
*****
Vallery segera merogoh tasnya saat merasakan ponselnya bergetar. Buru-buru ia mengeluarkan benda pipih itu dari dalam sana. Ia mengintip layar dan menemukan nama sang suami yang tertera di sana. Sambil tersenyum ia menjawab panggilan tersebut.
"Ya, Mas. Kenapa?"
"Udah keluar kelas?"
Vallery mengangguk. "Udah, ini baru keluar. Kenapa? Mau jemput?"
Terdengar suara decakan dari seberang membuat Vallery terkekeh. "Aku belum bisa, kerjaan aku lagi nggak bisa aku tinggal, aku harus kelarin ini dulu baru jemput kalian. Gimana dong?
"Ya udah, nggak papa, Mas. Aku bisa naik taksi dan aku bakal nunggu kamu selesai sama kerjaan kamu nantinya. Kamu nggak usah khawatir.
"Kenapa nggak minta anterin Nick sama Patricia aja sih?"
Terdengar suara keluhan dari Lingga, pria itu seolah tidak tega membiarkan sang istri berangkat ke rumah sakit sendirian. Perasaannya seperti tidak enak. Ia gelisah dan ingin menjemput sang istri langsung, namun, apalah daya, pekerjaannya sedang tidak bisa ditinggal. Sebenarnya bisa saja ia meninggalkan pekerjaan saat ini, tapi jika ia melakukannya otomatis ia harus lembur nanti malam. Tentu saja ia tidak rela, Saka hari ini sudah diperbolehkan pulang, masa dirinya malah sibuk dengan pekerjaan. Tentu saja ia ingin menghabiskan banyak waktu dengan sang putra.
"Nick bawa motor, Mas, lagian mereka mau pacaran. Masa aku gangguin, udah deh, kamu tenang aja. Biasanya juga aku kalau pergi-pergi sendiri."
"Tapi ini beda, sayang. Aku kayak punya perasaan nggak enak, aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku kirim Will, ya, biar jemput dan anter kamu ke RS?" tawar Lingga.
Vallery yang mendengarnya langsung menggeleng tegas. "Apaan sih, Mas? Kok kamu jadi lebay gini? Aku nggak papa-papa, tadi pagi juga kamu liat aku sehat-sehat aja? Udah deh, nggak usah macem-macem. Sana lanjut kerja! Biar bisa jemput kita."
Helaan napas panjang terdengar dari seberang. "Kamu yakin nggak papa? Kamu bisa jaga diri kan? Nggak bakal bikin aku khawatir?"
"Iya, Mas, aku akan baik-baik saja. Dan aku harus baik-baik saja demi Saka."
"Ya sudah, hati-hati, ya. Nanti begitu sampai langsung kabarin, aku kerja dulu. Nanti begitu kelar langsung aku jemput."
"Semangat kerjanya Papa. Mama tunggu gajiannya," canda Vallery.
Lingga terbahak lalu mengangguk, mengiyakan sebelum mematikan sambungan. Vallery ikut terkekeh sebelumnya, begitu sambungan terputus ia langsung memasukan ponselnya ke dalam tas kembali. Ia kembali melangkahkan kakinya, baru dapat beberapa langkah, tiba-tiba ada yang menghadangnya. Kening Vallery mengerut tanpa bisa dicegah saat menyadari perempuan yang menghadangnya. Meski tidak kenal, tapi ia tahu kalau perempuan ini Katingnya. Apa yang telah dilakukannya sampai dihadang Kakak tingkatnya begini?
"Maaf, Kak, ada apa ini?" tanya Vallery kebingungan.
"Lo yang namanya Vallery?"
Vallery mengangguk, membenarkan. "Iya, gue sendiri yang namanya Vallery. Ada apa ya?"
"Ikut gue!"
"Ke mana?" tanya Vallery keheranan.
"Enggak usah banyak nanya, ikut aja," sahut salah satu perempuan yang lain, ikut menimpali.
Vallery jelas saja tidak langsung menurut, ia menatap mereka dengan pandangan sinisnya. Mentang-mentang kakak tingkat terus mereka bisa seenaknya? Oh, jelas saja ia tidak akan terima.
"Sorry, gue punya urusan lain dan sekarang lagi buru-buru. Gue nggak punya waktu untuk ikut kalian tanpa ada alasan yang jelas."
Vallery sudah kehilangan rasa hormatnya. Ia benar-benar tidak suka dengan sikap seniornya saat ini yang terkesan sok berkuasa ini. Benar-benar bukan contoh senior yang baik, dan ia membenci senior jenis ini.
"Wah, berani sama kita dia, Sis," sahut temannya yang lain, "nggak tahu apa kita ini senior lo."
"Ya, terus kenapa kalau kalian senior gue? Sikap kalian aja nggak menceriminkan kalau kalian layak dihormati sebagai senior, jadi kenapa gue harus menghormati kalian?"
__ADS_1
Perempuan yang bernama Siska, langsung maju ke depan dan menjambak rambut Vallery, membuat perempuan itu langsung mengaduk kesakitan.
"Apa-apaan sih lo, Kak? Gue punya salah apa sama lo? Sakit ini!"
"Makanya jangan macem-macem lo sama gue, kalau lo nggak mau kenapa-kenapa, lebih baik lo nurut apa kata gue!"
Siska segera melepaskan jambakannya saat menyadari ada beberapa pasang mata menatapnya. Ia tersenyum palsu dan mengelus rambut Vallery agar tidak membuat mahasiswa lain curiga.
"Nggak usah banyak bacot! Lo harus ikut kita sekarang!" bisik Siska penuh intimidasi.
Takut diapa-apakan oleh sang senior--yang menurutnya tidak kenal takut ini--Vallery hanya bisa pasrah. Kalau dulu ia seolah tidak takut apapun, tapi sekarang berbeda karena ia memiliki Saka. Dia memiliki seorang putra yang harus ia rawat dan jaga, alhasil ia tidak boleh terluka sedikit pun apalagi sakit.
"Gue salah apa sama kalian, Kak?" protes Vallery merasa tidak terima diperlakukan seperti ini, "sampai kalian giniin gue."
"Lo mau tahu salah lo apa?"
Vallery mengangguk polos. Ia sudah cukup frustasi sekarang. Ia segera ingin bertemu dan menggendong Saka, bukan malah dilabrak begini.
"Salah lo karena lo udah godain pacar gue."
Godain pacarnya? Kapan ia melakukannya, ia tidak pernah merasa dekat dengan pria mana pun kecuali Nick. Detik berikutnya bola mata Vallery langsung membulat sempurna, jangan-jangan Nick belum tobat? Tapi itu tidak mungkin, ia tahu betul betapa Nick menyayangi Patricia. Jadi tidak mungkin kalau perempuan ini simpanan Nick. Bukan selera Nick banget.
"Maksud Kakak?"
Siska memilih tidak menjawab dan langsung mengajak Vallery ke sebuah gudang yang tidak digunakan.
"Kita mau ngapain ke sini, Kak?"
"Duduk lo!" perintah Siska sambil mendorong Vallery hingga perempuan itu duduk di kursi.
"Kasih lo pelajaran."
"Gue salah apa?"
"Salah lo karena jadi cewek ******, bisa-bisanya lo udah jadi simpenan Daddy sugar tapi masih ganjen sama cowok orang. Emang nggak tahu malu ya lo?"
Simpanan Daddy sugar? Apa yang sedang dibicarakan Katingnya ini?
"Maksud lo apa ngatain gue simpenan daddy sugar? Lo kalau ngomong hati-hati ya, Kak!" ucap Vallery dengan nada memperingatkan, "lo jangan ngomong sembarangan! Apalagi kalau lo nggak bukti."
Siska tertawa, diikuti kedua temannya. "Bukti? Semua penghuni kampus ini tahu kalau lo dinikahin Om-om, itu sudah jadi bukti jelas kalau lo jadi simpenan Daddy sugar."
Vallery naik pitam. "Sialan! Lo jangan ngomong sembarangan, Kak! Gue sama suami gue nikah sah secara agama dan negara, ya. Gue bukan simpenan daddy sugar seperti yang lo sebutkan! Hati-hati lo kalau ngomong!"
Siska melambaikan tangan tidak peduli. "Bodo amat, gue nggak peduli. Bukan urusan gue, intinya sekarang gue mau lo mulai jauhi Raka."
Kedua bola mata Vallery membulat saat mendengar nama Raka. Detik berikutnya ia tertawa sinis. "Ya ampun, astaga ternyata gue udah buang-buang waktu untuk yang nggak jelas." ia kemudian berdiri. Namun, dengan cepat Siska mendorong tubuh Vallery dengan cukup keras, sehingga membuat perempuan itu mengaduh kesakitan.
"Urusan kita belum selesai! Mau kemana lo?"
Vallery berdecak kesal. "Gue nggak pernah godain Kak Raka, dia aja yang ngejar-ngejar gue, jadi lo nggak punya hak buat giniin gue. Karena ini sama sekali bukan urusan gue. Lo kali yang ngejar-ngejar dia." ia tertawa sinis, "lo jadi perempuan jangan murahan deh, Kak, biar cowok nggak jijik sama lo!"
"Wah, Sis, ni cewek kurang ajar dan sok kecakepan amat sih. Enaknya gue apain?"
Siska menyuruh temannya untuk diam. Ia mendengus lalu menampar pipi Vallery cukup keras, hingga menimbulkan bekas kemerahan.
__ADS_1
Vallery jelas tidak terima dan membalasnya. "Lo pikir gue takut sama lo? Enggak!"
"Brengsek," umpat Siska.
Dengan emosi memuncak, Siska langsung mendorong tubuh Vallery hingga menabrak meja yang sudah rapuh. Tubuh Vallery ambruk menabrak meja itu hingga remuk, ia langsung mengaduh kesakitan. Ia hendak bangun namun seolah tidak memiliki daya, tangan kanannya tidak bisa digerakkan.
Siska kembali maju dan mendekat ke arah Vallery. Ia tersenyum puas sambil mengelus pipi Vallery.
"Sakit ya? Kasian, nggak bisa minta tolong? Enggak punya temen?"
"Dasar perempuan--"
Plak! Beberapa tamparan kembali mengenai kedua pipi Vallery secara bergantian. Sudut bibirnya sampai berdarah.
Vallery menangis menahan sakit dan juga perih. Demi Tuhan, ia hanya ingin bertemu dengan Saka dan menggendongnya, tapi kenapa dia malah diperlakukan seperti ini? Hanya karena ada pria yang menyukainya, kenapa dia harus sampai mendapatkan ini semua. Kenapa dunia sangat tidak adil terhadap dirinya.
"Ini baru permulaan, Vallery. Lo harus mendapatkan lebih dari ini. Gue awalnya nggak mau ngapa-ngapain lo, tapi lo sendiri yang cari masalah sama gue. Lo pikir, lo siapa bisa ngatain gue kayak tadi? Lo nggak sebaik itu hingga berani ngomong begitu tentang gue! Lo juga perempuan murahan yang mau ditidurin Om-om sampai bunting. Lo pikir gue nggak tahu?"
Siska kembali menjambak rambut Vallery.
"Akhh!" rintih Vallery kesakitan.
Sambil tertawa puas Siska menghembaskan kepala Vallery cukup keras hingga membentur sesuatu, yang tidak perempuan itu sadari.
Darah segar tiba-tiba mengalir dari kepala Vallery. Teman Siska langsung menjerit panik.
"Anjir, Sis, lo benturin apaan kepalanya? Itu kenapa ada darah?" serunya panik.
Menyadari Vallery yang mulai kehilangan kesadarannya, Siska ikut panik. Ia langsung terjungkal dan shock melihat darah segar mengalir deras dari kepala Vallery.
"Sumpah gue tadi benturinnya pelan, Ni. Lo lihat sendiri kan? Enggak mungkin dia begini karena gue benturin tadi. Ini pasti salah."
"Pelan apanya, orang bunyinya kenceng banget anjir."
"Bukan gue, bukan gue. Ini bukan salah gue." Siska menggeleng panik dengan tubuh gemetarnya.
"Terus salah siapa? Jelas-jelasin lo yang benturin kepalanya, Sis! Gila lo! Anak orang itu, kita harus segera lapor, kita harus nyari bantuan."
"Lo gila! Nanti kita ketahuan, lo mau kita masuk penjara?"
"Kita? Lo sendiri yang nyerang dia, Sis, gue enggak. Di sini gue cuma liat. Gue belum apa-apain dia. Ini salah lo."
"Brengsek, lo mau lepas tangan begitu aja? Temen macam apa lo?" Siska mendadak geram.
"Stop!" lerai Gita, "kenapa kalian malah ribut sendiri? Vallery terluka parah, kita harus segera nyari bantuan kalau enggak nyawa dia dalam bahaya."
Siska menggeleng tidak setuju. "Enggak, jangan nyari bantuan. Lebih baik kita kabur dulu, kalau seandainya dia nggak selamat, berarti gue aman. Enggak akan ada yang tahu kalau ini ulah gue. Kita cabut sekarang."
"Sarap lo," umpat Rani dengan wajah kesalnya, "lo nggak takut kalau seandainya dia mati dan lo dihantui?"
Wajah Siska berubah panik, ia menggeleng cepat. "Enggak, gue yakin dia nggak bakal mati. Gue yakin dia pasti bakal segera ditemuin. Lo nggak usah khawatir, kita pasti aman. Yuk, langsung cabut sebelum ketahuan orang."
"Emang nggak waras lo, Sis. Nyesel gue ikut lo tadi."
Tbc,
__ADS_1