
"Belum juga mateng. Bentar lagi, kamu duduk dulu di sana. Nanti kamu tugasnya nyicipin kurang gimana."
Dengan patuh, Lingga kemudian mengambil kursi dan membawanya mendekat ke arah Vallery.
"Ya, kursinya nggak usah dibawa ke sini juga dong, Mas. Iiihh, nanti ibu ngomel."
"Biarin, aku mau liatin kamu masak, jarang-jarang kan kamu masak. Judulnya ambil kursus masak, tapi praktek aja belum pernah." Lingga langsung mencibir, "ngabis-ngabisin duit aja."
"Oh, kamu nggak ikhlas bayarnya kemarin. Ya, oke, nanti aku ganti uangnya. Biar kamu puas."
"Halah, mau ganti pake uang dari aku? Ya, sama aja dong."
Bibir Vallery langsung mencabik kesal. "Iiih, ngeselin."
Lingga langsung terbahak puas. Dengan serius ia kembali mengamati Vallery dari belakang.
"Kamu keliatan sexy kalau lagi di dapur gini, apalagi kalau nggak pake ba--aduh!" Lingga mengaduh kesakitan dan berbalik. Wajahnya berubah pias, ia meringis kecil tak lama setelahnya, "eh, ibu, udah selesai dari kamar mandinya?"
"Jangan kurang ajar kamu sama menantu ibu," tegur Lidiya galak, "ibu jewer kamu baru tahu rasa!" ia kemudian memukul kursi yang seharusnya berada di meja makan, "ini juga ngapain bawa ginian ke sini. Nanti kotor, balikin ke tempatnya."
"Iya, bu."
Dengan patuh Lingga segera membawa kursi itu kembali ke meja makan. Vallery hanya dapat menahan senyumnya saat melihat sang suami sedang diomeli begini. Ingin menertawakan takut dikira istri durhaka, nggak ketawa kok ya mubazir.
"Lain kali jewer aja kupingnya kalau suka begitu. Lagi di rumah orang kok begitu, nggak sopan. Kalau di rumah sendiri mah maklum. Emang suka begitu ya kalau di rumah?" tanya Lidiya mendadak kepo.
Vallery hanya mampu memasang wajah meringisnya. Dengan ekspresi prihatin, Lidiya mengangguk maklum dan mengelus pundak sang menantu.
"Yang sabar ya, Nak, dapet jodoh Om-om macem gitu."
"Iya, Bu."
Tbc,
__ADS_1
bismilah, minta dukungannya, semoga nnti mlm gk ketdurn dan bisa up lagiπππππ Aamiin