
*****
Lingga langsung berdiri saat melihat pintu ruang operasi terbuka. Ia langsung berlari kecil menghampiri Randu, beberapa anggota keluarga yang lain, yang ikut menemani pun langsung ikut berdiri dan menghampiri Randu.
"Gimana kondisi, Vallery?"
Randu menghela napas sambil melepas maskernya, ia mengangguk. "Kondisi Vallery berangsur stabil, udah bisa dipindahin ke rawat inap biasa. Tapi untuk kondisi bayi kalian harus mendapatkan perawatan intensif di NICU."
"Organ sudah lengkap?"
Randu mengangguk. "Jenis kelamin cowok, berat badan masih kurang dari satu kilogram, dan hampir seluruh tubuhnya ditutupi bulu halus atau dikenal dengan istilah lanugo. Meski begitu harapan hidupnya mencapai 80%, sempat mengalami apnea selama lima belas detik dan sekarang dipasang ventilator," ucapnya menjelaskan, "ventilator itu adalah alat bantu pernapasan yang digunakan untuk membantu pernapasan bayi yang mengalami gangguan pernapasan. Alat ini disambungkan ke selang tipis yang dimasukkan ke saluran napas bayi, biasanya melalui hidung atau mulut. Untuk keterangan lebih lanjut nanti dokter anak yang akan menjelaskannya."
Randu menepuk pundak Lingga. "Yang kuat, bro! Gue pamit duluan. Mari, bu, pak," pamitnya pada anggota keluarga Lingga yang lain.
"Kita bisa lihat Vallery kan?"
"Boleh, abis ini langsung dipindahin ke kamar kok, tunggu aja, tapi nanti kalau mau jenguk satu-satu, ya. Gantian, kondisi Vallery masih belum sepenuhnya stabil, jadi masih butuh suasana yang tenang, tapi untuk bayinya belum bisa, ya, nanti dokter anak yang bakal kasih izin kapannya" ucap Randu menjelaskan.
Lingga mengangguk paham. "Thanks, Ndu."
Randu mengangguk sekali lagi dan pamit dengan anggota keluarga Lingga yang lain, sebelum akhirnya meninggalkan mereka.
"Lebih baik kita tunggu di kamar inap Vallery," saran Gerald mengajak besan dan menantunya.
Mereka mengangguk setuju dan langsung menuju kamar inap Vallery, menunggu di luar kamar inap sampai Vallery dipindahkan ke kamar.
Hampir lima belas menit berlalu, akhirnya Vallery dipindahkan ke kamar inap. Hati Lingga seakan teriris saat melihat wajah pucat Vallery tampak terbaring lemah di atas brankar. Perasaan bersalah kian menghantuinya, istrinya masih terlalu muda untuk mengalami ini semua. Kalau waktu bisa diputar kembali, ia pasti memilih untuk melakukannya malam itu. Hanya karena ***** semata, ia menghancurkan gadis baik-baik seperti Vallery. Sebagai pria dewasa, Lingga benar-benar merasa malu dengan dirinya sendiri. Ia seakan tidak punya wajah untuk menampakkan wajahnya di hadapan sang istri nantinya.
"Ga, kamu mau masuk duluan?" tawar Gerald.
Bagaimana pun saat ini, Vallery sudah menjadi istri Lingga, jadi Lingga lah yang lebih memiliki hak untuk menemui Vallery ketimbang Gerald.
Lingga menggeleng. "Tidak, Pa. Papa duluan aja yang masuk, baru nanti Lingga."
"Kamu yakin?" tanya Gerald memastikan. Ia tahu Lingga lah yang lebih mengkhawatirkan Vallery saat ini, "nggak usah sungkan sama Papa. Papa bisa liat Vallery nanti, bagi Papa asal dia baik-baik saja itu sudah cukup."
Lingga mengangguk, meyakinkan sang mertua. "Enggak papa, Pa, Lingga masuknya nanti paling akhir saja. Sekalian jagain dia."
Kali ini Gerald paham, ia mengangguk lalu menepuk pundak Lingga. "Ya sudah, kalau gitu Papa masuk dulu." ia kemudian beralih ke Riana, "Riana, saya masuk dulu, ya. Kamu duduk dulu di sana." Gerald kemudian menunjuk bangku yang memang tersedia di depan kamar inap
"Iya, Mas." Riana mengangguk paham lalu menyuruh Gerald segera masuk. Setelah memastikan sang calon suami masuk, ia memilih untuk duduk di salah satu bangku.
Lingga sendiri memilih tetap berdiri, masih dengan perasaan gelisahnya.
__ADS_1
"Ibu mau ngomong sama kamu, Ga."
Lidiya kemudian mendekat ke arah Lingga sambil berbisik dan meminta putra sulungnya agak menjauh dari kamar inap Vallery.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Vallery bisa sampai jatuh di kamar mandi Papanya dan sampai pendarahan hebat?" todong Lidiya, "kalian bertengkar sebelumnya?"
Lingga diam dengan kepala menunduk. Wajahnya terlihat frustasi dan bersalah. Hal ini membuat Lidiya dapat menebak kalau memang sebelumnya terjadi selisih paham atau bahkan ada pertengkaran antara menantu dan putra sulungnya.
"Ga, kamu jangan bikin Ibu dan keluarga malu," desak Lidiya meminta Lingga agar jujur.
"Semua salah Lingga, Bu."
"Apa yang sudah kamu lakukan?"
"Vallery tau tentang kehamilan Carissa."
"Terus?"
"Dia kecewa."
"Tapi kan itu hanya masa lalu. Bukankah semua orang punya masa lalu? Ibu juga baru tahu masa lalu Ayahmu setelah nikah, tapi karena kami sudah terikat pernikahan, akhirnya ibu mau menerima masa lalu Ayahmu."
Lingga menghela napas. "Memang dulu ibu bisa langsung menerima masa lalu Ayah? Ibu butuh waktu kan? Sama halnya kayak Vallery, Vallery juga butuh waktu, Bu. Apalagi kami menikah karena keadaan, tolong ibu ingat hal ini baik-baik! Jangan sembarangan berkomentar." nada suaranya terdengar begitu tidak suka. Ia tidak terima dengan apa yang dikatakan sang ibu, "Lingga tidak suka, itu menyakiti hati kami. Baik Vallery, Papa Vallery maupun Lingga."
Wajah Lidiya terlihat gelagapan. "Bukan begitu maksud Ibu, Ga. Ibu cuma--"
Hal ini membuat ucapan Lidiya terhenti. Lingga kemudian mendekat ke arah sang mertua.
"Ya, kenapa, Pa?"
Gerald menggeleng. "Papa udah selesai. Kamu mau lihat kondisi Vallery kamu sekarang?" tawarnya kemudian.
Lingga menoleh ke arah Lidiya. "Ibu mau nengokin Vallery sekarang?"
"Lalu kamu?"
"Nanti abis Ibu."
Lidiya langsung menatap Gerald. Bermaksud meminta izin dari besannya.
"Silahkan, kalau Bu Lidiya ingin menjenguk Vallery." Gerald mengangguk tidak masalah dan mempersilahkan Lidiya menjenguk putrinya.
"Terima kasih Pak Gerald, saya minta izin mau jengukin menantu dulu."
__ADS_1
"Ya, silahkan!"
"Ga, Papa mau izin antar Riana dulu, ya?"
Lingga mengangguk, mempersilahkan. "Iya, Pa, silahkan. Nanti kalau Vallery sudah sadar akan segera Lingga kabarin."
"Iya."
"Ga, saya pamit dulu, ya. Besok saya akan ke sini lagi, nanti Mas Gerald biar ke sini habis anter saya."
Lingga kemudian menoleh ke arah Gerald. "Papa istirahat saja di rumah, besok aja ke sininya. Biar malem ini Lingga yang jagain Vallery."
Gerald mengangguk tidak masalah. Ia percaya dengan menantunya. Jadi, meski ia tidak kembali lagi malam ini pun, Lingga pasti akan menjaga putrinya dengan baik.
"Kalau begitu, kami langsung pamit."
"Iya, Pa, hati-hati."
Sekarang hanya tertinggal Lingga dan Bayu. Ayah Lingga yang sedari tadi memilih banyak diam, kini akhirnya membuka suara.
"Duduk sini, Ga! Papa mau ngomong."
Meski ragu-ragu, Lingga akhirnya duduk di sebelah Bayu. Jantungnya berdebar kencang. Perasaan takut kian menjalar. Ayah Lingga tipekal pria yang tenang. Namun, sekalinya kecewa atau marah kelihatan seram. Dan Lingga paling takut dengan Ayahnya.
"Kamu yang kuat dan sabar," ucap Bayu di luar dugaan, "Ayah ngerti perasaan kamu. Kamu sedang kebingungan dengan masalah yang kalian hadapi dan ditambah kondisi Vallery dan bayi kalian yang begini. Tapi percayalah, kalian pasti bisa melewatinya. Meski berat, tolong bertahan, Ga! Pernikahan memang tidaklah mudah. Namun, asal kalian mau berjuang, Ayah yakin kalian bisa melewati semua ini."
"Ayah nggak mau nanya apa yang terjadi?"
Bayu menggeleng sambil memamerkan senyuman terbaiknya. "Itu masalah kalian, Ayah rasa itu privasi kalian. Ayah tidak akan ikut campur lebih. Bukan kapasitas kami mencampuri urusan rumah tangga anaknya, Ga. Kalau kalian minta saran dan nasehat, akan Ayah beri, ada kalanya masalah rumah tangga itu tidak diketahui pihak luar, takutnya nanti malah makin berselisih paham. Kadang orang yang lebih berpengalaman dalam urusan rumah tangga suka sekali bersikap sok tahu tahu segalanya, padahal ya aslinya tidak tahu banyak."
Bayu benar. Sering kali beberapa yang merasa sudah lebih berpengalaman suka sekali bersikap sok tahu. Tidak tahu perkara sebenernya tapi sudah main menyalahkan dan menghakimi.
"Jadi apapun masalah yang kalian lalui atau masalah yang akan datang, Ayah doakan kalian bisa menghadapi semuanya. Kapan pun kamu butuh bantuan, jangan lupa langsung menghubungi Ayah. Ayah pasti akan membantu."
Lingga tersenyum lega. "Alhamdulillah. Terima kasih."
"Alhamdulillah? Terima kasih?" beo Bayu tidak paham.
"Karena Ayah nggak menghakimi Lingga."
Bayu terkekeh. "Ayah pengusaha, Ga, bukan hakim."
Lingga ikut terkekeh saat mendengar candaan sang Ayah. Tak lama setelahnya pintu kamar inap Vallery terbuka.
__ADS_1
"Lingga, Lingga! Istri kamu sudah sadar!"
Tbc,