
*****
Lingga akhirnya memutuskan untuk bergegas mandi, saat merasakan atmosfir tak mengenakan di dalam kamar. Suasana hati sang istri benar-benar sedang tidak bagus. Kalau ia berusaha untuk mengajak Vallery berbaikan atau sekedar memintanya untuk memberitahu apa salahnya, hal itu tidak akan berjalan lancar. Bukannya tahu apa salahnya, yang ada dia kena malah makin kena sembur oleh sang istri.
Tanpa menimbulkan suara, Lingga langsung berdiri dan masuk ke kamar mandi.
Vallery sendiri tampak serius dengan kegiatannya, tidak menghiraukan atau sekedar meliriknya. Lingga hanya mampu mendesah pasrah setelahnya. Ia tidak bisa berbuat banyak. Menghadapi emosi Vallery benar-benar butuh kesabaran extra.
Lingga kembali menghela napas saat ia keluar dari kamar mandi, Vallery nampak masih cuek terhadapnya. Ia mengambil posisi duduk di tepi ranjang, pandangan fokus pada Vallery yang masih duduk membelakanginya.
"Aku bikin salah apa sih, Vallery, kamu jangan diem aja gini dong. Ngomong! Biar aku tahu harus ngapain."
Lingga kemudian berdiri dan mendekat ke arah Vallery, ia mengambil posisi jongkok di samping sang istri. Tangannya terulur mengelus perut Vallery.
"Capek sama tugas dan kegiatan kampus? Mau aku pijitin? Atau kamu kangen Papa? Mau kesana? Nanti kita nginep," tawar Lingga, sebelah tangannya kemudian mengelus punggung Vallery.
Kedua mata Vallery tiba-tiba berkaca-kaca. Ada perasaan tidak tega saat melihat wajah frustasi sang suami. Perasaan bersalah tiba-tiba hadir.
"Enggak, aku cuma capek."
Lingga menghela napas. "Aku tahu kamu berbohong, Vallery. Apa ini ada hubungannya sama Rissa?"
Lingga dapat merasakan tubuh sang istri yang tiba-tiba menegang saat ia menyebutkan nama Carissa. Seketika ia dapat menyempulkan kalau tebakannya benar.
"Astaga, Vallery, aku benar?" tanya Lingga seolah tidak percaya.
Vallery memilih untuk tidak menjawab. Ia langsung berdiri dan mengajaknya segera turun. Awalnya Lingga tidak setuju, ia ingin segera menyelesaikan masalah mereka. Ia tidak suka menunda masalah. Namun, teriakan sang Ibu dari bawah membuatnya pasrah. Dengan berat hati ia dan mengikuti Vallery yang turun.
Saat mereka sampai ruang makan, meja tampak penuh dengan berbagai hidangan sayur mayur dan lauknya. Dulu, sebelum menikah hal ini terasa begitu membahagiakan. Meski terkadang hanya hidangan sederhana, tapi baginya selalu berkesan karena ia tahu Carissa melakukannya dengan tulus. Tapi sekarang entah kenapa terasa berbeda, ia tahu ketulusan Carissa masih tetap sama tapi setelah kehadiran Vallery, semua terasa berubah.
"Buruan duduk! Hari ini aku masak banyak," ucap Carissa dengan nada cerianya, "nggak kayak biasa. Soalnya udah nambah anggota baru."
Lidiya mengangguk setuju lalu menyuruh Vallery dan Lingga segera duduk.
Lingga menarik salah satu kursi dan menyuruh Vallery duduk. Hal ini langsung membuatnya mendapat sorakan dari Carissa. Perempuan itu gencar sekali menggoda Lingga yang menurutnya berubah banyak setelah menikah.
Pria itu tampak acuh tak acuh, dilirik sang istri. Ekspresinya terlihat seperti tidak nyaman. Dalam hati Lingga meruntuki kebodohannya selama ini. Kok bisa-bisanya ia tidak sadar.
__ADS_1
"Makan yang banyak, sayang, masakan Rissa tuh enak banget. Nggak bakal nyesel deh kamu kalau nyobain."
"Iya, Bu." Vallery mengangguk sambil menerima piring yang Lidiya sodorkan.
Sepanjang acara makan malam, Lidiya terus-terusan memuji dan membanggakan Carissa. Hal ini tentu saja membuat Vallery merasa semakin berkecil hati. Karena kalau dibandingkan dengan Carissa, Vallery benar-benar tidak ada apa-apanya. Tidak ada yang spesial dari dalam dirinya.
"Bu, udah dong," sela Lingga mulai merasa risih. Ia tidak tahan melihat wajah sang istri yang terlihat makin tidak nyaman.
Berbanding dengannya, Lidiya nampak langsung memasang wajah tidak pahamnya. "Loh, kenapa sih? Ibu cuma ngomongin fakta, maksud ibu juga baik biar istri kamu termotivasi," ucapnya membela diri.
Lingga berdecak tidak setuju. "Tapi kesannya ibu malah kayak ngebandingin Vallery sama Carissa." tak lama setelahnya dengkusan samar terdengar setelahnya, "memotivasi apaan," gerutunya kemudian.
Lidiya memasang wajah tidak percayanya. "Ngebandingin apa? Ibu nggak ada pikiran begitu kok, kamu kali yang punya pikiran begitu, kenapa nuduh ibu?" balas Lidiya tidak terima.
Lingga mendengus sekali lagi. "Bukan nuduh, tapi emang kesan keliatannya begitu."
"Mas," panggil Vallery, dengan nada sedikit berbisik, "ibu nggak salah kok. Niat ibu baik. Kamu jangan su'udzon sama ibu."
Lidiya mangguk-mangguk setuju sambil menunjuk Vallery. "Tuh, dengerin istri kamu! Kamu, tuh, selalu saja su'udzon sama Ibu. Untung istri kamu positif thinking."
Lingga langsung menoleh ke arah Vallery dengan tatapan ibanya. Ia tahu betul kalau ekspresi sang istri saat ini bukanlah kejujuran. Vallery hany mencoba untuk menegarkan diri. Hal ini membuat Lingga semakin bersalah dibuatnya.
Semuanya tampak terkejut, termasuk Vallery. Bedanya Carissa hanya sesaat terkejutnya, sedangkan Vallery sampai detik ini masih memasang wajah tidak percayanya.
"Mas," panggil Vallery sambil menggeleng.
"It's okay, Vallery, aku juga masih pengen ngobrol banyak sama Ibu. Udah lama kita nggak ketemu, jadi emang berasa kangen banget akunya." Carissa mengangguk setuju dengan permintaan Lingga. Di samping Carissa, Lidiya juga ikut mengangguk tidak masalah.
"Ibu sih setuju, toh, ibu juga masih kangen sama Rissa. Mau nginep di rumah ini atau rumah ibu sama aja."
"Ibu sama Mbak Rissa nginep di sini aja," ucap Vallery.
Lingg menggeleng tidak setuju. "Keputusanku sudah bulat," ucapnya tidak ingin dibantah.
Hal ini membuat Vallery tidak bisa berbuat banyak selain diam dan mengangguk pasrah.
****
__ADS_1
"Maksud kamu apaan sih, Mas, ngusir Ibu sam Mbak Rissa? Kan aku jadinya nggak enak sama mereka."
Setelah Carissa dan Lidiya pamit, Vallery langsung melayangkan aksi protesnya. Calon ibu muda itu tampak kesal dengan sang suami yang menurutnya seenaknya sendiri.
Sama dengan Vallery, Lingga juga ikut kesal. "Jadi yang aku lakuin masih aja salah? Enggak peka dan ngebiarin Rissa nginep di sini salah, tapi biarin dia pergi masih salah juga. Mau kamu apa sih, Vallery? Kamu seneng banget bikin aku bingung. Aku harus gimana?"
Kali ini Vallery diam. Ekspresinya terlihat menunduk penuh penyesalan. Ia merasa bersalah dengan sikap labilnya. Ia kesal bukan main saat Lingga membiarkan Carissa menginap. Namun, saat Lingga menyuruh Carissa bermalam di rumah lain, hal itu sama saja membuatnya kesal. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan.
"Aku harus bagaimana, Vallery?" Emosi Lingga kali ini mulai mereda, ditatap sang istri dengan tatapan lembutnya.
"Maaf."
Hanya kata itu yang Vallery ucapkan. Dan itu cukup membuatnya kembali emosi. Bukan kalimat itu yang ia inginkan.
"Aku tahu, kita masih sama-sama butuh waktu untuk penyesuaian sekaligus saling memahami. Aku tahu, Vallery. Proses ini memang butuh waktu lama dan kesabaran. Tapi bisa nggak kalau aku minta kerja samanya. Apapun itu yang mengganggu pikiran kamu, kamu bisa bilang. Bukannya diem aja begini. Kamu bikin aku bersalah tau."
"Aku juga, Mas. Ya, bener, aku emang nggak nyaman dengan keberadaan Mbak Carissa. Aku juga nggak nyaman sama sikap ibu yang begitu membanggakan Mbak Carissa, tapi aku sadar diri. Aku memang nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan Mbak Carissa. Jadi aku bisa apa?"
"Astaga! Kamu bisa bilang sama aku, Vallery."
"Kamu bikin aku jadi keliatan seperti suami yang buruk." Lingga menghela napas sambil mengangguk, "ya, bener, aku memang suami yang buruk." ia tidak melanjutkan kalimatnya dan memilih memeluk Vallery.
"Maafin aku, ya. Karena jadi suami yang nggak peka dan bikin kamu nggak nyaman."
Vallery mengangguk sambil meringsek ke dalam pelukan sang suami. "Maafin aku juga, karena labil."
Lingga terkekeh sambil mengurai pelukannya. Ia kemudian mengangguk paham. Selain karena Vallery sedang mengandung, umur sang istri memang masih cocok untuk menunjukkan kelabilannya. Jadi, tentu saja ia bisa maklum.
"Enggak papa, lain kali bilang aja kalau kamu benar-benar nggak nyaman atau kurang setuju dengan keputusan yang aku buat."
"Tapi gimana nanti kalau kamu marah gimana?"
"Kan bujuk aku gampang," bisik Lingga dengan suara yang berubah tiba-tiba.
Vallery langsung menaikkan alisnya heran. Itu bukan kode ke arah sana kan?
Tbc,
__ADS_1
ππππ mf, lagi up, soalnya lagi kurang enak badan. flu & demam, jadi mager buat ngapa2in, mau pegang hp atau gadget jg males, mon maap ya, gaesππππππ
klo semisal kurang nyambung, tolong ingetin ya. maklum diketik pas sedang nano2nyaππ€£π€£π€£