Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
38. Kencan Ceritanya


__ADS_3

****


Vallery benar-benar merasa malu luar biasa dengan sang ibu mertua. Meski sang ibu mertua bilang tidak apa-apa, tetap saja ia sungkan karena tidak membantu. Ia juga merasa kesal dengan Lingga yang tidak membangunkannya.


"Mas Lingga ke mana, Bu?" tanya Vallery sambil celingukan.


"Tidur lagi." Lidiya tiba-tiba menghentikan kegiatannya menuang sayur sawi, ia kemudian menoleh ke arah sang menantu, "memangnya tidak balik ke kamar kalian?"


"Hah?" Vallery menunjukkan ekspresi bingungnya.


"Kalian tidur di kamar yang terpisah?" tebak Lidiya dengan kedua mata curiganya.


Vallery meringis sembari menggaruk tengkuknya salah tingkah. Hal ini membuat Lidiya dapat menyempulkan kalau tebakannya benar. Ia kemudian melepas celemeknya dan beralih ke depan wastafle, memutar kran lalu mencuci tangannya hingga bersih.


"Kamu terusin ini ya, Ibu mau bangunin suami kamu. Itu semur ayamnya sekalian kamu pindahin ke wadah. Kalau sudah, taruh semua panci dan wajannya di wastafle, langsung dicuci biar nggak numpuk banyak," intruksi Lidiya sambil mengeringkan telapak tangannya menggunakan kain bersih, "nasinya juga matang, kamu siapin semua di meja."


"Baik, Bu."


Lidiya ikut mengangguk lalu meninggalkan dapur. Sementara Vallery mulai melakukan pekerjaan yang diperintahkan sang ibu mertua. Mulai dari memindahkan semur ayam ke dalam wadah, menata sarapan di atas, sampai mencuci semua perabot yang kotor.


"Sudah semua, Nak?" tanya Lidiya ramah. Ia berhasil menyeret Lingga bangun dari kasur dan membawanya ke dapur.


Vallery mengangguk sambil tersenyum puas. Setidaknya ada yang bisa ia kerjakan.


"Duduk sayang, kita sarapan bareng."


Sekali lagi Vallery mengangguk. Ia tersenyum tipis sambil menarik kursi dan duduk di sana.


"Ibu abis nyuruh istri Lingga ngapain?" tanya Lingga penuh dengan selidik.


"Cuci bekas Ibu masak. Kenapa? Enggak boleh?"


Lingga tidak langsung menjawab dan memilih menatap Vallery. "Kamu nggak papa?" tanyanya khawatir. Ia yakin Vallery tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah sebelumnya, tapi setelah ia menikahinya, Vallery disuruh-suruh. Ia jadi tidak tega.


"Kamu ini berlebihan sekali. Lingga Vallery itu calon ibu rumah tangga, jadi sudah sepatutnya tahu urusan rumah tangga."


"Tapi Vallery sedang hamil, Bu."


"Memang kalau hamil nggak boleh ngapa-ngapain? Jadi ibu hamil itu perlu aktif, apalagi kandungan Vallery sehat. Dia harus rajin ikut senam hamil dan kelas kehamilan. Kamu sudah daftarin?"


Kali ini Lingga diam saja. Telinganya sudah terasa panas oleh ceramah sang ibu.


"Astaga! Kamu payah banget sih jadi suami? Enggak perhatian banget sama istrinya yang lagi hamil." Lidiya kemudian menatap Vallery dengan tatapan iba, "ya ampun sayang, nasib kamu kurang beruntung banget ya. Masih muda, dihamilin Om-om. Eh, Om-omnya nggak perhatian pula." Tangannya terulur membelai rambut Vallery penuh kasih sayang.


"Ibu!" panggil Lingga dengan nada tersinggung.


Namun, Lidiya tidak mempedulikannya. Ia hanya melirik putra sulungnya sekilas lalu meraih piring Vallery dan mengambilkan nasi untuk sang menantu.


"Duh, Bu, Vallery bisa ambil sendiri."


Lidiya tersenyum sambil menggeleng. "Enggak papa, sayang, Ibu seneng ngelakuinnya. Segini cukup?"


Vallery mengangguk.


"Masa cuma segini? Ibu tambahin ya? Kamu sedang hamil, sayang, harus banyak makan supaya janin kamu makin sehat. Dia butuh nutrisi lebih loh."


Sambil meringis canggung, Vallery mengangguk tidak masalah. Lingga yang paham kalau Vallery merasa tidak nyaman langsung berdecak.


"Bu, Ibu bikin Vallery nggak nyaman tahu. Ibu pulang aja deh."


"Mas," tegur Vallery merasa tidak enak dengan sang ibu mertua, "ibu udah capek-capek masakin kita loh, masa Mas Lingga tega ngomong begitu ke Ibu. Nggak sopan, ah."


"Tuh, dengerin istri kamu!"


Lingga langsung mencibir. "Dibelain besar kepala tuh."


"Mas," tegur Vallery sekali lagi.


"Udah, nggak usah pedulikan suamimu. Mending kamu makan."


"Ibu nggak makan?" tanya Vallery keheranan.

__ADS_1


Lidiya menggeleng. "Ayah kalian hari ini ada perjalanan bisnis ke luar kota, jadi ibu nemenin sarapan pagi-pagi."


Secara tidak terduga dan tiba-tiba, Lingga mendengus. Hal ini tentu saja menarik perhatian kedua perempuan yang ada di sana. Keduanya secara kompak menoleh ke arahnya dengan tatapan heran.


"Kenapa, Mas?" tanya Vallery mewakili.


"Pantesan Ibu gangguin kita, ternyata gara-gara Ayah nggak ada di rumah."


"Gangguin gimana sih, Mas?" Vallery berdecak sambil geleng-geleng kepala, "Ibu udah berbaik hati masakin kita loh, Mas. Masa kamu ngomongnya gitu?"


Dengan senyum puasnya Lidiya meraih telapak tangan Vallery. "Kamu memang menantu kesayangan ibu."


"Ibu juga mertua kesayangan Vallery."


Lagi-lagi Lingga hanya meresponnya dengan dengkusan tidak percaya. Merasa terasingkan oleh Ibu dan istrinya sendiri, Lingga memilih pergi.


"Mau ke mana kamu?" tanya Lidiya dengan nada ketusnya.


"Mandi. Gerah. Panas."


"Nanti, ibu mau ngomong sama kalian."


Sambil mendesah pasrah, Lingga akhirnya kembali ke tempat duduknya. "Mau ngomong apaan? Bukannya dari tadi udah ngomong?"


"Beda."


"Bedanya?"


"Kalian tidur terpisah?" tanya Lidiya sambil menatap putra dan menantunya secara bergantian, "kenapa?" tanyanya kepo.


"Bu, bisa tidak jangan terlalu ikut campur rumah tangga kami? Lingga nggak nyaman, Bu. Ini privasi kami, kami berhak menentukan mau bagaimana."


Ekspresi tidak suka terlihat jelas di wajah Lingga. Sedangkan Vallery hanya mampu memasang wajah bersalah dan menunduk.


Lidiya menghela napas pendek. "Bukan maksud ibu mau ikut campur, Ga. Ibu cuma mau nasehatin kalian aja. Mau bagaimana pun juga kalian ini suami istri, sah secara hukum maupun agama. Dan sudah sepatut kalau suami istri itu ya tidurnya sekamar. Ibu paham kalian masih sama-sama kurang nyaman kalau berbagi ranjang bersama. Tapi kalian bisa saling membiasakan diri kan?" ia menatap Vallery dan Lingga secara bergantian sekali lagi, "memangnya kalian berencana mau berpisah setelah anak ini lahir? Kalian tidak berencana untuk menyeriuskannya saja? Mau hasilnya baik atau tidak, bukankah usaha dulu lebih baik?"


Vallery tersenyum sambil menggenggam telapak tangan sang ibu mertua. "Ibu nggak usah khawatir, kami sepakat untuk serius dengan pernikahan kami. Kami tidak memiliki rencana untuk berpisah setelah bayi ini lahir."


"Tapi maaf, Bu, untuk masalah kamar, kami memang memilih untuk pisah kamar sementara menyesuaikan diri dengan satu sama lain. Kami paham, Ibu kecewa, tapi, kami butuh proses, Bu. Insha Allah, kalau kami sudah sama-sama yakin, kami akan pindah sekamar."


"Ya sudah, kalau memang kalian nyamannya begitu. Ibu tidak bisa memaksa, asal jangan terlalu lama saja."


"Baik, Bu, akan kami usahakan." Vallery tersenyum sambil mengangguk, meyakinkan sang mertua.


****


"Maaf, ya, Ibu emang agak nyebelin," ucap Lingga saat mobil Lidiya perlahan meninggalkan komplek rumah mereka.


Vallery menoleh ke arah Lingga dengan tatapan tidak sukanya. "Maksud kamu apa ngomong begitu, Mas? Ibu itu baik loh, kamu aja yang nyebelin." Dengan wajah juteknya ia masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Lingga begitu saja.


"Loh, kok jadi aku?"


Buru-buru Lingga berlari masuk ke dalam rumah, menyusul Vallery.


"Kamu marah?"


"Iya. Dia ibu kandung kamu loh, Mas, masa kamu begitu? Kamu harusnya bersyukur masih bisa lihat Ibu sehat, masakin kamu, kasih nasehat. Masa begitu?"


Lingga terdiam sesaat lalu meminta maaf. "Iya, maaf, aku nggak maksud begitu, Vallery. Aku--"


"Kalau mau minta maaf ya sama ibu langsung lah, masa sama aku?"


Lingga kemudian mangguk-mangguk paham. "Iya, nanti aku minta maaf sama ibu. Ini aku minta maaf dulu ke kamu, kamu mau maafin aku kan?"


Ekspresi Vallery masih terlihat cemberut. "Ya, tergantung sogokannya apa?"


Lingga terkekeh. "Ya udah, maunya apa?"


"Mas, pacaran, yuk!"


"Hah?" Lingga langsung memasang wajah bingungnya, "kita bahkan udah nikah, Vallery."

__ADS_1


"Pacaran setelah nikah, biar makin akrab," usul Vallery.


Sambil menahan senyumnya, Lingga akhirnya mengangguk. "Ya udah, ayo! Berangkat. Mau ke mana emang?"


"Keliling mall."


"Enggak takut capek?"


Dengan ekspresi yakinnya, Vallery menggeleng. "Mau pamer kalau suamiku bule."


Lingga tertawa renyah. "Nggak takut dikira baby sugarnya Om-om?" godanya kemudian.


Hal ini membuat ekspresi Vallery berubah. "Waduh, iya juga ya."


Lingga berdecak sambil geleng-geleng kepala, gemas dengan sikap Vallery. "Ya udah, mandi dulu, siap-siap, dandan yang cantik abis itu kita pacaran."


"Duh, jadi deg-degan mau pacaran sama Om-om bule."


Vallery terkikik geli lalu berlari menaiki anak tangga. Hal ini membuat Lingga mendadak merasa khawatir.


"Vallery, kamu sedang hamil!"


"Siap, Om!"


Setelah selesai mandi dan berdandan rapi, Vallery segera menuruni anak tangga, menghampiri Lingga yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Aku siap."


"Berangkat sekarang?" tawar Lingga.


Vallery mengangguk semangat.


"Mau nonton?"


Kali ini Vallery menggeleng. "Liat-liat aja dulu, kalau lihat ada yang lucu beli. Boleh?"


Lingga mengangguk tidak masalah, lalu mengajak Vallery segera berangkat.


Begitu sampai di salah satu pusat perbelanjaan, Vallery langsung mengajak Lingga menjelajahi toko khusus bayi dan anak.


"Lucu-lucu ya, Mas? Boleh nyicil beli dari sekarang nggak sih?"


Lingga menggeleng tegas. "Enggak boleh, katanya pamali. Usia kandungan kamu masih muda soalnya."


Ekspresi Vallery berubah sedih. "Yah, sayang banget, padahal lucu loh. Aku pengen, Mas."


Lingga mengangguk sambil merangkul pundak Vallery. "Iya, nanti kita ke sini lagi. Sekarang kita cari makan dulu, yuk? Mau makan apa?"


"KFC aja yuk?"


"Bukannya kemarin kamu abis pesen burger king? Jangan! Yang lain aja, nggak boleh terlalu sering makan junk food, nggak baik buat kondisi janin."


Bibir Vallery mengerucut sedih. Perutnya perlahan mengusap perutnya yang belum terlihat kentara. "Tapi anak kamu ngidam ayam gorengnya KFC. Nanti kalau ngiler gimana? Nggak malu kamu?"


"Ngidam banget?" tanya Lingga terlihat ragu-ragu, "nggak bisa ditahan dulu?"


Dengan ekspresi yakinnya, Vallery menggeleng. "Enggak bisa diganggu gugat, Mas."


Lingga berpikir sejenak lalu pada akhirnya mendesah panjang dan berkata, "Ya udah, kita ke KFC," ucapnya pasrah, "tapi ini bukan akal-akalan kamu biar bisa makan ayam goreng kan?"


"Enggak kok. Serius. Serius ngidam ini " Vallery menyodorkan perutnya, "nih, kalau nggak percaya kamu tanya sendiri."


Lingga melirik perut Vallery lalu berdecak. "Mana paham aku ngomongnya gimana. Ya udah, ayo, nanti keburu ileran anak kita." ia kemudian menarik lengan Vallery dan mengajaknya segera pergi ke gerai KFC.


Dengan ekspresi puasnya, Vallery langsung bersorak kegirangan. Mirip sekali dengan anak kecil yang diperbolehkan ibunya makan es krim. Astaga, Lingga jadi gemas sendiri saat melihatnya.


"Yeay, makasih, Papa."


Lingga terkekeh lalu mengangguk malu-malu.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2