Not To Be Regrettable

Not To Be Regrettable
82. Bertahan Demi Mama, Nak!


__ADS_3

***


"Benara ini dengan wali pasien Sakalingga Daneswara?"


"Ya, saya sendiri. Saya ibunya. Ada apa ya kalau boleh tahu?"


"Begini ibu, kondisi Saka pagi ini mengalami penurunan. Pagi tadi dia sempat mengalami henti napas selama beberapa detik, dokter sudah melakukan tindakan. Tapi setelah dilakukan tindakan, kondisi Saka sudah dapat bernapas kembali, kabar buruknya ia harus dipasang ventilator kembali. Sekarang tim dokter sedang mencari tahu penyebab terjadinya henti napas pada Saka. Diharapkan ibu dan suami datang ke rumah sakit untuk mendengarkan penjelasan lebih lanjut. Terima kasih."


Bagaikan disambar petir siang bolong, tubuh Vallery seketika langsung lemas tak berdaya. Pikirannya berkecamuk, ia tidak dapat berpikir jernih. Di hadapannya, Nick nampak kebingungan melihatnya.


"Valle, lo, kenapa?" tanya Nick panik.


Pandangan Vallery masih terlihat kosong. "Saka, Nick," gumannya lirih.


"Saka? Saka kenapa?"


"Dia drop. Gue harus ke rumah sakit sekarang."


Masih dengan ekspresi seperti orang kebingungan, Vallery buru-buru membereskan barang-barangnya. "Nick, anterin gue ke rumah sakit sekarang!"


"Tapi kita masih ada kelas, Valle, lo ngajak gue bolos?" Nick menggeleng tegas, "coba lo tenang dulu, telfon Bang Lingga minta dijemput. Ntar lo titip absen gue aja."


Vallery menggeleng. "Enggak bisa, Mas Lingga pagi ini ada rapat penting. Gue nggak bisa telfon dia, gue nggak mau ganggu konsentrasi dia, Nick. Ya udah, kalau lo nggak mau, biar gue berangkat ke rumah sakit sendirian."


Nick berdecak kesal. "Gila lo! Bahaya, kondisi lo lagi panik begini gimana mau nyetir sendiri. Ntar yang ada lo malah kenapa-kenapa." ia mendesah pasrah lalu meminum es teh manisnya dengan tidak sabaran, pria itu kemudian berdiri, "oke, gue anterin. Lo tunggu di tempat parkir, gue bayar makanan kita sama coba nitip absen ke temen."


"Enggak nitip ke Patricia aja?" usul Vallery.


Nick langsung menggeleng tegas. "Enggak penting nitip ke siapa, yang penting ada yang mau dititipin absen. Udah sana, langsung ke tempat parkir. Kita pake mobil lo, nanti gue nyusul."


Mau tidak mau akhirnya, Vallery hanya mampu mengangguk pasrah dan menurut. Pikirannya saat ini terlalu kalut mengingat kondisi sang putra yang belum ia ketahui gimana keadaannya. Terlebih lagi mengingat mimpinya semalam, ketakutan itu semakin menjadi. Ia benar-benar tidak siap jika harus kehilangan sang putra. Ia tidak mau.


Padahal beberapa hari terakhir kondisi Saka sangat lah bagus, lalu kenapa sekarang kondisinya tiba-tiba ngedrop begini? Selama ini Saka dapat melewati masa kritisnya dengan baik, bahkan berat badannya sudah hampir mencapai 2 kilogram lebih. Kata dokter yang menangani perawatan Saka selama bebebapa bulan terakhir mengatakan akan memperbolehkan putranya pulang, kalau memang minggu ini tidak menunjukkan penurunan kondisi. Tapi mengingat kondisi Saka yang harus kembali dipasangi ventilator membuat harapannya pupus. Sepertinya Tuhan belum mengizinkannya untuk berkumpul dengan bayi mungilnya.


"Langsung berangkat?" tanya Nick, begitu pria itu masuk ke dalam mobil. Ia melirik Vallery sekilas dan langsung memasang seat beltnya, "lo baik-baik saja kan?" imbuhnya dengan nada khawatir.


Kondisi Vallery saat ini cukup memprihatinkan. Kedua mata sembab dan tatapan mata kosong, bahkan kedua bibirnya terlihat pucat.


"Kita berdoa aja semoga Saka nggak papa, Valle." Nick kemudian membuka botol air mineral yang kebetulan ia beli tadi, "ini minum dulu! Lo tenangin diri, oke?"

__ADS_1


Kedua pipi Vallery kembali basah. Ia menerima botol itu dan kembali menangis tersendu-sendu setelahnya.


"Gue bahkan nggak tahu kondisi dia sekarang, Nick, gimana gue bisa tenang? Gue takut dia kenapa-kenapa, gue nggak siap."


"Valle! Lo tahu nggak sih omongan adalah doa? Jadi lo harus hati-hati, jangan ngomong sembarangan. Mending kita doa sama-sama buat kondisi Saka. Berhenti mikir yang enggak-enggak."


"Tapi mimpi gue, gue semalem mimpiin dia, Nick."


"Itu cuma mimpi, Valle. Mimpi itu bunga tidur, jangan lo sama-samain. Udah, positif thinking aja. Gue tahu ini berat buat lo, tapi lo jelas udah banyak pengalaman tentang ini kan? Maksud gue, selama beberapa bulan terakhir emang kondisinya Saka baik terus? Enggak kan? Tetep naik turun kan kondisi dia? Tapi lo lihat apa yang terjadi, Saka mampu melewati itu semua. Lo tahu karena apa? Karena dia kuat, lo juga kuat, Valle, mampu menghadapi semua ini. Dia kayak ibunya. Jadi, percaya sama gue. Saka pasti baik-baik saja. Oke?"


Vallery menatap Nick ragu. Pria itu mengangguk, mencoba meyakinkan Vallery agar percaya padanya.


"Kita berangkat sekarang, Nick," ucap Vallery lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Batinnya ingin mempercayai ucapan sahabatnya ini, tapi otaknya berkata lain.


Nick mendesah lalu mengangguk paham, setelah memastikan Vallery memakai seat beltnya, ia kemudian langsung melajukan mobi Vallery meninggalkan tempat parkir kampus menuju rumah sakit. Selama perjalanan, tidak ada yang memulai percakapan. Vallery sibuk dengan pikirannya sedangkan Nick takut salah bicara, maka dari itu dia memilih diam. Cari aman saja lah.


****


Vallery langsung bergegas mencari dokter yang biasa menangani Saka. Ia bergerak gelisah dan terkesan terburu-buru, Nick sampai harus menegurnya beberapa kali karena perempuan itu seperti kehilangan fokusnya.


"Dokter Rita, gimana kondisi Saka? Dia baik-baik saja kan?" tanya Vallery begitu akhirnya ia bertemu dengan Rita, dokter spesialis anak yang menjadi dokter penanggung jawab Saka.


"Kita lagi nyari penyebab pasti dari kondisi Saka yang tiba-tiba drop begini, semoga tidak ada masalah serius."


"Tapi dia nggak papa kan, dok? Enggak ada masalah serius?"


"Saat ini saya belum bisa memastikan karena kita memang sedang menunggu observasi lanjutan. Kita berdoa saja yang terbaik untuk kondi--"


"Astaga, Vallery!"


Nick menjerit panik saat merasakan tubuh Vallery yang tiba-tiba mendadak tumbang. Beruntung Nick berada tepat di sampingnya jadi Vallery tidak merasakan dinginnya lantai ruangan NICU.


"Bu Vallery baik-baik saja?" tanya Rita ikut panik.


Vallery mengangguk ragu. Tubuhnya mungkin baik-baik saja, tapi tidak dengan batinnya. Berada di dalam kelegaan beberapa hari terakhir ternyata tidak berlangsung lama, kondisi Saka malah mengalami penurunan. Ia tidak paham, karena menurut pengakuan dokter selama ini, kondisi Saka termasuk bagus, meski kondisinya kadang tetap saja naik turun, tapi setidaknya tidak seserius hari ini sampai mengalami henti napas.


Air mata Vallery kembali jatuh, ia menangis di dalam pelukan Nick. Tubuhnya terasa lemas seolah ia tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.


"Mas, sepertinya kondisi Bu Vallery cukup serius, lebih baik saran saya dibawa ke IGD dulu biar ditangani petugas medis yang ada di sana."

__ADS_1


"Kita ke IGD dulu ya?" tawar Nick.


Vallery jelas langsung menggeleng sebagai tanda penolakan. "Gue baik-baik aja, gue mau di sini sambil nunggu hasil pemeriksaannya."


"Tapi, Bu, kondisi ibu terlihat cukup serius. Lebih baik ke IGD sebentar untuk memastikan jika tidak ada hal serius terjadi dengan Ibu, kondisi Saka baik-baik saja saat ini. Di sini banyak tim medis yang berjaga. Nanti begitu hasilnya keluar, akan langsung kami kabari. Bu Vallery tetap harus sehat. Ibu nggak mau kan Saka sedih karena liat Mamanya begini?"


Nick mengangguk setuju. "Dokternya bener, Valle, lo nggak lagi baik-baik saja sekarang. Kita ke IGD, ya, biar lo dicek di sana. Biar gue tenang juga, gue nggak mau diomeli laki lo nantinya. Lo nggak kasian sama gue?"


"Gue baik-baik aja, Nick. Jangan paksa gue."


"Tapi muka lo pucet, Valle," omel Nick mulai kehilangan kesabarannya, "kalau lo nggak nurut gue telfon Bang Lingga sekarang. Bodo amat gue nggak peduli kalau semisal dia masih rapat atau apalah," ancamnya kemudian.


Vallery diam dengan kepala menunduknya. Nick menghela napas panjang. "Lo nggak kasian sama Bang Lingga nantinya, Valle, kondisi Saka menurun, lo-nya ikut sakit begini."


"Gue baik-baik aja, Nick, nggak usah lebay," decak Vallery merasa risih. Menurutnya perlakuan Nick saat ini terlalu berlebihan dan ia tidak suka.


"Tapi muka Bu Vallery terlihat pucat, saya khawatir kalau nantinya malah terjadi sesuatu dengan ibu. Saran saya lebih baik ibu periksa ke IGD, untuk menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan."


"Tuh, dengerin apa kata dokter. Ini bukan sikap lebay gue."


Rita tersenyum tipis melihat perhatian Nick yang bercampur dengan kekesalan.


"Demi kebaikan bersama, Bu Vallery," ucap Rita.


Vallery masih diam. Nick langsung berdecak kesal sambil merogoh kantong celananya. "Gue nggak main-main, ya. Sekarang gue telfonin Bang Lingga biar dia sendiri yang seret lo ke sana, "anjir, gue udah bolos kuliah demi lo," gerutunya kemudian.


Melihat Nick yang tampak serius mengeluarkan ponselnya, wajah Vallery langsung berubah panik. "Ya uda, oke, kita ke IGD sekarang," ucapnya pasrah.


"Gila, udah jadi emak-emak juga kalau nggak diancem nggak nurut," gerutu Nick. Ia kemudian tersenyum pada Rita, "kalau begitu kami permisi dulu, dok. Terima kasih, permisi."


"Iya, hati-hati. Perlu pakai kursi roda? Bu Vallery, masih kuat jalan nggak?"


Vallery mengangguk yakin. "Masih, dok, terima kasih tawarannya."


"Iya, sama-sama. Hati-hati, semoga lekas sehat."


"Baik, dok."


Tbc,

__ADS_1


gaessss, ini lagi ada apaan sama Mas Bule kita? kok notif mendadak jebol? ada apa gerangan nih? perasaan kemarin sepi amat kek hatinya si otor🀭🀭 btw, makasih ya atas dukuangannya. Aku terharu sumpah, mau nangis rasanya,😭😭😭😭😭


__ADS_2