
*****
"Duduk dulu, Vallery!"
Vallery mengangguk lalu segera duduk di salah satu bangku kosong yang ada di ruang tunggu. Hari ini pasien yang sedang menunggu antrian chek kandungan lumayan banyak juga.
"Kita perlu antri enggak?" Vallery bertanya dengan nada berbisik sambil mendekat ke arah Lingga.
"Ya, antri dong, Vallery."
Vallery mangguk-mangguk paham lalu menyengir. "Kirain karena kamu temennya, jadi nggak perlu antri."
Lingga menggeleng. "Mana boleh begitu? Kita tetep antri, cuma aku tadi sempet minta antrian di awal."
Vallery mengangguk paham sambil menguap. Sepertinya efek banyak makannya sudah mulai terlihat. Saat kekenyangan ia memang lebih cepat ngantuk, hal itu biasa terjadi jauh sebelum ia hamil.
"Ngantuk?"
Vallery mengangguk sambil memegang perutnya yang sedikit membuncit. "Kalau kekenyangan kan emang bikin ngantuk, Mas."
Lingga menatap Vallery datar. "Ya, siapa suruh kamu makan banyak-banyak?"
"Enak sih," komentar Vallery sambil menyengir malu-malu.
"Mau tidur sebentar?" tawar Lingga, ia sudah siap meminjamkan bahunya kalau semisal Vallery memang mau tidur lebih dulu sembari menunggu antrian.
Vallery memilih untuk menggeleng. Ia malas kalau seandainya bisa tidur betulan terus dipanggil kan tidak asik. Ia paling sensi jika sedang asik-asik tidur lalu dibangunkan.
"Takutnya nanti kalau ketiduran beneran terus dipanggil gimana? Nggak mau lah," tolak Vallery enggan.
Lingga kemudian tidak berkomentar apapun selain mengangguk. Lalu tak lama setelahnya nama Vallery dipanggil.
"Tuh, kan! Udah dipanggil aja." Vallery berdecak lalu berdiri.
"Iya."
"Baru pulang dari kampus?" sapa Randu berbasa-basi lalu menyuruh Lingga maupun Vallery duduk di kursi, ia pun ikut duduk setelahnya.
"Iya, dok." Vallery tersenyum malu-malu.
Lingga dengan wajah datarnya. "Pasien lo banyak juga, ya?"
Randu mengangguk, membenarkan. "Iya, emang agak full sih hari ini. Udah kayak hari senin."
Lingga mendengus. "Memang hari ini senin, Ndu."
Randu tertawa sambil menjentikkan jarinya. "Gimana kondisinya hari ini? Sudah mulai ada keluhan?"
__ADS_1
Vallery menggeleng. "Enggak ada, dok."
"Fleknya yang waktu itu gimana?"
Vallery menggeleng. "Enggak besoknya langsung berhenti, dok. Enggak ada pusing atau mual muntah kok, ya kayak biasa aja kecuali bawaannya pengen makan terus," ringisnya malu-malu.
"Sama lebih sensitif," sahut Lingga cepat.
Hal ini tentu saja membuat Vallery sedikit terkejut. Kapan ia begitu? Ia menatap sang suami seolah sedang meminta jawaban.
Randu yang melihat keduanya tertawa. "Nggak papa, wajar kok ibu hamil banyak makan dan sensitif. Biasanya memang begitu," ia kemudian menatap Lingga, "yang penting sabar aja ya, Pak, ngadepin sang istri."
Lingga mengangguk paham.
"Langsung diperiksa, yuk!" Randu langsung berdiri, mengajak Vallery agar berbaring pada brankar, "minggu ini sudah masuk minggu ke empat belas ya?"
Baik Lingga dan Vallery mengangguk dengan kompak.
"Berarti masuk trimester kedua."
Vallery kemudian berbaring di atas brankar.
"Udah bisa cek kelamin belum?" Lingga tiba-tiba bertanya dengan penasaran.
"Belum keliatan jelas kalau usia segini, masih susah dibedain, nanti kalau usia 18 minggu baru lebih jelas." Randu kemudian terkekeh, "udah penasaran lo?"
"Dikit."
"Serius?"
Randu mengangguk, meyakinkan. Ia kemudian meraih alat usg-nya lalu menggerakkannya di atas perut Vallery.
"Bisa tahu bakal mirip siapa?"
Randu tertawa. "Bukan. Gue bilang ekspresinya, Ga, jadi semisal dia lagi senyum atau cemberut."
Lingga ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk paham. Setelahnya ia mendengarkan dengan seksama penjelasan Randu tentang kondisi bayi mereka. Ia bisa bernapas lega karena berat bayi mereka termasuk ideal. Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Randu mengajak keduanya untuk kembali duduk.
"Karena nggak ada keluhan, tekanan darah normal, hasil lainnya bagus, cuma gue kasih vitamin aja, ya?" tanya Randu sambil menuliskan resep vitamin yang perlu Lingga tembus. Ia kemudian menyodorkan kertas itu pada Lingga, "ada pertanyaan?"
Lingga mengangguk. "Ada. Lo bilang usia kehamilan 14 minggu tuh janin sudah termasuk kuat kan?" Randu langsung menjawabnya dengan anggukan kepala, "jadi kalau semisal gue pengen--"
"Boleh, Ga. Yang penting lo harus ngutamain kenyaman Vallery, jangan main kayak biasanya. Biasanya yang sebelum-sebelumnya ngalamin morning sick, di trimester kedua udah mulai berkurang juga, sebagian, jadi biasanya kandungan lebih kuat. Resiko kegugurannya pun sudah mulai menurun dibandingkan dengan trimeser pertama," sambung Randu tiba-tiba, padahal Lingga sendiri belum menyelesaikan pertanyaannya.
Hal ini tentu saja membuat pasangan suami-istri baru itu, sama-sama memasang wajah bingungnya.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Udah bisa berhubungan badan, Ga," ucap Randu menjelaskan.
Vallery sampai tersedak saking terkejutnya, sedangkan Lingga hanya memasang wajah melongonya.
"Lo ngomong apaan sih, Ndu?" Akhirnya Lingga berdecak sebal tak lama setelahnya, menurutnya sikap sok tahu Randu ini sangatlah menakutan, "gue nggak mau nanya itu!" semburnya galak.
Randu menyengir sambil garuk-garuk kepala, detik berikutnya ia tertawa. "Lah? Bukan? Sorry, sorry, gue kira mau nanya itu. Soalnya tadi lo keliatan kayak ragu-ragu, ya gue pikir mau nanya itu. Biasanya kalau nanya gituan pada ragu-ragu sih, jadi gue pikir lo mau nanya itu juga." Ia mengusap tengkuknya, "jadi tadi lo mau nanya soal apa nih?"
Lingga berdecak sambil melirik Randu sengit. "Gue mau nanya apa Vallery bisa diajak perjalanan jauh?"
"Ah, mau baby moon?" tebak Randu.
Lingga mengangguk membenarkan dengan ekspresi malasnya. "Ya, kalau dibolehin."
Sepertinya dia masih sedikit kesal dengan sikap Randu tadi.
Randu menyatukan jari-jemarinya di atas meja, lalu menatap keduanya secara bergantian. "Ya boleh lah, asal nggak minta biaya perjalanan le gue," candanya, "emang rencananya mau pergi ke mana?"
"Belum tahu sih," jawab Lingga.
"Mau ke luar negeri?"
"Kayaknya."
Randu mengangguk paham. "Nggak papa, boleh aja kok. Lagian kondisi Vallery bagus, jadi aman. Masuk minggu ke 14 sampai 28 emang paling aman buat ngelakuin perjalanan, yang nggak disarankan pas trimester pertama sama kalau udah masuk minggu 36 atau udah masuk trimester terakhir. Tapi ada beberapa hal juga yang harus lo perhatiin. Kapan emang rencana mau berangkatnya?"
Lingga menggeleng. "Belum tahu mau berangkat kapan, kan belum tahu juga lo kasih izin apa enggak. Ya kali kita udah bikin plan duluan tau-tau nggak lo kasih izin."
"Oke, ntar kasih kabar aja kapan mau berangkatnya. Udah kan sesi konsultasinya?" Randu kemudian melirik arlojinya, "gue masih ada pasien lagi nih, nanti dilanjut lagi ngobrolnya, atau kalau masih mau nanya-nanya lewat chat atau telfon, atau pas kita lagi kumpul-kumpul aja."
Lingga mengangguk paham lalu mengajak Vallery segera meninggalkan ruangan Randu.
"Jangan lupa nanti akhir minggu kita ngumpul ya? Wisnu ada dinas ke Jakarta katanya, sekalian mau ketemu istri lo."
Lingga kembali mengangguk paham. "Kabarin aja kapannya, tapi usahain jangan mendadak."
"Kalau direncanain lebih awal takutnya gue atau Gilang dapat emergency call, Ga."
"Ya udah atur aja sana! Gue cabut, pasien lo udah makin banyak di luar."
Randu mengangguk sambil mengacungkan jempolnya seben, lalu menggerakkan tangannya, mengintruksi agar Lingga dan Vallery segera meninggalkan ruangannya.
"Hm, aku tadi padahal masih pengen mau nanya-nanya, Mas."
"Mau nanya apaan emang?" Lingga menoleh ke arah Vallery dengan tatapan herannya, kini keduanya sedang berjalan beriringan untuk menebus resep di apotik.
"Kira-kira nanti aku dikasih izin nggak ya, Mas, kalau aku ambil kelas memasak? Tapi aku juga pengen ambil kelas senam kehamilan sama kelas parenting juga sekalian."
__ADS_1
"Aku yang nggak kasih izin, kamu kan kuliah juga, Vallery. Kelas memasaknya ambil setelah lahiran, untuk kelas parenting nanti kita ambilnya kalau kehamilan kamu udah besar. Kamu ambilnya kelas senam kehamilan aja doang, nanti aku temenin." Lingga kemudian menyuruh Vallery duduk sementara di kursi tunggu, sedangkan dirinya pergi untuk menebus obat. Setelah dapat, ia lalu mengajak Vallery segera pulang.
Tbc,